Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0

Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0
[B1-22] Hati-Hati Saat Terjebak Dalam Dilema Besar! Itu Merepotkan!!


__ADS_3

Ret terus berjalan di trotoar pinggir jalan.


Jalan besar di sampingnya, memisahkan deretan Gedung Besar dan tinggi nan mewah yang berderet rapih serta tersusun secara konseptual.


Tidak ada satu Gedung maupun Bangunan pun yang timpang atau tidak enak dilihat oleh Ret. Semua Gedung itu terbuat dari material yang belum pernah dilihat Ret sebelumnya.


Ret hanya mengetahui satu Bangunan yang sangat tinggi di sebrang jalan.


Apa aku harus bersembunyi di Hotel itu?! Ret mulai berpikir untuk, Tidak. Itu ide yang buruk, huh, langsung  menyerah dengan gagasannya sendiri.


Dia sama sekali tidak berani menyebrang jalan maupun menginjakkan kakinya di sana―bahkan untuk masuk ke halaman luar pun dia tidak berani. Karena dia tahu bahwa biaya Hotel sangat mahal. “Mungkin lebih dari 500 Kredit per hari? Aku kira segitu.” Dan memerlukan identitas kependudukkan khusus untuk menyewa kamar atau ruangan di sana.


Ret mulai berjalan dengan tergesa-gesa, saat menolehkan kepalanya ke belakang. Dia mencoba untuk menghindari Bangunan serta Gedung mencolok di sekitarnya. Ret hanya menuju ke Bangunan maupun Gedung yang terdapat CCTV di Bangunan-nya maupun kamera pengawas di atas tiang sebuah portal Gedung atau Bangunan.


Preman-preman yang mengejar Ret, tiba-tiba berkurang dan satu per satu dari mereka menghilang. Preman-preman itu mencoba untuk memisahkan diri agar tidak terlalu mencolok.


“Mungkin mereka akan menyergapku?!” Ret mulai panik dengan gagasannya sendiri. “Hanya sergapan seperti apa kalau mereka masih takut dengan kamera pemantau?”


Ret melihat kamera pemantau yang melayang di atas Tugu Besar perempatan jalan di hadapannya. Dia bisa mengetahui bahwa kamera tersebut bisa memantau sampai 380⁰ walaupun jangkauannya tidak akan sampai 300 meter ke sekitar Tugu tersebut.


Aku masih aman sekarang, huh, demikian pikir Ret, mulai berjalan santai.


Dan benar saja, saat Ret berpikir demikian, preman-preman di belakannya bahkan seperti tidak berniat untuk mengejarnya.


Bos preman itu sedang membisikkan sesuatu ke salah satu anak buahnya. Dan preman-preman lainnya mengangguk diam, lalu meninggalkan si Bos preman. Hanya tersisa satu anak buah si Bos preman yang tetap tinggal dengannya.


Anak buah si Bos preman yang menabrak Ret sebelumnya, bertatapan dengannya dan menyeringai lebar. Walaupun wajah dan pakaiannya normal dan bersih, Ret tersentak saat melihat senyum menyeramkan di wajahnya.


Uh?! Apa yang mereka rencanakan, pikir Ret. “Apa ada hal lain selain menyergapku, dan mengambil Prangko ini secara paksa? Sial. Aku sama sekali tidak tahu apa yang dipikirkan mereka. Apa aku akan disiksa terlebih dulu?!”


Ret merinding sejenak, lalu berpaling kembali ke depan dan kembali mempercepat langkah kakinya.


Cukup lama dia berjalan dan sesekali berlari kecil tanpa mengetahui arah. Ret hanya mengingat jalan kembali ke Super Kombini dan jalan ke Gerbang Perbatasan sebelumnya.

__ADS_1


Ret berkata, “Apa aku berlangganan Terminal Mobile World Maps, untuk sehari ini saja?”


Walaupun dia dalam keadaan sangat terdesak, Ret masih menghargai saldo Kredit-nya.


Terlalu mahal untuk menghabiskan 300 Kredit sehari hanya untuk sebuah peta, sial, demikian pikir Ret.


Ret berhenti berjalan sambil memainkan smartphone-nya, untuk mengakses portal-portal lainnya setelah melihat portal umum yang dia tahu bernama: Terminal Mobile World Bank.


“Ya. Kalau tahu aku akan membutuhkan Kredit seperti ini, lebih baik aku memanggil Unit Justice-man sebelumnya, jadi aku tidak perlu menyelamatkan ******* itu.”


Lalu Ret menyimpan smartphone-nya, dan memperhatikan sekitar.


“Aku pikir itu ide yang buruk―” Ret tiba-tiba mengerutkan kening.


Tidak ada satu pun kamera pengawas di Bangunan cukup mewah di sekitarnya. Preman di belakangnya pun berhenti berjalan dan masih menjaga jarak aman dengannya. Mereka berdua menyeringai lebar dan menatap tajam pada Ret.


“―Sial. Apa mereka akan menyergapku di depan sana?!”


Saat mengetahui bahwa tidak ada kamera pemantau di dalam Gedung yang masih dalam pembangunan di depannya, dia menyebrang jalan dan mencari jalan lain.


Ret terdiam dan berdiri di tempat tetapi masih dalam jangkauan kamera pemantau di salah satu Gedung. Namun, dia masih dalam dilema besar.


“Jika aku tetap diam di sini terlalu lama, aku akan terlihat sangat mencurigakan di kamera pemantau itu,” kata Ret, menoleh ke belakang dan melihat CCTV di salah satu Gedung terkahir dilaluinya, “Mereka pasti akan memanggil Unit Justice-man―dan itu akan menjadi sangat merepotkan karena aku bukan penduduk asli Wilayah para sultan ini.”


Para penduduk yang tinggal di Wilayah Penduduk Kelas Atas manapun tidak ingin repot. Dengan hanya sedikit dicurigai maupun terlihat mencurigakan, mereka bisa menggunakan salah satu dari ‘3 Trinitas Point’ untuk memenjarakan orang berkependudukkan lain yang berada di wilayah mereka.


Apapun alasanku, aku pasti akan masuk penjara walaupun itu hanya ‘mencurigakan’, pikir Ret. Karena ....


Menghembuskan napas beratnya, Ret menggelengkan kepala.


“Uh,” desah Ret, frustasi, “Aku memang mencurigakan, sih.”


Dia melihat kantong plastik yang ditentengya sedari tadi dan pakaian yang dikenakannya jauh dari jenis pakaian yang dikenakan para penduduk klaster setempat.

__ADS_1


Setelah Ret berpikir sejenak, dia menggelengkan kepalanya sambil menyebrang jalan untuk berjalan kembali ke jalan yang telah dilaluinya.


Dia berkata, “Tidak ada pilihan selain kembali menyusuri jalur ini, huh.”


Lalu kemudian, Ret tiba di tempat yang pernah dilalui dan Gedung Besar tak asing lagi baginya.


Gedung Hotel menjulang tinggi di sampingya yang sangat mencolok. Namun, Ret tiba-tiba mengerutkan kening saat melihat preman-preman tak jauh di depannya dan di sebrang jalan, seperti sudah menunggunya sedari tadi.


“Apa mereka akan menyerangku di sini?!” gumam Ret, mulai panik, “Tapi ....”


Ret melihat preman-preman yang keluar dari gang-gang celah Gedung Besar. Dan beberapa dari mereka keluar dari Gedung Hotel di sampingnya.


“.... Mereka, kan,” lanjut Ret bergumam sambil memperhatikan sesuatu, “takut kamera―Sial ...!!”


Ret menyadari bahwa kamera pemantau di tiang portal di depan Gedung Hotel sebelumnya, tiba-tiba menghilang.


Bagaimana kamera pemantau di portal Gedung Hotel itu bisa menghilang?! Ret terkejut setelah berpikir demikian, Sial. Ini sangat aneh―


Ret memperhatikan ke sebrang jalan, “Tunggu, tunggu. Kenapa kamera pemantau Bangunan di sana juga tidak ada―” dan menyadari bahawa kamera pemantau maupun CCTV di setiap Gedung dan portal besi di depan Gedung-nya telah menghilang.


“Nak,” teriak si Bos preman di belakang Ret, “Aku katakan sekali lagi: Berikan padaku Prangko Oranye itu!”


Ret menggigit bibirnya, frustasi, setelah mendengar suara teriakkan preman di belakangnya yang terus berjalan mendekatinya.


Sial. Aku memang bodoh bisa terjebak seperti ini, demikian pikir Ret. Dia terus menggerutu di dalam hatinya.


Ret melirik ke belakang dan melihat si Bos preman bersama satu anak buahnya.


“Mereka merencanakan ini,” gumamnya, mencoba untuk tetap tenang, “dan tahu aku pasti akan kembali ke sini?!”


Ret terus berpikir bagaimana preman-preman di sekitarnya bisa merencanakan hal simpel seperti itu tetapi dia sama sekali tidak menyadarinya, dan dengan mudahnya dia terjebak rencana receh mereka.


Ahh .... pikir Ret, mengacungan telunjuknya di depan wajah sambil mengaga―dia menyadari sesuatu, Mereka semua sudah hafal dengan jelas Wilayah para sultan ini. Rencana mereka sangat simpel, tapi ... aku yang terlalu bodoh, huh.

__ADS_1


¤¤¤


__ADS_2