Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0

Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0
[B1-45] Rat, Cara Benar Menculik Orang Di Era Ini Pasti Lebih Merepotkan!! (2/3)


__ADS_3

Uhh ... nanti Aku benar-benar harus menjadi penjahat ilegal, huh. Sial, demikian pikir Ret, menghembuskan napas


beratnya.


Meskipun dia berpikir demikian, dia terus berpikir untuk mencari alternatif dan solusi mudah lain, selain kejahatan


terbesar pada Era Hiburan, yakni: Hacking!


“Aku tidak mau,” gumam Ret. Kalau harus sampai dihukum mati.


Kembali membawa makanan ke Ruangan-nya, Ret menenteng nampan berisi hidangan makan siang yang sama dengan apa yang dia bawanya pada pagi hari.


Namun, Ret sama sekali tidak memakan kedua hidangan yang dia bawa sebelumnya sedikit pun. Dan itu mulai terlihat jelas oleh Sei dari wajah Ret yang mulai memucat.


Pria ini, demikian pikir Sei. Dia menyadari sesuatu selagi Ret menyimpan nampan di atas kasurnya.


“Mankanlah.” Ret tersenyum dan menaikkan alisnya pada Sei.


Sei berkata, “Rat, apa kau―”


“Ah! Tentang kedua Prangko itu, Sei,” tanya Ret, seperti dengan sengaja memotong perkataan Sei, “Apa Lebih baik ke Informan si S-apa-itu, atau ke Pranko ini, ya,?”


Selagi Ret bertanya seperti itu, dia menunjukkan Prangko berwarna oranye yang dia ambil di atas meja.


Sei mengambil sendok makan kayu di atas nampan dengan ekspresi sangat ragu. Dia tidak menjawab pertanyaan Ret langsung.


Tiba-tiba wanita itu mengerutkan kening dan menatap Ret, dengan tatapan tajam.


“Hei, Rat ....” Sei menyodorkan sendok kayu dipegangnya ke mulut Ret. “Kau belum makan, kan?”


Ret menjawab dengan percaya diri, “Huh?! Tadi di Ruang Makan Penginapan aku sudah―”


“Sudah berapa lama?” tukas Sei, tanpa menunggu Ret menyelesaikan kalimatnya. “Apa dari awal kau membawaku ke Penginapan ini?”


Sei menatap dingin Ret, sambil menggenggam erat sedok kayu dipegangnya.


“Ja-j-jangan hancurkan sendok kayu itu!” jerit Ret, dengan panik. “Aku sama sekali tidak mempunyai Kredit sekarang, huh, dan aku harus mengganti alat makan Penginapan ini?! Aku akan mempunyai banyak hutang padamu nanti, Sei, ampuni aku, lah.”


Sei tersenyum dan menatap kosong padanya.


“Kita bagi dua makanan ini,” tegas Sei


Ret menghembuskan napas kecilnya.

__ADS_1


Uh. Padahal aku, pikir Ret. “Tidak apa-a―”


“Apa aku perlu mengulangi kata-kataku?” desak Sei, mengerutkan keningnya.


Mata hitam tajam Sei, seperti menusuk mata hitam Ret yang langsung mengalihakan pandangannya.


Ret mengangguk. “O-oke! Aku akan makan rotinya saja.”


Perasaan, tadi aku yang marah padanya, ya ... Kenapa bisa jadi dia yang marah sekarang?! Huh, demikian pikir Ret. Dia mendesah pasrah dan menggambil sekaligus merobek roti menjadi dua bagian.


Sambil menyimpan kembali setengah roti lebih besar di tempatnya, Ret bertanya pada Sei, “Oh, iya, Sei.”


“Ng ...?” Sei mulai memakan hidangan makan siangnya.


“Seperti yang kutanyakan tadi tentang kedua Prangko itu, apa aku harus ke si pengemis Informan dengan Pranko Biru, atau menuju ke Area.3 menukar Prangko Oranye ini?"


Dan mereka berdua pun memakan makan siang mereka masing-masing.


“Memang kau sudah tahu di mana tempat Informan Prangko Oranye itu?”


“Ya. Aku tahu. Aku sudah tahu di mana akan menukar-nya.”


“Ng?! Bagaimana kau bisa tahu―”


Sei mengerutkan keningnya, curiga.


“Huh?!” Ret baru menyadari hal itu. “Aku tidak tahu itu. Aku baru dalam hal membeli informasi. Karena tidak ada hal lain selain melakukan sesuatu yang ilegal seperti membeli informasi, huh.”


Ret hanya bisa mendesah pasrah setelah mengatakan itu.


“Ng. Ya.” Sei mengangguk ringan. “Hubungan baik dan relasi hanyalah omong kosong di Era sekarang. Semua manusia sibuk bertarung satu sama lain untuk hiburan. Sebab itulah ‘kami’ ada, untuk umat manusia.”


Sei menatap tajam Ret, sambil tersenyum kosong padanya.


“Yah....” Ret mengusap tengkuknya sendiri, merasa canggung. Bisakah tidak membicarakan tentang hal-hal tentang kalian?! Jadi, pikir Ret, kemudian bertanya pada Sei, “Bagaimana caranya menculik?”


Ret langsung mengalihak pembicaraan ke topik utama.


“Aku sudah bilang,” kata Sei, meminum air dalam gelas kayu, “Temukan dulu smartphone-ku ...."


“Ah! Tapi,” gerutu Ret, menyadari sesuatu, “aku tidak bisa mengambil smartphone-mu! Aku baru ingat, sial.”


Sei memiringkan kepalanya. “Kenapa?”

__ADS_1


“Saldo Kredit-ku 0!” sahut Ret, mengedutkan bibirnya.


Sei merenung sejenak, seperti sedang memikirkan sesuatu. Kemudian, dia mengangguk ringan dan mengambil bolpoin di bawah bantal.


“Beri aku kertas lagi!”


“Huh?!”


Tanpa menunda, Ret merobek kertas dan memberikkannya ke Sei.


“Ini,” kata Ret, “Untuk apa―”


Sei menggambar sebuah peta di kertas pemberian Ret. Walaupun peta yang digambar Sei sangat jelek, Ret masih bisa membaca peta tersebut.


Ini peta menuju ke, pikir Ret, melebarkan matanya, tercengang. “Gorong-gorong itu lagi?!”


“Ng. Kira-kira, aku menjatuhkan smartphone-ku di sini.” Sei menunjukkan tanda 'x' di peta yang digambarnya ke Ret. ”Aku akan memberi tahumu informasi tambahan gratis sebagai imbalan karena mau menemukan smartphone-ku ....”


Sei menyerahkan kertas kuning bergambar peta ke Ret.


“Apa itu?!” sahut Ret, mengambil kertas dan membaca gambar peta dengan seksama.


Ini gambar yang sangat jelek, huh. Kalau aku belum pernah ke gorong-gorong itu sebelumnya, siapa pun tidak ada yang akan bisa membaca peta ini, demikian pikir Ret. Dia terus membaca peta sambil mengerucutkan bibirnya.


“ ....Gorong-gorong Area.0 yang merupakan wilayah penduduk kelas terbawah ini,” jelas Sei, tersenyum tips, “terhubung ke segala penjuru Area di Distrik.2 ini.”


“Apa!?” pekik Ret, terkejut dan langsung menatap Sei. Tidak mungkin. Jadi, gorong-gorong kemarin itu terhubung ke segala Distrik―Area?! Kalau begitu, aku jadi tidak harus membayar―


“Tapi ingat! Kau harus sangat berhati-hati kalau berada di dalam gorong-gorong itu,” tegas Sei, mengingatkan Ret, sambil berbaring menghadap dinding dan menunjukkan punggungnya pada Ret. “Terhadap―Lupakanlah ... Temukan saja smartphone-ku dulu.”


Gambar peta dipegang Ret, menggambarkan jalur bawah tanah menuju ke Wilayah Penduduk Kelas Menengah di mana Ret terjun dari atas lubang tempat sampah. Dia bisa memasuki Wilayah tersebut tanpa melewati Gerbang Perbatasan. Dan gambar tersebut seperti menunjukkan situasi di dalam gorong-gorong beserta tujuan utamanya.


“Jadi,” gumam Ret, dengan kedua mata hitamnya berbinar terang. Aku tidak harus membayar Kredit untuk pergi ke


Wilayah lain?! Ini sangat menguntungkan―


“Tapi jangan sering-sering memasuki gorong-gorong ini walaupun merasa tidak ada apa-apa―dan ingat saat keluar dari tempat sampah, kau selalu waspada terhadap para gangster maupun preman setempat,” tegas Sei sekali lagi, memotong pemikiran Ret. Dia menolehkan kepalanya ke Ret yang menatap balik dirinya. “Ingat itu, Rat, jika kau tidak ingin mati, sih.”


Ret menjawab, “O-oke!”


Sei kembali berbaring menghadap dinding Ruangan.


Ahh! Sial. Mati?! Uh. Ternyata tidak bisa semudah itu, ya ...? Dan juga di sana masih banyak mayat-mayat Anggota Unit Army-man yang berserakan, demikian pikir Ret. Dia mendesah frustasi dan berdiri dari kursinya.

__ADS_1


Ret lalu melangkahkan kakinya menuju pintu depan Ruangan-nya.


¤¤¤


__ADS_2