Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0

Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0
[B1-33] Terkadang, Satu Kebaikan Tanpa Sadar Dibalas Oleh-Nya Dengan Rentetan Kebaikan (4/12)


__ADS_3

“Tentu tidak!” bantah Nok, menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis pada Ret. “Toh kita sama-sama budak, sekarang. Selamat saja dariku untukmu, semoga nanti kau dibeli kakak-kakak cantik yang menyenangkan. mungkin?! Atau bersenang-senanglah dengan para ******* kelak nanti, Rat! Hahaha.....”


Nok tertawa terjungkal-jungkal, mengasihani nasib Ret kelak.


Beruntung kalau Nok bukan orang seperti preman-preman itu, huh, demikian pikir Ret, mendesah lega.


“Tapi ... ‘teman’, huh,” cibir Nok, mengerucutkan bibirnya, “Di Era seperti sekarang, kita masih mengatakan kata-kata menjijikan seperti itu, huh.”


“Ya ....” Sedikit kebingungan akan menjawab apa, tetapi Ret tetap berkata, “Aku pikir, tidak masalah mempunyai teman―walaupun memang pasti akan dikhianati kelak kalau dalam keadaan terdesak, atau ia sudah berbeda klaster kependudukkan dengan kita.”


Nok menatap tajam Ret, seperti ingin berkata sesuatu. Dia menyipitkan matanya sambil menaikkan dagunya.


“Kau,” dan dengan nadas sarkasme, Nok berkata, “Salah satu orang-orang cacat itu, hah ...!?”


“Uh.” Ret mengangguk cepat. “Saat di Panti Asuhan, pengasuh dan orang-orang di sana berkata seperti itu padaku.”


“Ya. Selama kau sadar itu, kupikir tidak apa-apa,” kata Nok, kembali tenang dan mengangkat bahunya, “Kecacatanmu itu harus segera dihilangkan, kau tahu? Nurani, Empati, Hati, ialah hal-hal menjijikan di Era Hiburan ini.”


Ret tidak mempunyai kata-kata untuk membalas nasehat Nok. “Aku ....”


“Ah! Jika sampai mengetahui kami dengan jelas seperti itu, berti ‘teman’-mu itu bagian dari kami juga, kan?” tanya Nok, penasaran, “Siapa dia?”


Pria muda di hadapan Nok, terdiam sesaat seperti mencoba mencari dalih sempurna.


Lalu, Ret menjawab pertanyaan Nok, dengan kepercayaan diri penuh, “Namanya Sel―maksudku, Sei.”


“Sei?! Aku pikir ..." kata Nok, mengerutkan keningnya, curiga, "tidak ada seseorang yang bernama Sei di ‘Mafia’ Distrik.2 ini.”


“Aku tidak tahu,” gumam Ret. “Aku hanya tahu namanya Sei ....”


Ret mencoba menyembunyikan identitas sebenarnya wanita yang masih di Ruang Penginapan-nya dari Nok.


“Tapi aku pikir Sei bukan bagian dari kriminalitas. Dan dia sepertinya lebih lemah darimu ataupun ‘Mafia’ lainnya―dia hanya seperti mengetahui segala hal tentang Dunia pada Era sekarang ini, anehnya,” kata Ret.


“Aku tidak pernah mendengar tentangnya―Ah! Mungkin dia Informan? Ngomong dari tadi kalau dia Informan jadi―Eh ...?” tanya Nok, menaikkan alisnya, “Kau pernah bertemu anggota ‘Mafia’, Rat?!”


“Mungkin? Sei itu bekerja sebagai Informan ...?! Aku tidak tahu, tapi,” jawab Ret dengan ambigu, “Apa kalian itu ... selalu memakai pakaian dan kacamata hitam, dengan aura yang melebihi pembunuh, pastinya, sangat menakutkan?”

__ADS_1


Ret gugup saat bertanya seperti itu. Dan dia lebih gugup saat Nok bersandar pada dinding sambil duduk di satu-satunya kasur di dalam Sel.


“Ahahaha ...!! Ya! Seperti itulah kami jika berkumpul,” sahut Nok, mengangguk cepat dengan ekspresi bangga, “Tapi tidak semua dari kami menggunakan pakaian hitam, sih.”


Setelah Nok tertawa santai seperti itu, dia terdiam kembali sambil menatap langit-langit Sel seperti sedang mengingat sesuatu.


“Kau pernah bertemu kelompok ‘Mafia’ mana?” desak Nok, menatap tajam Ret. “Dan jelaskan padaku kenapa kau masih hidup setelah―”


“Aku juga tidak tahu,” sahut Ret, menggelengkan kepalanya dengan cepat, “Sungguh ... aku tidak tahu. Padahal aku menabraknya dengan cukup kuat―ya, meskipun, aku juga yang terpental ke belakang tapi ....”


Nok mengerutkan keningnya. “Tapi ...?”


“Saat aku meminta maaf, dia malah langsung memaafkanku dan bilang bahawa itu halanyalah masalah kecil,” jelas Ret, terus menceritakan kejadian saat dia berada di wilayah terlarang di Area.5, “.... Dan berakhir dengan dia berkata padaku untuk memanggilnya dengan sebutan ‘Paman’, jika kita bertemu lagi nanti."


“P-paman?!” Nok tiba-tiba gugup. “Ra―Ret, k-kamu ....”


“Tidak,” tukas Ret, bingung juga dengan kejadian saat itu, “Aku lahir di Panti Asuhan, kan, aku sudah bilang tadi, padamu, aku juga tidak tahu kenapa dia berkata seperti itu padaku.”


“O-oh ....” Nok mengangguk diam dan tenang kembali. “Mungkin dia adalah keluargamu yang lain?”


Ret menggelengkan kepalanya. “Aku pikir tidak.”


“Benarkah?!” tanya Ret. Membungkukkan tubuhnya, seperti memberi hormat kepada Nok, “Itu sangat membantu! Terimakasih banyak, Nok!”


Nok mengangguk sambil tersenyum lebar, lalu berbaring kembali terlentang di kasur.


“Jadi, aku,” gumam Ret, gugup, “Tidur di ....”


Mendengar gumamannya, Nok duduk di ujung kasur dan tersenyum lebar sambil menatap Ret dengan tatapan santai.


“Tentu.” Nok melihat lantai, dan bertanya pada Ret, “Apa kita akan memperebutkan kasur ini seperti biasa? Ayo sini, maju,Ret!”


Nok berdiri sambil melemaskan semua otot di tubuhnya―dia seperti sedang mengajak bertarung.


“Tidak, tidak!” bantah Ret, sambil melambaikan tangannya ke kanan dan ke kiri dengan cepat. “Untukmu saja, kasurnya, maksudku, aku tidak apa di lantai―Aku akan tidur di lantai saja, sungguh.”


Ret dengan cepat menggelengkan kepala dan mengayunkan tangannya. Dia dengan tegas menolak usulan Nok untuk bertarung memperebutkan satu tempat tidur.

__ADS_1


Nok mengangguk ringan dan kembali melemparkan tubuhnya sendiri ke kasur dan berbaring terlentang, sambil berkata, “Baguslah! Kalau kau mengerti tempatmu, Ret.”


“I-iya,” kata Ret, masih gugup. “Oh, ya, Nok. Ngomong-ngomong ....”


Nok menolehkan tubuhnya pada Ret. “Uh?”


“Kenapa kamu sampai-sampai bisa menjadi budak? Bukankah dipenjara lebih menguntungkan daripada menjadi budak―kamu sudah bilang tadi―maksudku ....”


Nok kembali berbaring terlentang di kasur, menatap langit-langit Sel dan terdiam sejenak.


“Aku pikir,” kata Nok, tertawa kering seperti mengejek dirinya sendiri, “Aku sama sepertimu, dijebak seseorang, maksudku.”


“Apa itu,” tanya Ret, seperti menyadari sesuatu, “Tuan Pasar Budak tadi―”


“Bukan,” bantah Nok, menggelengkan kepalanya, “Dia―kita harus memanggilnya ‘beliau’ ingat? Hahaha―hanya salah satu musuh biasa kelompok ‘Mafia’ kami―Tidak ada yang aneh tentangnya.”


Ret mengangguk diam, menunggu Nok lanjut berbicara.


“Yah ... Tidak se-ekstrim yang kau lakukan sampai-sampai dengan bodohnya 10 tahun menjadi budak, sih. Dan siapa lawanmu? Preman? Huh ... melawan serangga-serangga seperti itu, kau sampai hampir dihukum mati.” Nok


menggelengkan kepalanya, mengasihani Ret. “Aku tidak habis pikir betapa bodohnya kau, Ret.”


“Uh,” desah Ret, dengan wajah masam, “Tadi, di Ruang Pengadilan itu aku masih belum tahu―”


“Ya.” Nok mengangguk mengerti. “Kau sudah berada di sini, berarti kau telah mengetahui tentang 3 Trinitas Point, kan?”


Ret mengangguk diam, tetapi dia mulai mengerti dengan kegunaan Point tersebut.


“Ada beberapa produk maupun jasa yang perlu ketiga dari Trinitas Point,” jelas Nok, dengan ambigu, “Walaupun itu akhirnya akan dilelang-lelang juga. Ketiga poin dari Trinitas Point sangat penting, kau tahu, ingat itu ...!!”


Walaupun Ret tidak mengerti, dia masih mengangguk setuju dengan perkataan Nok.


“Aku bukan kalah oleh para kriminalitas setempat di Distrik―Area tempat aku berada,” lanjut Nok menceritakan tentang dirinya sambil merepalkan rahangnya, terlihat sangat jengah, “Sialnya aku kalah, bukan saat aku berada di Dunia-ku sendiri ....”


Ret berseru, “Apa?! Bagaimana bisa seperti itu, bukankah Dunia sendiri sudah dibagi olehNya menjadi―”


“Huh, ya ... yang pasti, sih, aku kalah telak saat sidang pengadilan terakhir dan dijebak oleh para,” kata Nok, dan dia melanjutkan perkataannya dengan geram, “Anggota Partai Distrik.1 ....”

__ADS_1


***


__ADS_2