Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0

Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0
[B1-55] Rekan Baru Secret? (2/3)


__ADS_3

“Hei, Rom!!!” bisik Ret dengan nada tegas nan panik kepada si pirang di sampingnya, “Kenapa kau tidak bilang kita akan berurusan dengan kriminalitas legal?! Aku ....”


Akan memasuki Wilayah Gang yang tak asing lagi bagi Ret, membuatnya sangat gugup-ketakutan.


Rom memicingkan alisnya pada Ret. “Heh?! Apa yang salah dengan kriminalitas Area ini?”


Gang yang akan dimasuki Ret adalah Wilayah Kriminalitas para gangster di mana dia pernah menyelamatkan Me sebelumnya.


“You think, di Wilayah Penduduk Kelas Menengah ini, Informan ilegal-nya sama rendahnya dengan para pengemis?!! Don’t make me laugh, Rat ....”


“Tapi, bukankah Informan Prangko itu ialah sorang pengemis atau gelandangan, Rom?!”


“Why do you said ‘atau’!? Di setiap klaster Wilayah Kenpendudukkan manapun, the Informan Prangko pasti berbeda!!!”


“Uhh. Ternaya seperti itu ... Tapi, Rom, kau,” gumam Ret, menyentuh dagu dan menghadap gang di hadapannya. Dengan mudahnya memberi informasi gratis seperti itu, huh, terimakasih.


Rom menaikkan dagu dan suaranya, “What?!”


“Tidak. Bukan apa-apa,” tukas Ret, menggelengkan kepala dan menghembuskan napas kecilnya.


Aku masuk, atau mencari tempat lain saja, ya, demikian pikir Ret. Dia terdiam di hadapan gang yang sangat tidak asing baginya.


“We in, or not," desak Rom, berada di dalam gang, “Rat?”


Pria pirang itu menolehkan tubuh sambil memasukkan kedua tangannya ke saku jaketnya.


“Aku ....” Ret menggertakan giginya. “Okelah! Ayo masuk!!”


Ret melangkahkan kakinya, memasuki gang yang merupakan wilayah kriminalitas gangster Distrik.2―Area.3 dengan langkah berat.


Kamera CCTV di setiap sudut gang memantau Ret dan Rom dengan seksama. Dia pun merinding saat melirik lensa CCTV di atasnya.


Aku tidak akan diciduk oleh gangster waktu itu, kan? Semoga saja mereka semua masih belum keluar dari penjara, demikian pikir Ret. Dia berjalan dengan langkah yang sangat berat mengikuti pria pirang di depannya.


Dan di belokkan pertama gang, mereka berdua melihat seorang pria muda sedang berlutut di hadapan dua orang wanita cantik bertubuh epik nan menakjubkan.


Uh. Sial. Kenapa harus, pikir Ret. “Seperti ini lagi, huh, Rom.”


Pria muda ber-rambut hitam itu berhenti melangkahkan kakinya.


“S’up?! Them? Abaikan saja mereka ... Ignore-ignore!” cibir Rom, melalui ketiga orang tersebut begitu saja.


Pria ber-rambut pirang itu menolehkan tubuhnya kembali pada Ret. Dia mengerutkan keningnya tidak senang dengan perilaku Ret.


“You know, lah, Rat, kan, pada Era Hiburan ini―”


“Aku mengenalnya, Rom, aku, sepertinya kenal pria itu.”


Ret melihat seorang ilmuan dengan kacamata bulatnya sedang diinjak salah satu wanita bertubuh menakjubkan.


“They is *****, Rat, kita go aja dari masalah ini, okey?” pinta Rom, tetapi pria pirang aneh itu masih mendesah kasihan ke si pria yang berlutut.


Ret bergumam sambil mengalihkan pandangannya ke sudut-bawah gang, “Aku ....”

__ADS_1


Tentu saja, dia tidak bisa menghindari perasaan nurani dan empatinya untuk menolong seseorang yang sedang kesusahan. Apalagi orang tersebut adalah orang yang dikenalnya.


“Kau ...” seru Rom, menolehkan tubuhnya kembali ke depan, “Orang-orang cacat itu, heh!?”


Uh. Yah, pikir Ret, lalu bergumam, “Seperti itulah, aku.”


Rom hanya menghembuskan napas berat seraya melambaikan tangannya ke atas.


“Guh. Tidak ada yang bisa dilakukan, yeah ... Okey, lha. Aku hanya akan menunggumu di sudut sana sebentar,” tegas Rom, berjalan ke sudut belokkan gang, “If you are make a problem, aku akan lari―ingat itu!”


Melihat punggung Rom yang terus menjauhinya, Ret hanya bisa menggertakkan gigi sambil melangkah kakinya ke


hadapan mereka bertiga.


“Permisi, Nona―”


“Ha ...?”


Walaupun kedua wanita di hadapan Ret, sangat teramat cantik nan menggoda, dia masih terdiam ketakutan saat melihat tatapan mata tajam mereka berdua.


Pria bermata bermata merah yang sedang belutut, langsung mendongakkan kepalanya pada Ret. “Kau ...?”


“Diam, kau, pria sialan! Setelah kau bermain begitu kau tidak mau bayar?!!” tuntut si wanita di hadapannya.


Pria yang berlutut di hadapan kedua wanita itu hanya bisa kembali menatap kacamata bulatnya diinjak si wanita.


Pria itu ingin membantahnya, “Aku tidak―Aku hanya ....”


Ret melirik ke si pria, dengan lirikan tajam.


Ahh ... ternyata dia pria seperti itu, huh, demikian pikir Ret, menghembuskan napas beratnya.


Pria bermata merah itu membantah, “Tidak! A-aku, m-mereka ....”


*Kreekk!!!* Suara sedikit retakan kacamatabulat diinjak si wanita menghentikan bantahan si pria.


“Pria ini tidak mau membayar kami,” tegas si wanita, menegapkan tubuhnya “... Dan kau ada urusan apa? Kau temannya?”


“Uh. Yah,” desah Ret, frustasi “Bisa dibilang pria itu―”


“Aku!” Pria itu menyela pembicaraan Ret dan si wanita, “.... Sangat membutuhkan Kredit ini.”


Ret menutup mata dan merepalakan rahangnya.


“Ugh. Untuk apa?!”


“Teman-ku sakit dan aku perlu membeli―”


Pria ber-mata merah dan berambut hitam seperti Ret itu, tiba-tiba berhenti berbicara dan menatapnya dengan tatapan penuh maksud. Dan entah mengapa Ret bisa langsung mengerti maksud dari tatapan tersebut.


Pria ini pun mau ke Informan Distrik ini dan mencari Herbal, huh, pikir Ret, kemudian berkata pada si wanita, “Berapa?”


Kedua wanita itu tersenyum sangat indah nan menggoda, “Berapa? Apanya?!”

__ADS_1


“Hutang pria ini, berapa?” tanya Ret, menunjuk si pria yang masih berlutut.


Pria di bawah Ret, melebarkan mata merahnya, terkejut, “Pak―”


“Jangan panggil aku: Pak!” seru Ret, mengedutkan bibirnya. “Aku masih sangat muda. Mungkin juga kita seumuran. Anggap saja ini bayaran kesalahan kecilku karena sedikit mengacaukanmu sebelumnya.”


Ret berkata seperti itu meskipun dia memang sangat berharap Kredit-nya akan diganti olehnya nanti.


Pria bermata merah itu bergumam, “Tapi―”


“Kalau mau membayar juga tak apa, sih,” sela si wanita, mengangkat kakinya dari kacamata bulat yang diinjaknya.


“Berapa jadinya, Nona?”


“10.000 Kredit ditambah 100 Middle dan Right Point.”


Kedua wanita itu menyeringai menggoda Ret.


Uh. Aku cukup mengerti Trinitas Point tapi, pikir Ret, menggelengkan kepalanya. “Aku tidak mempunyai Right Point


sebanyak itu ....”


“Oh. Kalau begitu, 10.000 Kredit untuk menggantikan keduanya!” seru wanita di sampingnya dengan penuh semangat.


Ret mengeluarkan smartphone-nya. “Oke. Aku akan mentrasnfer langsung ke akun World Bank-mu?”


Wanita itu mengangguk dan memberikan kartu namanya ke Ret. Pria bermata merah di bawah Ret, hanya bisa melebarkan matanya terkejut saat melihat Ret dengan santainya mentransfer Kredit-nya ke si wanita.


“Ahh!” seru kedua wanita serempak dengan ekspresi mereka berdua menjadi sangat lembut. “Terimakasih, tampan! Hei, kau harus meniru sayangku ini!! Jangan berani-beraninya memesan kami kalau tidak mempunyai Kredit!”


Wanita bertubuh menakjubkan lainnya menambahkan, “Ya! Kamu bisa menyimpan kartu nama-ku, sayang, bye~!!”


Kedua wanita itu langsung berbalik dan memasuki sebuah pintu belakang suatu Gedung.


Iblis dan malaikat itu beda tipis, huh?! Bagaimana kedua wanita itu bisa berubah menjadi kedua hal itu dalam sekejap, demikian pikir Ret. Dia melihat pintu besi tertutup seraya menghembuskan napas beratnya.


Ret berjalan ke si pria pirang di sudut gang.


“Kau terlalu baik, Rat,” kata Rom, sedang menyilangkan lengannya sembari bersandar di tembok gang, “Kind like that―kau bisa saja mati tanpa kau ketahui, you know ....”


“Jadi,” tukas Ret, menoleh kebelakang di mana si pria ber-rambut seperti dirinya sedang memakai kacamata bulatnya, “Kenapa kau sampai-sampai memesan ******* kalau sangat membutuhkan Kredit?!”


“Ahahaha ....” Rom tertawa mendengar perkataan Ret. “You know, Rat―”


“Kejahatan,” sela si pria berkacamata bulat, menundukkan kepalanya namun dengan nada penuh tekad, “Maksudku, ada kejahatan yang setara dengan Hacking namun lebih sulit dilacak olehNya.”


Rom tiba-tiba menurunkan lengannya dan berekspresi sangat serius.


“Yakni,” lanjutnya berkata dengan Rom pun mengatakannya namun dengan aksen yang berbeda, “Tracking!”


Ret kebingungan. “Tar―apa?!!”


***

__ADS_1


__ADS_2