Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0

Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0
[B1-49] Menculik Itu Tindak Kejahatan Yang Lebih Keji Dari Pembunuhan!!! (1/3)


__ADS_3

“Tidak. Itu,” kata Ret, langsung mengalihakan pandangannya dari Sei, lalu menggelengkan kepalanya. “Uhh. Bukan


apa-apa.”


Beristirahat sejenak sembari membaca buku tebal dan koran-koran yang tergeletak di atas meja, Ret kemudian pergi ke Taman Kumuh pusat Area yang merupakan wilayah penduduk kelas terbawah, di mana si pengemis yang merupakan seorang Informan Prangko Biru berada.


“Tunggu dulu!” gumam Ret, berhenti berjalan dan menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Kenapa aku nurut-nurut saja ...!? Lanjutnya bergumam, “Kata si pelayan pengantar koran, infromasi selalu dijual pada pagi hari karena menghindari para penguasa gelapnya malam: gangster!”


Ret terus mengguman seperti itu tetapi dia masih terus berjalan. Dia tetap mematuhi Sei karena sudah tanggung setengah jalan menuju ke Taman Kumuh. Dan dia hanya bisa menghembuskan napas beratnya sambil menatap smartphone dan keras dipegangnya.


Nyala layar smartphone Ret, meneragi gelapnya malam Wilayah Penduduk Kelas Bawah di Distrik.2―Area.0 dan di sebrang Ret terdapat Bangunan Kombini yang sudah tak asing lagi baginya.


Jarang ada penguasa para penguasa gelapnya malam di Area.0 yang merupakan wilayah penduduk


klaster terbawah. Sebab itulah Ret lebih memilih berkependudukkan di Area.0 daripada Area.1 atau bahkan Area yang merupakan Wilayah Penduduk Kelas Menengah―walaupun itu merupakan tempat kelahirannya.


Uhh. Mempunyai Kredit sebesar ini, pikir Ret, mengerucutkan bibirnya. “Aku jadi ingin belanja, sial.”


Seperti biasa walaupun Ret hanya sesekali keluar Penginapan pada saat malam hari, di sekitarnya hanya ada para preman serta pengemis yang sedang beristirahat di jalanan.


Ret menggelengkan kepala dan lanjut berjalan menuju ke Taman Kumuh pusat Wilayah Penduduk Kelas Bawah.


Apa kembalian Kredit ini akan diberikan padaku tidak, ya, demikian pikir Ret. Dia melihat layar smartphone-nya sekali lagi sambil meneguk ludahnya.


10.000 Kredit adalah jumlah yang sangat besar untuk penduduk klaster terbawah seperti Ret. Bahkan, dia mungkin bisa membeli dua sampai tiga tanah di Wilayah tempatnya tinggalnya sekarang.


“Membangun rumah, huh.” Ret membayangkan sesuatu yang membahagiakan. Aku kira Kredit segini cukup. Tapi .... Ret membaca kertas kuning dipegangnya yang bertuliskan: Kamera Video, Tali, Karung, Pakaian, Topi, Kacamata dan Masker Hitam, “Muka-ku harus disembunyikan, huh―kalau ini aku mengerti” gumam Ret, kemudian. Dan yang terkahir .... Tertulis jelas dengan tulisan tangan Sei yang sangat jelek: Tikus.


“.... Tikus.” Ret terdiam sejenak, lalu tiba-tiba langsung tercengang. “Tunggu! Kenapa aku membutuhkan tikus untuk menculik seseorang?!”


Tanpa mengetahui arti dari tulisan yang Sei tulis, Ret memasuki Wilayah Taman Kumuh.


Mengetuk pintu belakang sebuah Gedung di sudut gang di mana si pengemis Informan terakhir memasukinya, Ret tidak ada pilihan atau ide lain untuk mencari Infoman Pranko Biru-nya.


Kemana aku harus menukarkan Prangko Biru ini selain mencari-nya ke sini?! Di Taman Kumuh sebelumnya sangat sepi, dan sama sekali tidak ada orang, huh, demikian pikir Ret. Dengan jeda sebentar, dia kembali mengetuk pintu belakang sebuah Gedung di hadapannya.


Ret mengetuk dengan jeda sambil memperhatikan sekitarnya. Lensa kamera pemantau di sudut kiri atasnya terus tertuju padanya.


Dengan ekspresi waspada, dia kembali memperhatikan sekitarnya.


Semoga tidak ada masalah dengan para gangster maupun preman lagi, huh, pikir Ret, mendesah frustasi. “Akhir-akhir ini aku selalu bermasalah dengan para kriminalitas legal, sial.”

__ADS_1


Suara ketukan pintu besi\, *Tok\, Tok\, Tok ...!!!* menyertai gumaman frustasi Ret seperti itu.


Dan bahkan seorang kriminalitas ilegal pun masih ada di kamarku, huh, demikian pikir Ret. Dia menghembuskan napas beratnya sambil berbalik dan duduk di box setinggi 80 centimeter dan menghadap pintu.


Ret berhenti sejenak agar tidak terlalu mengganggu penduduk di sekitarnya yang sedang beristirahat. Namun, dia beberapa kali mencoba lagi untuk mengetuk pintu dengan jeda yang sama.


Dan tidak ada respon dari dalam Gedung. Dia menatap kamera pemantau sekali lagi sembari mendesah frustasi.


“Besok saja, lah,” kata Ret, berbalik dari lensa kamera pemantau. “Aku―”


*Krrekk!!*


Saat Ret berniat akan pulang, suara terbukanya pintu besi terdengar olehnya. Dia otomatis langsung menolehkan tubuhnya ke belakang dengan kedua mata hitamnya berbinar terang.


“Oh~” kata si pengemis, mengusap pelipisnya, “Ternyata hanya kau, Nak.”


Melihat si pengemis seperti baru bangun dari tidurnya, Ret sama sekali tidak segan untuk mendekat padanya.


Ret berkata, “Aku ke sini dalam keadaan mendesak. Tolong luangkan sedikit waktu anda.”


“Mendesak?!” tanya si pengemis, dengan senyum tipis pada wajah kotornya.


Pengemis itu melambaikan tangannya ke depan, memotong perkataan Ret.


“Tidak bisa seperti itu, Nak.” Pengemis itu menggelengkan kepala, lalu menyeringai lebar padanya. “Maksukdku, tidak ada kata mendesak atau sejenisnya dalam penjualan infromasi pada Era Hiburan ini, Nak. Waktu yang kau sebut tadi, berapa ....”


“Berapa?” tanya Ret, bingung, “Maksudnya―”


Pengemis itu mengangguk ringan.


“.... Berapa Kredit yang bisa kau bayarkan untuk 1 detik waktuku ini, Nak.”


“Uhh ... Hitungan detik?!”


“Aku beri waktu 3 detik untuk berpikir, dan setelah itu sebutkan harga dan waktu-nya ... Satu.”


Pengemis itu menyilangkan lengannya sembari menutup mata.


“Dua ....”


Dia membuka mata dan menatap Ret dengan tatapan tajam namun masih menunggu Ret mengajukan penawaran.

__ADS_1


Sial. Aku benar-benar lupa para pengemis sangat mendambakan Kredit, demikian pikir Ret. Dia berpikir cepat tentang estimasi waktu sebelumnya saat membeli informasi.


“Tiga―”


“600 Kredit!”


Merasa saldo Kredit-nya masih banyak, Ret tidak segan berseru dengan penawaran Kredit sebanyak itu.


Mendengar Ret menawar waktunya dengan Kredit yang sangat tidak sedikit, si pengemis terkejut dan melebarkan matanya sekaligus tercengang dengan penawaran Ret.


“600 Kredit untuk satu detik waktumu, Pak!” tegasnya sambil melambaikan smartphone.


Untuk penduduk klaster terbawah seperti Ret, 600 Kredit adalah setara 2 bulan hidup mewah di Penginapan Area.1 maupun Area.0 tempat di mana dia bisa tinggal.


“600 detik?!” Pengemis itu masih sedikit terkejut. Namun, dia mempertahankan ekspresi tentang Ret, bertanya, “Ho~Nak, apa itu benar-benar cukup?


“Uh.” Ret menggangguk dan menatap smartphone-nya. “Apa perlu aku transfer sekarang?”


Pengemis itu hanya mngerucutkan bibirnya sambil mengangkat bahu, dan mempersilahkan Ret untuk mentranfer Kredit yang telah ditawarkannya.


Lalu tiba-tiba, layar smartphone dipegang Ret berubah warna menjadi kuning dan bertuliskan:


Transfer 600 Kredit ke akun: %$##112


[Ya] Atau [Tidak]


Selagi Ret menangguk sambil menyentuh layar smartphone-nya pada kolom: [Ya], dan saldo Kredit-nya langsung berkurang 600 dengan layar smartphone dipegangnya berubah warna menjadi biru.


“Jadi,” tanya si pengemis, dengan matanya tertuju ke kertas kuning kucal di tangan Ret, “apa itu?”


“Ini ....” Ret menyerahkan daftar belanjaan yang ditulis Ret padanya. “Aku membutuhkan ini untuk melakukan sesuatu.”


Pengemis itu hanya tersenyum tipis sembari menaikkan satu alisnya saat melihat daftar alat-alat yang dipesan Ret.


“Bisakah aku membeli semua itu?” pinta Ret ke si pengemis.


Pengemis itu mengangguk ringan. “Semua alat ini ada di Gudang. Apa kau mau menegoisasikan alat-alat ini terlebih dulu?”


“A-aku ... Itu,” tanya Ret, gugup. Bagaimana caranya bernegoisasi, huh?!


***

__ADS_1


__ADS_2