SANG PELINDUNG

SANG PELINDUNG
part 2 - Duka


__ADS_3

"kematian adalah satu satu nya hal yang pasti berada di hadapan kita. Entah besok, lusa, atau kapan pun ia bisa datang dengan cara yang dikehendaki Nya"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Pagi ini tidak seperti biasanya. Jika biasanya ketika bangun tidur, Ayu disambut cuaca cerah, namun berbeda hari ini.


Seperti nya sebentar lagi akan hujan. batin Ayu sambil mendudukkan tubuhnya.


Waktu masih menunjukkan pukul 06.00 pagi. Tapi mendung itu membuat suasana terasa masih seperti pukul 05.00 tadi. Suasana seperti ini sangat tidak disukai Ayu. Kemudian ia memutuskan bangun dan membersihkan diri untuk bersiap menjalani aktivitas nya di kampus seperti biasa.


"pagi bi Inah" sapa Ayu pada seorang perempuan paruh baya yang sedang sibuk berkutat di dapur.


"pagi juga non, sudah bangun? sebentar lg sarapan siap. Non tunggu saja di meja makan"


"heem" jawab Ayu disertai anggukan kepala.


"Papa belum bangun bi?"


"Tadi bapak sempat bangun non, cuman bilang mau sarapan di kamar aja kata nya. Mungkin masih lemas."


Tak perlu waktu terlalu lama, sarapan untuk Ayu sudah siap. Pagi itu bi Inah menyiapkan sepiring nasi goreng yang dilengkapi berbagai jenis sayuran dan juga suwiran ayam. Menu pembuka hari ini yang memang cukup disukai Ayu. Ayu ingat betul perkataan papa nya kalau nasi goreng bukan lah menu sehat padahal Ayu sangat menyukai nya. Jadi, ditambahkan beberapa sayuran dan ikan, untuk menambah gizi makanan tersebut. Sementara untuk papa nya, bi Inah hanya menyiapkan 2 lapis roti sandwich dengan teh melati sebagai pendamping nya.

__ADS_1


"bapak tadi pesan, sarapan nya agak siangan aja setelah non berangkat. Bapak pengen tidur sebentar kata nya non."


"Biar aku pamit kesana bentar habis ini bi."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


tok tok tok


"pa, ini Ayu pa. Ayu mau pamit sekalian antar sarapan buat papa."


3 kali mengulang ketukan pintu, papa nya tak kunjung memberi sahutan. Tak dipungkiri menimbulkan kekhawatiran tersendiri untuk Ayu. Tanpa menunggu lagi, Ayu membuka knop pintu yang memang dibiarkan tidak terkunci. Terlihat di atas tempat tidur, papa Ayu tidur dengan pulas. Dan tersenyum. Ayu menggerakkan sedikit tangan papa nya untuk berpamitan.


Dalam sentuhan Ayu, tangan itu terasa agak dingin. Walau wajah nya masih menunjukkan kehangatan, tapi tetap tak mampu menutupi kesedihan yang kian merambati hati Ayu untuk kedua kali nya.


teriak Ayu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Bi Inah datang dengan tergopoh gopoh, mendatangi nona muda nya di kamar tuan besar. Melihat pemandangan seperti itu, sungguh sangat menyayat hati. Sadar apa yang terjadi, Bi Inah keluar ruangan dan menghubungi seseorang untuk menjelaskan apa yang terjadi.


"Halo, den. Ini Bibi." katanya sewaktu telpon nya diangkat

__ADS_1


"Iya bi, ada apa?"


"Tuan besar den. Tuan besar....... Bibi sudah menghubungi dokter setempat den, sedang perjalanan kemari."


"Bibi temani Ayu saja, aku akan kirim orang kesana."


Dan panggilan diputus.


Kurang lebih selang setengah jam, bel rumah berbunyi menandakan orang orang mulai berdatangan. Saat itu rumah Ayu sudah ramai dengan tetangga dan para pelayat. Dokter yg tadi dihubungi bi Inah juga sudah memberikan kabar duka bahwa Pak Hendra, papa Ayu sudah meninggal. Diagnosa sementara beliau terkena serangan jantung. Intan yang baru datang, langsung menghambur memeluk sahabat nya yang sedang tak kuasa menahan tangis karena kehilangan orang tercinta.


"Ay, sabar ya Ay.. Aku turut berduka atas kepergian papa mu. Kamu yang kuat ya, agar perjalanan papa mu dimudahkan."


Airmata intan pun meluncur tanpa persetujuan. Ia paham bagaimana perasaan Ayu saat itu yang sedang sangat kehilangan.


Tanpa disadari Ayu, mata yg masih mengeluarkan air mata turut berduka itu menatap sesosok pria di belakang Ayu yang turut datang memberi ucapan bela sungkawa. Ah, bukan memberi ucapan bela sungkawa, namun dia juga kehilangan sesosok Ayah yang sedang terbaring tanpa nyawa itu. Andre.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah segalanya disiapkan dan semua sanak keluarga Ayu sudah berkumpul. Pemakaman pun segera dilaksanakan.


Ayu sendiri berusaha tegar melepas kepergian orang tercinta nya.

__ADS_1


selamat jalan papa, papa pasti sudah sangat merindukan mama ya. sampaikan salam rindu ku untuk mama. bye Ayu.


kupikir kau akan menemani setiap langkah ku mengambil hati Ayu pa, tapi kenapa secepat ini kau pergi. Tapi tidak apa apa, meski sendirian, kau bisa percayakan Ayu padaku. Akan kulindungi dia dengan segenap jiwa, hingga maut yang memisahkan kami berdua. bye Andre


__ADS_2