Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0

Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0
[B1-32] Terkadang, Satu Kebaikan Tanpa Sadar Dibalas Oleh-Nya Dengan Rentetan Kebaikan (3/12)


__ADS_3

Siapa itu?! Kenapa hanya langkah kakinya saja bisa membuat Nok terdiam? Mungkinkah, dia itu, demikian pikir Ret. Dia memperhatikan Nok masih secara terbalik, yang tadinya sedang duduk di tempat tidur di sampingnya mulai berdiri.


Nok seperti akan menyambut seseorang yang sedang berjalan menyusuri Sel Jeruji Besi di samping kiri-kanannya. Suara-suara orang sedang bergegas bangun dan langsung berdiri tegap dari dalam Sel Jeruji Besi lain pun menyertainya.


Suara hentakan tiga kaki itu mendekati Sel Jeruji Besi di mana Ret dan Nok berada.


*Krekk!!* Pintu besi tua tiba-tiba terbuka dan seseorang memasukinya.


“Oh! Selamat!” Meskipun orang yang memasuki Sel Juruji Besi mengatakan kata ‘selamat’, nada sarkasmenya tidak dia sembunyikan sama sekali. “Kau mempunyai teman budak baru, Nok.”


“Seperti yang anda lihat,” kata Nok, membungkukkan tubuhnya seperti memberi hormat padanya, “Tuan.”


Walaupun Nok membungkukkan tubuhnya seperti memberi hormat kepada si Tuan, Ret masih bisa melihat wajahnya yang menunjukkan penuh cibiran.


Ret melihat cane hitam dan dua kaki mengenakan sepatu dan celana hitam. Tubuh bagian atas seseorang di hadapan Nok, tidak terlihat olehnya―karena dia masih bersandar di dinding Sel dengan posisi terbalik nan menakjubkan.


“Bolehkah?” tanya si Tuan, langsung berjalan mendekati Ret.


Tuan itu hanya melirik tajam Nok tetapi tanpa menunggu persetujuan darinya sama sekali.


Namun, Nok tetap menjawabnya dengan sangat hormat, “Silahkan, Tuan.”


Pria itu menggertakkan giginya sambil menutup mata dan masih dalam posisi setengah membungkuk.


Seseorang yang dipanggil Tuan oleh Nok, langsung menyentuh kalung besi di leher Ret.


Lalu tiba-tiba kalung budak yang dikenakan Ret, memancarkan titik cahaya biru―dan titik cahaya biru itu menyebar membentuk garis biru yang terhubung ke titik-titik biru baru muncul lainnya.


Menyertai tersambungnya titik-titik biru yang terus bermunculan dan saling terhubung, Ret mulai bisa menggerakkan satu jarinya. Kemudian, dia bisa merepalkan tangannya dan mulai membetulkan posisi duduknya.


”A-apa,” kata Ret, “aku h-harus ....”


Setelah membetulkan posisi duduknya menjadi normal, Ret perlahan mulai setengah berdiri dan membungkukkan tubuhnya.


“Tidak apa-apa. ” Tuan itu menahan bahu Ret agar tidak membungkuk padanya. “Perkenalkan, Ret, diriku yang menjadi Tuan Pasar Budak sekarang.”


Ret melihat Tuan Pasar Budak di hadapannya mengenakan kacamata bulat berlensa satu di mata kirinya. Tuan Pasar Budak itu tersenyum ramah padanya seolah berhadapan dengan kenalan lama.


Meski begitu, Ret masih merasakan perasaan dingin dari balik senyum ramahnya itu. Tuan Pasar Budak di hadapannya mengetukkan cane hitamnya ke tanah, dan mulai berdiri.

__ADS_1


Berpakaian seperti pesulap berwarna hitam dengan topi tinggi, Ret melihat postur si Tuan Pasar Budak mulai menjauhinya.


“Nok,” bisik Ret, “Dia ....”


Nok menolehkan kepala padanya, sambil menaikkan sudut bibirnya.


“Beliau,” koreksi Nok, lalu menjawab tatapan Ret, “adalah Tuan Pasat Budak saat ini, Rat.”


Nok kembali menatap Tuan Pasar Budak di hadapan mereka berdua. Dia lanjut mengguman dengan nada cibiran, “Setidaknya sekarang,” sambil menundukkan kepalanya dan tersenyum tipis saat melihat lantai Sel.


Oh. Aku harus sangat hormat pada Tuan Pasar Budak ini, huh―tapi senyum dia sangat menakutkan, sial, demikian pikir Ret. Dia menatap lantai di bawahnya dan sama sekali tidak berani mengangkat kepalanya.


“Hohoho~” Tuan Pasat Budak itu menolehkan tubuhnya, dan menatap tajam kedua budak yang masih membungkuk. “Kau cukup akrab dengan budak baruku, Nok?”


“Cih.” Memalingkan wajahnya dan sedikit mendecakan lidah, Nok bekata, “Aku kira tidak seperti itu, Tuan.”


“Ya~Aku kira itu bukan masalah, sih.” Tuan Pasar Budak itu tersenyum misterius. “Lagian, Nok, kau tahu, anak muda ini akan langsung menghadiri acara lelang berikutnya.”


“Hah?! Maksudku, apa?” Nok terkejut, membuka lebar mulutnya, “Dia akan langsung dilelang? Padahal, dia baru sampai ke sini tadi.”


Dari apa yang dikatakan si Tuan Pasar Budak, pelelangan itu langka, huh. Tapi kenapa aku yang pergi terlebih dulu, pikir Ret, kemudian bergumam, “Bukannya ....”


Tuan Pasar Budak itu berbalik, lalu melangkah keluar Sel Jeruji Besi.


“Bukankah ‘orang-orang itu' banyak?” lanjutnya berkata dan menutup pintu besi tua Sel dari luar, “Kenapa tidak satu pun dari 'orang-orang itu' yang kemari, ya, Nok?”


“Yah...” Nok mengembuskan napas kecilnya. “Aku pun tak tahu.”


Tuan Pasar Budak melangkahkan kakinya keluar Ruang Sel. Saat pintu keluar tertutup rapat, semua orang di masing-masing Sel Jeruji Besi mereka, duduk serentak di kasur dan menghela napas lega.


“I-itu ....” Ret gugup tetapi tetap bertanya pada Nok, “Kenapa tetangga Sel sebelah terdengar sangat ketakutan padanya? Bukankah kamu dari tadi―kulihat, terus mencibir Tuan Pasar Budak itu.”


“Tetangga, huh,” gumam Nok, mengerucutkan bibirnya, “Pemilihan kata yang aneh. Masing-masing dari kita semua saling bersaing untuk mendapatkan Majikan yang baik kelak. Kenapa kau harus menyebut mereka sebagai, ‘tetangga’?!”


Ret hanya terdiam dan menundukkan kepalanya. Dia merasa tidak enak setelah mendengar perkataan Nok seperti itu.


“Dia―Tuan Pasar Budak, sekarang,” tetapi Nok akhirnya tetap jawab, “adalah Tuan Pasar Budak Distrik.2―kau tahu? Seperti yang dia bilang, walaupun Pasar Budak di Distrik.2 cukup besar―pelanggannya cukup kecil. Sebab itulah dia sangat senang mendapatkan orang bodoh sepertimu, Rat.”


Nok duduk di kasurnya kembali sambil menengok dan menyeringai lebar pada Ret.

__ADS_1


Uh. Apa aku sebodoh itu, ya, pikir Ret. “Maksudku, 10 tahun itu, waktu yang sebentar daripada harus 100 tahun dipenjara, bukan?”


Nok membantahnya, “Tidak. Kau salah, bodoh. Itu waktu yang sangat lama. Situasimu sekarang itu seperti ... Kau tahu? Menarik pelanggan dari Distrik lain dengan produk limited edition―maksudku, produk baru nan terbatas dengan kualitas tingkat tinggi. Kau harus menempuh 10 tahun jadi budak, pasti banyak ******* berlisensi tinggi dan kelas atas di luar sana yang menginginkanmu, Rat.”


“P-pe-*******?! K-kenapa aku harus ....” tanya Ret, tercengang sekaligus gugup-gelagapan.


Nok mengerucutkan bibirnya. “Aku sudah bilang bahwa aku residipis, kan ...? Kredit di sana masih berlaku―maksudku, direset kembali menjadi 0, sih. Dan kami para tahanan, masih 100% diperlakukan sebagai manusia. Sedangkan di sini, kita menjadi budak?! Entah apa yang menunggu kita di masa depan kelak.”


Ret terdiam kembali setelah mendengar penjelasan Nok.


“Ya.” Nok mengangguk ringan. “Walaupun kita dengan para ‘tentangga’ bersaing mendapatkan Majikan yang terlibang baik, tapi hanya ada kurang dari 1% Majikan yang baik di luar sana. “


Uh ... kurang dari 1%?! Apa itu ... kemungkinan seperti itu sama saja tidak ada, sial, demikian pikir Ret. Dia hanya bisa menggerutu dengan informasi yang diterimanya.


“Sebab itulah setiap kelompok kriminalitas tertinggi mendambakan dan berkompetisi untuk menjadi Tuan―”


“Kriminalitas tertinggi, maksudmu ... para ‘Mafia’?!”


“Kau tahu tentang kami, Rat?! Kau bukan bagian dari kriminal, benar? Tidak mungkin ada orang bodoh sepertimu yang menjadi budak 10 tahun, menempuh jalur karir sepertiku.”


Nok seperti menikmati saat terus mengejek Ret tentang kebodohannya kalah sidang di Ruang Pengadilan sebelumnya.


Uh, ‘kami’, huh. Berarti, Nok bagian dari orang-orang berjas hitam itu, ya, pikir Ret, menggelengkan kepalanya.


“Bukan. Aku bukan dari para ‘Mafia’ maupun kelompok kriminalitas manapun. Aku hanya penduduk biasa.”


“Jika seperti itu, kau tahu kami dari mana, Rat?” tanya Nok, dengan nada dingin, “Tidak mungkin penduduk biasa tahu tentang kami kalau bukan bagian dari kelompok kriminalitas di atas kelompok preman.”


Ret langsung mengingat sesuatu sebagai dalih sempurna.


“Aku hanya tahu hal-hal kriminalitas dari sorang teman,” jawab Ret, sambil menggaruk kepala belakangnya sendiri, “Kita hanya mengobrol ringan dan dia memberiku informasi itu supaya berhati-hati. Katanya, kalau aku bertemu dengan mereka aku akan langsung mati tanpa kuketahui penyebabnya.”


“Hahaha....” Nok tertawa terbahak-bahak dan setuju dengan perkataan Ret, “Ya! Kau pasti akan lenyap tanpa kau ketahui pastinya!!”


“Tapi ....” Ret mengumpulkan keberaniannya, lalu bertanya padanya dengan gugup, “Kau tidak akan melenyapkanku di sini, kan, Nok?”


Nok menyeringai lebar setelah mendengar Ret bertanya seperti itu padanya.


***

__ADS_1


__ADS_2