![Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0](https://asset.asean.biz.id/secret---war-of-k-m-dgsp-m4221--locked-oso-0.webp)
Tidak ada satu pun dari orang-orang berjas hitam yang berbalik dan kembali ke Ret. Mereka masuk ke salah satu Bangunan, dan kemudian tak terlihat lagi olehnya.
Aku sama sekali tidak mempunyai keluarga, pikir Ret, tetapi masih terus mencoba mengingat sesuatu. “Paman itu sebenarnya siapa?!”
Dia masih tertegun dan keheranan.
“Aku benar-benar―Ah! Benar. Aku harus cepat-cepat pergi dari sini, katanya.”
Ret masih gugup dan tercengang dengan situasi yang tidak dipahaminya. Karena dari dia kecil, tidak ada satu pun yang mempedulikan maupun mengunjunginya di Panti Asuhan. Dia adalah yatim piatu murni yang terabaikan oleh orang-orang disekitarnya.
Dia berdiri dengan tergesa-gesa sambil merapihkan pakaiannya.
Berlari kecil dan menolehkan kepalanya ke belakang, Ret tidak melihat satu pun preman yang mengejarnya.
Tempat ini sangat terlarang bagi preman-preman tadi, huh, demikian pikir Ret. Dia memperhatikan sekitarnya dengan seksama sambil menghela napas lega.
Tidak ada satu pun orang yang keluar dari Gedung maupun Bangunan di sekitarnya.
“Di sini sangat sepi, huh, aku sangat beruntung bisa nyasar ke sini.”
Cukup lama Ret sampai di tempat pemberhentian Bus Terbang yang berupa sebuah Halte Bus di pinggir jalan raya.
Lalu tiba-tiba, sebuah Bus Terbang keluar dari bawah tanah yang terbelah di depan Ret.
Tidak ada satu orang pun yang menaiki Transportasi Umun selain Ret. Dia membayar di pintu Bus di hadapannya dengan cara memasukkan smartphone-nya ke alat permbayaran seperti pada umumnya.
Aku harus memasukkan kartu nama ini?! Aku kira, pikir Ret, mengedutkan bibirnya. “Kartu ini bisa digunakan berulang-ulang, huh, ternyata tidak.”
Ret memasukkan kartu nama yang diberikan si paman ke lubang kartu yang tersedia, dan kartu tersebut langsung tertelan dan menghilang begitu saja.
Pintu Bus di hadapan Ret terbuka, dan dia menaiki anak tangga ke atas.
Uh. Untung tidak ada orang di sini, demikian pikir Ret, menghela nafas lega.
Karena Area.5 yang merupakan wilayah penduduk kelas atas, semua penduduk setempat mempunyai kendaraan terbang pribadi dan beberapa dari mereka memiliki kendaraan teleport.
“Rute Bus ini ke mana saja, ya,” gumam Ret, melihat ada peta yang menunjukkan rute Bus di antara iklan-iklan produk aneh tidak diketahuinya, terpampang di samping atas langit-langit Bus Terbang.
Rute Bus yang dinaiki Ret, berkeliling ke Halte Bus di seluruh penjuru Distrik―Area lainnya terlebih dulu sebelum ke Halte Bus di Area.0.
“Aku akan berhenti di dekat Gerbang Perbatasan antara Area.3 dengan Area.0, huh.”
Ret duduk di kursi yang menghadap ke kaca samping Bus.
Wilayah yang dikatakan berbahaya berada di luar kaca Bus di hadapan Ret, perlahan menghilang karena turunya Bus ke bawah tanah.
__ADS_1
Saat Bus telah sepenuhnya di bawah tanah, ia terus melaju ke jalur yang telah ditentukan dengan kecepatan yang tak terkira. Ret hanya melihat garis cahaya biru di luar kaca yang melitas secara horizontal ke samping dengan cepat.
Ret tahu bawha Bus akan berhenti di Halte Bus di setiap Area di Distrik.2.
Dan tak lama, Bus pun berhenti dengan garis cahaya biru di luar kaca, berubah lintasan menjadi ke arah bawah secara vertikal.
Perlahan-lahan Bus naik ke permukaan tanah dan Wilayah yang belum diketahui Ret, terlihat di luar kaca. Dia langsung menoleh ke belakang, melihat Halte Bus dengan bentuk yang sama tetapi dia tahu Halte tersebut berada di Area yang berbeda.
Meskipun di trotoar para pejalan kaki banyak yang sedang berlalu-lalang dan di pedestrian jalan orang-orang menyebrang kesana-kemari, tidak ada satu pun dari mereka berniat untuk menaiki Bus yang ditumpangi Ret.
Pemberhentian Bus memang tidak lama, tetapi Ret terus gugup jika ada salah seorang Penduduk Kelas Atas yang menaiki Bus. Hanya dengan melihat pakaian dan kendaraan yang melintasi jalan raya di luar Bus, dia tahu bahwa Halte Bus sekarang masih merupakan Wilayah Penduduk Kelas Atas.
Kemudian, Bus kembali tenggelam ke bawah tanah perlahan, tanpa satu penumpang pun menaiki Bus.
Ret cukup tegang dan khawatir saat Bus berhenti di berbagai Halte Bus di Wilayah asing baginya. Namun, kekhawatirannya tidak terjadi. Hanya ada satu-dua penduduk klaster menengah yang menaiki Bus, dan mereka turun di Halte berikutnya.
“Ah!? Aku ada di Area.3 sekarang,” gumam Ret, mengeluarkan smartphone-nya.
Bus naik ke atas permukaan tanah dan Ret memperhatikan Wilayah yang sudah tak asing lagi baginya. Dia berpura-pura memainkan smartphone agar tidak terlalu mencolok, dan terlihat seperti terbiasa menaiki Transportasi Umum.
Semoga tidak ada gangster yang menyebalkan, demikian pikir Ret. Dengan waspada dia melirik ke sekitarnya.
Beberapa orang masuk dan langsung duduk secara acak begitu saja. Ret hanya melihat pengemis dan beberapa gelandangan yang berdiri.
Ret ingat bahwa di Area.3 terdapat kamera pemantau yang menangkap gambarnya. Jika sampai ada salah satu anggota gangster yang mengenalinya, dia pasti akan mendapatkan masalah besar.
Aku harus menjauhi Area.3 di Distrik.2 ini, huh, pikir Ret, menggelengkan kepalanya, Dan untuk ke perguruan nanti malam, aku harus mencari jalan lain!
Sambil melihat jam di smartphone-nya yang menunjukkan waktu pukul 16.34.53 sore hari, Ret bergumam, “Lebih baik aku ke gorong-gorong saja. Mungkin mayat-mayat kemarin sudah menghilang―Apa Selui baik-baik saja?! Kupikir dia masih tidak bisa berdiri.”
Bus Terbang akhirnya sampai di Halte Bus terkahir pada pukul 17.00.00.
Ret keluar Bus saat ia sudah mencapai permukaan tanah.
Dia tidak membawa smartphone agar aparat Sistem Dunia sulit melacak dirinya, huh, pikir Ret. “Ide yang cemerlang, Sei. Sial.”
Ret menginjakkan kakinya di Wilayah yang tak asing lagi baginya. Atap Gerbang Perbatasan yang menjulang tinggi namun terkesan kumuh, masih terlihat olehnya walau cukup jauh dan tertutup pepohonan.
“Kontras sekali dengan Gerbang Perbatasan mewah di Area.5, huh,” gerutu Ret. Dia berjalan kembali menuju ke Penginapan di mana wanita terluka yang memberitahu informasi tentang Prangko Oranye berada.
Sebelum dia memasuki Ruangan-nya, dia memesan beberapa makanan di Ruang Makan Penginapan. Lalu dia membawa beberapa hidangan yang tidak termasuk jatah 3 makan utama Penginapan―karena waktu makan siang sudah lama terlewat.
Ret masuk ke Ruangan-nya tanpa mengetuk pintu, sambil berkata, “Aku kembali.”
Dia melihat Sei sedang duduk menghadap pintu dengan kedua tangannya tertutup pakaian hitam compang-campingnya.
__ADS_1
“Ng.” Sei mengangguk ringan, dan bertanya padanya dengan sangat antusias, “Bagaimana? Kau menemukan-nya?”
“Uh ...” desah Ret, berwajah suram dan frustasi, ”Ya. Bagaiamana aku mengatakannya, huh―Makanlah ini dulu.”
Ret menyimpan nampan berisi hidangan yang dibelinya dengan harga 20 Kredit, lalu menceritakan kejadian saat dia dikejar-kejar oleh para gangster setempat.
“Kenapa kamu tidak menyerah saja? Berikan saja Prangko-nya, dan kamu akan aman. Kau tahu? Aku memiliki banyak informasi tentang tempat untuk membeli berbagai jenis Prangko. Toh kita hanya membutuhkan surat rekomendasi dari Informan untuk membeli Hebal.”
“Uh, Sei, kenapa kamu tidak bilang dari awal?”
“Ng? Kamu tidak bertanya?”
“Ugh....”
Sei yang menjawab dengan singkat membuat Ret menghembuskan napas beratnya.
“Hei, Sel―” Ret hampir keceplosan. “Maksudku Sei.”
“Ng?” Sei menatap Ret yang duduk di kursinya. Dia menyimpan sendok kayu ke atas nampan. “Apa?”
“Apa kamu mempunyai paman atau seseorang seperti itu?”
“Tidak. Aku tidak mempunyai keluarga setelah bergabung dengan Ü.”
Ret mengerutkan keningnya setelah Sei menjawab seperti itu.
“Uh.” Ret bermuka masam. Ternyata dia tidak mengenal si paman?!
“Memang kenapa kalau aku punya paman?” tanya Sei, curiga.
“Ah!? Tidak.” Ret menggelengkan kepala. “Lupakan saja itu. Ini ....”
Kemudian, dia mengeluarkan Prangko di saku celananya.
“Tapi, Sei ... mencari Informan Prangko Oranye ini, di mana?”
“Aku tidak tahu.”
Setelah Sei menjawab dengan langsung pertanyaan Ret seperti itu, dia lanjut memakan hidangannya.
Ret terdiam cukup lama memperhatian Sei memasukkan sendok kayu ke dalam mulutnya.
“Hah ...!?” Bibir Ret berkedut dan menatap Sei dengan tatapan aneh. “Sei, kamu serius?!”
¤¤¤
__ADS_1