Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0

Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0
[B1-15] Cara Menyembuhkan Tanpa Sistem (4/4)


__ADS_3

Ret memandangi luka-luka di tubuh Sei. Namun, ekspresi pada wajah orientalnya sangat kebingungan.


Bagaimana caranya aku bisa menyembuhkan luka-luka parah seperti itu, uh, demikian pikir Ret. Dia terus berpikir untuk mencari solusi.


Tetapi seberapa keras pun dia berpikir, Ret tidak menemukan apapun selain solusi untuk pertolongan pertama.


“Aku akan ke Kombini dulu, mau membeli peralatan pertolongan pertama untuk luka-lukamu itu,” tanya Ret pada Sei yang terus melemah, “Apa boleh?”


Sei hanya mengangguk ringan. “Ng.”


Itu pasti sangat menyakitkan, huh, pikir Ret, sekali lagi melirik luka-luka di tubuh Sei. “Aku keluar sebentar. Jangan sampai mati di sini, ok?”


Sei hanya tertawa kosong, “Hahaha.” Lalu berbaring sambil menutup kedua matanya selagi Ret keluar ruangan.


Ret turun ke lantai bawah, dan tidak ada satu pun orang di sekitarnya. Karena hampir tengah malam, semua Penduduk Kelas Bawah sedang istirahat untuk menanti hari esok.


“Sudah lama aku tidak membeli kotak P3K, huh,” gumam Ret. Aku tidak pernah ingin mencobanya lagi, karena aku memiliki keberuntungan yang buruk.


Ret berjalan ke arah Kombini terdekat―dia menuju ke Kombini yang sama dengan ditujunya saat pagi hari.


Sampai di hadapan mesin penjual otomatis di bagian obat-obatan, Ret mengerutkan kening.


Kredit lagi, huh. Sampai kapan aku harus menghamburkan Kredit seperti ini, demikian pikir Ret, menghela napas frustasi.


Harga yang tertera dalam mesin penjual P3K otomatis tertera: 6 Kredit, 12 Kredit, dan 24 Kredit. Harga tersebut hanya untuk membedakan jumlah alat dalam satu Kotak P3K, sedangkan isi alat di dalam Kotak tersebut pada umumnya sama.


Ret memasukkan smartphone-nya ke alat pembayaran di mesin penjual otomatis Kotak P3K.


“Ini menyakitkan.” Tentu. Ret langsung menyentuh kolom persegi 6 Kredit, setelah dia mencabut smartphone-nya dari alat pembayaran.


Kotak P3K keluar dari lubang mesin penjual otomatis, dan Ret mengambilnya. Walaupun di dalam Kotak tersebut terdapat alat-alat untuk Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan. “Ada juga obat demam di sini, huh, aku cukup beruntung, ternyata.” Karena normalnya hanya mendapatkan alat seperti kasa dan pembalut dalam satu Kotak.


Setelah melihat isi Kotak P3K dipegangnya, Ret melihat layar grandprize di mesin penjual Kotak P3K di hadapannya yang bertuliskan: Grand Prize Obat HIV!!! Hanya Sampai Akhir Tahun!!


Yah. Meski aku tidak tahu HIV itu apa, pikir Ret, membaca tulisan tersebut dengan bingung. “Yang pasti, itu akan terjual dengan Kredit tidak sedikit.”


Dia membuka Kotak P3K yang didapatnya, dan tersenyum saat melihat isi kotak tersebut.


... Aku cukup beruntung mendapatkan obat demam ini, demikian pikir Ret.


Kotak P3K menggunakan sistem gacha. Mahalnya Kredit untuk Kotak P3K yang tertera di mesin menjual otomatis tidak menunjukan kualitas obat, bahkan biasanya tidak ada obat sama sekali di dalamnya.


Isi dalam Kotak P3K yang dibeli di mesin penjual otomatis bisa mendapatkan obat Aids, Hiv, maupun obat berbagai Virus. Dan Grandprize obat terus berubah-ubah, tergantung tren penyakit yang diderita masyarakat.

__ADS_1


“Yang paling terkenal itu,” kata Ret, mengangguk penuh harap, “Pasti morfin: obat penghilang rasa sakit. Jika mendapatkannya, aku pasti akan langsung kaya raya.”


Menghilangkan delusinya untuk mendapatkan morfin, Ret berbalik dan kembali menuju ke Penginapan.


Sesampainya di hadapan pintu ruangannya, Ret membuka pintu dan melihat Sei sedang beganti baju. Dia mematung di tempat, melihat kulit putih mulus wanita di hadapannya.


“Ng....” Cukup lama Ret memperhatikan Sei yang berkata padanya, “Bisa keluar sebentar?”


“Ah!” Ret kembali sadar, dan langsung memalingkan wajahnya. “Oke.”


“Dan simpan Kotak P3K itu,” kata Sei, menunjuk ke lantai sambil menutupi tubuhnya. “Di lantai juga tak apa.”


“Uh.” Ret menyimpan Kotak P3K di lantai dan keluar ruangan. “ini―”


Dia masuk kembali ke ruangan sambil berkata dengan penuh semangat, “Jika mau aku bantu―”


“Kau keluar saja, Rat.” Sei yang akan berdiri, berkata dengan nada dingin, “Keluar ...?”


“Oke!” sahut Ret, "Aku akan keluar, kalau begitu."


Ret akhirnya keluar ruangan sambil menutup rapat pintunya.


Uh. Berapa lama aku harus menunggu?! Apa aku harus, pikir Ret, masih menggenggam erat gagang pintu. “Aku pikir itu ide yang buruk.”


“Aku sudah selesai,” kata Sei, dari dalam ruangannya. “Kau bisa masuk sekarang, Rat.”


Ret bergegas masuk ke ruangannya, setelah mendengar suara Sei. Di atas tempat tidurnya, Sei tanpa seijinnya menggunakan pakaian yang tak asing baginya.


“Ada apa? Ng?”


“Tidak ada apa-apa.”


Ret berjalan menuju meja di hadapannya.


“Ah!” Tiba-tiba, dia mengingat sesuatu. “Aku tidak mendapatkan alkohol maupun betadine, apa tidak apa-apa? Sangat susah untuk mendapatkan dua hal itu di Area.0 ini, huh.”


Minuman keras maupun minuman ber-alkohol atau sejenisnya hanya ada di Wilayah Penduduk Kelas Atas serta klaster-klaster Wilayah Kependudukkan di atasnya.


“Tidak apa-apa,” jawab Sei dengan lemah, “Aku akan sembuh dengan sendirinya, ng, tenang saja.”


Saat Ret duduk di kursi, hari pun telah berganti, dan Sei berbaring di tempat tidurnya. Wanita itu menggunakan pakaian putih namun tidak kontras dengan masker berwarna hitam compang-campingnya.


Dini hari menyambut mereka berdua dengan kelelahan maksimal, pada tubuh mereka.

__ADS_1


“Hari ini aku sangat sial, huh.” Ret membuka buku di hadapannya. “Sangat melelahkan.”


Sei hanya mengeluarkan sedikit suara, “Ng?”


Ret lanjut membaca, mengabaikan Sei yang menatapnya.


“Oh, ya,” tanya Ret padanya, “Itu luka akibat tembakan, benar? Apa pelurunya sudah kau keluarkan?!”


“Senjata di Era sekarang,” jawab Sei, menaikkan sudut bibirnya, “Tidak ada yang menggunakan peluru material, bodoh ....”


“Uh. Aku,” kata Ret, ”tidak tahu tentang itu, sungguh ....”


Suasanya ruangan di mana mereka berdua beristirahat menjadi sunyi, dan hanya ada suara lembaran buku yang Ret balik.


Dia menutup buku dan duduk menghadap Sei, lalu berkata, “Nah..... Sekarang, aku ingin mendiskusikan ini. Luka-luka di tubuhmu itu tidak akan sembuh, aku yakin. Aku hanya mendapakan obat demam dan beberapa kasa serta perban yang telah kamu pakai. Alkohol dan Betadine maupun sejenisnya adalah obat selangka morfin, kau tahu, kan, bagaimana cara menyembuhkan luka-lukamu itu, tanpa Sistem?! Apa kamu mempunyai ide?”


“Darimana kau tahu luka di tubuhku ini tidak akan sembuh?” tanya Sei.


“Uh,” dengus Ret, mengangkat bahu. “Aku hanya tidak ingin ada mayat di ruangan yang aku sewa. Itu akan sangat merepotkanku nantinya.”


Sei mengerutkan keningnya, curiga, dan mulai menatap tajam Ret.


Apalagi itu mayatmu yang merupakan pengkhianat, sialan, demikian pikir Ret, menatap tajam balik wanita yang berbaring lemah di tempat tidurnya.


“Kamu,” tanya balik Sei padanya, “suka membeli informasi, kan?”


“Uh ....” Ret ingin membantah. Namun, dia hanya bisa gelagapan, berkata, “A-aku....”


Ret terlihat gugup-gelagapan, karena membeli informasi adalah hal ilegal di Era Hiburan.


“Tidak apa.” Sei menyeringai lebar, sambil berkata dengan lemah, “Kita sama-sama ‘penjahat’ sekarang, kan, Rat?”


“Aku tidak suka caramu mengatakannya seperti itu,” gerutu Ret, mengedutkan bibirnya.


“Ng.” Sei mengangguk ringan, dan lanjut berkata, “Ada, mereka yang masih bagian dari ‘kami’ ... Mereka, bisa menyembuhkan―walaupun masih harus membayar dengan Kredit―berbeda jauh dengan visi ‘kami’ yang selalu menjauhi Kredit dari Sistem Dunia sepenuhnya ....”


“’Mereka’?!” tanya Ret, merasa bingung tetapi penasaran, “Siapa ...?”


Me terdiam sejenak dan menatap Ret, dengan tatapan lemah.


“.... Herbalish.”


¤¤¤

__ADS_1


__ADS_2