
Keesokan harinya, Lia kembali berlatih di bawah pengawasan Master Revan. Dan seperti biasa, dia masih kesulitan dengan Mana Apinya.
"Fokuslah Lio. Kau tidak akan pernah bisa menjadi kesatria naga yang hebat jika kau tidak bisa mengendalikan Mana Api-mu."
"Pertarunganmu melawan orang-orang kemarin memanglah bagus karena kau memiliki pergerakan yang lincah. Tapi sebagai seorang kesatria naga, kekuatan api adalah hal yang sangat penting." Revan terdengar memberi nasehat pada lia.
Tetapi perkataannya hanya lewat begitu saja di telinga lia.
Lia masih sibuk dengan api di tangannya yang menyala tak karuan.
Saat Lia menginginkan api itu untuk mengecil, api itu malah membesar, dan saat Lia menginginkan api itu untuk membesarkan, api itu menjadi lebih ganas dan kehilangan kendali.
"Tidak, tidak, tidak seperti itu Lio, kau harus bisa menekan emosimu," kata Master Revan saat melihat amarah Lia mulai memuncak.
Sementara itu Lia merapatkan giginya, menahan emosinya yang semakin memanas seiring panasnya api yang ada di tangannya.
"Arrghhh.. cukup! Aku berhenti!" kata Lia sambil menghempaskan tangannya, dia berdiri dan berteriak dengan kesal.
"Sepertinya kau harus melakukan latihan itu," kata Master Revan.
"Latihan apa?" Lia menatap Master Revan dengan bingung
"Ikut denganku." Dan dengan itu, mereka bergerak ke sebuah tempat yang sepi. Di sana sangat tenang dan membuat hati Lia merasa nyaman.
"Tempat apa ini?" tanya Lia.
__ADS_1
"Kau akan berlatih di tempat ini. "
"Tapi bagaimana? Latihan apa yang Anda maksud?"
"Mulai saat ini, setiap hari kau akan berlatih disini tanpa gangguan siapapun. Kau harus berkonsentrasi untuk merasakan api yang ada di dalam dirimu dan berusaha untuk menjalin hubungan. Aku akan mengawasimu, tapi tidak akan membantumu, kau harus bisa membentuk ikatan dengan Api-mu sendiri."
Lia mengangguk, mendengarkan perkataan Master Revan, dan Master Revan kembali membuka bibirnya untuk menjelaskan tentang apa yang harus Lia lakukan.
Dua tahun kemudian Doni melesatkan pukulan ke arah Lia, tapi gadis itu dengan mudah menahannya. Sekarang Lia menjadi lebih kuat, dan dia sudah tidak kesulitan untuk mengendalikan Apinya.
Kemudian Lia melompat ke udara dan melemparkan gelombang api ke arah Doni. Sementara itu, Doni yang tidak siap untuk menghindari serangan Lia langsung terbaring di atas tanah.
Lalu mereka berdua tertawa dan Lia menawarkan tangannya untuk membantu Doni berdiri.
"Aku sudah memberitahumu sebelumnya bahwa kau akan menjadi kesatria yang terkuat diantara kita." Lia tersipu mendengar ucapan Doni.
Kemudian seorang utusan tiba di tempat latihan, "Tuan Lio, Pangeran meminta Anda untuk menemuinya."
Lia berdiri dari posisinya kemudian mengikuti utusan tersebut dan mengucapkan selamat tinggal pada Doni.
Lia memasuki ruangan Pangeran untuk pertama kalinya.
"Wahh... Ini sangat indah," kata Lia keras-keras, dia merasa sangat kagum, pandangannya menyapu seluruh sudut yang bisa dilihatnya.
"Hai Lio."Farel menyapa dengan lembut.
__ADS_1
"Farel," kata Lia kemudian tersenyum. Akhir-akhir ini mereka telah menjadi teman baik. Mereka meluangkan beberapa waktu bersama dengan merencanakan dan membahas tentang masa lalu dan masa depan.
"Kita punya misi." Farel terlihat sangat ingin memberitahunya.
"Apa itu?" tanya Lia.
"Aku telah diperintahkan ke selatan untuk mengurus sebuah masalah. Ada beberapa konflik antara duke periday dan duke Leeds. Aku ingin kau mengawalku untuk bertindak sebagai pelindung dan penasehatku. Kita memiliki tugas untuk memecahkan konflik apa pun yang terjadi di sana sehingga tidak ada pertengkaran yang akan terjadi diantara mereka."
Lia merasa sangat senang. Ini merupakan misi pertamanya bersama dengan Pangeran. Ya, mungkin ini misi yang membosankan, tapi dia tidak bisa berhenti merasa bahagia tentang hal ini.
"Jadi, mau ikut atau tidak?" Farel bertanya lagi karena dia mengharapkan jawaban dari Lia.
"Oh, aku punya pilihan itu? Maksudku, pilihan ya atau tidak? jawabanku akan selalu ya. Aku benar-benar merasa terhormat karena kau telah memilihku," kata Lia.
"Baiklah kalau begitu, kita berangkat dalam satu jam." Lia menatap Farel dengan mata melotot.
Lia tidak menyangka bahwa mereka akan berangkat secepat itu.
"Oh... emmm...itu,."
"Kenapa? Ada masalah?" tanya Farel.
"Tidak. Itu... Itu bagus!" jawab Lia.
"Baiklah, sebaiknya kau segera bersiap-siap. Aku akan menunggumu di
__ADS_1
Bergabung~~~