
"Apa yang terjadi di sini?!" Revan tidak senang dengan apa yang dilihatnya.
"Begini...aku..aku..hanya-" Lia tidak tahu harus mengatakan apa.
"Dia tidak mahir menggunakan pedang dan pada akhirnya aku selalu mengalahkannya dengan mudah. Dia hanya tidak suka itu dan dia berusaha untuk menegaskan kehebatannya dengan menmpermalukan aku,"kata pria itu dengan ekspresi wajah tidak senang.
Menurutnya, apa yang dilakukan oleh Lia adalah hal yang salah.
Sementara itu Lia merasa bersalah atas tindakannya. Itu benar, dia harus melakukan segalanya untuk menang dan menjadi benar, tetapi menyakiti temannya adalah hal yang tidak baik.
Dia tahu dia salah, dia mengikuti emosinya yang selalu saja mudah untuk memuncak.
"Emm begini... Apa kau menggunakan teknik pedang yang sulit, sehingga Lia tidak bisa mengimbangi pergerakanmu?" Revan menatap pria itu dengan penuh spekulasi.
"Apakah itu penting? Tapi tidak, sebagian besar teknik yang aku gunakan adalah teknik dasar." Pria itu menjawab dengan nada yang masih kesal.
Apa yang ia lakukan sama sekali tidak dimasuksudkan untuk mengalahkan Lia ataupun semacamnya. Dia hanya ingin memberitahu kepada Lia bahwa dia perlu melatih keterampilannya dalam menggunakan pedang. T'etapi sepertinya Lia sama sekali tidak ingin menerima hal itu sehingga dia memutuskan untuk menyerangnya menggunakan api.
"Dengar, aku ingin Lio melatih kemampuannya untuk menjaga pedang api itu selama berjam-jam. Itu berarti dia harus melatih staminanya, aku tidak membawamu ke sini untuk mengajarinya bagaimana menggunakan pedang. Dia adalah seorang kesatria naga dan dia tidak perlu keterampilan yang tidak berguna seperti itu."
__ADS_1
Pria itu menjadi kesal dan menjatuhkan pedangnya saat ia pergi. Sementara Lia merasa begitu buruk dan ingin memperbaikinya.
Lalu pria lain datang untuk menemaninya berlatih dan latihan itu berlangsung selama berjam-jam sampai matahari terbenam.
"Cukup untuk hari ini, kau melakukannya dengan baik." Revan mengakuinya.
Lia bergerak menjauh dari lapangan pelatihan dan berjalan menuju sebuah kebun. Lia melewati sebuah tanah lapang yang ditempati banyak kuda dan melihat pria yang tadi berlatih bersamanya sedang membelai kuda-kuda itu.
Lia menghampirinya secara perlahan-lahan dan dia mencoba untuk memperbaiki kesalahannya.
"Dengar, aku minta maaf," kata Lia dengan penuh penyesalan.
Tetapi pria itu sepertinya tidak ingin berbicara dengannya.
"Semua kesatria naga sama saja. Mereka berpikir bahwa mereka adalah yang terhebat dan tahu tentang semuanya dengan baik." Pria itu terlihat frustrasi.
"Kita tidak tahu siapa yang lebih baik. Aku tak tahu apa-apa tentang pedang dan aku bersikap angkuh. Aku harus lebih menghormatimu, terutama para ahli pedang. Aku benar-benar menyesal."
Pria itu sekarang beralih menatap Lia. Ekspresi wajahnya menjadi lebih lembut setelah apa yang dikatakan oleh Lia.
__ADS_1
"Baiklah Lio, aku memaafkanmu."
Lia tersenyum dan pria itu tersipu.
"Terima kasih!" Lia merasa sangat bahagia.
"Siapa namamu?" tanyanya kemudian.
"Rangga."
"Itu nama yang indah."
"Tapi kau harus tahu, kau akan mudah kalah dalam pertarungan pedang,"kata Rangga.
"Tapi, bagaimana dengan semua Master yang menggunakan pedang api?"
"Yah, mereka belajar dasar-dasar keterampilan tetapi tidak lebih dari itu. Aku tahu bahwa dengan pedang api kau dapat menggunakannya untuk melakukan lebih dari sekedar pedang pertempuran,tapi aku percaya jika para kesatria naga benar-benar tahu bagaimana cara menggunakan pedang,mereka akan menjadi lebih kuat."
Ucapan Rangga memberi Lia sebuah ide. Kemudian dia menatap pria itu dengan seulas senyuman.
__ADS_1
"Ajari aku," kata Lia dengan yakin.
Bersambung~~~