Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0

Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0
[B1-56] Rekan Baru Secret? (3/3)


__ADS_3

Pria bermata merah itu mengenakan kacamata bulatnya, lalu kedua matanya tiba-tiba berubah warna menjadi hitam kembali seperti mata hitam mati milik Ret.


“Itu adalah kejahatan dan kriminalitas ilegal yang setara dengan para Hacker,” jelas si pria berkacamata bulat, “Ah! Kredit-mu ....”


“Rat ....” Rom memperkenalkan Ret padanya. “This stupid-man, bernama: Secret.”


Uhh. Ya. Pria aneh ini memang tidak salah, sih, tapi, pikir Ret, lalu bergumam, “Itu agak seperti memperkenalkan seorang―”


“Apa?!” pekik si pria berkacamata bulat, dengan nada berbisik, “Kamu―Ah! Kebetulan!! Aku sangat membutuhkan surat rekomendasi untuk membeli satu herbal. Bisakah ....”


Sudah kuduga dia akan berpikir aku ini seorang Informan ilegal, huh, demikian pikir Ret. Dia menggelengkan kepala, lalu mendesah frustasi.


”Tidak,” bantah Ret, menggelengkan kepalanya, “Aku bukan Informan―toh kami juga ingin menuju ke tempat Informan daerah sini.”


Rom berjalan menuju ke sudut gang dan menolehkan kepalanya ke si pria berkacamata bulat.


“Kamu mau ikut dengan kita?” tanya Rom.


Pria berkacamata bulat itu melebarkan matanya, terkejut, “A-aku boleh ikut?”


“Bagaimana menurutmu, Rat?” tanya Rom ke Ret.


Selagi Ret menghembuskan napas kecilnya, Rom berbalik dan menunjukkan jalan ke tempat di mana Informan Prangko di Distrik.2―Area.3 berada.


“Yah ... Kalau aku, sih, tidak masalah.”


“Kau terlalu baik, Rat.”


Rom menggumam seperti itu sembari membuka sebuah pintu di sisi tembok sebuah Bangunan. Ketiganya pun memasuki sebuah Bar yang terdapat seorang preman kurus sedang merokok.


Ini, pikir Ret, melihat seorang preman dan satu bartender sedang menyiapkan minuman keras. “Tempat apa?”


Rom mengabaikan Ret, dan dia duduk di samping si preman kurus. Asbak di meja panjangnya hanya ada beberapa rokok yang dapat dihitung dengan jumlah jari tangan mereka bertiga.


“One gin-lime!” pinta Rom pada si bartender.


Pria aneh itu menaikkan dagu sembari duduk santai namun membusungkan dadanya dengan bangga.


Uh ... Padalah aku yang akan membayar semua ini, demikian pikir Ret. Dia sangat malu melihat Rom bersikap sangat sombong seperti itu.


Bartender itu melirik ke si preman kurus, “Kau membutuhkan Ruangan, Om?”


Preman kurus itu melirik Rom, sambil tersenyum sinis.


“Ikuti aku,” katanya, mematikan rokok ke asbak. “.... Kirim pesanan dia ke Ruangan, Mo!”


Rom memberi instruksi mata ke Ret dan si pria berkacamata bulat untuk mengikutinya. Namun, Ret tidak mengerti dengan instruksi tersebut.


Pria di samping Ret, berbisik, “Mungkin kita harus mengikutinya?!”


“Ah! Ya. Ayo kita ikuti dia, kalau begitu,” jawab Ret.


Ret dan si pria berkacamata bulat mengikuti Rom, menuju ke Ruang Bawah Tanah. Seperti halnya Ruang Interogasi yang hanya ada satu meja saling berhadapan, namun terdapat juga dua sofa di sudut Ruangan.


Mereka semua duduk di sofa dengan meja di tengahnya.


Preman kurus itu berhadapan dengan tiga pria, dan dia mulai menyalakan rokok barunya.

__ADS_1


“Jadi,” tanya si preman kurus, “Untuk apa kalian ke sini?”


“Kami,” kata Ret―dan si pria berkacamata bulat dengan gugup, “Kita ....”


Mereka bertiga saling memandang satu sama lain, dengan pandangan kebingungan.


“Satu orang berbicara!” tegas si preman kurus, “Aku tidak mempunyai banyak waktu. Kalau kalian membuatku jengkel, salah satu dari kalian harus membayar waktuku seperti biasa.”


Preman kurus itu berdiri dan berjalan menuju ke meja introgasi di tengah Ruangan.


Rom berdiri sambil membusungkan dada dan maju ke depan. “'Call me: ‘Negoitator Rom’!!”


“Uhh ... Apa tidak apa-apa dia yang bernegoisasi?!” bisik si pria berkacamata bulat pada Ret.


Ret pun ragu setelah mendengar bisikkan pria sampingnya.


“Ah! Right ....” Rom berbalik dan berkata, “Give me Prangko-mu, Rat!”


“Uh,” desah Ret, ragu, namun tetap menyerahkan Prangko Oranye-nya pada Rom.


“Guh!” Rom melebarkan matanya, tercengang. "Prangko Oranye?! This is so rare, shit, Rat!!!”


Pria pirang itu berjalan ke tengah Ruangan sambari melambaikan Prangko Oranye yang diapit dua ujung jarinya dengan acuh.


“Aku pikir, tidak akan ada apa-apa,” gumam Ret, berharap penuh padanya.


“Kalau kamu berkata seperti itu, ya, mungkin tak apa,” tambah si pria berkacamata bulat.


Negoisasi di tengah Ruangan mereka semua berlangsung alot. Dan suara pintu depan terbuka menghentikan neogisasi Rom dengan si preman kurus.


Pria pirang itu terlihat oleh Ret dan si pria berkacamata bulat, sedang marah dan menyeruput sedikit gin-lime nya, lalu melanjutkan negoisasi.


Mata hitam Ret berbinar terang saat melihat alotnya negoisasi.


“Uh. Apa Kredit-ku cukup untuk membeli Herbal, ya,” gumam si pria berkacamata bulat.


Jadi seperti ini yang namanya tawar-menawar harga, huh, demikian pikir Ret.


Ret sangat tertarik dengan negoisasi.


“Tenang. Kalau tidak cukup, aku akan membayar sisanya.”


“Tapi ....”


Rom kembali ke hadapan mereka berdua dengan wajahnya yang sangat tidak puas.


“Guh,” desah Rom, frustasi. “Lebih dari 20.000 Kredit, kita hanya mendapatkan 2 Surat Rekomendasi Herbalish!!”


Ret berdiri sembari menoleh ke samping bawahnya.


“Apa Kredit-mu cukup?” tanya Ret ke si pria berkacamata bulat.


Pria berkacamata bulat itu mengangguk. “Aku punya Kredit segitu―Ngomong-ngmong, kau sangat hebat, Rom! Aku dengar tadinya pria itu menuntut 150.000 Kredit untuk 2 surat rekomendasi itu.”


“Yeah. Well. Kau yang bayar semuanya, Rat?!”


“Uh. Aku sampai lupa bahwa aku yang akan membayar semuanya.”

__ADS_1


Mereka patungan untuk biaya negoisasi kecuali Rom. Namun, untuk semua surat rekomendasi yang dapat dibeli mereka bertiga, Ret membayarnya.


Dan pada akhirnya, mereka hanya bisa membeli 2 Herbal.


“Aku tidak apa, Rom yang bernegoisasi―mungkin akan ada cara lain untuk―”


“You urgent, Right?! Ambil saja! Aku hanya ingin mengoleksinya saja―atau akan kujual nanti juga."


Sudah kuduga pria pirang aneh ini memang sangat baik, pikir Ret, lalu bergumam, “Tapi dia tidak cacat, huh ....”


“Memangnya,” tanya Rom, ke si pria berkacamata bulat. “Sakit apa friend-mu itu?”


"Demam," jawabnya, sambil menunjukkan kepala, "Sangat parah."


“Ah!” Ret melebarkan matanya, mengingat sesuatu. “Kalau hanya obat demam aku mempunyainya, ini!?”


Pria muda ber-rembut dan mata hitam itu memberikan obat demam yang dibelinya di mesin penjual otomatis Kotak P3K.


“Ini sangat berharga!” Pria berkacamata bulat itu melebarkan matanya, terkejut. “Bagaimana aku bisa membayar


kebaikan-mu, Ret?!”


“Yeah. Well, Rat,” tambah Rom, mengedutkan bibirnya, “Obat itu sekarang seberharganya dengan morfin.”


“Bayar saja hutang Kredit-mu padaku,” tuntut Ret padanya. “Semuanya, maksduku.”


Pria berkacamata bulat itu menundukkan kepalanya dengan gugup.


“Aku cuma punya 200.000 Kredit, Ret.”


“Ugh!”


“Guh!!”


“Yah, Kredit ini juga hasil dari pesangon-ku terkahir bekerja, sih.”


“Kau baru dipecat?!”


“Yah. Seperti itulah ....”


Ret menyentuh dagunya, seperti sedang berpikir.


“Uh. 150.000 Kredit saja untuk membayar hutangmu ditambah obat ini, bagaimana?” tuntut Ret padanya.


Rom menaikkan sudut bibirnya, “Rat, itu terlalu murah―”


“Kau tidak apa 150.000 Kredit, kan?” tegas Ret.


Pria berkacamata bulat itu mematung di tempat, lalu tersadar kembali berkata, “A-aku, i-itu tidak apa!? Aku akan


transfer sekarang, Ret!”


Ret memberikan obat demam ke si pria pirang dan dia ditransfer 150 Ribu Kredit dari si pirang. Serta mereka bertiga pun keluar Bar, setelah Rom membayar gin-lime nya.


“T-te-terimakasih, Ret!” Pria pirang itu membungkukkan tubuhnya ke Ret, dengan penuh hormat, “Terimakasih banyak, sungguh.”


***

__ADS_1


__ADS_2