Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0

Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0
[B1-42] Teroris & Pembunuh Itu Sebenarnya Hanyalah Pemalas Sejati!


__ADS_3

Tidak ada waktu untukku berlinglung ria seperti ini, huh, sial. Berapa sisa Kredit-ku sekarang, ya, demikian pikir Ret. Dia mengaktifkan smartphone-nya dan mengakses saldo rekeningnya di portal Terminal Mobile World Bank, yang menujukkan angka: 0 Kredit.


“Uh,” desah Ret, menggelengkan kepalanya dan mendesah frustasi. “Aku tahu di mana Informan Prangko Oranye itu berada sekarang. Tapi ....”


Kredit dengan saldo 0 sama saja dengan tidak hidup untuk penududuk klaster manapun. Ret hanya bisa bertahan 1 bulan sebelum jadi budak kembali atau mendapatkan catatan kriminal secara acak.


Aku hanya punya waktu 1 bulan untuk mendapatkan minimum Kredit, huh―Aku tidak mau ke Penampungan Budak itu lagi, sial―apalagi dijual di Pasar Budak. Kejadian kemarin sangat menyeramkan, demikian pikir Ret. Dia menggelengkan kepalanya saat sedikit mengingat kejadian di Penampungan Budak.


“.... Aku harus menghindari Gacha Crime di pengadilan apapun yang tejadi, huh,” gumam Ret, mendesah prustasi sekali lagi. Aku pikir catatan kriminal tidak telalu berpengaruh. Tapi kalau apa yang dikatakan N-siapa-o-itu benar?! Apa yang akan terjadi padaku nanti, uh, pikir Ret, kemudian lanjut bergumam, “Menjadi budak dan memiliki 1 catatan kriminal saja, sama saja menjadi budak seumur hidup, huh.”


Ret merinding saat membayangkan jika dia menjadi budak seseorang seumur hidupnya.


“Jangan sampai aku mendapatkan catatan kriminal,” tekad Ret sambil menggenggam erat smarphone-nya dengan kuat, “Huh ... apapun yang terjadi, jangan sampai aku melibatkan diri ke dalam Dunia Kriminalitas, lagi!”


Ret berjalan menyusuri jalan setapak di dalam hutan rimbun dengan hanya mengenakan selimut biru di pinggangnya. Dia sangat ingin cepat-cepat kembali ke Penginapan karena malam hari di hutan sangat dingin.


Namun, tidak ada waktu untuknya mengeluh, karena dia hanya bisa terus menuyusuri jalan setapak , dan Ret tahu bahwa Me dan pamannya seperti menunjukkan jalan khusus menuju ke Distrik―Area tertentu, tanpa ada satupun jalan aspal maupun jalan raya yang terlihat.


Dengan Kredit 0 seperti ini, apa aku harus ke Panti Sosial saja, ya, pikir Ret, tetapi dia langsung menggelengkan kepalanya. “Untuk sekarang, aku harus mengemis ke si Selui sajalah.”


Ret pun keluar dari hutan rimbun.


Hamparan padang rumput hijau dikelilingi pepohonan, terhampar di hadapannya. Dan dia sedikit mendongakkan kepalanya, melihat bulan yang berada di atasnya. Kemudian, Ret melihat deretan pepohonan hutan rimbun cukup jauh di bawah cahaya terang bulan.


Ret pun kembali memasuki hutan rimbun.


Lagian, pikir Ret, berjalan menuju tepat ke arah terangnya bulan, dari awal tujuanku hanya untuk menyembuhkan luka-lukanya saja, kan.


Namun, berbeda dengan hutan rimbun sebelumnya yang sangat hijau. Hutan rimbun di sekitarnya sekarang sangat


terlihat seperti hutan mati. Dan semakin dia memasuki hutan rimbun, semakin gelap dan bau yang tak asing baginya.


“Huh ....” Ret menghembuskan napas beratnya, lalu menutup hidungny. Sial. Ini sangat bau! Tapi, pikir Ret, kemudian bergumam, “Aku tahu aku akan ....”


Keluar dari hutan rimbun yang mengitari Distrik.2―Area.0, Ret melihat deretan Bangunan Kumuh serta jalan raya yang mengitarinya.


“.... Sudah kuduga,” kata Ret, melihat bagian belakang Bangunan Besar yang tak asing baginya. Tempat tinggal si pengemis S-apa-itu?!


Dia memasuki gang belakang Bangunan di mana Bangunan si pengemis Informan Pranko Biru tinggal. Lalu saat dia keluar dari sisi gang lainnya, Ret melihat Taman Kumuh pusat Area.0.


Yap. Aku bisa tenang sekarang, mengetahui ini Wilayah yang kukenal, demikian pikir Ret, mengangguk lega. Dia kembali menuju ke Penginapan Area.0 di mana dia menginap.

__ADS_1


Setengah jalan dia berjalan dari Taman Kumuh, matahari sudah mulai muncul. Ret melihat matahari sambil bergumam, “Aku belum makan sama sekali, huh."


Ret kembali ke hadapan Bangunan Penginapan pinggiran Area.0, tepat dan pas masih waktu makan pagi telah siap.


Memasuki Ruang Makan terlebih dulu, orang-orang di sekitarnya tercengang saat melihat Ret hanya mengenakan selimut di pinggangnya.


“Apa yang kau lakukan, Rat?”


“Dia sepertinya mulai gila?”


“Apa dia tahu akal sehat?!”


“Ah! Mungkin Rat sudah tidak bisa menjual informasi ilegal lagi―dan sekarang dia menjadi ******!!”


“Ya! Mungkin seperti itu, huh.”


Bisikan-bisikan ejekan, terdengar jelas oleh Ret yang sedang menuju ke meja makan yang biasa dia duduki.


Uh. Aku tahu akan menjadi seperti ini―dan juga, apa itu ******, demikian pikir Ret, duduk di kursi meja makan.


Pramusaji menahan tawa tetapi tetap mendatanginya.


“Tidak. Aku tidak akan membeli apa-apa sekarang. Jatah makan pagi-ku saja, tolong.”


“O-oke~”


Pramusaji itu masih menahan tawa dan berbalik menuju ke dapur untuk mengambil pesanan Ret.


“Selamat menikmati hidangannya, Rat.”


Tanpa mendengar perkataan si pramusaji yang menahan tawa namun masih penuh dengan nada sarkasme, Ret berdiri dan membawa hidangan makan pagi ke Ruangan-nya.


Suara langkah kaki Ret menaiki anak tangga, mengiringi suara tawa orang-orang yang berada di Ruang Makan.


Tetapi Ret mengabaikannya, dan melihat tumpukan koran di celah daun pintu Ruangan-nya. Dan dia mengambil semua koran tersebut, lalu membuka pintu.


“Aku kembali―”


Perkataan Ret, dia putus sendiri saat melihat Sei.


Dia tercengang melihat Sei dengan posisi yang menakjubkan, sedang malas-malasan di tempat tidurnya. Lalu saat mereka berdua saling memandang, kartu nama berwarna pink-putih jatuh dari sela selimut pinggang Ret.

__ADS_1


Yah. Sukurlah kalau, pikir Ret, tersenyum lega. “Kau terlihat sehat, Sei.”


Wanita itu mengabaikan Ret, dan dengan ekspresi serius di balik masker hitamnya, dia membetulkan posisi tidurnya.


“Ng.” Sei bersandar di dinding sambil berkata pada Ret, “Kau sudah bekerja keras―”


Mata jeli Sei bisa melihat kartu nama yang Ret jatuhkan. Wanita itu tiba-tiba mengerutkan keningnya dengan dalam, dan disertai wajah yang sangat gelap nan suram.


“Apa itu, Rat?” tanya Sei, dengan nada yang sangat dingin.


Itu?! K-Kartu nama dari Me? Huh. Itu, pikir Ret, menundukkan kepalanya dan melihat kartu nama yang sangat terang di lantai. “I-itu ....”


Ret mulai gugup dan tidak bisa bergerak sedikit pun. Dia mematung di tempat sambil menenteng koran dan nampan.


“Ng?” desak Sei, menatap tajam Ret yang masih mematung di tempat. “Apa, itu?”


Sei kemudian memandangi tubuh Ret yang hanya mengenakan selimut biru di pinggangnya.


“I-in-ini ....” Ret hanya bisa terdiam, gugup dan gelagapan. “I-itu.”


Mata Sei terus memandangi tubuh Ret, lalu berhenti di selimut biru di pinggangnya.


Kenapa juga aku harus gugup?! Sial. Apa ini ... Apa aku ketahuan selingkuh atau apa, demikian pikir Ret. Meskipun dia menggerutu terus di dalam hatinya, tetapi punggunggnya masih meneteskan keringat dingin.


Tatapan tajam Sei, semakin tajam saat menatap kedua mata hitam Ret.


Sei berkata dengan marah, “Sudah kuduga, huh, kau malah main ke Rumah Bordil? Ng ...? Dan itu di Distrik.5?! Yang merupakan wilayah penduduk kelas atas ...? Sial. Jangan mengatakan hal-hal seperti kecacatan bodohmu itu. Kalau kau tidak benar-benar mau membantuku, bilang saja dari awal―biarkan saja aku di sini.”


“Tidak. Bukan, i-ini―i-itu ....” Ret ingin membantahnya tetapi terlalu gugup. Dan dia hanya bisa mendekati Sei, sambil menenteng nampan. “Maksudku, aku―”


“Dan kau sampai menjual semua pakaiannmu?!” Sei mencubit alisnya sendiri sambil menggelengkan kepalanya. “Apa yang kau lakukan, sih, Rat.”


Ret tidak bisa berkata-kata. Dia diam sejenak untuk merangkai kata yang tepat supaya bisa dimengerti Sei.


“Aku ....”


¤¤¤


N/A: {Seperti yang tertera di judul [B] ini, ‘mereka’ yang menggembor-gemborkan hal-hal tak dimengerti Nurani dan jelas suatu kegiatan ‘kejahatan’ yang sangat merusak Empati sekaligus Moral―padahal aslinya ‘mereka’ hanya malas bekerja, kan ...? “Bekerja sama saja kalah dengan Sistem”?! Awal dari ******* dan Kejahatan tercipta itu, salah satunya kalimat tersebut. “Karena itu tidak menyenangkan dan terasa sangat memuakkan saat melakukannya secara terus menerus, itu disebut: ‘Bekerja’. Jika sesuatu yang jelas menyenangkan dan membahagiakan, itu namanya: ‘Main’”.}


{Yap. Walaupun perangkai kata-kata ini sama-sama hikki-NEET juga, sih. Sumber: Bersin-man}

__ADS_1


__ADS_2