Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0

Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0
[B1-41] Terkadang, Satu Kebaikan Tanpa Sadar Dibalas Oleh-Nya Dengan Rentetan Kebaikan (12/12)


__ADS_3

Tapi, kamu tidak harus berbicara dengan nada seperti itu juga, Nona, demikian pikir Ret. Dia menatap si adik Me yang berada di dalam sangkar emas.


Adik Me di dalam sangkar emas pun menatap balik Ret, dengan tatapan tajamnya.


“Apa?!” sahut si adik di dalam sangkar, “Begitu bangga, kah, kau menjadi partner tidur kakakku? Ha?”


Berbeda dengan para budak pria yang telanjang bulat, rata-rata para budak wanita mengenakan kain tipis berwarna putih pada bagian tubuh yang menakjubkannya.


“I-itu, a-aku ....”  Ret ingin membantahnya, tetapi dia terlalu gugup. “A-aku tidak bermaksud untuk―”


“Jangan menunjukkan wajah munafik seperti itu ...!” bentaknya pada Ret. "Kau sangat menjijikan!"


Adik Me di dalam sangkar emas langsung diam, dan mulai tenang. Ekspresinya tiba-tiba berubah menjadi memelas terhadap kakak perempuannya.


“Kakak,” kata si adik di dalam sangkar, dengan nada memelas, “Aku mohon ... Bebaskan aku―Aku mohon! Aku berjanji nggak akan mengulanginya lagi―”


Namun, perkataannya terpotong saat Me langsung berbalik, sambil berkata, “Biarkan dia mengoceh seperti itu. Paman, Rat. Ayo kita pergi dari sini.”


Ret tidak bisa mengungkiri nuraninya. “Ta-tapi ....”


“Hei!? Kakak sialan! Kembali ke sini!!” teriak si adik, meronta-ronta di dalam sangkar.


Hanya bisa melihatnya dengan tatapan sedih, Ret mencoba meraih jeruji besi emas sangkar yang mengurung si Adik. “A-aku―”


“Aku bilang,” desak Me, menolehkan kepalanya ke belakang, “Ayo kita pergi, Rat.”


Ret menghentikan tangannya setelah mendengar perkataan Me dengan nada yang sangat dingin seperti itu.


Namun, adik Me terus berteriak, “Dan bebaskan aku dari sini ...!! Kalau nggak wanita itu bisa ....”


“Ya. Me benar, Ret.“ Perkataan si adik di dalam sangar terdistorsi oleh si paman yang berkata, “Kita pergi saja dari sini. Fufufufu. Biarkanlah kejadian ini untuk menjadi pelajaran buatnya.”


Saat paman Me berbicara, Ret sama sekali tidak bisa menolaknya. Dia mengangguk ringan dan berbalik sambil merepalkan rahangnya.


“Maaf.” Ret menggigit bibirnya setelah meminta maaf sambil merepalkan tangannya. Dia berusaha keras menahan rasa empatinya dengan melihat punggung Me yang terlihat sedikit sedih. Aku tahu kamu seperti ini karena Me dan  Pamannya hanya bisa membebaskanku, meski dengan Kredit yang sangat banyak itu.


Ret menggelengkan kepala, lalu menghembuskan napas beratnya.


Sial, lima ratus ribu Kredit ... Bagaimana cara aku membayarnya? Walaupun Me bilang aku hanya harus membayar bunganya saja, huh, tapi, demikian pikir Ret.


Ret menggumamkan sesuatu setelah berpikir demikian, “Itu masih Kredit yang sangat banyak.”


“Un?!” Me menolehkan kepalanya saat mendengar Ret menggumam seperti itu. Dia melihat Ret sedang menautkan alisnya seperti sedang kesakitan.

__ADS_1


Ret menggelengkan kepala sambil memaksakan senyum. “Tidak. Bukan apa-apa. Oh, ya, apa tadi itu adikmu? Dia kenapa bisa ada di―”


Me menatap Ret, dengan tatapan seolah tidak ingin membicarakan tentang hal itu.


“Aku nggak mau menbicarakan tentang itu, Rat,” Me berkata dengan lirih, “Apa itu tidak apa?”


“Uh.” Ret mengangguk diam. “Oke.”


“Fufufu.... Tenang saja, Ret,” kata si paman di sampingnya, “Ini semua adalah pilihan Me. Kau tidak salah sama sekali. Oh, ya, bagaimana kau bisa menjadi budak? Me sampai terkejut-ketakutan saat melihatmu tadi.”


Bagaimana ini semua bukan salahku?! Dia jelas menelantarkan adiknya demi orang asing sepertiku, pikir Ret,


mendesah pasrah, lalu berkata, “Aku ...Ah! Tentang Informan yang Bos―maksudku paman bilang tadi, kurang lebih, karena memperebutkan sesuatu seperti itu."


“Ohh...“ Paman itu menatap tajam ke depan, dengan tatapan menyeramkan, dan bertanya padanya, “Preman-preman mana itu? Siapa saja?”


Ret menjawabnya dengan gugup, “S-sayangnya saya tidak tahu, h-huh,”


Paman itu menengokkan kepalanya pada Ret, dan terseyum tipis lalu tertawa elegan kembali, “Fufufu sudah pasti seperti itu, ya, maaf membuatmu takut, Ret."


“T-ti-tidak.” Ret masih menjawabnya dengan gugup, “T-tidak apa-apa.”


Mereka semua memasuki pintu dan menuruni anak tangga.


Me menoleh ke belakang dan bertanya pada Ret, “Informan, ya―Kamu mendapar apa? Barangnya, maksudku.”


Ret menyentuh dagunya, seperti mencoba mengingat sesuatu.


“Prangko Oranye.”


“Oh! Prangko Oranye di Area.5? Bukankah salah satu dari mereka ada anak buahmu, Paman?”


“Fufufufu. Seperti itulah.”


Paman itu menatap Ret, dengan tatapan hangat.


“Benarkah?” tanya Ret ke si paman, “Aku―maaf sebelumnya tapi aku tidak tahu harus menukarkannya di mana, sungguh. Bisakah Bos―maksudku, Paman ....”


“Bocah-bocah itu biasanya ada di sekitar Perguruan Pecak Silat Area.3,” jawab si paman, menaikkan sudut bibirnya.


Apa?! Ternyata tempatnya di sana-san juga. Tapi, pikir Ret, melebarkan matanya seperti menyadari sesuatu. “Bukankah semua Peguruan, Gym, maupun sejenisnya itu legalitas Sistem-nya jelas?"


Paman itu menolehkan kepalanya kepada Ret, dan terseyum dingin padanya. “Aku hanya bisa memberitahumu sejauh ini saja, Ret.”

__ADS_1


Ret langsung gugup ditatap dengan dingin olehnya.


“O-oke ....”


“Maaf, Ret, aku hanya bisa memberitahumu itu saja.”


Paman itu mengalihkan pandangannya kembali ke bawah, beberapa anak tangga terkahir dengan satu belokan.


“T-ti-tidak apa-apa,” kata Ret, semakin gugup. “Sunguh tidak apa-apa―aku mengerti―tapi terimakasih atas informasinya, Paman.”


Ret membungkukkan kepalanya pada si paman, dan Me yang berjalan di depan mereka berdua hanya tertawa kecil saat melihat Ret gugup.


Area.3, huh, banyak masalah yang kuhadapai beberapa hari terkahir di sana, dan akhirnya kembali ke tujuan awal juga―apaan ini?! Sial, demikian pikir Ret. Dia terus menggerutu di dalam hatinya.


Dan kemudian, mereka bertiga sampai di hadapan pintu hitam yang bertuliskan: EXIT berwarna hijau di atasnya.


“Yah,” kata Me, “Kita sampai di sini, Rat.”


Ret berbincang ringan dengan mereka berdua setelah dia mendapatkan informasi tentang Informan Prangko Oranye-nya. Me dan pamannya mempunyai urusan mendesak dan akan mengakhiri percakapan ringan mereka semua.


“Ini,” tiba-tiba Me berkata, sambil menyodorkan semuah kartu nama, “Ambi ini, Rat. Kamu pakai ini, maka semua bunga hutangmu lunas! Hihihihi.”


Setelah Ret menangambil kartu nama, Me berbalik dan menaiki tangga kembali sambil terus ceikikikkan.


Diikuti pamanya yang tertawa elegean, “Fufufufu ... Kau sangat beruntung, Ret. Sangat jarang Me memberikan kartu diskon seperti itu.”


Paman itu mengikuti Me, menaiki tangga kembali ke atas Gedung.


Apa, pikir Ret. “I-in-ini ...?!”


Ret tercengang saat membaca kartu nama dipegangnya: Diskon 30% Rumah Bodil Distrik.5―Area.1 ....


“Te-terimakasih banyak! Paman!! Me!!!” kata terakhir dengan gugup Ret, ke punggung mereka berdua.


Setelah mereka berdua menghilang dari pandangannya, Ret keluar Gedung Pasar Budak. Dia menatap langit malam yang gelap namun penuh dengan cahaya bintang, sambil menghembuskan napas beratnya.


Ret bergumam, “Aku bebas, huh,” dan berjalan keluar Gedung Besar yang entah di wilayah klaster kependudukan mana, “Begini saja?!”


Terus berjalan dengan sempoyongan di luar Gedung Besar, dia melihat hutan rimbun yang sangat asing baginya.


Semua kejadian kemarin ... benar-benar seperti mimpi, huh, demikian pikir Ret.


Sambil menggenggam kartu nama kecil berwarna pink-putih yang sangat terlihat menarik, dia terus berjalan menyusuri hutan rimbun dengan linglung,

__ADS_1


***


__ADS_2