Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0

Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0
[B1-51] Memiliki Hutang Itu Adalah Situasi Yang Sangat Mengerikan!!


__ADS_3

“.... Aku hanya ingin menyelamatkan seseorang yang telah mengorbankan dirinya untukku. Walaupun dia tidak tahu atau tidak sengaja menjadi seperti itu, uh, aku tetap berhutang padanya,” kata Ret yang sedang menyimpan kardus di atas meja Ruangan-nya, “Aku sama sekali tidak mau memiliki hutang budi terhadap adik perempuan Me, apakah itu salah menurutmu, Sei?”


“Oh,” sahut Sei, “Kau sudah kembali lagi, Rat. Cepat juga kau ternyata. Ng? Apa yang salah dengan si Tua So͝oR?!”


Ret dengan ringkas memberi tahu perkataan So͝oR kepada Sei.


Yah ... Aku sama sekali, pikir Ret, duduk di kursi mejanya sambil mengangkat bahunya. “Tidak tahu, huh, Pak Tua So͝oR hanya berkata seperti itu padaku.”


Wanita itu perlahan duduk dan menghadap sisi meja Ret. Dia bersandar di dinding dengan eksprsi di balik masker hitamnya yang terlihat sangat lemah.


“Ohh~Kau sudah bisa melafalkan kata itu, ng, Berikan padaku kardus itu,” pinta Sei, sambil menggangguk dan memberi ruang di atas kasurnya untuk kardus, “Simpan di sini saja, Rat.”


Alat-alat penculikan yang dibawa Ret di dalam kardus, langsung diperiksa secara menyeluruh oleh Sei.


“Ng.” Sei mengangguk ringan setelah mengecek alat-alat di dalam kardus. “Seperti yang diharapkan dari Orang Tua


itu.”


“Jadi,” tanya Ret kepadanya, “Untuk apa semua alat ini? Alat-alat ini sangat mahal, kau tahu―dan aku harus berhutang padamu, sial.”


Sei menjelaskan secara singkat kegunaan alat-alat yang dibeli Ret dari si Informan So͝oR.


“Uh,’ desah Ret, tidak mengerti, “Kalau kamu menjelaskannya dengan cara seperti itu ....”


“Ng.” Sei mengerti bahwa Ret sama sekali tidak bisa diajari langsung. “Oke! Gunakan dulu benda-benda ini besok untuk pengintaian terlebih dulu.”


Sei menyerahkan kamera video, topi, pakaian dan kacamata hitam dari kardus kepada Ret.


“Pengintaian?!” Ret kebingungan. “Apa itu? Kenapa kita tidak langsung eksekusi saja. Aku pikir semua alat-alat ini


dilakukan.”


Di Era mana pun Pengintaian adalah hal terpenting untuk kesuksesan saat menculik seseorang. “Jika kau membawakan obat herbal padaku―Ah! Rat, kenapa kamu tidak membelinya dari Orang Tua itu? Dia informan juga, kan ...?”


Tentu itu, pikir Ret, kemudian berkata, “Tidak mungkin, lihat saja sisa Kredit yang kau pinjamkan!”


Ret menunjukkan layar smartphone-nya kepada Sei.

__ADS_1


“Oh. Ng.” gumam Sei, mengangguk setelah menatap layar smartphone milik Ret, “Aku tidak menduga 10.000 Kredit tidak cukup. Apa kau tidak bisa tawar-menawar saja―aku pikir Orang Tua itu mudah untuk diajak negoisasi.”


“Aku tidak bisa melakukan hal-hal seperti itu.” Ret berkata sambil menatap kosong lantai. “Aku biasa membeli dengar harga yang sudah tertera atau ditentukan mutlak olehNya.”


“Ng.” Sei hanya kembali mengangguk ringan. ”Seperti yang kukira dari orang bodoh sepertimu, Rat.”


“Uhh,” desah Ret, frustasi dihina terus olehnya “Ya. Seperti itulah ....”


Seluruh Tatanan Dunia pada Era Hiburan telah ditentukan seluruh sistem maupun perhitungan tentang kultifasi harga suatu produk. Jadi, “Selama seratus tahun terkahir YES meguasai Bumi ini, yang kutahu tidak ada kemiskinan, huh,” di muka Bumi dan di Dunia Peruangan pada Era Hiburan tidak ada yang namanya Resesi, Inflasi atau Deflasi ataupun Krisis Ekonomi Dunia.


Sei mengangguk. “Memang tidak ada kemiskinan di Dunia pada Era Hiburan sekarang ini.”


Wanita itu mengangguk, namun langsung menggelengkan kepalanya tidak setuju dengan gumaman Ret seperti itu. Dia menutup matanya sambil mendesah mengerti.


“Tapi, bagaimana rasanya menjadi seorang budak?” tanyanya pada Ret.


Tubuh Ret tiba-tiba menegang dan langsung mematung dalam posisi duduk tegak, saat Sei membuka mata dan menatap tajam dirinya.


“Uh. Yah ... I-iya, sih, lebih baik,” gumam Ret, dengan tubuhnya tiba-tiba merinding ketakutan. Berstatus miskin lebih baik daripada menjadi seorang budak, huh, dan. Lanjut Ret bergumam, “Menjadi seorang budak kemarin, adalah pengalaman yang sangat menakutkan untuk―”


“Jika kau membawakan obat herbal padaku,” Sei memotong perkataan Ret, sambil menolehkan tubuhnya menghadap dinding Ruangan, “10.000 Kredit yang kuberikan padamu sebelumnya akan kuanggap lunas.”


“Benarkah?!”


Pria itu menatap punggung Sei.


“Ng. Aku akan mentransfer Kredit lagi, kalau begitu.”


“Apa!? Tu-tunggu, Sei―”


Cahaya layar smartphone milik Sei di balik tubuhnya, terlihat oleh Ret. Cahaya tersebut menerangi sudut Ruangan dan membuat Ret sangat gugup.


Sial. Kenapa harus Te-transfer, pikir Ret, melebarkan matanya. “Lagi ...?! Bukankah aku baru saja bebas dari hutang 10.000? Kenapa aku harus berhutang padamu lagi, Sei―”


*Ping!*


Ret langsung melihat layar smartphone-nya. “Sial, Sei! Kenapa―”

__ADS_1


”Ng. Sisa obat herbalnya untukmu saja.” Sei menangguk ringan.


Ret bingung dan bertanya, “Sisa?! Aku tidak menggunakan―”


“Mau dijual kembali jika bisa silahkan―Ah! Membeli herbal juga cukup sulit, ngomong-ngomong!” seru Sei, memperingati Ret terlebih dulu.


Mendengar peringatan Sei, Ret hanya duduk tegang dan mematung di tempat. Dia hanya menatap punggung Sei yang mengenakan pakaiannya.


Pakaian yang dikenakan Sei telah berubah dan Ret baru menyadarinya.


“Apa?! Bagaimana kamu bisa berkata sesantai itu! Ini jumlah Kredit yang―Uh! Bagaimana caranya untuk mengembalikan ini. Berhutang 10 Ribu Kredit, mungkin, aku masih bisa bekerja walau pajak penghasilanku nanti akan menjadi dua kali lipat, tapi kalau hutang Kredit-ku segini ....”


Ret melihat layar smartphone-nya yang terakses ke akun miliknya di portal Terminal Mobile World Bank. Dia menyipitkan mata tajamnya melihat angka Kredit yang sangat besar. Dan untuk pertamakalinya, Ret melihat jumlah saldo Kredit-nya sangat banyak tetapi dirinya hanya bisa menggaruk kepalanya dengan bingung.


Masuk ke kolom transfer akun, Ret berkata, “Sei, ini terlalu ... Aku kembalikan ini, ya―”


“Ng. Semangat. Semoga kamu mendapatkan obat herbal yang diperlukan, Rat, dan untuk mendapatkan obat itu jangan sampai mengacau, oke?” desak Sei, menatap tajam dirinya.


Ret menggaruk belakang kepalanya dengan kuat. Dia menjadi sangat frustasi. “Uhh. Tapi, Sei, tapi ....”


Pria muda itu mendongakkan kepalanya ke atas dan menghadapkan wajahnya ke langit-langit Ruangan-nya. Dia sangat frustasi saat memiliki hutang Kredit yang sama sekali tidak bisa dibayarnya.


Bagaiman caranya aku harus membayar hutang Kredit sebanyak ini, demikian pikir Ret. Dia menghembuskan napas beratnya.


Ret berdiri dari kursinya dan bertujuan menuju ke Ruang Makan untuk membeli makan malamnya sambil mengembalikan nampan-nampan sebelumnya. Namun tiba-tiba, dia berhenti di hadapan pintu depan Ruangan-nya


dengan tangan kanannya masih menggenggam gagang pintu.


“Apa aku kabur saja,” gumam Ret, menoleh ke belakang, melihat Sei yang masih berbaring di kasurnya dan menghadap dinding Ruangan. "Dengan Kredit sebanyak ini, aku bisa membangun sebuah Partai atau Kelompok Preman atau Usaha! Dia sangat lemah, sekarang. Tidak mungkin dia bisa mengejarku, dan ...."


Ret langsung menggelengkan kepalanya.


Uhh ... Okelah. Aku akan mencari pekerjaan saja di Panti Sosial, semoga mereka tahu beberapa di Wilayah Penduduk Kelas Menengah, pikir Ret, kemudian berkata, “Atau di Area.0 ini juga tak apa.”


Ret menuruni anak tangga dengan langkah berat untuk menuju ke Ruang Makan Penginapan sembari menghembuskan napas beratnya.


“Aku bersumpah ini yang terakhir aku berhutang Kredit kepada siapapun!!”

__ADS_1


Ret kembali berhutang Kredit pada Sei, sebanyak: 100.000 Kredit.


***


__ADS_2