Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0

Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0
[B1-21] Jangan Pernah Mencari Keributan Di Siang Bolong!


__ADS_3

“Tapi mungkin," gumam Ret, menyadari sesuatu, "Aku juga akan dicurigai sebagai komplotan pengkhianat.”


Aku akan menyelesaikan apa yang telah aku lakukan saja, lah, demikian pikirnya. Ret membulatkan tekadnya dan memajukkan telunjuknya kembali.


Ret menekan kolom kecil di mesin penjual coklat otomatis di hadapannya, untuk terus membeli produk coklat bermerk: Choco Marble.


Pria muda itu terus membeli produk yang sama. Namun sekarang, dia semakin terbiasa dan tidak ragu untuk melihat, merobek dan menekan kolom pada mesin penjual otomatis. Dia membuang bola-bola coklat ke kantung plastik yang telah dia siapkan.


“Walaupun ini memang masih terasa berat, huh,” gerutu Ret, melemaskan jari-jari tangan kananya. Sesuatu yang seperti ini sangat berat, untuk hatiku.


Walau terasa sangat berat olehnya menghamburkan Kredit-nya, Ret terus merobek bungkusan produk coklat bermerk: Choco Marble, dengan keteguhan hati yang kuat.


Kedua preman yang membeli begitu banyak produk coklat jenis sama dengan Ret, sudah mulai berdiri dan berjalan kembali menuju ke tempat di mana dia berada.


Ret sedang fokus pada bungkusan produk coklat Choco Marble di pegangnya, tidak memperhatikan kedua preman yang mendekatinya.


Aku membuang hidup mewah di Penginapan untuk tujuh hari, huh, demikian pikir Ret, menghembuskan napas beratnya.


Dan tak terasa, saldo di rekeining World Bank miliknya sudah berkurang lebih dari 80 Kredit.


“Uh.” Ret mendesah frustasi. “Sial. Ini, bagaimana, ya, jika ....”


Tepat saat dia membuka bungkus Choho Marble yang ke-45, mulut Ret tiba-tiba menganga.


Mulut yang terbuka lebar disertai mata hitam berbinar pada wajahnya yang terpaku ke dalam bungkusan coklat ditangannya.


Ret menghembuskan napasnya yang terhenti sejenak, lalu mengangguk diam.


Mata Ret lebih berbinar terang saat menyentuh plastik transparan di antara bola-bola coklat di dalam bungkusan.


Ini ... Apa aku, pikir Ret, tercengang sendiri. “Benar-benar mendapatkannya?!”


Kedua preman melihat Ret dengan mata yang berbinar bahagia, dan si Bos premanmemberi suatu intruksi dengan tangan ke anak buahnya, selagi Ret dengan bodohnya mengeluarkan pastik transparan dan membolak-balikannya dengan teliti.


Uh. 82 Kredit-ku habis hanya untuk ini? Dan bola-bola coklat ini akan aku apakan, ya, demikian pikir Ret.


Selagi Ret berpikir demikian, si Bos preman menggumamkan, “Prangko berwarna oranye?! Aku sangat beruntung,” dengan sangat antusias.


Preman itu memberi kode kepada anak buah di belakang Ret, untuk menabraknya.

__ADS_1


“Uh. Tapi ini semua lebih mahal dari berlangganan koran. Tidak mungkin aku buang begitu saja.” Ret tersenyum tipis, dan lanjut bergumam, “Apa aku berikan ke si Selui saja? Un. Kupikir itu ide yang bagus―”


*Buk!!!*


Ret disenggol oleh anak buah si Bos preman dari belakang dengan kuat. Dan Prangko Oranye ditangannya jatuh ke lantai, saat dia akan memasukannya ke saku.


Dengan tergesa-gesa, mereka berdua berjongkok untuk mengambil Prangko di lantai. Dan anak buah si Bos preman berhasil menyentuh Prangko Oranye, tetapi Ret langsung menarik dan memasukkannya ke kantong plastik dengan tergesa-gesa.


“Santai saja, Bos!” seru anak buah si Bos preman, menyeringai lebar pada Ret.


“Itu, a-aku,” kata Ret terbata-bata, “Te-Terimakasih, dan―”


“Iya.” Bos preman yang berada di samping Ret, menambahkan, “Santai saja.”


Kedua preman itu menolehkan kepalannya ke sudut atas ruangan dan menunjukkan kamera pemantau dan CCTV.


“Uh,” desah Ret, sedikit lega. Kupikir preman-preman ini mau mencurinya dariku. Ternyata mereka mempunyai akal sehat juga. Mereka masih takut dipenjara, huh.


Ret menundukkan kepalanya, mencoba berpostur serendah mungkin.


“Tidak apa-apa, Sungguh, permisi, itu tidak apa―”


“Berikan padaku,” kata si Bos preman, memotong perkataan Ret, “Prangko itu, berikan padaku, Nak.”


Mengetahui kedua preman tidak bisa menyerang di Wilayah Penduduk Kelas Atas, Ret mencoba untuk kabur melalui celah di antara ke dua preman.


Ret terus berjalan, tanpa menghiraukan si Bos preman yang berkata, “Aku akan katakan sekali lagi ....”


Lalu langkah Ret tiba-tiba semakin berat, tetapi dia tidak mendengarkan perkataan si Bos preman, dan terus berjalan.


“.... Berikan padaku―”


Suara si Bos preman terputus oleh suara pintu Super Kombini terbuka: Terimakasih telah berbelanja di Super duper―Namun, Ret tidak mendengarkan suara selamat tinggal mekanisme wanita, dan mulai mempercepat langkahnya.


Di setiap kamera pemantau maupun CCTV di tempat umum tidak ada penyadap. “Jadi, bagaimana aku harus kabur dari mereka? Dan sepertinya mereka takut kamera pemantau?!”


Ret berpikir keras sambil memperhatikan CCTV di setiap sudut Bangunan.


Aku pikir mereka bukan preman yang menguasai Wilayah ini, demikian pikir Ret. Dia terus berjalan.

__ADS_1


Berbeda dengan gangster-gangster di Wilayah Penduduk Kelas Menengah sebelumnya saat Ret menyelamatkan Me, preman-preman di Area.5 yang merupakan wilayah penduduk kelas atas memiliki tubuh yang kekar dan jauh lebih tinggi dari Ret.


Uh. Lagian, bodohnya aku, pikirnya, mendesah frustasi, Kenapa juga tadi aku harus mengeluarkan Prangko ini!


Ret berlari kecil sambil menoleh ke belakang, melihat dua preman tadi mulai mengikutinya.


“Sial,” gerutu Ret, menengokkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, “Untuk sekarang―”


Ret terus kabur dengan memperhatikan kamera pemantau yang ada di sekitarnya. Dia seikit mengingat tata letak setiap kamera pemantau di setiap Gedung maupun Bangunan yang telah dilewatinya.


“Cih,” decak kesal Ret, mengerutkan keningnya saat menoleh ke belakang. “Sampai kapan mereka mau mengikutiku?! Apa aku harus melawan preman lagi?”


Ret sama sekali tidak melirik gang-gang di antara Bangunan. Di setiap gang yang dia lewati, satu persatu preman keluar dan mulai mengikutinya.


Namun, tidak ada satu preman pun yang berani mencegatnya berjalan.


Tidak mungkin aku melawan orang-orang bertubuh besar seperti mereka sendirian, huh, demikian pikir Ret.


Menggelengkan kepalanya, Ret mulai berlari dengan cepat saat tidak ada penduduk asli Area.5 yang berkeliaran di sekitarnya.


“Aku akan masuk ke Bus saja!!” Ret berdecak kesal sambil mempercepat langkahnya, “Cih. Tidak ada pilihan lain, ya.”


Walaupun langkah Ret bisa dikatakan sangat cepat, preman-preman di belakangnya tetap pada jarak yang sama.


Ret terus berlari, berbelok tidak tahu arah.


Dan, dia baru ingat, “Aku sama sekali tidak pernah naik transportasi umum!” bahwa dia tidak pernah berpikir untuk naik kendaraan transportasi, karena terlalu mahal.


Apa aku berikan saja Prangko ini, pikir Ret, melihat preman-preman di belakangnya, ke mereka?!


Preman yang mengikuti Ret, tiba-tiba bertambah banyak satu demi satu. Mereka bergerombol dibelakang Ret, dan mengikutinya dengan menjaga jarak tertentu.


Dan jika Ret berhenti berlari karena ada penduduk Area.5, preman-preman yang mengikutinya langsung masuk ke gang-gang di samping mereka.


Tidak ada yang dengan bodohnya menyerang dan membuat keributan di siang hari bolong, dengan kamera pemantau di segala sudut dan para Anggota Unit Justice-man dengan seragam silver mewah mereka berkeliaran, para preman yang mengejar Ret, terus mencari kesempatan untuk menyergapnya.


Aku pikir tidak? Aku masih memliki kesempatan, huh. Mereka masih takut pada Unit Justice-man. Kupikir, mereka benar-benar bukan penguasa Wilayah ini, demikin pikir Ret, menganggukkan kepalanya.


Dia berpikir demikian, tetapi preman-preman yang mengikutinya tahu bahwa Ret bukan bagian dari para sultan―para Penduduk Kelas Atas. Walaupun begitu, mereka tetap waspada supaya tidak mengganggu para sultan di sekitar mereka.

__ADS_1


“Sepertinya mereka sama sepertiku,” gumam Ret, mengangguk kecil sambil memperhatikan sekitarnya. “Tidak mau mencari keributan di Wilayah para sultan ini.”


¤¤¤


__ADS_2