
"Apakah Anda tidur dengan itu?" tanya
Nona Balqis saat ia melihat bahwa Lia masih memegang lencana.
"Sepertinya begitu," Lia terlihat bingung, dia masih memikirkan mimpinya. Pada lencana yang ia pegang hanya ada satu ikan, sementara di dalam mimpinya dia melihat dua ikan.
"Nona Balqis, sepertinya aku memiliki terlalu banyak mimpi yang..Kadang-kadang terlalu nyata bagiku. Sepertinya aku melihat sebuah cerita"
"Hmm, mimpi bisa berarti sesuatu. Satu-satunya cara untuk tahu adalah pergi ke Athena."
Lia mengerutkan dahi pertanda ia tidak menyukai ide dari Nona Balqis.
"Aku tidak berpikir kalau itu adalah ide yang baik, mengingat aku menyembunyikan hal-hal yang bisa mereka ketahui. Bagaimana dengan sakura?"
"Itu jauh lebih buruk. Athena diakui oleh kekaisaran ini. Sementara sakura...Mereka hanya akan memanfaatkanmu. Mereka licik."
Lia menggeleng, dia tidak bisa setuju dengan itu, setelah bertemu dengan putri.
"Hufftt, lupakan saja. Tidak peduli di mana aku pergi, aku akan ditemukan. "
Dia sekarang keluar dari kamarnya, berjalan di lorong besar. Nona Bella juga ada di sana. Dia belum melihatnya untuk sementara waktu setelah dia melihatnya dengan Revan berbuat sesuatu.
Lia menjadi malu dengan ingatannya. Dia tidak yakin apakah dia bisa bertindak normal di depan Bella.
Tapi kemudian Lia memutuskan untuk menyapanya.
"Selamat pagi nona Bella.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan pergi sekarang," pikir Lia.
"Lio, boleh aku bertanya?"
Oh, sial.' pikir Lia
"Ya Nona," kata Lia kemudian.
"Apa kau melihat Tuan Revan?" Bella bertanya dengan nada khawatir.
"Belum, tapi aku akan menemuinya sekarang."
"Oh baiklah. Bisakah aku menitipkan ini padanya?" Bella menyodorkan sebuah surat.
"Tentu saja!" kata Lia lalu meraih surat itu.
Wanita itu mengucapkan selamat tinggal dan keluar dari istana.
Untuk Tuan Revan,Rencana kita akan terungkap jika kita tidak bertindak hati-hati. Para kesatria naga dan Kaisar akan tahu, dan kita akan hancur. Tolong, temui aku di bar
"Pedang Kayu' dalam dua hari, pukul 12 malam. Kita perlu membuat strategi baru.
Gadismu Bella
Setelah membaca surat itu, Lia berdiri di sana, dengan keadaan shock.Dia tidak yakin apakah dia membaca dengan benar.
Jika apa yang ada di dalam surat itu adalah benar, itu berarti bahwa Revan tidak bisa dipercaya.
__ADS_1
"Apa yang harus kulakukan?"
*****
Lia tiba di tempat pelatihan dan menemukan Revan sedang menunggunya.Revan sangat ingin melihat kemampuan yang baru dikuasai oleh Lia. Kemudian Lia berjalan mendekati Revan dan menyodorkan surat itu.
"Ini untukmu."
Revan mengambilnya dan meletakkannya di dalam celananya.
"Baiklah Lio. Tunjukkan pacdaku apa yang kau punya."Tanpa berbasa-basi,Revan langsung mengarahkan Lia untuk segera berlatih.
Lalu Lia berdiri beberapa langkah dari Revan dan menciptakan sebuah pedang api.
"Sangat baik. Bentuknya sempurna dan tidak berkedip sedikitpun, itu sudah sangat stabil," kata Reban sambil memeriksa pedang api yang telah dibuat oleh Lia.
Dia terlihat bangga karena sekarang Lia tidak hanya bisa menciptakan pisau kecil yang bentuknya tidak beraturan.
Revan bisa merasakan kekuatan besar dari pedang itu, tetapi dia tidak yakin berapa lama Lia bisa mempertahankannya.
Lalu Revan beralih menatap Lia dan melihat keringat di dahinya.
"Sepertinya kau sedang berusaha keras untuk mempertahankannya," kata Revan.
"Ya," jawab Lia membenarkan.
"Apakah ini terjadi pada saat kau menjalankan misi bersama Pangeran?"
__ADS_1
"Tidak juga,saat itu aku merasa sangat senang. Dan aku merasakan energi kuat dari pedang api yang aku ciptakan, aku merasakannya dan bisa mempertahankannya cukup lama.Meskipun pada akhirnya aku kehilangan kendali dan membiarkan pedang itu menguap saat pertarungan masih berlanjut."
Bersambung~~~