SANG PELINDUNG

SANG PELINDUNG
BAB 39


__ADS_3

"Kami mendengar bahwa kau mendapatkan sebuah pencapaian besar hari ini," kata Doni.


"Emmm.. Begitulah."


"Bisakah kau memperlihatkannya pada kami?" tanya Zak dengan penuh semangat, sepertinya rasa cemburu di dalam dirinya telah menghilang seiring berjalannya waktu, terlebih lagi selama dua tahun ini, Lia telah membuktikan bahwa dirinya memang jauh lebih kuat diantara mereka.


Tidak diragukan lagi Lia akan menjadi pemimpin yang hebat untuk mereka semua.


Kemudian Lia berdiri dan membuka telapak tangannya. Percikan api keluar dari tangannya lalu dia membentuknya menjadi pisau. Pisau berwarna merah dengan bentuk sempurna dan terlihat sangat kokoh.


Para kesatria naga menatapnya dengan perasaan kagum.


"Wow, itu mengagumkan!" kata mereka hampir bersamaan.


"Terima kasih teman-teman!" Lia merasa bahwa hubungannya dengan mereka semakin membaik.

__ADS_1


"Emm Lio, kami minta maaf karena menghindarimu selama ini." Ferry akhirnya berbicara. Dari wajahnya. Lia tahu bahwa rekannya itu menyesal dengan tindakannya selama ini.


"Kami semua sedikit iri padamu. Kau telah melakukan begitu banyak hal, kau adalah pemimpin kami, dan kau memiliki Master Revan sebagai gurumu,kau pergi menjalankan misi bersama Pangeran dan kemudian kau berhasil menciptakan pisau api. Aku harus mengatakan, aku tidak pernah berpikir bahwa kau bisa mencapai semua itu,tetapi sepertinya kami semua harus belajar banyak darimu. Aku pereaya kau akan menjadi pemimpin yang hebat"


Lia merasa begitu bahagia mendengarkan kata-kata Ferry. Bahkan dia sendiri tidak pernah menyadari bahwa dia akan sejauh ini.


"Terima kasih Ferry,terima kasih semua. Mulai sekarang, mari kita berlatih keras dan menjadi tim terbaik yang pernah ada!"Lia berteriak dan para kesatria naga setuju dengan apa yang ia katakan.


****


Tapi apa itu? Dia sendiri tidak yakin. Dan saat Lia meninggalkan kamarnya, Master Revan masuk secara diam-diam ke dalam kamar Lia.


Dia mencoba untuk menemukan petunjuk untuk membuktikan sesuatu yang mengganggu pikirannya. Master Revan memeriksa beberapa benda milik Lia dan mendapati bahwa tidak ada hal aneh disitu.


Kemudian dia mendekati meja di samping tempat tidur Lia. Dia meraih sebuah lencana dan memperhatikan simbol ikan koi di atasnya.

__ADS_1


"ini dia."


*****


Lia telah kembali ke kamarnya dan berbaring di atas tempat tidur. Dia meraih lencana kecil dan memperhatikan simbol ikan koi sampai ia tertidur.


(Apakah aku bermimpi lagi? Kurasa begitu. Aku melihat diriku sedang berbicara, tapi aku tidak bisa mendengar diriku berbicara. Aku duduk di atas rumput yang menyebar indah. Sepuluh wanita duduk di depanku. Mereka semua memakai pakaian hitam putih. Apa kita sedang berkabung? Mereka menatapku, tampaknya mereka benar-benar mendengarkan apa yang aku katakan. Mereka semua memiliki mata kuning amber yang indah. Sepertinya aku tidak menyembunyikan siapa diriku. Aku benar-benar merasa bangga menjadi seorang wanita. Aku mengambil sepotong kayu dan mulai mengukir sesuatu di tanah. Ada dua ikan koi, tampaknya mereka saling mengejar. Atau, berpelukan? Aku tidak yakin. Oh tunggu, Ini adalah simbol yin dan yang. Ya, kurasa aku bisa mendengar diriku berbicara sedikit demi sedikit.


"Aku akan kembali. Kita adalah Koi dan kalian harus menunggu kepulanganku. Tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan, aku akan kembali. Dan ketika aku kembali, jangan bersikap lembek kepada ku. Ketika aku kembali, dunia akan berubah." Apa yang aku katakan? Apa yang terjadi?)


"Bangun." Nona Balqis membangunkan Lia dan membawanya kembali dari mimpinya.


"Hei," kata lia dengan suara serak.


"Apakah Anda tidur dengan itu?" tanya

__ADS_1


Bersambung~~~


__ADS_2