
Waktu telah berlalu dan mereka semua harus kembali. Mereka tersandung,tidak bisa menjaga keseimbangan mereka.
Lia dan Ferry adalah satu-satunya yang tidak minum sebanyak yang lain.
Mereka berdua sekarang di istana dan mulai membantu semua orang ke kamar masing-masing.
Lia membantu Ferry menempatkan Rans dan Albert di kamar mereka.
Lalu orang berikutnya adalah zack dan mereka berdua membantunya berbaring di tempat tidur.
"Aku bisa mengurus Doni,kau bantu Rangga,"kata Ferry.
"Selamat malam Fer."
"Selamat malam Master."
****
Lia membawa tubuh Rangga dan dia merasa kelelahan. Tubuh Rangga terlalu berat untuknya. Dan mereka akhirnya berakhir di kamarnya.
Lia membuka pintu dan memasuki kamar Rangga.
"Kurasa aku akan muntah,"kata Rangga sambil memegangi mulutnya.
'Ah, sial' Lia menggerutu dalam hati.
Lia segera membawa Rangga ke kamar mandi. Lalu dia tinggal di luar dan menunggu Rangga hingga selesai.
Dia mendengarkan Rangga muntah dan dia merasa kasihan padanya.
__ADS_1
Dia tak tahu berapa banyak alkohol yang telah di minum oleh Rangga hingga lelaki itu berakhir seperti ini.
"Dia pasti akan berada dalam keadaan yang buruk saat bangun," pikir Lia.
Beberapa saat kemudian Rangga keluar dari kamar mandi dan berdiri di depan Lia.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Lia.
"Aku sudah lebih baik, atau mungkin lebih buruk."Rangga menjawab dengan penuh ketidakpastian.
Kepalanya pusing dan perutnya terus menerus berdemo,menimbulkan kesan aneh dan mual yang berkepanjangan.
"Baiklah. Sekarang saatnya untuk tidur,"kata Lia kemudian dia menuntun Rangga menuju tempat tidur.
Rangga mulai membuka kemejanya dan Lia melihat tubuh Rangga. Tinggi dan maskulin.Lalu Lia merasakan pipinya memerah.
Lia berdehem,dia mencoba untuk membuang pikirannya.
"Kau tahu Lio, kau belum menunjukkan kepada kami tato yang kau miliki."
"Aku sudah pernah memperlihatkannya,kalian semua melihatnya,"kata Lia sambil mencoba untuk menempatkan Rangga di tempat tidur.
"Maksudku bukan seperti itu.Kau tahu.. Maksudku adalah kau melepaskan pakaianmu di hadapan kami dan menunjukkan tatomu."
"Itu tidak akan terjadi,"gumam Lia dalan hati.
"Lain kali,"kata Lia kepada Rangga kemudian dia meletakkan Rangga ke tempat tidur dan beranjak untuk pergi,tetapi Rangga meraih tangannya, menariknya ke tempat tidur kemudian dia menaiki tubuh Lia. Rangga memanjat di atas Lia dan mencoba untuk melihat tatonya.
"Ah sial!"
__ADS_1
"Lepaskan Rangga!"Lia berteriak tetapi tenaga Rangga jauh lebih kuat darinya dan pria itu tidak memperdulikan ucapan Lia.
"Ayolah...aku ingin melihat tatomu!"kata Rangga dan menarik keras pakaian Lia.
Rangga merobek sebagian pakaian Lia,sehingga memperlihatkan lengan dan sebagian dari dada Lia yang diperban.
Rangga menatap sosok perempuannya,dia berusaha untuk memahami apa yang sedang dilihatnya.
"Tidak mungkin... kau..."Rangga mencoba untuk berbicara tetapi dia kehilangan kesadaran.
Sementara itu Lia berbaring di sana,dengan perasaan yang sangat terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.
Kemudian Lia mendorong tubuh Rangga ke sisi lain tempat tidur lalu dia berdiri. Lia memperbaiki pakaiannya dan pergi dari tempat itu.
Lia sekarang di kamarnya,berdoa agar Rangga tidak akan ingat apa-apa besok.
****
Lia tidak tidur sepanjang malam.Dia muntah dan menggigil.ini sudah pagi dan dia tahu dia harus keluar dari ruangan tapi dia takut untuk melakukannya.
Dia mencoba untuk kembali ke kesadarannya setelah semua pengaruh alkohol hilang dari dirinya.
Lalu sebuah ketukan di pintu mengejutkannya. Dia membukanya dan melihat seorang pelayan memegang surat.
"Dari putri Viona," kata pelayan itu kemudian menyerahkan surat.
"Oh sial, sial, sial."Lia takut Rangga
Bersambung~~~
__ADS_1