![Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0](https://asset.asean.biz.id/secret---war-of-k-m-dgsp-m4221--locked-oso-0.webp)
“ .... Menurut idealisme-ku,” kata Ret di mana tubuhnya masih terjun bebas di udara, ke dalam gorong-gorong, tentu saja―
*Buk!!*
Hal-hal seperti yang telah dilakukan oleh para gangster maupun si ‘penjahat’ lainnya, bukanlah Kedamaian Dunia menurutku, sial. Andai saja aku terlahir normal seperti manusia lain tanpa ‘Hati Nurani’ ini, demikian pikir Ret.
Walaupun dia terjatuh dengan menakjubkan untuk kedua kalinya, sekarang Ret masih bisa sadar dan terus menatap lubang gelap gorong-gorong di atasnya.
“Aku akan hidup dengan kebahagiaan biasa,” gumamnya, sambil terbaring terlentang di permukaan beton gorong-gorong. “Dan bekerja seperti orang normal biasa tanpa memliki kecacatan manusia, yang disebut ‘Hati Nurani’ ini.”
Namun, si ******* dan si wanita di dalam kegelapan pun merepalkan kedua mata mereka, merasa ngeri, saat melihat Ret terjatuh dengan menakjubkan untuk kedua kalinya.
“Hei, Kau―” (Suara serempak kedua wanita yang bertanya dengan nada khawatir, terdengar jelas oleh Ret) “Apa kamu―”
“... Kamu, tak apa?” tanya si *******, mendekati Ret yang terbaring terlentang.
“Tentu.” Ret sedikit mengangguk tetapi tubuhnya bergetar, kesakitan. “Yang paling penting sih, Kredit-ku aman, huft ... Dan aku bisa menyelamatkanmu dengan benar. Hahaha.”
Dia tertawa hampa sambil menatap si ******* di atasnya, dengan tatapan kosong.
“Kupikir,” kata si *******, dengan wajahnya sedikit merona, “itu bukanlah kecacatan.”
“Ya.” Wanita di dalam kegelapan menambahkan, “Dari tadi mendengarmu terus mengoceh, aku bisa mengerti. Jangan berkecil hati. Dia benar bahwa kau bukanlah manusia cacat. ‘Hati Nurani’ adalah anugrah dari Tuhan―”
“Jangan membicarakan tentangNya sekarang,” tukas Ret, dengan nada mengancam, “Aku juga tidak terlalu percaya tentang hal-hal seperti itu.”
Setelah Ret berkata dengan nada sedikit tinggi, suasana di sekitarnya menjadi hening dan canggung. Hanya terdengar suara air pembuangan di selokan yang mengalir berada tepat di samping tangga besi.
Ret memecah keheningan dengan bertanya kepada si *******, “Oh, ya, siapa namamu? Ngomong-ngomong.”
“Mi―” jawab si ******* dengan gugup, “Namaku, Me.”
“Dan,” kata Ret, berdiri perlahan sambil menatap tajam ke sudut gorong-gorong, ke dalam kegelapan di hadapannya, “siapa kau? Bagaimana kamu bisa tahu ada pintu masuk di sini?”
Wanita di dalam kegelapan tidak menjawab pertanyaannya. Dia hanya diam dan suasana pun menjadi hening kembali.
Ret ingin berdiri tegap, tetapi dia tidak bisa. Kedua tangannya bertumpu pada kedua lututnya sambil sedikit mencondongkan tubuhnya, supaya bisa tetap setengah berdiri. Dia setengah berdiri dengan tubuhnya bergetar kesakitan, dan si pelacur―
“Jangan panggil aku *******-******* seperti itu terus!!”
Ah! OK. Sip―Dan kemudian Me pun mendekati Ret, lalu membantunya berdiri dengan menggenggam kedua bahunya.
“Kau kenapa?!” tanya Ret, terkejut, “Kenapa kamu tiba-tiba berteriak?”
“Un?! Nggak,” gumam Me, memalingkan wajahnya yang merona, “Aku nggak kenapa-napa.”
Dia melihat Me yang ber-rambut pirang panjang, dan mata biru yang kembali menatapnya dengan gugup. Meski wajah dan tubuhnya tertutupi terluka, Me tidak bisa menutupi wajah cantik yang seolah tak asing bagi Ret.
__ADS_1
Aku seperti pernah melihat dia, pikir Ret, menatap tajam Me di sampingnya. Tapi, di mana?!
Ret menatap mata biru Me, dengan tatapan tajam dan mendalam, mencoba mengingat sesuatu.
Aku benar-benar pernah melihatnya. Tapi ... uh, aku pikirkan nanti saja, lah, demikian pikir Ret. Dia menggelengkan kepala, menyerah untuk mengingat.
Ret mengerutkan kening, dan menatap kembali sudut gorong-gorong di mana kegelapan di hadapannya.
“Hei,” sahut Ret, “Kau masih di dalam sana, kan? Kenapa kau tidak mau menjawab?”
“Menjawab apa?”
“Kau tahu tempat ini, kan? Dan Ini di mana―yang paling penting: Siapa kamu?”
“Apa aku perlu menjawabnya?”
Ret kehilangan kata-kata dan langsung terdiam di tempat.
Tentu saja perlu, demikian pikirnya, merasa sedikit geram.
Ret meraih saku jaket olahraga berwarna hitamnya, dan mengambil smartphone-nya. Dia akan mengaktifkan senter pada smartphone-nya.
“Aku sarankan kamu untuk tidak menggunakan cahaya di sini.”
“Kenapa―” (Me dan Ret berkata dengan serempak) “Kenapa?”
“Aku hanya tidak ingin kalian terkejut,” kata si wanita di dalam kegelapan. “Itu saja.”
“Terkejut?!”
Ret dan Me saling memandang beberapa saat. Hal yang telah dikatakan oleh si wanita dalam kegelapan membuat mereka berdua menjadi semakin penasaran.
Sambil mengerutkan kening, Ret mengaktifkan smartphone-nya.
Cahaya layar smartphone Ret, menerangi kegelapan sudut gorong-gorong. Karena gorong-gorong itu hanya terdapat lampu kecil di ujung tangga besi yang berwarna kuning.
Dia mengaktifkan senter di smartphone-nya, lalu mengarahkannya ke kegelapan di mana suara si wanita berada.
Cahaya senter di smartphone Ret, perlahan menyinari kegelapan. Dia menyorot kegelapan sambil berjalan ke depan.
Namun, saat dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kegelapan sudut gorong-gorong, Ret tiba-tiba berhenti.
Bau apa ini, pikir Ret, menghentikan langkahnya dan mundur selangkah, Darah ...!?
Ret memperhatikan sekitarnya, saat Me mundur beberapa langkah ketakutan dan menutup mulutnya, seperti menahan muntah.
Dia melihat Me panik dan terus mundur beberapa langkah dengan wajah cantiknya terus memucat.
__ADS_1
Namun, Ret terus berjalan ke depan sampai cahaya smartphone-nya menerangi seluruh kegelapan di sudut gorong-gorong.
“Apa ini―Siapa kau?” pekik Ret, mundur beberapa langkah ketakutan, “Ini ....”
Tumpukan mayat orang-orang yang pernah dilihatnya di Penginapan pada saat pagi hari, berserakan di sekitar seorang wanita.
Wanita itu duduk dengan lemah, mengenakan pakaian serba hitam dan penutup wajah setengah robek menampilkan wajahnya.
“Aku sudah bilang,” kata si wanita yang duduk di antara tumpukan mayat, “Kalian pasti akan terkejut.”
“Aku ....” Ternggorokan Ret tercekat, seperti dia sedang menelan satu bola tenis. Namun, dia tetap memaksakan untuk berbicara, “Mengapa―apa, aku ....”
“Ng?” Wanita itu mendongak dengan lemah, menatap Ret dengan tatapan sayu.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Ret melihat mayat dan ia begitu banyaknya berserakan di sekitarnya. Meski dia tidak peduli, tetapi tetap saja tubuhnya bergetar hebat dengan perutnya seperti akan memuntahkan makanan yang telah dia makan sebelumnya.
“Siapa ....”
“Ng?”
Walaupun suara si wanita sedikit tinggi dan mengenakan pakaian hitam, Ret bisa tahu dari postur tubuhnya bahwa orang yang duduk di antara mayat-mayat manusia adalah seorang wanita. Dan meskipun orang yang duduk di antara tumpukan mayat itu seorang wanita, Ret tetap waspada mencoba untuk bersiap mundur kapan saja.
“.... Kamu?” tanya Ret, pada akhirnya.
“...” Wanita itu tetap terdiam, dan hanya menatap Ret.
Ret bersiap untuk kabur, kalau-kalau si wanita bisa berdiri dan menyerangnya.
“Tapi ... Dia bisa membunuh orang-orang bertubuh besar itu,” gumam Ret, “Jika dia bisa berdiri, tidak mungkin aku bisa berlari dari―”
“Panggil,” kata si wanita dengan lemah, memotong gumaman Ret, “saja aku ....”
Melihat si wanita dengan seksama sedang melihat mayat-mayat di sekitarnya, Ret gugup sampai-sampai menelan ludah sambil mundur beberapa langkah, bersiap untuk kabur.
“Sei.” Wanita itu menjawab, sambil mendongakkan kepalanya, menatap Ret dengan tatapan lemah, “Panggil saja aku Sei.”
Namun tiba-tiba, Ret mengerutkan kening saat mendengar jawaban si wanita selagi dia melihat bekas luka tak asing baginya. Dia merasa pernah melihat bekas luka di wajah si wanita yang menyebut dirinya Sei.
Ret menarik napas sedalam dalamnya, lalu tenang kembali. Dia seperti menyadari sesuatu dan maju beberapa langkah, dengan berani.
“Kamu ....”
“Ng?”
Sei memiringkan kepalanya dengan ekspersi kebingungan.
Meski Sei mengenakan penutup wajah, Ret tahu bahwa dia sedang kebingungan.
__ADS_1
***