Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0

Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0
[B1-47] Aku Harus Cepat - Cepat Menjahui 'Aku'!!? (2/2)


__ADS_3

Dia melihat mata merah seterang darah yang bergerak-gerak seperti laser mengejarnya dengan sangat cepat.


Suara decitan hewan pengerat seperti suara tikus, terus mengerjarnya dengan sangat cepat. Dan menyadari akan adanya bahaya, Ret terus belari sambil mengingat jalan kembali.


Ke kanan?! Ya, pikir Ret, menghembuskan napas beratnya selagi melihat tikungan kanan lorong. Dia masih mengingat tikungan lorong tersebut. “Pasti kanan ...!!!”


Dia langsung belok ke kanan dengan sangat percaya diri.


Secepat-cepatnya dua cahaya merah dan suara decitan hewan pengerat di belakangnya, Ret tidak kalah cepat dengan cahaya dan suara tersebut yang terus mendekatinya.


Ugh. Bagaimana Tikus itu bisa sebesar beruang?!! Dan kenapa aku bisa yakin kalau ia adalah seekor tikus, huh, demikian pikir Ret, mengatur napasnya sambil terus berlari.


Meskipun Ret berpikir demikian, dia berlari dengan tidak melambatkan tempo langkah kakinya satu napas pun.


Saat cahaya lampu darurat menerangi dua titik merah di belakangnya, Ret kembali menolehkan kepalanya ke belakang dan melihat Tikus Besar seukuran beruang dewasa yang masih mengejarnya.


“Big Rat?!” pekik Ret, secara relfek tubuhnya merinding ketakutan, “‘Aku’ ...!!?”


Saking gelapnya lorong gorong-gorong dan saat ada lampu darurat cukup jauh di hadapannya yang berkedip, Ret tidak sengaja tersandung dan jatuh ke depan.


Dia terguling-guling ke depan dan saat hampir tercebur ke selokan limbah air, Ret berhenti dan tengkurap tepat di tepi selokan.


Sial. Aku harus cepat, pikir Ret, menopangkan tangannya ke permukaan beton. “Apa ini―”


Namun, bukannya permukaan beton yang dirasakan tangan kanannya, dia malah menggenggam sebuah kotak persegi panjang yang serasa tak asing baginya.


“―Smartphone,” gumam Ret, langsung menggenggam erat smartphone tersebut sembari berdiri ke depan. Si Selui ...!!?


Ret berlari dan masih terus dikejar oleh Tikus Besar tepat di belakangnya. Dia kembali mempercepat langkah kakinya tanpa menoleh ke belakang.


“Apa-apaan,” gerutu Ret, merasa jengkel, “keberuntungan sialan ini?!”


Keluar dari gorong-gorong, Ret melihat Ruang Taman Mewah dengan air mancur sebagai pusatnya.


Sambil berlari ke Terowongan, “Terowongan kanan, Ya?!” sebelah kanan, Ret melihat air mancur di tengah-tengah Ruang Taman Mewah memiliki air yang sangat jernih.

__ADS_1


Ret lanjut menggumamkan, “Kenapa bisa―” dan masuk kembali ke Terowongan. Dan dia pun mendengar suara decitan hewan pengerat lain.


Sial ...!!! Tidak ada waktu untuk memikirkan itu, pikir Ret, lalu menjerit, “I-itu Tikus Besar lagi?!”


Setelah menggerutu seperti itu dan terus menggerutu dalam hatinya, Ret tidak berani menoleh ke belakang lagi. Dia hanya terus mengingat jalan kembali keluar gorong-gorong.


“Ah!” gumam Ret. Tangga besi itu?! Apa aku naik saja ke sana?


Dia melihat cukup jauh di depannya terdapat cahaya lampu darurat yang menerangi tangga besi bobrok. Dan dua suara decitan hewan pengerat di belakangnya terus mendekatinya dengan sangat cepat. Namun, Ret sama sekali tidak berani menoleh ke belakang.


Ret berlari di lorong terkahir yang diingatnya menuju ke luar gorong-gorong.


Lalu, tepat saat Ret melihat cahaya mentari sedikit memasuki lorong gorong-gorong tak jauh lagi di depannya, mata hitam Ret berbinar terang.


Dan Ret pun mengerahkan seluruh tenaga dan enerji terakhir pada kedua kakinya. Tetapi, saat decitan Tikus Besar semakin keras yang berarti semakin mendekatinya, Ret tersandung ke depan.


Ret menjerit, “Sial. Big Rat! Hei, pergilah dariku!! ‘Aku’ ...!!!”


Suara jeritan ketakutan Ret menggema ke sekitar lorong terakhir disertai suara decitan Tikus Besar semakin keras menyertainya. Dan dia melihat empat mata merah darah terang dengan cepat mendekatinya.


Moncong dua Tikus Besar di belakangnya terbuka seperti akan menggigitnya kapan saja.


Cahaya matahari senja menerangi seluruh tubuhnya yang terbaring tengkurap, ketakutan.  Ret memeluk tubuhnya sendiri dengan erat seraya terus menggigil ketakutan.


Kenapa ‘mereka’ tidak, pikir Ret, merasa ada yang tidak beres dia menolehkan kepalanya ke belakang, “Memakanku ...?!”


Dia melihat sedikit cahaya matahari senja memasuki Terowongan menuju ke lorong gorong-gorong. Namun, dua Tikus Besar di dalamnya tidak berani menginjakkan kakinya ke cahaya tersebut.


Tidak bisa keluar. Huh ...?! Ini sangat aneh. Kalian bukan vampir atau semacamnya, kan, demikian pikir Ret.


Mengehatuhi dua Tikus Besar sepertinya akan mundur, Ret mengatur napas tersenggal-senggalnya sambil berbaring terlentang dan menatap langit senja.


Sial ...!!! Itu, pikir Ret, terengah-engah. “Hampir saja! Apa aku keledai bisa tersandung disaat genting seperti itu ...!!?”


Ret melihat smartphone milik Sei, di genggaman tangannya dan mengangguk cukup puas.

__ADS_1


“Setidaknya aku berhasil menemukan ini,” gumam Ret.


Dia menghembuskan napas beratnya dan mengangkat smarphone digenggamnya ke langit sembari tersenyum bangga.


Walaupun masih terengah-engah, Ret berdiri perlahan sambil berkata, “Aku tidak punya waktu untuk berbaring seperti ini. Bisa saja ‘mereka’ masih―”


Ugh! Ret menautkan alisnya, kesakitan. “Apa, kenapa tubuhku ini.”


Tubuhnya sangat kesakitan dan kesulitan untuk berdiri.


Apa ada racun atau semacamnya di dalam sana?! Apa aku akan, demikian pikir Ret. Meskipun dia sangat kesulitan berdiri dan berjalan, dia tetap berusaha keras untuk menjauhi Terowongan.


Sembari menikmati cahaya mentari senja, Ret duduk dan untuk ke-2 kalinya dia menyandarkan punggungnya ke pohon cukup besar menghadap Terowongan Besar dan beristirahat sejenak.


Namun, dia sama sekali tidak menurunkan kewaspadaannya. Ret masih menatap tajam Terowongan Besar cukup jauh di hadapannya.


Apa yang kulakukan ini sebenarnya, sih?! Kenapa juga aku mau-maunya dibodohi olehnya, huh, pikir Ret, mengatur napasnya sembari kembali menatap matahari senja yang masih indah, Aku akan berhutang 10.000 Kredit dan selalu mempertaruhkan nyawaku seperti ini?! Cih. Ini yang terlakhir kalinya aku―


Ret melebarkan matanya, tiba-tiba menyadari sesuatu.


“Ah! Bagaimana aku baru menyadari ini. Sial.” Ret menggertakkan giginya. “Sebentar lagi malam akan tiba!! Kalau kedua Tikus Besar itu takut sinar matahari, berarti saat malam hari 'mereka' bisa ....”


Ret mencoba berdiri walaupun dengan menopangkan tangannya ke pohon di belakangnya. Tubuhnya terus bergetar seperti menahan rasa sakit.


“.... Sial. Ini menyakitkan. Aku bersumpah ini yang terakhir kalinya aku mengadapi situasi hidup-mati seperti ini. Sial. Tadi itu sangat menakutkan.” Ret menggelengkan kepala, lalu menghembuskan napas beratnya. “Untuk sekarang, aku akan menolak untuk berhutang 10.000 Kredit padanya apapun yang terjadi!”


Setelah Ret bersumpah seperti itu, dia berjalan dengan tergesa-gesa namun masih sempoyongan.


Ret menopangkan tangan dan tubuhnya ke pohon-pohon di sekitarnya. Dan saat melihat matahari semakin tenggelam, Ret semakin panik dan mempercepat langkahnya.


Aku akan mencari cara lain saja untuk menculiknya, kalau dia tidak mau memberitahuku tanpa harus berhutang, demikian pikir Ret. Dia terus berjalan tertatih-tatih memasuki hutan rimbun.


Ret melihat sebuah Bangunan tak jauh darinya, dengan konstruksi Bangunan tersebut terbuat kayu sambil bersandar ke tiang lampu di sisi jalan.


Dengan berjalan tertatih-tatih dan sempoyongan, dia sampai di hadapan Bangunan Penginapan pada saat waktu makan malam sedang disiapkan.

__ADS_1


Ret berkata, “Sial. Aku hanya beruntung bisa menemukan smartphone ini, huh.”


***


__ADS_2