![Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0](https://asset.asean.biz.id/secret---war-of-k-m-dgsp-m4221--locked-oso-0.webp)
“Kau ingin menculik pelacurmu itu?! Ng ...?” cibir Sei, menaikkan alisnya. “Aku tidak menyangka kau sampai segitunya, Rat―”
“Kita sekarang jadinya punya 2 Prangko, huh ... Jadi,” tukas Ret, menyentuh Prangko Biru di atas meja. Untuk apa aku harus sampai-sampai ke Wilayah Penduduk Kelas Atas yang sangat berbahaya―dan langsung menjadi budak seperti kemarin, huh.
“Prangko?” desak Sei, lalu dia tertawa kecil, “Hahahaha. Jadi semua usahamu kemarin sia-sia, ya, Rat.”
Ret menggelengkan kepalanya. “Iya. Sial. Aku ....”
Menghembuskan napas frustasinya dan melihat layar smartphone, Ret mengakses portal Terminal Mobile World Bank yang menunjukkan saldo di akun-nya masih, “Nol Kredit huh,” tidak berubah sama sekali.
Mendengar Ret mendesah frustasi seperti itu, Sei menolehkan tubuhnya.
“Selamat menjadi budak kembali, kalau begitu,” kata Sei, dengan santainya dia menepuk kedua tangannya. “Bukankah seperti itu?! 1 bulan saldo Kredit klaster penduduk manapun menjadi 0, akan diberi 2 pilihan olehNya: 1. Menjadi Budak, atau, 2. Memiliki catatan kriminal secara acak―tapi aku pikir keduanya sama-sama akan berakhir menjadi budak juga, sih.”
Ret kembali menghembuskan napas beratnya. Sedangkan Sei mengangguk kecil dan tersenyum mengejeknya.
“Untung aku tidak pernah dididik untuk bergantung padaNya.”
“Uh. ya, kau benar―tapi kau cuma penuh dengan keberuntungan, Sei. Dan aku pun akan berusaha untuk tidak menjadi budak seumur hidup.”
“Berusaha ... dengan cara?!”
Ret berkata dengan penuh ekspresi memelas dan penuh harap padanya, “Sei ... Bisakah pinjamkan aku sedikit, Kredit-mu?”
“Aku tidak membawa smartphone-ku,” jawab Sei, langsung menggelengkan kepalanya. "Kau tahu kan ...."
“Uh. Aku tahu itu―Ah!” Ret mengingat sesuatu, dan bertanya padanya, “Apa kamu mau mengajariku cara menculik tidak, Sei?”
Sei terdiam saat Ret bertanya tentang cara menculik untuk yang ke-2 kalinya.
“Memang kau ingin menculik siapa―bukankah kau dari ....”
Panti Asuhan di setiap Distik Negara, pasti mengajarkan hal-hal baik. Beberapa darinya mengajarkan bagaimana cara memelas untuk berprofesi sebagai pengemis atau belajar menggertak untuk menjadi preman. Selama tidak merusak properti, melecehkan, atau menyakiti orang lain secara fisik tidak termasuk kejahatan ilegal dan Justice-man setempat pun akan mengabaikan prilaku dua profesi tersebut.
“.... Panti Asuhan?” tanya Sei, “Kamu berasal dari sana, kan, Rat?”
“Uh. Aku mengerti―memelas dan menggertak, adalah dasar untuk bertahan hidup di Era ini,” desah Ret, menggelengkan kepalanya. “Aku memang mempelajarinya, tapi ....”
“Idealisme-mu, kecacatan, atau apapun itu di dalam dirimu itu mengganggumu, ya,” kata Sei, melanjutkan perkataan Ret dengan tepat, “Rat?”
“Uh.” Ret mengangguk. “Ya. Seperti itulah. Sialnya, aku.”
Menatap wanita yang terlahir sangat beruntung di depannya, Ret hanya bisa mendesah tidak mengerti dengan
__ADS_1
pemikirannya.
Untuk para manusia yang terlahir tanpa orang tua pada Era Hiburan ini, bisa menjadi gelandangan adalah prestasi dan karir yang luar biasa, demikian pikir Ret.
Sei berkata, “Sangat berat bagimu untuk menculik seseorang, huh, aku tahu, Rat, aku tahu.”
Karena di Panti Asuhan manapun tidak ada yang mengajarkan kejahatan ilegal berupa: ‘mencuri’ atau ‘merampok’,
‘menyakiti’, ataupun ‘membunuh’ sesama manusia, hal yang ingin dipelajari Ret, yakni ‘menculik’ manusia lain pun termasuk ke dalam tindak kriminalitas ilegal yang sangat besar.
“Tapi,” lanjut Sei berkata sambil mengerutkan keningnya, “pasti sulit meculik seseorang, saat di setiap Distik―Area manapun terdapat Justice-man yang berkeliaran. Apa kau serius, benar-benar ingin menculik seseorang, Rat?”
Ret menjawab, “Aku serius, Sei,” dengan tekad di mata hitamnya.
Melihat tekad kuat di kedua mata si pria, Sei hanya bisa menghembuskan napas kecilnya.
Ret bertanya, “Apa tidak ada satu dua trik untuk menculik sesorang?”
“Ng.... Ini cukup sulit, tapi,” kata Sei, baru mengingat sesuatu dan mengalihkan pandangannya, “Bisakah sebelum kita berbicara dengan serius, kenakan sesuatu terlebih dulu?”
“Ah! Sial.” Ret langsung berdiri dan berjalan ke kamar mandi. Bagaimana aku bisa tidak sadar masih telanjang seperti ini, huh.
Ret menatap cermin di sampingnya.
Setelah kembali dari kamar mandi dan mengenakan pakaiannya, Ret kembali duduk di kursinya menghadap Sei, dan menceritakan tentang bagaimana dia bisa menjadi budak secara singkat, dan bagaimana Me lebih memilih menyelamatkan dirinya daripada adik perempuannya sendiri.
“Ng.” Sei mengangguk paham setelah mendengar cerita singkat Ret. “Aku cukup mengerti, tapi ....”
“Tapi?!”
Ret terkejut, melebarkan matanya.
“Kau tahu? Kakak-kakak cantik lawan pelacurmu itu bukan penduduk biasa.”
“Oh. Itu. Jika hal-hal seperti itu, aku sudah sangat mengerti.”
Ret mengalihkan pandangannya dari Sei, dan menatap kosong pintu depan Ruangan-nya.
Aku sudah mengerti itu, tapi, pikir Ret. “Aku tidak bisa membuat orang lain mengorbankan dirinya demi diriku―huh, ini sangat klise, ya, sial.”
Ret menggaruk kepala belakangnya dengan canggung, dan menatap Sei kembali.
“Ng.” Sei mengangguk setuju dengan perkataan Ret. “Itu memang sangat klise, Ret, menjijikan seperti kamu yang biasanya. Tapi, jika kau benar-benar mau menculiknya dari salah satu Tuan Putri Partai Distrik setempat, ada 2 langkah kalau kau benar-benar ingin menculik gadis itu: 1. Menemukan smartphone-ku, 2. Aku jamin kamu akan menculiknya kalau smartphone-ku ada di tanganku. Jadi intinya, kamu harus menemukan smartphone-ku terlebih dulu―dan aku akan menginstruksikan hal lainnya nanti. Kamu percaya padaku atau tidak, itu terserah padamu, Rat, dan juga ....”
__ADS_1
Ret terdiam sejenak dan mencoba untuk mencerna perintah Sei. Kemudian, dia tiba-tiba melebarkan matanya, dengan ekspresi terkejut ngeri.
“Sial. Hacking lagi?! Dan juga? Kenapa masih ada ‘dan’-nya?! Ini sudah kejahatan tingkat tinggi ...!! Apa tidak ada trik menculik yang manual saja―”
“Kau akan berhutang 10.000 Kredit padaku, Rat.”
“Sial ...!!!” Ret tercengang langsung berdiri dari kursinya. “Apaan itu―kalau kau ingin memerasku, aku sama sekali tidak punya Kredit sekarang!”
Dia mengerutkan kening dan menatap tajam Sei yang menatap balik dirinya dengan tatapan santai.
“Tenang saja,” kata Sei, masih tenang seperti biasanya, “Kau bisa mebayarnya kapanpun―dicicil juga tidak apa.”
Uh. Awalnya aku ingin memerasnya. Tapi kenapa malah aku yang diperas balik, huh, demikian pikir Ret. Dia tidak pernah mengira akan ada kejadian seperti ini.
Ret masih ragu. “Kalau seperti itu ....”
”Oh. Ngomong-ngomong, nih,” kata Sei, memberikan Prangko Biru-nya kembali ke Ret yang langsung menerimanya.
Ret menatap kedua Prangko di atas meja.
Sial ...!!! Pada akhirnya, aku harus melakukan kriminalitas ilegal? Huh, demikian pikir Ret. Dia menghembuskan napas beratnya dan terus menggerutu di dalam hatinya.
“Aku harus menjadi penjahat dan aku harus berhutang Kredit tidak masuk akal padamu, huh,” gumam Ret, menutup matanya dengan telapak tangannya.
Saat Ret menghembuskan napas frutasinya, Sei berkata, “Seperti itulah kalau kamu memelihara kecacatanmu itu pada Era Hiburan ini, kan? Tapi aku juga punya alternatif lain untukmu, Rat.”
Ret menatap Sei, dengan tatapan penuh harap.
“Apa itu? Kenapa kau tidak―”
Ret memorong perkataannya sendiri dan mengerutkan keningnya dengan dalam. Dia berwajah gelap setelah mengerti maksud perkataan Sei.
“Kau harus menjadi bagian dari ‘kami’, Rat,” kata Sei, “Hanya itu syarat dariku.”
“Aku tidak.” Ret langsung menjawab, sambil menggelengkan kepalannya. “Dari awal aku menjadi dewasa, aku tidak ingin menjadi bagian dari idiot-idot seperti kalian―aku hanya ingin hidup damai dan menjadi bagian dari Anggota Unit Justice-man.”
Ret dengan acuh langsung berdiri dari kursinya dan mengambil tumpukan nampan di atas kasur, lalu dia berjalan menuju pintu depan Ruangan-nya.
Ng. Aku tahu setidaknya kau tidak akan bergabung dengan 'kami' sekarang, Rat, demikian pikir Sei. Di balik masker hitamnya, dia tersenyum misterius pada Ret, sambil menutup mata dengan ekspresi yang sangat tenang.
“Aku akan mengambil makan siangmu, Sei.”
¤¤¤
__ADS_1