SANG PELINDUNG

SANG PELINDUNG
BAB 25


__ADS_3

"Kenapa Anda selalu bangun dengan keadaan seperti itu? Anda seperti habis berlari sepanjang malam." Nona Balqis baru masuk ke dalam kamar dan mendekati Lia.


Dia tahu bahwa Lia sepertinya selalu kesulitan dalam tidurnya.


"Karena aku sudah berlatih sepanjang malam. Dan di dalam mimpiku, aku melakukannya juga,"kata Lia


menyadari bahwa setiap tidur malamnya membuatnya merasa lelah.


"Bangunlah, Anda harus segera bersiap-siap," kata Nona Balqis dan menghela Lia.


Dan setelah semuanya siap, Lia pun pindah keluar untuk sarapan bersama kesatria naga lainnya.


"Apakah semuanya baik-baik saja?" tanya Lia saat ia merasakan keheningan yang anen.


Para kesatria naga saling berpandangan tapi tak satupun dari mereka yang bicara. Sarapan berlanjut tanpa percakapan dan tatapan yang aneh Lia berdiri dan pergi.


Kemudian dia kembali saat dia mendengar bisikan di belakangnya, "Baiklah, apa yang terjadi?" kata Lia marah.


Beberapa anak laki-laki tertawa dan Lia mengepal kan tinjunya.


"Apa kau baik-baik saja dengan pisau api?"kata seorang anak mengejeknya.

__ADS_1


"Dasar," pikir Lia, kemudian dia terus berjalan mengabaikan mereka.


Lalu seorang anak bernama rans mendekatinya. "Tolong, perlihatkan pada kami pisau api yang kau buat," kata Rans dengan nada menggoda.


Para anak laki-laki itu adalah kesatria naga yang bergabung satu tahun lebih lama dari Lia dan rekan-rekannya.


Fakta bahwa Lia menjadi pemimpin mereka dan mendapatkan kesempatan lebih dahulu untuk mempelajari pisau api, membuat semua kesatria naga merasa cemburu.


Lia akan menyerang Rans dan Rans Siap untuk melawan tapi Doni menghentikan mereka.


"Dia adalah pemimpin kita, jadi jaga bicaramu. Jika dia ingin, dia bisa melemparmu keluar dan kau akan menjadi pecundang. Jadi aku berharap bahwa kau bisa bersikap baik."


Mata Doni mulai membentuk dan menciptakan perasaan takut dalam diri Rans. Rans setuju dengan perkataan Doni dan segera pergi.


"Apa kau melihat Ferry dan Zack?


Mereka adalah teman-temanku, aku melihat Rezal meninggal di pelakukanku dan sekarang aku berlatih di bawah bimbingan Master Revan. Apakah mereka berdua mulai membenciku?"


Lia merasa frustasi.


"Lio, mereka hanya cemburu. Mereka tidak membencimu. Tapi mereka tidak bisa menahan diri. Ini adalah hal yang wajar. Tapi, mereka menghormatimu. Kau mencoba menyelamatkan Rezal. Kau memaafkan dan menyelamatkanku. Aku di sini untukmu."

__ADS_1


Lia menatap Doni, dia belum pernah melihat sisi lembut dari seorang Doni. Mungkin mereka bisa berteman.


"Terima kasih," kata Lia bersyukur.


Kemudian Lia pergi untuk bertemu dengan Master Revan.


"Selamat pagi Tuan," Kata Lia kemudian membungkuk.


"Lio, selamat datang." Nada suara Revan hari ini terdengar ramah.


"Aku ingin minta maaf untuk yang kemarin. Seharusnya aku tidak melakukan itu. Seharusnya aku bisa lebih bersabar," kata Lia.


"Ya... Aku pun merasa seperti itu. Mari kita memulai sesuatu yang baru. Kita harus mempelajari beberapa hal sebelum pembuatan pisau api. Aku akan mengajarkanmu teknik baru, aku akan mengajarkanmu bentuk yang lebih sederhana, tetapi itu tetap saja akan sedikit susah. Tapi ini akan membantumu untuk mengontrol Api di dalam dirimu."


Lia menatap Revan dengan tatapan tak percaya, dia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Master Revan terlihat lebih lembut dan pengertian.


"Aku tidak akan mengecewakanmu, " kata Lia kemudian mereka memulai latihan.


Sementara itu, Farrel sedang melihat mereka dari ruangannya.Tugas-tugasnya bertambah banyak seiring banyaknya pengetahuan yang ia dapatkan.


Kemudian Kaisar berjalan menghampiri

__ADS_1


Bersambung~~~


__ADS_2