Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0

Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0
[B1-50] Menculik Itu Tindak Kejahatan Yang Lebih Keji Dari Pembunuhan!!! (2/3)


__ADS_3

Ret tidak mengerti cara untuk menegoisasikan sebuah barang, karena di setiap Kombini maupun Super Kombini atau disaat dia membayar Penginapan pun, harga telah ditentukan oleh Sistem Dunia.


Pengemis itu tersenyum lebar saat melihat Ret masih terdiam.


“Tidak," tanya si pengemis padanya. "Huh?”


Ret gugup namun tetap ingin memastikan, “I-iya, Pak. Jadi, berapa―”


“Tenang. Semua ini hanya 8 sampai 9 ribu Kredit saja,” kata si pengemis, menyeringai lebar pada Ret.


Tubuh Ret bergetar sedikit, lalu menatap kosong ke depan. Dia tidak pernah menyangka untuk beberapa alat aneh dibelinya membutuhkan Kredit segitu banyaknya.


“A-apa―apa?!” Ret mundur beberapa langkah sambil menganga dan masih menatap kosong ke depan.


Pengemis itu menaikkan sudut bibirnya. “Ya~Tergantung total stok yang ada di Gudang. Jika masih banyak, aku akan menurunkan harga untuk alat-alat ini, tenang saja.”


Memasuki Gedung kembali, si pengemis mengabaikan Ret yang masih tercengang.


Ret berseru, “Pak! Tunggu―”


Namun, si pengemis telah lama menghilang dari hadapannya.


Dan Ret hanya bisa menatap kosong ke depan dan menunggu si pengemis yang sudah memasuki pintu belakang Gedung di hadapannya.


Uh. Sial. Itu semua sekitar 9 ribu Kredit?! Pantas saja aku harus berhutang ke si Selui, demikian pikir Ret. Dia menggelengkan kepala sambil menghembuskan napas beratnya.


Bersandar di sisi tembok gang, dia menatap ke kamera pemantau di sudut atas gang.


“Jika aku mempunyai 10 ribu Kredit pun, tidak mungkin aku,” gumam Ret, menaikkan sudut bibirnya. Menyerahkan


Kredit―Atau meminjamkan-nya pun tidak mungkin, kalau sebanyak ini.


Ret menunduk dan melihat layar smartphone-nya yang tertera tulisan: 9.400 Kredit\,Di akun World Bank-nya**.**


Mematikan layar smartphone-nya, dia menutup kedua mata lelahnya saat menunggu si pengemis kembali membawa alat-alat yang telah dipesannya. Lampu kuning di sudut atas gang yang berkalip-kelip menghiasi suasana di sekitar Ret.


“Setelah ini ...” Membuka matanya, Ret berkata, “Apa aku bisa beristirahat sejenak tidak―”


Saat Ret menggumamkan sesuatu seperti itu, pintu besi di hadapannya tiba-tiba kembali terbuka.

__ADS_1


Ternyata dia benar-benar membawa Tikus, huh, demikian pikir Ret, menatap sesuatu yang mencuat dari kardus yang dibawa si pengemis.


Pengemis itu membawa kardus berisi barang-barang yang dipesan Ret. Berupa pakaian, masker, dan tikus-tikus berbulu hitam kucal yang semua barang tersebut berwarna hitam.


“Ini, Nak. Semua ini,” tuntut si pengemis, sambil meletakkan kardus di atas box kayu di samping Ret, “9.350 Kredit.”


Ret mendongkakkan kepalanya, melihat isi kardus. Dia tidak menyimak dengan jelas perkataan si pengemis.


“Huh!?” tanya Ret, terkejut sadar, “Berapa?!”


Ret langsung menolehkan kepalanya ke si pengemis yang berada tepat di belakangnya.


“Aku bilang semua ini: 9.350 Kredit.” tegas si pengemis, melambaikan smartphone-nya ke hadapan Ret. “Kau mau membayarnya sekarang? Atau mau ke Terminal Temple World Bank dulu untuk mengambil Cek. Kau masih memiliki 5 menit tersisa, ngomong-ngomong. Bagaiamana?”


Ret masih menolehkan kepalanya pada si pengemis, lalu menatap kosong namun tepat ke kedua matanya.


Tidak mungkin aku mempunyai akun para konglomerat seperti halnya Cek dan Kartu Hitam, huh, tentu aku pasti akan, pikir Ret, menggelengkan kepalanya. “Membayar seperti biasa saja, Pak.”


Pengemis itu menyodorkan layar smartphone-nya yang berwarna kuning tepat ke hadapan wajah Ret.


“Oke! Silahkan, kalau begitu, ” katanya.


Kedua layar smartphone mereka berdua disatukan dan layar smartphone masing-masing dari mereka langsung berubah warna menjadi warna biru.


Melihat cahaya pada layar smartphone-nya berubah warna kembali menjadi normal, Ret menghembuskan napasnya dengan gugup.


Agak menakutkan mengecek kembali total Kredit milikku, huh, demikian pikir Ret.


Ret melirik alat-alat di dalam kardus di sampingnya dengan tatapan yang menyedihkan.


Uhh. Melihat semua ini, aku merasa, pikir Ret, menghembuskan napas beratnya. “Sangat menyedihkan untuk―”


“Ah!” seru si pengemis, memotong perkataan Ret. “Apa aku harus membakar ini, Nak?”


Pengemis itu melambaikan kertas kuning kucal yang diberikan Ret padanya.


“Huh?” Ret mengangguk kecil. “Uh, lakukan saja!”


Seperti halnya pesulap handal, si pengemis langsung membakar kertas kuning kucal dengan api putih yang entah dari mana.

__ADS_1


Jadi, sisa saldo Kredit yang kumiliki saat ini, pikir Ret, mengabaikan api putih terang yang sudah tak asing lagi baginya. Dengan berat dia membuka akun Wolrd Bank-nya. “.... Adalah―”


Ret melebarkan matanya saat menunduk dan menatap layar smarpohone dipegangnya. Dia langsung mengangkes portal Terminal Mobile World Bank-nya, dan melihat akunnya dengan sisa saldo sekitar: 50 Kredit.


“Huh?!” gumam Ret, dengan kedua mata hitamnya berbinar terang, “Untung masih ada yang tersisa!”


Aku sangat menyedihkan sekarang, huh. Hanya 50 Kredit aku sangat bahagia ... Semoga saja si Selui tidak meminta ini, demikian pikir Ret. Dia sangat sangat berharap jika Sei tidak meminta sisa kembalian Kredit tersebut.


“Sekarang aku boleh membawa semua ini, Pak?” tanya Ret, menunjuk kardus di sampingnya.


Pengemis itu sedang berbalik dan hanya terus menunduk, menatap smartphone-nya sendiri. “Ng. Bawalah sesukamu, Nak.”


“Namamu ....” kata Ret padanya secara tiba-tiba.


Pengemis itu sedang memunggungi Ret dan melambaikan tangannya ke atas dengan acuh, tetapi tiba-tiba dia berhenti berjalan.


“.... So͝oR, kan,” kata Ret, menyeringai lebar, “Pak Tua?”


Pria muda itu sangat senang karena akhirnya bisa melafalkan nama si pengemis di hadapannya.


“Ah!” Pengemis itu tertegun dan langsung menolehkan kepalanya. Dengan tatapan mata tajamnya dia menatap tepat ke arah Ret. “Untuk kau tahu siapa namaku sebenarnya, Nak.”


So͝oR melihat dengan jelas seringai bodoh Ret, seolah pria muda di belakangnya mengetahui semua hal tentangnya.


“Aku akan memberimu sedikit nasihat: Semua alat itu untuk menculik seseorang, kan, Nak?” tanya So͝oR, sambil berbalik dan menunjuk ke kardus di samping Ret.


Ret tercengang saat So͝oR bisa langsung bisa tahu bagaimana alat-alat di dalam kardus akan dia gunakan. Dia hanya tertegun sambil melebarkan matanya.


”Namun, kau harus tahu, Nak,” kata So͝oR, mengabaikan Ret yang mematung di tempat. Dia hanya mengacungkan jari telunjuknya untuk memperingati Ret, “Menculik itu adalah tindakan kejahatan dan kriminalitas yang lebih keji daripada pembunuhan.”


Ret hanya bisa terdiam dan membisu setelah mendengar peringatan si pengemis yang langsung berbalik.


Lebih kejam, pikir Ret. “Daripada pembunuhan?! Tidak mungkin apa yang dikatakannya itu benar. Lebih kejam daripada Pembunuhan? Jangan bercanda denganku―Aku hanya ingin ....”


Selagi Ret terus menggumam dengan nada mencibir seperti itu, So͝oR berjalan dan menaiki anak tangga kembali ke atas Gedung.


Dan pintu besi di hadapan Ret, perlahan tertutup dengan sendirinya.


“Tetap hati-hati,” tuntut So͝oR, dengan suaranya berada di atas bangunan tetapi masih terdengar oleh Ret, “Nak ....”

__ADS_1


Gema suara menutupnya pintu besi menyertai gema suara So͝oR yang memeperingati Ret dengan tegas: Dan selalu ingat, Nak! Menculik itu tindak kejahatan yang lebih kejam dari Pembunuhan ....


***


__ADS_2