
"Tidak juga,saat itu aku merasa sangat senang. Dan aku merasakan energi kuat dari pedang api yang aku ciptakan, aku merasakannya dan bisa mempertahankannya cukup lama.Meskipun pada akhirnya aku kehilangan kendali dan membiarkan pedang itu menguap saat pertarungan masih berlanjut."
Revan mendengar perkataan Lia kemudian dia meraih dagunya dan terlihat berpikir.
"Lihat apa yang terjadi di sini." Revan menunjuk ke arah pedang api Lia dan memberikan isyarat kepada Lia agar dia memperhatikan bentuk pedang apinya dengan seksama.
"Ada banyak Api di dalam satu pedang,dan itu bukanlah hal yang mudah untuk mempertahankannya. Sifat alami api yang berjumlah banyak adalah berkobar ataupun meledak.Api yang terbentuk dari Api memanglah akan mengikuti kehendak penggunanya,tetapi tidak selalu seperti itu,kadangkala mereka akan lebih liar dan tidak menurut ketika penggunanya kehabisan stamina ataupun kehilangan kontrol atas dirinya sendiri. Saat kau berpikir bahwa kau haru melindungi Pangeran, kau menjadikannya prioritas dan membentuk tujuanmu. Kau akan melakukan apapun untuk mengalahkan musuh yang ada di hadapanmu. Dan pada saat yang sama kau menetapkan.tujuanmu.Itu berarti Api dari pedang mengalir dalam tubuhmu membentuk sebuah lingkaran. Dengan cara ini tidak ada alasan untuk menggunakan banyak usaha untuk mengendalikannya, kau membentuk Api, tapi kemudian kau melepaskannya kembali ketika kau kehabisan stamina."
Lia terkesan dengan kesimpulan Revan. Apa yang pria itu katakan terasa benar untuk dirinya.
"Apa yang kau katakan memang benar. Tapi, bagaimana aku bisa memperbaikinya? Bagaimana aku bisa menahan bentuk pedang api dan menahan kestabilan staminaku secara bersamaan? Menggunakan pedang api untuk bertarung selalu menguras banyak stamina." Lia terlihat bingung.
"Oh, itu adalah hal yang mudah. Membuat pisau api adalah bagian yang sulit. Tetapi Mempertahankannya adalah hal yang terbilang mudah. Kau hanya perlu berlatih. Kau akan berlatih berjam-jam untuk menambah stamina. Ketika itu terjadi, kau harus belajar untuk melakukan hal yang sama sementara kau tidak melakukan pergerakan."
__ADS_1
Lia menyimak dengan baik dan ia merasa bahwa itu adalah rencana yang baik untuknya.
Beberapa saat kemudian mereka memasuki mode latihan dengan melibatkan satu orang yang akan menjadi lawan Lia.
Pria itu berusia 21 tahun, dia tinggi dan memiliki mata berwarna abu-abu, rambutnya berwarna cokelat dan dia adalah seorang prajurit istana.
Sepertinya dia adalah prajurit yang terlatih dalam menggunakan pedang.
"Lio, kau akan berlatih dengan menggunakan pedang api, kau harus bisa mempertahankan pedang api di tanganmu selagi kau bertarung dengannya. Dan ingat, dalam latihan ini kau hanya boleh menggunakan pedang api," jelas Master Revan.
Sementara itu Lia menatap pria itu dengan tatapan tidak percaya, dia sama sekali tidak menyangka bahwa ia akan dikalahkan semudah itu.
"Bagaimana bisa?"gumam Lia dengan mata melotot.
__ADS_1
"Kalian para kesatria naga menganggap diri kalian hebat, tapi menggunakan pedang membutuhkan keahlian sebagai ahli pedang."
Lia tidak ingin menerima kebenaran dari ucapan pria itu, dia tetap merasa bahwa dia adalah yang terbaik. Dia merasa sedikit angkuh. Dan itu adalah hal yang umum di antara para kesatria naga. Mereka selalu berpikir bahwa mereka tahu yang terbaik dan selalu ingin mengintimidasi orang lain.
Lalu Lia berdiri dan siap untuk menyerang lagi. Pertarungan itu berlangsung untuk sementara waktu.
Dan pria itu kembali mengalahkannya dengan mudah. Sementara itu Lia merasa marah dan frustrasi oleh ketidakmampuannya untuk menang.
"Baiklah, sudah cukup!" Lia berteriak dan mengubah pedangnya menjadi api.
Dia melemparkan pukulan api ke arah pria itu dan hampir membakarnya.
"Cukup," kata Revan menghentikan mereka.
__ADS_1
Pria itu menutupi wajahnya dari panasnya serangan api Lia, dia menghindar agar wajahnya tidak terbakar.
Bersambung~~~