![Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0](https://asset.asean.biz.id/secret---war-of-k-m-dgsp-m4221--locked-oso-0.webp)
“.... Mereka bekerja sama untuk menjatuhkan para ‘kriminalitas’ di seluruh penjuru Distrik.1―serta Area yang merupakan wilayah penduduk kelas atas dan klaster-klaster di atasnya.”
Ret tiba-tiba langsung mengerti dengan apa yang telah dijelaskan Nok.
Menjatuhkan para ‘kriminalitas’ setempat?! Apa yang dipikirkan Partai Distrik.1? Ia sungguh tidak masuk akal, dan, pikir Ret, kemudian bertanya, "Mereka ingin menghancurkan keseimbangan yang telah dibuat Sistem Dunia ...? Ah! Kamu, bukan dari Distrik.2 ini, Nok?!"
Kriminatias―atau kejahatan legal yang teratur adalah situasi umum pada Era Hiburan. Jika suatu kelompok menghancurkan-nya, keseimbangan Dunia yang telah Sitem Dunia buat akan hancur dan kemungkinan perang antar Distrik akan terjadi.
“Ya.” Nok mengangguk sambil menopangkan kepalanya ke tangannya sendiri, dan menghadap Ret. “Aku bukan berasal dari Distrik.2 ini. Aku memang berasal dari Distrik.1 dan dijebak sampai ke Pasar Budak Distrik.2 ini tapi ... kau tahu, kan, apa yang akan terjadi jika keseimbangan salah satu Dunia lenyap?”
Nok tersenyum sinis pada Ret, sambil menatap tajam dirinya.
“Perang,” gumam Ret, melebarkan matanya. Saudara ...!!!
Pria muda itu melebarkan matanya, terkejut.
“Kau benar!” Nok mengacungkan jempol, sambil tersenyum lebar. “ Yah ... Walaupun aku bisa sampai ke sini karena bantuan seorang teman―meski kami berbeda Distrik tetapi kami masih sama-sama berada di tengah-tengah kekuasaan para ‘Mafia’”
Pengetahuan umum bawha Dunia yang dimaksud Nok yakni: Dunia Kriminalitas, Dunia Bisnis, Dunia Politik, dan Dunia Jalanan, maupun Dunia Seni yang hampir punah. Jika salah satu dari Dunia tersebut menghilang, orang-orang yang mencurahkan hidup, jiwa, dan raganya terhadap Dunia tersebut akan berkumpul menjadi satu kelompok dan memulai bergabung dengan para pemberontak.
“Seperti orang-orang idiot itu, huh,” gumam Ret, menyentuh dagunya seraya berpikir, Jadi, orang-orang seperti Sei akan terus bermunculan kembali?!
“Oh,” kata Nok, setelah mendengar Ret mengguman seperti itu, dia mengangguk sambil mengerucutkan bibirnya, “Dunia Kemiliteran, huh, aku tidak tahu apa yang dipikirkan YES―maksudku Sistem Dunia saat itu, tapi ....”
Sistem Dunia telah menghilangkan ancaman terbesar umat manusia terhadapnya sejak dulu kala. “Menghilangkan militer di setiap ‘Negara’ dan po-apa-itu-si adalah hal utama yang dilakukanNya. Dan juga, ‘mereka’ berhasil melakukannya dengan sangat mudah ... cih.”
Setelah Nok berkata seperti itu, dia menggelengkan kepalanya.
“Uh-huh,” kata Ret, mengangguk-ngnagguk. “Aku tidak tahu apa yang dipikirkan para manusia dulu tapi ....”
“Yang bisa kita lakukan sekarang adalah menjaga keseimbangan Dunia, benar?” kata Nok, menaikkan sudut bibirnya sambil melirik Ret.
“Uh.” Ret mengangguk setuju. ”Kau benar. Kalau ada perang pada saat ini pasti akan berakibat sangat buruk untuk seluruh umat manusia.”
Nok berkata, “Umat manusia, huh ....”
“Uh?!” Ret kaget saat melihat Nok berkata dengan jengkel dan menolehkan tubuhnya menghadap dinding.
__ADS_1
Kemudian, Nok hanya menolehkan kepalanya ke Ret, dan berkata, “Kau terlalu baik berkata tentang ‘umat manusia’. Kau tahu, Ret, manusia saat ini sudah hancur menurut ‘orang-orang idiot’ yang kau maksud itu.”
“A-Hahaha.” Ret hanya bisa tertawa kering, sambil mengusap kepalanya sendiri dengan canggung. “Itu hanya sebutan orang-orang di Ruang Makan Penginapan ... Aku tidak tahu orang-orang idiot itu disebut apa sebenarnya―”
“Mereka semua itu biasa kami sebut: *******,” sela Nok, memunggungi Ret kembali, dengan suara kata ‘Teroris’ yang dikatakan Nok, menggema sampai ke hati Ret.
*******?! Apa itu, pikir Ret, bingung, 'Teror' itu kata yang sangat menggangguku, huh. tapi ....
“Seperti yang kau pikirkan. Meski itu terkesan buruk, mereka tidak pernah menyerang satu pun dari Dunia yang masih ada,” jelas Nok, masih memunggungi Ret, “Mereka hanya menyerang Partai-partai tertentu, dan tidak pernah menumpangkan tangannya ke penduduk sipil. Dan, aku mungkin mengerti―”
Ret heran dengan Nok yang memotong perkataannya sendiri. “Huh?!”
“Lupakan,” gumam Nok, menggelengkan kepalanya. “Bukan apa-apa. Tidurlah! Besok kita akan sarapan sangat pagi dan olahraga yang tidak jelas sampai siang hari ....”
“Sarapan itu,” gumam Ret, menyentuh dagunya, “Makan pagi, huh.”
“Huh ... Kau ternyata sebodoh itu, Ret,” gerutu Nok, “Entah kenapa si Tuan Pasar Budak harus memfasilitasi kita olahraga, makan dan sebagiainya seperti ini. Sangat terasa menyebalkan saat harus melawan lawan yang ....”
Nok terus menggerutu sepanjang malam. Dan Ret yang terbaring di lantai di samping tempat tidurnya dengan hanya melihat langit-langit Sel sambil terbaring terlentang.
Aku benar-benar akan menjadi budak, huh, demikian pikir Ret, mulai menutup matanya untuk beristirahat.
Nok yang berhenti mengigau pun mulai tertidur.
Malam yang sangat dingin ditambah lantai Sel tempat Ret tidur―dia tidak peduli lagi apakah dia akan sakit atau tidak.
Suara-suara orang mengigau dan menjerit-jerit tak karuan terdengar Sel Jeruji Besi laninnya.
Ret terbangun dan membuka matanya tiba-tiba, lalu mengeluh. “Uh ....”
“Jangan pedulikan mereka,” kata Nok, masih menutup kedua matanya, “Nih ....”
Nok melemparkan sebuah bantal dengan kesal ke belakangnya.
Ret mengambilnya dan berkata, “Bagaimana dengan mu, Nok ....”
“Pakai dan tidur saja cepat!” desak Nok, menenggelamkan kepalanya ke kasur.
__ADS_1
Setelah didesak seperti itu, Ret pun menenggelamkan kepalanya menggunakan bantal, mencoba untuk tidak mendengar suara-suara di sekitarnya.
“Oke,” sahut Ret, “Terimakasih, Nok!”
“Ng.....” Nok hanya menjawab dengan dengkuran.
Malam yang tak pernah terpikirkan oleh Ret, sebagai budak baru. Namun, dia tidak pernah berpikir untuk bertemu orang baik seperti Nok. Dia memikirkan banyak hal di dalam tenggelamnya kepalanya ke bantal.
Mimpi yang Ret tunggu-tunggu tidak terwujud untuk hari ke-2nya. Dia tiba-tiba langsung terbangun saat pria di atas kasur mulai duduk di sudut tempat tidurnya.
“Oh!?” Nok sedang memainkan smartphone. “Kau terbangun, Ret. Maaf. Apa aku memangunakanmu?”
“Uh,” desah Ret, masih setengah sadar, “Tidak. Apa ini sudah pagi?”
Sambil terus menundukkan kepalanya, Nok menjawab, “Sekarang masih dini hari―tapi bukan hal buruk untuk bangun lebih awal. Kalau kita telat ke Ruang Makan, kita tidak akan kebagian makanan.”
Sama saja dengan saat aku menginap di Penginapan, huh, demikian pikir Ret. Dia duduk sambil mengucek matanya.
Ret heran saat melihat Nok, memainkan smartphone. Dia menatapnya dari bawah sambil memiringkan kepalanya.
“Aku bingung mau aku apakan benda ini,” kata Nok, tertawa kering setelahnya, “Kredit-ku minus 7 seperti ini―tidak ada yang bisa kubuka sama sekali.”
“Uh ....” Ret tiba-tiba memalingkan wajahnya dan mendesah frustasi. “Kalau Kredit-ku ....”
Ret sama sekali tidak berani membuka smartphone-nya. Dia hanya memalingkan wajahnya menatap sebuah pintu di dalam Sel Jeruji Besi.
“Huh?!” Nok menatap Ret yang masih duduk di lantai. “Berapa?”
Sekitar -2.560 Kredit, aku kira, segitu kalau aku tidak salah, pikir Ret, tetapi dia berkata, “.... Lebih dari minus 1000 Kredit, kurang lebih, sih.”
Nok menyeringai lebar padanya, selagi Ret terus memalingkan wajahnya.
“Nok, ngomong-ngomong ... kamu hanya minus 7 Kredit,” tanya Ret, menatap Nok kembali, “Bukankah kamu bisa meminjam ke ‘teman’ para ‘Mafia’ di Distrik.2 ini―yang kamu maksud tadi?”
Setelah mendengar pertanyaan Ret, Nok hanya menggelengkan kepala sambil berdecak kesal. Pria itu memalingkan wajahnya dari tatapan Ret.
¤¤¤
__ADS_1