![Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0](https://asset.asean.biz.id/secret---war-of-k-m-dgsp-m4221--locked-oso-0.webp)
Ret membuka bungkusan kecil seukuran setengah telapak tangan manusia―ia merupakan Choco Marble yang pertama dibelinya.
“Ugh,” desah Ret, menggelengkan kepala. “Sudah pasti kalau hal-hal seperti ini, menang dipercobaan pertama itu hal yang mustahil.”
Dengan smartphone-nya yang masih ditinggalkan di lubang mesin penjual otomatis, Ret menekan tombol pada mesin sekali lagi.
Kalau semudah itu membeli informasi, yang kulakukan ini tidak akan menjadi ilegal lagi, huh, demikian pikir Ret, menggelengkan kepalanya. Dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri untuk berpikir logis.
Sambil menghembuskan napas beratnya, Ret mengambil satu bungkus Choco Marbel yang keluar dari mesin penjual coklat. Dia pun merobek bungkus Choco Marble ke-2 yang dibelinya.
“Masih tidak ada, huh,” gerutu Ret, mengerucutkan bibirnya. “Tenang, tenang ... Aku baru menggunakan 4 Kredit, tapi ....”
Produk Choco Marble di hadapan Ret, masih tersedia sangat banyak. Dengan satu bungkus produk coklat tersebut sangat keci. Ia seperti bersembunyi di antara produk coklat yang menggiurkan lainnya.
.... Bagaimana kalau hanya ada satu Prangko, dan Prangko-nya sudah didapatkan oleh orang lain? Dan, pikir Ret, mulai ragu saat melihat produk coklat lain dengan bungkusan yang lebih menarik, bisa jadi saat ini, mereka menaruh Prangko-nya di produk lain?!
Dia memperhatikan produk-produk coklat lainnya yang lebih menjanjikan dari produk Choco Marble dengan bungusannya yang terlalu sederhana nan kecil.
“Aku hanya bisa percaya pada Selui saat ini, huh,” gumam Ret, menggelengkan kepala. Ayo kita lupakanlah Kredit yang telah hilang, dan mulai lagi ...!
Ret mulai membeli produk yang sama. Dia selalu dengan hati-hati saat menekan tombol mesin penjual coklat otomatis di hadapannya―dan merobek bungkusan produk pun dengan sangat hati-hati.
Menghembuskan napas beratnya saat memilah isi di dalam bungkusan kecil produk coklat Choco Marble, Ret hanya bisa memasukkan bulatan-bulatan coklat ke bungkusannya lagi, lalu dia masukan bungkusan coklat telah dirobeknya tersebut ke kantong plastik yang telah disediakan Super Kombini.
Cukup lama seorang pria berhadapan dengan mesin penjual otomatis yang menjual coklat. Namun, dia hanya terus menekan-nekan tombol mesin penjual coklat yang sama, dan merobek bungkusan produk yang sama.
Sampai-sampai dia diabaikan oleh orang-orang disekitarnya, mereka melihat Ret sebagai orang aneh yang membuka produk coklat ber-merk: Choco Marble dengan sangat hati-hati, seolah dia akan mendapatkan lotre.
“Jika kau ingin lotre atau undian,” cibir salah satu perempuan tua yang sedang belanja, “Kau berlangganan Terminal World Bet saja! Hati-hati pada makanan sampah seperti itu sangat mengganggu, tahu!”
“Huh?” gumam Ret, langsung sadar dan memperlihatkan postur tubuhnya ke si perempuan tua, serendah mungkin. “Aku hanya ... Itu-ini―Terimakasih saranya, Nyonya. Apa anda ingin membeli sesuatu di mesih penjual coklat ini?“
Walaupun dia sangat tidak ingin tersenyum saat melihat si perempuan tua bertubuh gumpal menatapnya dengan tatapan cibiran, Ret masih mundur sambil mempertahankan senyum kaku di wajahnya dan berpostur serendah mungkin.
Perempuan gumpal itu hanya mendengus, “Humph!!” lalu berpaling darinya begitu saja.
__ADS_1
“Selamat berbelanja,” kata Ret, sambil mencondongkan tubuhnya.
Ret masih mempertahankan senyum kaku pada wajahnya walau si perempuan tua gumpal sudah menjauh darinya. Dan saat perempuan tersebut sudah tidak ada dipandangannya, Ret kembali menghadap mesin penjual coklat otomatis.
“Uhh,” desah Ret, lega. Jangan sampai membuat masalah disini―Jangan sampai membuat masalah disini―dan jangan sampai membuat masalah disini ...!! Ingat itu, dan terus ingat itu, Ret!
Dia terus menekankan pada dirinya sendiri untuk tidak membuat masalah.
Preman yang berkeliling Super Kombini tiba-tiba datang mendekati Ret, sambil tersenyum-senyum ramah ke orang-orang dan penduduk yang dilaluinya.
Berada di samping Ret, seorang pira tua bertubuh kekar dan tinggi mengenakan pakaian hitam seperti boyband metal, berambut punk.
Preman itu menunduk dan menatap tajam Ret.
“Bisa kau minggir sebentar, Nak?”
“Aku sedang ....”
Ret merepalkan giginya sambil mendudukkan kepalanya, lalu memberi ruang ke si preman.
Menghadap mesin penjual otomatis yang sama dengan Ret, dan memperhatikan produk yang sama, si preman menyimpan smartphone-nya di kotak persegi panjang sekuruan smartphone dan langsung menekan-nekan tombol mesin penjual coklat secara membabi buta.
Dia menggunakan Kredit-nya seperti itu?! Sial, pikir Ret, melihat adegan di hadapannya dengan tatapan ngeri. “Dia langsung menghamburkan lebih dari 1200-san Kredit!” Ret merepalkan tangannya. Berhentilah ...!! Kumohon, seseeorang, beritahu dia untuk berhenti ...!!!
Seolah menelan kembali perkataanya tersangkut ditenggorokan, dia memalingkan mukanya ke samping, karena Ret tidak sanggup melihat adegan di hadapannya.
Orang itu sama sekali belum mau berhenti, huh, demikian pikir Ret.
Pria muda itu melirik ke samping sambil menundukkan kepalanya. Dia tidak tahan melihat seseorang menghamburkan Kredit begitu saja.
Tapi yang lebih penting, bagaimana kalau, pikir Ret. “Dia mendapatkan Prangko yang ada di sana?! Aku ....”
Setelah Ret bergumam seperti itu, si preman menghentikan jari tangannya dan menoleh kepadanya. Preman itu menautkan alisnya dan tatapanya semakin tajam saat menatap Ret.
“Aku,” gumam Ret, ketakutan. Dia semakin menundukkan kepalanya seperti burung unta.
__ADS_1
Preman itu mengambil kacamata hitam di saku bajunya, lalu memakainya. Dia meraup semua Choco Marble yang keluar dari mesin penjual coklat otomatis.
“Sudah selesai, Bos―”
Seseorang anak buah si preman mendekati preman yang memeluk tumpukan coklat, seperti ia semua adalah barang berharganya.
“Bawa kantung keresek di sana! Ayo buka semua Choco Marble ini di sana dengan cepat.”
Cukup kontras dua orang preman―Bos dengan anak buahnya sedang memilah-milah dan memasukkan produk coklat ke kantung plastik yang dibawa si anak buah.
“Oke~”
Tidak ada orang lain selain Ret disekitar kedua preman. Dan Ret yang hanya berani meilirik si Bos preman.
Setelah kedua preman pergi, Ret maju kembali dan memasukkan smartpohne-nya ke lubang tempat pembayaran mesin penjual coklat otomatis. Dia masih menyentuh kolom yang sama di mesin penjual coklat otomatis dengan hati-hati, lalu membuka produk Choco Marble dengan sangat hati-hati juga.
Uh. Masih belum ada, kah, demikian pikir Ret. Dia menggelengkan kepala dan mendesah frustasi.
Meskipun dia hanya menghabiskan 6 Kredit, Ret masih merasakan sayatan di hatinya untuk Kredit yang bisa dia belikan makanan maupun obat-obatan walau secara acak.
“Apa Prangko-nya sudah,” gumam Ret, menoleh ke tempat istirahat, “didapatkan oleh mereka berdua?!”
Ret menggerakkan jari telunjuknya yang bergetar ke depan kolom mesin penjual coklat otomatis di hadapannya.
Lalu, dia tiba-tiba melipat jari telunjuknya sambil menggelengkan kepala.
“Apa aku menyerah saja?” kata Ret pada dirinya sendiri. Lagian, bukan aku ini yang sakit. Untuk apa aku repot-repot menyelamatkan seseorang yang jelas-jelas musuh para Anggota Unit Justice-man?!
Dia mengangguk-ngangguk setuju dengan gagasannya sendiri.
Jika aku melaporkan dia ke Unit Justice-man sebagai pengkhianat, mungkin, ini cuma mungkin, sih, tapi, aku, pasti aku, bisa, diterima di Unit itu tanpa kendala, kan, demikian pikir Ret, menutup matanya.
Kemudian, Ret mengangguk diam sambil menarik dan merepalkan tangannya.
¤¤¤
__ADS_1