Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0

Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0
[B1-16] Herbal Itu, Pasti Obat Yang Paling Dicari dan Terpercaya! (1/3)


__ADS_3

“Siapa?!” Ret tidak pernah tahu tentang penyembuhan tanpa obat atau tanpa Sistem. “Mereka itu Unit atau apa?”


“Adalah orang-orang yang mengembangkan obat―bukan dengan Energy maupun bahan kimia murni dari inti Energy, atau juga bukan dengan bantuan dari Robot buatan ‘mereka,” jelas Sei, menatap plafon kayu di atasnya, “Tetapi obat hasil asli dari Bumi kita, yang dari dulu kala biasa disebut: Herbal ....”


Sambil tersenyum percaya diri, Sei menengokkan kepalanya pada Ret.


“.... Penyembuh ‘kami’ yang sering disebut sebagai: Herbalish, Master Herbal, maupun Thabib,” kata Sei, menaikkan alisnya, “Yah. Apapun itu. Yang pasti, mereka itu hebat.”


“Herbalish, huh,” gumam Ret, menyentuh dagunya. “Aku baru dengar tentang mereka.”


“Ya. Tentu saja!” seru Sei dengan percaya diri, dan kembali menatap langit-langit Ruangan, “Kami cukup hebat dalam merahasiakan informasi.”


Ret mengangguk setuju.


Bahkan, Army-man pun dibuat kewalahan selama ratusan tahun oleh para idiot seperti mereka, demikian pikir Ret.


“Jadi,” tanya Sei, “Terakhir kau membeli informasi dari siapa, Rat?”


“Uh.” Ret menghembuskan napas kecilnya, dan kemudian tertawa kering karena enggan untuk memberikan informasi-nya ke Sei, “Dia ....”


“Ng?” desak Sei, sambil kembali menolehkan tubuhnya pada Ret. “Siapa?”


Ret terdiam dan mengalihkan pandangannya.


“.... Entahlah. Aku juga tidak tahu siapa dia.”


“Ng ...?! Maksudmu?”


“Pengemis itu memiliki akun World Bank: %$##112, dan berkata kalau aku bisa memanggilnya dengan sebutan: %$##. Uh..... Tidak. Kalau tidak salah dia mengatakan: $##%? Sss-s ... Apa, aku lupa.”


Ret menggelengkan kepalanya, menyerah untuk mengingat.


“Pengemis ...?” gumam Sei, memicingkan alisnya, “Apa itu dia?! Kau cukup beruntung kalau mendapatkan informasi dari pengemis, Rat.”


“Apa itu? Bukankah biasanya para gelandangan ilegal yang menjual informasi?!” Mendengar Sei berkata seperti itu, Ret kebingungan dan bertanya, “Kamu tahu sesuatu tentang dia, Sei?”


“Tidak. Ng..... Mungkin itu dia, tapi ....”


“Huh?!”


“Yah. Jika aku tidak salah, pengemis itu, bernama: So͝oR”


“S ...? Apa?!!” Ret tidak mengerti cara untuk melafalkan nama si pengemis yang merupakan Informan-nya. “Bagaimana cara melafalkan namanya?”


“Hahahaha. Kau ternyata bodoh, Rat! Belajarlah 'Bahasa Universal' terlebihdulu sebelum membaca buku idiot itu.”


“Itu memang sulit, kau tahu? Namanya terdengar seperti: $##%, dan jika aku ucapkan itu mejadi: SuRRe ... Apa?! Huh, tapi bukan itu, ya.”


Tertawa kosong setelah mendengar Ret, lalu Sei menatap buku tebal di atas meja di samping pria itu.


Sei berkata, “Pria tua bodoh itu bernama: So͝oR. Ingatlah namanya. Mungkin. Ini cumua kemungkinan kecil, sih. Tapi, dia mungkin rekanku.”

__ADS_1


Ret terkejut, “Rekan ...?!”


“Ng.” Sei mengangguk ringan. “Sebut saja dia Pak Tua So͝or. Aku yakin dia akan tertawa.”


Mereka berdua terus berbincang tentang hal lain selain hal yang penting untuk diperbincangkan. Herbalish serta luka-luka di tubuh Sei seolah terlupakan oleh perbincangan hangat mereka berdua.


Tertawa kosong bersama, menjadi serius bersama, dan sejenak hening lalu kembali ke perbincangan mengenai topik-topik unik, melupakan waktu untuk beristirahat serta masalah mereka, Ret dan Sei terus berbincang dengan hangat.


Mereka berdua pun menjadi sangat akrab seolah mereka telah menjadi kenalan lama.


Setelah mereka berdua kehabisan topik untuk dibicarakan, keheningan dan suasana sunyi entah untuk ke-berapa kalinya di sekitar mereka berdua. Bukan karena salah satu dari mereka tertidur atau kelelahan, Ret dan Sei hanya terdiam, saling menatap dan tersenyum satu sama lain.


“Apa,” kata Sei, memecah keheningan suasana di sekitar mereka berdua, “tidak masalah? Kau akrab dengan ‘penjahat’ sepertiku, Rat?”


Seolah melupakan bahwa Sei pernah berada di tengah-tengah tumpukan mayat sebelumnya, Ret kembali sadar.


“Yah....” Ret menghembuskan napasnya dengan berat. “Jika kupikirkan lagi, aku memang aneh, sih, bisa akrab dengan ‘penjahat’ sepertimu―Hahaha―Maksudku, jika mimpiku untuk menjadi Anggota Unit Justice-man, seharusnya aku ....”


Sudah melaporkanmu sedari awal, huh, demikian pikir Ret. Dia menggelengkan kepalanya sambil mendesah pasrah.


Ret menaikkan alisnya, lalu berkata, "Kau tahu, kan, maksudku, Sei?"


“Rat, apa kau benar-benar tidak akan melaporkanku ke Unit Justice-man?” tanya Sei, menatap tajam Ret. “Kau tidak akan bisa masuk Sekolah Keamanan, Rat. Kalau bisa selalu akrab dengan ‘penjahat’ sepertiku.”


Suasanya menjadi sangat serius yang membuat Ret sangat gugup.


“H-huh?!” Ret melebarkan matanya, terkejut, “A-apa kamu akan―”


“Uh.” Ret melambaikan tangannya ke samping dengan acuh. “Jangan setarakan derajat kita seperti itu. Perkataanmu itu terdengar menakutkan, Sei.”


“Hahaha..... Mimpimu itu terlalu besar untukmu, Rat ... Dan Unit Justice-man itu, tidak se-suci apa yang kalian rakyat jelata pikirkan.”


Wanita ini memembicarakan tentang dirinya sendiri, huh, demikian pikir Ret. Dia menatap Sei, sambil menaikkan sudut bibirnya.


“Aku tahu. Aku jelas tahu itu, Sei, tenang saja ... Itu disebut ‘mimpi’ ... karena butuh kerja keras untuk mencapainya, kan?”


Ret tersenyum lebar, menatap Sei di bawahnya dengan tatapan hangat.


“Ng.” Sei mengangguk ringan sambil berbalik, kembali memunggunginya. “Kau benar.”


Ret kembali membuka halaman buku di sampingnya, dan mulai membacanya lagi.


“Rat, di mana kamu akan tidur?”


“Tidak usah memikirkan hal bodoh seperti itu ... Tidur saja.”


Hening kembali dengan hanya ada suara halaman buku yang dibalik Ret.


Sei berkata, “Apa kamu mau―”


“Huh?” Ret melihat punggung Sei.

__ADS_1


“Tidak. Bukan apa-apa.” Sei pun mencoba untuk beristirahat. “Aku akan istirahat.”


“Iya.” Ret mengalihkan pandangannya kembali ke buku. “Selamat malam ....”


.... Walaupun ini sudah dini hari, huh, demikian pikir Ret. Dia terus membaca buku tebal di atas meja.


Mereka berdua seperti tertidur, dan beristirahat untuk menghilangkan penat dari hari yang telah mereka lalui.


Ret pun tertidur sambil memeluk buku tebal sebagai ganjalan pipinya. Dan Sei tiba-tiba bangun dan duduk bersadar di dinding menghadap Ret yang duduk tertidur lelap.


Kenapa pria ini menyelamatkan seseorang yang tidak dikenalnya begitu saja, pikir Sei. Dia semakin curiga pada Ret. “Dan aku juga ... kenapa bisa se-akrab itu dengannya?! Ini terasa ....”


Sangat menyenangkan―Tidak, tidak, tidak, demikian pikir Sei. Dia menggelengkan kepalanya dan membantah pemikirannya sendiri.


Sei kembali menggelengkan kepalanya.


“Bukan seperti itu ....” Sei membantah dirinya sendiri. “Aku hanya khawatir dia bagian dari ‘mereka’. Tapi ....”


Jika pria ini bagian dari ‘mereka’, mungkin sekarang saatnya aku diserang. Aku pikir ‘mereka’ tahu bahwa sekarang adalah waktu yang tepat untuk menlenyapkanku, demikian pikir Sei. Dia menjadi sangat waspada.


Sambil memperhatikan sekitarnya, Sei menggenggam erat batu bercahaya biru terang.


“Ayo. Jika kau benar-benar bagian―atau antek ‘mereka’, serang aku, Rat,” bisik Sei, dengan suaranya yang hampir tidak terdengar. “Jadi ....”


Aku bisa melenyapkanmu di sini dengan, demikian pikir Sei, terputus. Dia merasa sangat kelelahan dan tertidur duduk menghadap Ret.


Sei yang akan menyerang Ret, tanpa dia sadari tiba-tiba ketiduran karena kelelahan dan terlalu waspada.


Mereka berdua pun akhirnya benar-benar tertidur lelap.


Ret dan Sei berada dalam mimpinya masing-masing. Namun, dalam waktu yang terasa sekejap mata, mereka berdua dibangunkan oleh suara ketukan pintu dari depan Ruangan.


“Uh?”


Ret tersentak duduk tegap dan Sei berusaha menyembunyikan batu bercahaya biru terang di pakaian hitamnya lagi.


“Ngh?!” Sei perlahan duduk tegak seperti Ret, dan berusaha menyembunyikan batu bercahaya digenggamannya. Sial. Aku benar-benar lengah, sampai-sampai bisa tertidur seperti itu.


Ret menoleh ke arah pintu dan sama sekali tak menyadari gelagat aneh Sei.


“Itu hanya pelayan yang mengantar koran harian, huh.”


“Oh.”


“Huh?! Kamu bangun? Tidur lagi saja. Aku yang akan mengambil korannya.”


Sei mengangguk ringan.


“Ng. Oke.”


Wanita itu berbaring menghadap dinding untuk menutupi dan menyembunyikan cahaya terang dari batu biru digenggaman tangannya.

__ADS_1


¤¤¤


__ADS_2