![Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0](https://asset.asean.biz.id/secret---war-of-k-m-dgsp-m4221--locked-oso-0.webp)
Ret membuka pintu depan ruangannya dan mengambil koran yang berada di celah sisi luar daun pintu. Punggung
seorang pelayan seperti biasa terlihat olehnya masih mengenakan pakaian bulter berwarna hitam, yang akan menuruni anak tangga.
Berbalik sambil menutup pintu, Ret berjalan ke meja di hadapannya dan membuka lembaran koran dipegangnya satu per satu.
“Tidak ada, huh,” gerutu Ret, mengerucutkan bibirnya, “Padahal aku sangat butuh sekarang.”
“Apa?” tanya Sei yang masih menunjukkan punggunya pada Ret.
“Tidak. Bukan apa-apa,” jawab Ret, duduk di kursi menghadap punggung Sei, “Hanya tidak mendapatkan Prangko saja, hari ini.”
“Prangko?!” Sei menolehkan tubuhnya pada Ret dan menatapnya dengan bingung. “Oh~ Kau berlangganan koran untuk ‘itu’? Bukankah membeli-nya di portal Deep World Bet lebih mudah? Apa kau se-bodoh itu, Rat ... Ng?”
“Apa itu?!” desak Ret, mengabaikan ejekan Sei, “Aku tidak tahu tentang World Bet―apalagi itu apa? Deep?! Aku baru dengar tentang itu―Kedalaman, apa!?”
Pria itu sangat penasaran dengan perkataan tidak sengaja Sei.
“Ternyata kamu tidak tahu tentang itu, huh,” kata Sei, menunjukkan punggungnya kembali pada Ret, “Aku kira kamu tahu semua tentang portal Terminal Mobile atau semua Slot Terminal World Sistem.”
“Huh?!” Ret kebingungan dan menyentuh buku tebal di atas meja. “Aku kira semua hal itu, ada di buku ini, bukan?”
“Tentu, tidak.” Sei menggelengkan kepala. “Semua informasi yang kamu inginkan pasti dapat kamu temukan di Sistem World, sebab semuanya saling terhubung seperti turotrial gim. Itu semua biasa juga disebut ‘iklan’, ‘klik bait’ atau sejenisnya dalam Web Internet jaman dahulu, ingat?”
“Bukannya sekarang ini, ‘iklan’ itu hanya untuk para Bisnis-man saja?!” tanya Ret, sambil menunjukkan salah satu iklan di layar smartphone-nya pada Sei, “Seperti ini?”
Sei menolehkan tubuhnya melihat layar smartphone yang ditunjukan Ret.
“Oh. Mungkin beberapa dari-nya sedang tertutup oleh Bisnis-man Penduduk Kelas Menengah ke atas. Itu sedang tren sekarang ... Berbisnis, maksudku. Dan ‘iklan’ yang ‘mereka’ tempelkan di berbagai portal Terminal World maupun sejenisnya itu saling terhubung dan membentuk sebuah ‘panduan’. Jadi, pada dasarnya kamu harus berlangganan setiap portal Terminal Mobile World maupun sejenisnya.”
Wanita itu mengalihkan pandangannya ke koran dipegang Ret, dan melihat halaman berita utama di koran yang memberitakan tentang kejadian dialami Ret, sebelum mereka berdua bertemu: Distrik.2―Area.3 News. Gangster Area.3 Tertangkap dan Dibubarkan Langsung! Kekosongan kepemimpindan dan para kriminalitas Area.3!! Di mana Lawan-lawan gangster yang telah tertangkap, bergegas untuk menutupi Wilayah ....
Gangster, huh, cih, pikir Sei, berdecak jijik. “Cacing-cacing seperti mereka hanyalah pecundang.”
“Huh?!” tanya Ret, bingung melihat ekspresi Sei yang tiba-tiba berubah, “Apa―Kenapa kamu, Sei?”
“Tidak.” Sei menunjuk koran ditangan Ret. “Baca saja Head Line berita hari ini di koran itu. Pelacurmu itu berhasil mengalihkan para cacing jalanan, selamat.”
Oh. Ini penyembab si gelandangan yang bernama Roy itu terlihat jengah, huh, demikian Pikir Ret, terus membaca berita yang tertulis di koran.
Pria itu membalikkan halaman koran bersamaan dengan Sei yang membalikkan tubuhnya, dan kembali memunggungi Ret.
Ret tidak menggangu Sei ingin beristirahat. Dia hanya terus membaca koran yang isinya hanya berita utama saja yang menarik menurutnya.
“Sisanya,” gumam Ret, “seperti biasa, huh.”
__ADS_1
Dia menumpukkan koran di atas meja dengan acuh.
Tidak ada yang menarik lagi, huh, demikian pikir Ret. Dia melihat waktu yang telah menunjukkan pukul 07.07.23 pagi hari.
Setelah membaca sedikit buku tebal di atas mejanya, Ret berdiri dari kursi sambil meregangkan otot-otot tegangnya, lalu menuju ke Ruang Makan.
Di Ruang Makan di Penginapan, ramai seperti biasanya terdapat orang-orang yang menginap sedang menunggu untuk diberikan makan pagi oleh pengelola-nya.
Prajurit Unit Army-man sudah tidak terlihat lagi oleh Ret.
Hanya ada beberapa Anggota Unit Justice-man berlalu-lalang, tanpa ada yang menyadari Ret menyembunyikan si pengkhianat di ruangannya. Seperti biasa juga, Ret duduk di kursi meja makan paling sudut dan seorang pramusaji mendekatinya dengan senyum menyebalkan biasa pada wajahnya.
“Seperti biasa,” dengan pertanyaan biasa, mengawali pagi hari Ret dari si pramusaji, “Rat?”
“Ya,” jawab Ret, acuh, “Tolong tambahkan 2 telur rebus.”
“Oke~” Pramusaji itu tersenyum lebar dan mencatat pesanan Ret, “Tidak biasanya.”
Pramusaji itu berbalik dan menuju ke meja makan berikutnya.
Uh ... Bagaimana aku harus mencari 3000 Kredit untuk masuk ke Sekolah Keamanan, ya, demikian pikir Ret.
“Aku harus mencari pekerjaan sampingan sebelum akhir tahun," gumam Ret, tetapi tiba-tiba, dia memikirkan Sei yang terbaring di tempat tidurnya, "atau ....”
“.... Aku pikir itu ide yang buruk,” gumam Ret, menggelengkan kepalanya, “Meskipun aku tahu siapa dia sebenarnya.”
Ret melihati informasi yang telah dia beli sebelumnya dari si pengemis bernama So͝oR, berisikan tentang:
Selui zox Nore
Membaca nama lengkap wanita yang sedang memulihkan diri di ruangannya, Ret terkejut.
Sial. Wanita ini adalah keluarga Partai Kelas Atas, huh, pikir Ret, cukup terkejut. “Aku tidak membaca ini sebelumnya. Aku hanya tertarik karena statusnya sebagai satu-satunya Komandan Wanita Disrik.2.”
“Ini,” kata si pramusaji, menghidangkan makanan yang Ret pesan, “Silahkan dinikmati, R―”
“Bisa kamu simpan nampan itu?” tanya Ret, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar smartphone-nya di bawah meja. “Aku akan makan di ruanganku.”
Pramusaji itu tersenyum dan berbalik meninggalkan hidangan di atas nampan, lalu pergi begitu saja.
Ret membawa hidangan makan pagi ke ruangannya.
Membawa makanan dari Ruang Makan ke mana pun tidak dilarang, dan tidak ada aturan tentang hal itu. Asalkan tempat makan dikembalikan seutuhnya. Jika tidak dikembalikan atau ada yang rusak, tentu, diharuskan untuk membayar biaya Kredit tambahan.
Langsung memasuki ruangannya tanpa mengetuk pintu, Ret menyimpan hidangan makan pagi di sudut tempat tidur yang ditiduri oleh seorang wanita terluka.
__ADS_1
“Hei,” sapa Ret. “Bangun, Sei”
“Ngh?” Sei seperti setengah sadar, menoleh ke belakang. ”Apa?”
“Makan pagi,” kata Ret, mengetuk nampan kayu dan berjalan menuju meja. “Agar kau cepat sembuh.”
Sei duduk dan mengambil nampan berisikan hidangan sederhana, sambil berkata, “Bagaimana denganmu?”
“Aku sudah makan, tentu saja.”
“Ng.....”
Sei menatap hidangan di hadapannya cukup lama.
“Ayolah ....” Ret duduk dikursi sambil menengokkan kepalanya pada Sei. “Tidak ada infus di Kotak P3K itu, kan? Dan infus-san itu selangka Alkohol maupun Betadine, kau tahu?”
“Aku tahu.” Sei berkata, sambil terus menatap hidangan di hadapannya, “Aku hanya tidak biasa sarapan.”
“’Sarapan’?!” tanya Ret, bingung, “Apa itu ...?”
“’Makan pagi’ yang kau katakan tadi itu bisa disebut ‘sarapan’.”
“Oh ... Aku baru tahu kata itu, hehehe.”
Saat Ret lanjut membaca buku, Sei masih menatap hidangan yang dibawanya. Dia terlihat sangat ragu, untuk menggenggam sendok di samping mangkuk berisi sop kuning dengan hanya ada wortel yang mengambang.
Apa aku, pikir Sei, masih curiga, makan saja hidangan ini?!
Sei takut dengan adanya racun di hidangan makan pagi yang dibawa Ret.
“Tapi sial. Pria bodoh ini malah membicarakan tentang infusan, apaan.”
Ret menoleh pada Sei yang sedang menggumamkan sesuatu sambil tertawa kecil.
“Huh?!”
“Ng?”
“Makanlah, cepat! Makanan murahan itu cepat dingin, kau tahu.”
“Ng.”
Sei mengangguk ringan sambil mengambil sendok kayu, dan mulai memakan hidangan makan pagi yang Ret bawa.
¤¤¤
__ADS_1