![Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0](https://asset.asean.biz.id/secret---war-of-k-m-dgsp-m4221--locked-oso-0.webp)
Mengantre untuk mendaftar menjadi siswa umum Perguruan Pencak Silat Distrik.2, Ret dan Rom dengan langkah canggung maju selangkah dari posisi antrean sebelumnya.
Yah ... Aku memang tidak begitu mengerti, sih, tentang keluarga, tapi, demikian pikir Ret. Dia menoleh ke belakang kembali.
“S’up,Rat?!” tanya Rom padanya.
Ret menggelengkan kepala.
“.... Tidak. Bukan apa-apa. Hanya saja ....”
“What?!”
“.... Entahlah.”
Ret menghadap ke antrean kembali.
“Kau sangat aneh, Rat, ayolah,” cibir Rom, mengerucutkan bibirnya.
Berada di hadapan meja pendaftaran, Ret melihat tumpukkan lembaran kertas dan kotak alat pembayaran Kredit.
“Malam, Dek,” sapa seorang penjaga meja pendaftaran, dan memberi Ret satu kertas kuning, “Kamu bisa tulis di sini data pribadimu lalu bayar. Sisanya kami akan adakan tes minggu depan.”
Sial. ada, pikir Ret, kemudian bertanya, “Tesnya, Pak? Maksudku, ada tes masuknya?! Bisakah saya menghetahui―”
“Selanjutnya!” teriak si penjaga ke orang yang berada di belakang Ret.
Ret berseru panik, “T-tunggu! Pak, saya ....”
“Kami tidak menerima siswa yang tidak serius, walaupun kalian hanya akan menjadi siswa umum, ini masih mempengaruhi reputasi kami, maaf, Dek,” tukas si penjaga.
Rom mengangguk kuat dan menimpalinya dengan semangat, “Yeah. This old-man benar, Rat! Kau tidak bisa bersikap seperti itu!! Menyingkirlah dari sana kalau kau nggak serius!”
Uhh. Anak ini ... Tadinya dia ogah-ogahan masuk Perguruan ini, sekarang dia malah, pikir Ret, kemudian memohon ke si penjaga meja pendaftaran, “Saya akan serius, Pak, percayalah!”
“Oke. Saya akan memaafkanmu,” tegas si penjaga, memberikan Ret sebuah formulir pendaftaran berupa kertas kuning kucal, “Tapi perhatikan sikapmu nanti, Dek! Tidak ada kelakuan seperti itu lagi untuk yang ke-2 kalinya, mengerti?”
“Ok―” Ret menjawab dengan tegas, “Siap, Pak!”
Ret menulis data pribadinya di kertas formulir pendaftaran, lalu memberikannya kembali ke si penjaga.
“Tujuh hari latihan, hanya 100 Kredit, Dek.”
“Se―” Ret melebarkan kedua matanya, Ratus?!! Ah! Aku baru ingat si So͝oR tidak memberi tahuku berapa biaya pendaftaran-nya! Sial.
Pria muda itu tercengang dan hampir keceplosan seperti itu. Dia gugup namun tetap mengeluarkan smartphone dari saku celananya.
Ret menoleh ke belakang dan melihat Rom yang masih bergelagat aneh.
__ADS_1
“S’up, Rat?!” tanya Rom padanya, “What? Apa yang salah?”
Uh... Aku tidak, pikir Ret, menggelengkan kepalanya, “Bukan apa-apa.”
Ret membayar 100 Kredit untuk menjadi siswa umum Padepokan Pencak Silat Distrik.2. Dan si penjaga pendaftaran memberi Ret sebuah kartu kuning. Dia menghembuskan napas beratnya, mengambil kartu tersebut dan berbalik meninggalkan antrean.
“Jika mendaftar ke sini 100 Kredit, berapa di tempat beladiri lainnya, Rom?” tanya Ret pada si pria pirang saat dia juga telah memisahkan dirinya dari antrean.
Rom melambaikan kartu kuningnya dengan acuh. “Umm ... 1.500 Kredit paling murah, yang kutahu, makanya aku masuk ke sini, you know, lha ....”
“Ap―” Ret kehabisan kata-kata. Itu bahakan hampir 20 kali lipat?! Sial. Beruntung aku diberitahu si So͝oR untuk menjadi siswa di sini.
Berada di Gerbang Padepokan, Ret dengan ekspresi pada wajahnya seperti sangat kebingungan.
Anak ini memang sangat aneh dan tidak jelas, pikir Ret, menengokkan kepalanya ke si pirang. Tapi ... mungkin dia
sangat baik, ternyata?!
“Kenapa kau terlihat confiused seperti itu, Rat?”
“Uh? Tidak, Aku ....”
Ret tidak bisa membocorkan rahasianya begitu saja. Namun, dia juga tidak mungkin bertanya tentang hal Prangko dan Informan ilegal ke sembarang orang.
“Apa kamu tahu tentang: Prangko?” bisik Ret, dengan nada yang tidak jelas.
melihat wajahnya.
“Thabib, heh?!” cibir Rom.
Mendengar cibiran Rom seperti itu, Ret tersentak dan langsung melebarkan mata hitamnya.
“Huh?! Rom, kau ....”
“Rat, Kau mau-maunya bermain sama hal yang ilegal seperti itu ...?! Apa kau bodoh, hah? Kau tahu, kan, aku mau akan bergabung dengan Unit Justiceman kelak, dan kau berani-beraninya bertanya tentang hal itu padaku?”
Rom membentak dan memarahi Ret dengan nada yang sangat meyakinkan seperti itu.
“Uh. I-itu ....”
Namun, pria pirang itu tiba-tiba langsung berubah menjadi santai kembali.
“Bay the way,” katanya, dengan acuh mengayunkan smartphone dipegangnya, “aku tahu tempatnya. I mean, The Informan Place ....”
“Huh ...!?” gumam Ret, tercengang. Apa-apaan, sih! Orang ini sangat tidak jelas dan tidak bisa ditebak saat bicara, sial ...!!
Pria pirang itu memperlihatkan layar smartphone-nya ke Ret.
__ADS_1
“Oh.” Ret memperhatikan layar smartphone Rom, dengan seksama. “Jadi seperti ini, ya, portal Terminal Mobile World Maps ....”
“You suck, man,” umpat Rom, menggelengkan kepalanya, “I mean, see the mark! Kau bahkan tidak berlanggakan World Maps?!! Kau mempunyai Kredit berapa dengan beraninya mencari Informan? Apa jangan-jangan kau―”
“Tidak,” bantah Ret, menggelengkan kepala, “Aku tidak akan meminjam Kredit-mu! Lihat ini ....”
Pria ber-rambut hitam itu menunjukkan layar smartphone-nya ke Rom.
Rom melebarkan mata berbinar terangnya. “Oh, shit! Kau kaya, Rat?! Kenapa kau tidak bilang dari awal? Kau bisa traktir aku, kan? Lets go to―”
“Tidak. Tentu itu tidak bisa, karena,” tukas Ret, mengerucutkan bibirnya. Ini Kredit milik orang lain ... aku hanya
meminjam-nya.
Rom mengedutkan bibirnya. “’Cause ...?”
“Yah. Kau tahu, lah, ini, bukan Kredit milikku, seutuhnya―jadi, bisa aku menyalin peta menuju ke seorang Informan di daerah sini?” dalih Ret, memalingkan pandangannya.
Rom menyeringai lebar dan mematikan smartphone-nya.
“Kau pikir ada yang ‘free’ di Era sekarang ini?"
Uh, ya, tentu saja akan berakhir seperti ini, jadi, pikir Ret, kemudian menatap Rom dengan gugup, “Berapa Kredit yang harusa kubayar, Rom?
”No ....” Rom menggelengkan kepalanya. “It's can't like that, Rat! Aku sama sekali nggak butuh Kredit pinjamanmu itu ...!”
Ugh ... Yah ... 100 Ribut Kredit-ku ini memang Kredit pinjaman, tapi kenapa saat dia mengatakannya seperti itu terasa sangat menyakitkan, ya, demikian pikir Ret. Dia menghembuskan napas beratnya.
Melihat Ret menghembuskan napas beratnya, Rom menyeringai lebar.
“Ijinkan aku untuk ikut denganmu, Rat! Aku juga membutuhkan Herbal untuk keadaan terdesak nanti,” tuntut Rom, menyalakan smartphone-nya kembali. “Bagaimana?”
“Huh?!” Ret tercengang. “Hanya itu ...?”
“Apa yang ‘hanya itu’?!!” Rom mengerucutkan bibirnya. “You don’t know, betapa berharganya Perangko untuk Informan di Wilayah Penduduk Kelas Menengah ini, ya?”
Ini sangat berharga?! Bagaiman bisa aku sangat beruntung mendapatkannya semudah ini, demikian pikir Ret. Dia melebarkan matanya, tercengang.
Rom menaikkan sudut bibirnya. “Heh? Kau nggak menyadarinya, ya?”
“Tidak. Ini sangat sulit, sih, sampai-sampai aku harus menjadi budak, huh,” gumam Ret, menghembuskan napas frustasi.
“Apa yang kau gumamkan, Rat?! Lets go!”
Rom menunjukkan jalan menuju salah satu Informan di Area.3 sekitar Padepokan Pencak Silat.
“Ini,” gumam Ret, dengan tubuhnya tersentak dan merinding ketakutan, “Wilayah para gangster?!!”
__ADS_1
***