![Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0](https://asset.asean.biz.id/secret---war-of-k-m-dgsp-m4221--locked-oso-0.webp)
Memasuki Bangunan Penginapan, Ret menyimpan kebutuhan pokok bulanan yang telah dibelinya di Kombini ke Ruangan-nya.
Dia keluar Bangunan Penginapan, mengenakan jaket olahraga hitam compang-camping dan langsung berlari.
Ret berlari dengan langkah yang sangat cepat, menjauhi Bangunan Penginapan.
“Hari ini,” tegasnya sambil mempercepat langkah kaki-nya dengan semangat tinggi, “aku pasti bisa bertahan sampai 3 putaran Area ....”
Walaupun masih belum bisa menentukan akan masuk ke Sekolah Kemiliteran atau Sekolah Keamanan, Ret masih tetap melakukan latihan rutin hariannya.
Memasuki Sekolah manapun diperlukan ketahanan fisik yang kuat dan pengetahuan tentang ‘Akal Sehat Dunia’, serta beberapa sejarah Bumi terdahulu.
Ret terus berlari dengan langkah kakinya tiba-tiba melambat saat melalui beberapa penduduk Area.
Meski merupakan wilayah penduduk klaster paling bawah, Area.0 cukup tentram dan damai tanpa ada satu pun perkelahian, pemalakkan, pemelasan para pengemis ataupun sejenisnya.
Dia melihat berbagai Bangunan Kumuh yang mayoritas terbuat dari kayu, dan beberapa Bangunan terbuat dari beton putih berbentuk kotak tanpa jendela kaca.
Pengemis-pengemis pasti ada di dalam gang-gang kecil celah Bangunan Pertokoan atau tempat tinggal. Serta para preman yang berkumpul di halaman pertokoan, sedang menunggu mangsanya.
Wilayah Penduduk Kelas Bawah seperti Area.0 ini merupakan tempat orang-orang seperti mereka untuk beristirahat.
Walaupun Ret berlari cukup lambat, tidak ada yang meliriknya sama sekali. Semua preman dan pengemis mengabaikannya.
Ret mempercepat langkahnya menuju ke arah pusat Area.0.
Lalu, sebuah air mancur bertingkat terlihat olehnya. Meskipun disebut air mancur, tidak ada air yang mengalir, dengan batu kolam airnya terdapat banyak retakan serta sebagiannya hilang. Air mancur itu merupakan pusat dari Taman Kumuh.
Taman Kumuh yang cukup luas dengan berbagai tumbuhan mati, serta pohon-pohon tanpa daun dan berbatang hitam mengelilingi Taman tersebut.
Ret berhenti sejenak sambil memperhatikan sekitar, seperti sedang mencari sesuatu. Kemudian dia lanjut berlari mengitari Taman Kumuh.
Gedung-gedung yang terlihat sangat kumuh, mengitari Taman sebagai pusatnya berada di samping Ret yang terus berlari.
Setelah beberapa saat dia masih tidak menemukan sesuatu, dia memakai hoodie jaket hitamnya sambil berjalan ke tengah Taman Kumuh dan menyatu dengan kerumunan.
Berada di antara Area.0 dengan Area.1 mengakibatkan Taman Kumuh pusat Wilayah Penduduk Kelas Bawah ini menjadi cukup ramai.
Ret melihat berbagai lapisan kelas penduduk saling memalingkan wajah, sama seperti dirinya yang sedang mencari sesuatu.
Mengabaikan mereka, dia melihat pengemis aneh mengenakan topi hitam sedang duduk di kursi taman.
__ADS_1
Mata hitam Ret berkilauan saat melihat si pengemis aneh.
Pengemis aneh itu mengenakan topi hitam dengan lambang ‘(?)’ berukuran kecil dan berwarna biru di samping kiri topinya.
“Tapi, mengapa pengemis?!” gumam Ret, keheranan sejenak.
Tetapi pada akhirnya, dia tetap mendekatinya.
Dia duduk di sudut kursi tempat duduk si pengemis yang langsung berdiri, dan berkata padanya, “Ikuti aku, Nak.”
Pengemis itu berjalan menuju celah antara dua Bangunan yang tak jauh dari Taman. Ret tanpa berpikir dua kali mengikutinya. Semakin mereka berdua memasuki gang, keadaan sekitar semakin gelap walaupun waktu masih menunjukkan pukul 07.55.48 pagi hari.
Dengan Bangunan Tinggi di kedua sisi mereka yang menghalangi masuknya sinar matahari, Ret tak bisa melihat apa-apa.
Namun, dia tetap berjalan mengikuti suara langkah kaki si pengemis.
Dia melihat di ujung gang terdapat sedikit cahaya kuning terang dari arah belokkan kanan gang.
Pengemis itu sampai di ujung gang dan belok ke kanan gang, mengikuti arah cahaya. Ret mengikutinya dan melihat si pengemis sedang duduk di atas box kayu setinggi 80 centimeter, dengan lampu tua bercahaya kuning di atasnya.
Lalu, si pengemis tersenyum tipis padanya.
“Informasi.” Ret langsung menjawab sambil meletakkan Prangko berwarna biru di sudut box kayu tempat duduk si pengemis, “Dan perhitungan―” Dia berhenti berkata saat melihat Prangko Biru itu bersinar dan memiliki lambang sama dengan topi yang si pengemis pakai.
“Informasi tentang?” kata si pengemis, melepaskan topinya dan mengambil Prangko berwarna biru disampingnya, lalu menyatukan lambang Prangko ke lambang topinya.
Tiba-tiba, topi dan Prangko Biru itu langsung terbakar api putih dan lenyap di udara begitu saja.
Ret terkejut saat melihat kedua tangan si pengemis sama sekali tidak terbakar.
Pengemis itu tersenyum saat berbagai ‘Data’ seperti berbagai rumus-rumit berwarna putih muncul setelah api putih itu padam, bukannya asap. Dan ia semua menjalar dari tangan ke lengannya, lalu menuju tubuhnya dan sampai ke saku celana kanannya yang langsung menyala.
Ret tahu bahwa itu adalah cahaya layar smartphone pada umumnya. Dia ingin bertanya, “Apa―”
“Kau punya waktu 3 menit dari sekarang, Nak.” Tapi si pengemis menyelanya, “Untuk negoisasi harga atau hal lainnya. Aku cukup murah hati sebagai Informan, jadi kuberi 1 pertanyaan gratis setelah kau setuju dengan sesi ini.”
Pengemis itu tersenyum misterius sambil menyimpan smartphone-nya yang menyala di samping, dan lanjut berkata, “12 Kredit, untuk memulai.”
Senyuman tua pada wajah kotornya membuat Ret sedikit gugup. Namun, dia mengerti dengan maksud si pengemis yang menyimpan smartphone-nya yang menyala.
“Uh, kalau begitu,” sambil mendesah pasrah, Ret menyatukan layar smartphone-nya ke smartphone si pengemis. “Bagaimana cara untuk memasuki Sekolah Keamanan?”
__ADS_1
“Memiliki dasar beladiri akan menjadi nilai plus,” jawab si mengemis, mengambil smartphone-nya lagi, “Dan sepertinya kau sudah tahu bahwa ‘Akal Sehat Dunia’ juga di uji-kan, jika ingin masuk Sekolah Unit manapun, kan? Sisanya kau hanya perlu mengakses portal Terminal Mobile World School, seharga 100 Kredit per hari. Cobalah daftar di Area yang ‘kemungkinan ujian sekolah dilaksanakan’. Mungkin jika beruntung, kau akan mendapatkan sedikit diskon. Bagaimana dengan itu, Nak? Ada pertanyaan lain?”
Uh, 100 Kredit?! Ret tertegun setelah mendengar jumlah Kredit.
Setelah mendengar jawaban si pengemis di hadapannya, dia melihat layar smartphone-nya berubah warna menjadi biru terang dan menunjukkan pukul 07.57.07.
“Beladiri?” gumam Ret. “Beladiri mana yang memiliki nilai plus lebih banyak?”
“5 Kredit untuk itu,” kata si pengemis, tersenyum misterius. “Jika kau setuju, kau bisa sentuh kolom ‘Ya’ pada smartphone-mu.”
Ret melihat layar smartphone-nya tiba-tiba berubah warna menjadi kuning terang, dan hanya ada sesuatu yang bertuliskan:
...Transfer 5 Kredit ke akun: %$##112...
...[Ya] Atau [Tidak]...
“Aku ganti pertanyaanku.” Merasa ada yang aneh, Ret mengerutkan kening dan berkata, “Tempat belajar beladiri mana yang termurah? Dan aku menginginkan perhitungannya.”
“Perhitungan, ya,” gumam si pengemis, menyentuh dagu dan menatap smartphone-nya dengan serius.
Meskipun perhitungan sederhana, Ret tidak diajarkan hal-hal seperti itu saat di Panti Asuhan. Hanya Panti Asuhan di Wilayah Penduduk Kelas Atas serta diatasnya saja yang mengajarkan perhitungan rumit-dasar dan sebagainya.
“25 Kredit untuk itu,” tanya si pengemis, tersenyum. “Bagaimana?”
Ret langsung menjawab, “Baiklah,” sambil menyentuh kolom [Ya].
Pengemis itu menundukkan kepalanya seperti membaca sesuatu di smartphone-nya, dan menjelaskan, “Coba ke Perguruan Pencak Silat. Walaupun mereka menang turnamen terakhir, mereka akan tetap membuka pelatihan untuk umum setiap satu minggu setiap bulan. Kau bisa datang ke Area.3 yang merupakan―mungkin kau sudah tahu? Kau bisa daftar ke Perguruan itu, tanggal 7 bulan ini. Yang pasti, lebih baik pulang-pergi antar Area daripada menetap di sana. Dengan itu, paling rendah kau akan menghabiskan 16 sampai 20 Kredit per hari. Jika kau tinggal di Wilayah Penduduk Kelas Menengah, itu tidak realistis untuk orang seperti kita, di mana Penginapan paling murah saja sudah 50 Kredit dan ditambah 5 Kredit pajak perbedaan kelas penduduk per hari. Mungkin Itu saja dariku? Ada pertanyaan lain?”
“Ini bukan,” tanya Ret ke pengemis, dengan sedikit mendesaknya, “.Wix atau bagian dari Sistem Dunia, kan?”
Dia sedikit mendongak dan menatap tajam si pengemis, sambil menggoyangkan smartphone-nya.
“500 Kredit untuk menjawab itu, Nak,” kata si pengemis, tersenyum misterius dan menatap tajam balik dirinya. “Bagaimana?”
Mendengar perkataan si pengemis, Ret melihat smartphone-nya yang layarnya berubah warna menjadi kuning dan bertuliskan:
...Transfer 500 Kredit ke akun: %$##112...
...[Ya] Atau [Tidak]...
¤¤¤
__ADS_1