Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0

Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0
[B1-19] Mencari Prangko Di Wilayah Para Sultan (1/2)


__ADS_3

Gerbang Perbatasan antara Wilayah Penduduk Kelas Bawah dengan Wilayah Penduduk kelas Atas dijaga


sangat ketat. Bahkah ada beberapa Anggota Unit Justice-man berpangkat cukup tinggi yang sedang berjaga. Namun, hanya ada satu-dua orang dari Unit Army-man berpangkat rendah, sedang berdiri tegap dan mengawasi para penduduk yang akan melewati Gerbang tersebut.


Walaupun hanya ada satu-dua Prajurit Army-man yang berjaga, mereka masih bisa menahan tiga sampai lima grup atau beberapa kelompok preman sampai bala bantuan tiba. Saking kuatnya para Prajurit Army-man, bahkan penguasa gelapnya malam yakni para gangster pun harus waspada terhadap mereka.


“Anteran yang sangat panjang, huh.”


Pria muda berwajah oriental sedang mengantre tanpa mempedulikan intimidasi dari kedua Unit tersebut―Dia masih berada di tengah-tengah antrean. Sedangkan para preman dan pengemis-pengemis di sekitarnya terlihat gugup-ketakutan. Namun, mereka semua tetap mengantre dengan tertib, tanpa mengeluh atau menggerutu satu kali pun.


Aku hanya memiliki 465 Kredit, huh, sekarang. Apa ini cukup?! Sial. Membayar biaya tol 5 Kredit untuk masuk ke


Wilayah para sultan nanti, terasa sangat berat untukku, demikian pikir Ret. Dia memperhatian sekitarnya dengan sekasama.


Gerbang besar nan mewah di hadapannya yang terbuat dari marmer putih disertai pagar baja berwarna hitam pekat di tengahnya.


Sedikit keringat di dahi dengan wajah orientalnya terlihat lelah, karena Ret berjalan dari Penginapan-nya di Area.0 sampai ke Gerbang Perbatasan Area.0 dengan Area.5 yang merupakan wilayah penduduk kelas atas.


Dia tidak ingin menghambur-hamburkan sisa Kredit-nya dengan menggunakan transportasi umum, jadi dia harus berjalan sangat jauh―sekitar 127 Kilometer untuk mencapai Gerbang mewah di hadapannya.


Kemudian, Ret menoleh ke belakang dan melihat pengemis-pengemis berlisensi tinggi yang sedang mengantre seperti dirinya.


“Huh.” Ret menghembuskan napas frustasi, seperti sedang mewanti-wanti suatu kejadian. “Semoga saja hari ini aku tidak mendapatkan masalah yang merepotkan lagi.”


Orang yang berada di depannya merupakan preman berlisensi tinggi dengan pakaian super-mewah berwana hitam seperti pakaian boyband metal.


Preman itu seperti para pengemis di belakangnya yang gemetar-ketakutan dan sesekali melirik para Prajurit Army-man.


Hanya Ret dan beberapa penduduk yang dapat dihitung dengan satu jari tangan, yang bisa mengantre dengan tenang.


“Uh. Jika tidak ada yang mendesak,” gumam Ret, dengan suaranya sampai tak terdengar oleh siapa pun, “Mereka pasti tidak akan mau masuk ke Wilayah para sultan. Dan ....”


Ret menghembuskan napas sambil maju selangkah dari antrean sebelumnya.


.... Wanita itu bilang: ‘Salah satu jenis Prangko’―jadi, pikir Ret. “Sekarang, aku tidak akan bertemu si pengemis bernama S-apa-itu lagi, huh.”


Cukup lama Ret mengantre, dan dia sudah berada di pos pemeriksaan yang lebih ketat dari Gerbang Perbatasan antara Area.0 dengan Area.3.


Karena Ret tidak membawa apa-apa selain smartphone-nya, dia langsung menuju ke bagian pembayaran.

__ADS_1


Ret seperti biasa memasukkan smartphone-nya ke lubang persegi panjang kecil seukuran dengan smartphone. Lalu, saat lampu di dalam lubang tersebut berkedip, Ret menarik smartphone-nya kembali sambil berjalan memasuki gerbang hitam yang terbuka.


Wilayah Penduduk Kelas Atas.


Sekarang Ret sedang menginjakkan kakinya di wilayah para sultan. Meskipun memang setiap penduduk dapat memasuk ke Wilayah Penduduk Kelas Atas hanya dengan sedikit Kredit, tetapi sangat berbahaya jika si penduduk yang masuk sembarangan membuat ulah.


Semua yang masuk ke wilayah para sultan untuk mencari keributan, pasti akan langsung masuk penjara. “Jika membuat satu kesalahan kecil pun, aku tidak bisa membayangkan akan jadi apa nantinya aku.”


Ret merinding dan waspada melihat ke sekitarnya.


Dia tidak ingin sampai mendapatkan masalah besar menimpanya di Area.5 yang merupakan wilayah penduduk kelas atas.


“Bisa dibilang, kemarin, aku sangat beruntung bertemu dengan Sei,” gumam Ret, menghembuskan napasnya, lega, “Jika aku tertangkap oleh para gangster kemarin, aku pasti kehabisan Kredit karena kalah di pengadilan, atau ....”


Menjadi budak adalah hal yang lumrah pada Era Hiburan. Jika Kredit pendudukklaster manapun mencapai 0 selama 1 bulan, umumnya, mereka akan dikirimkan ke para Penjual Budak di Pusat Distrik Negara atas Pasar Budak di berbagai Distrik Pusat.


“Uh,” desah Ret, merepalkan matanya, furstasi, “Aku tidak bisa membayangkan, saat aku menjadi seperti mereka ....”


Ret melihat para sultan―Penduduk Kelas Atas yang sedang berjalan-jalan santai bersama budak-budak di belakangnya. Sultan itu menggenggam tali dengan riangnya―tali yang menghubungkan ke kalung besi hitam bercahaya biru di leher seorang manusia. “.... Yang terlihat sangat menyedihkan. Kalau tidak salah, mereka pasti dulunya gelandangan yang kehilangan wilayah kekuasaannya, huh. Tapi ....”


Mereka yang menjadi budak para sultan―Penduduk Kelas Atas yang dilihat Ret, terlihat sangat bahagia. Budak-budak itu terlihat kegirangan saat ditarik oleh majikannya.


Kenapa budak-budaknya terlihat sangat senang seperti itu, huh, demikian pikir Ret. Dia mengalihkan langsung pandangannya ke depan, tidak ingin mencari masalah.


Para sultan itu seperti menyombongkan budak-budak mereka, dan berjalan menuju ke arah yang sama. Beberapa dari Penduduk Kelas Atas memasukkan budak mereka ke Truk Terbang dan beberapa Penduduk Kelas Atas memasuki mobil terbangnya, lalu mereka semua menghilang begitu saja.


“Aku tidak tahu mereka akan kemana, tapi ....”


Ret yang ingin berpaling, tetap melihat Penduduk Kelas Atas yang baru keluar dari tempat tinggalnya.


“.... Ini sangat merepotkan, terus berpaling dari mereka,” kata Ret, mengalihkan pandangannya ke Toko Mewah di sebrang jalan. Aku, harus menahan diri.


Tidak semua dari budak-budak para Penduduk Kelas Atas, terlihat bahagia. Beberapa dari mereka menangis dan terlihat sangat frustasi.


Ret menggigit bibirnya sangat erat sambil merepalkan rahang, berusaha untuk menahan empati dalam hatinya, dan berjalan menuju ke tempat yang telah dia putuskan.


Walaupun perasaan Ret sangat berat, dia telah menekankan pada dirinya sendiri dari awal, untuk tidak melirik para budak yang terlihat kesakitan, atau mengganggu para Penduduk Kelas Atas.


“Tidak mempunyai kekuatan dan pengaruh, sangat merepotkan, huh,” gumam Ret, “untuk orang sepertiku.”

__ADS_1


Namun, menjadi budak bukan berarti akhir dari kehidupan sosial maupun akhir dari kehidupan manusia. Budak yang dibeli terdapat durasi yang telah ditentukan oleh para Penjual Budak atau Pasar Budak.


Kontrak antara Tuan dengan Budak-nya akan ditengahi oleh Penjual Budak maupun Tuan Pasae Budak, yang merupakan antek dari Sistem Dunia. Tetapi budak pun harus diurus oleh majikannya, dan dengan sebagai gantinya mereka harus bekerja maupun melakukan apa yang diinginkan si majikan atau tuannya.


“Jika Sei―maksudku Selui menjadi budakku ....” Sambil berjalan, Ret membayangkan sesuatu yang menyenangkan. “Itu sangat ....”


Berhenti mendelusikan sesuatu yang membahagiakan seperti itu, Ret Melewati jalan besar. Dia menoleh ke samping, masih terdapat toko-toko sangat mewah berjejer di pinggir jalan.


Ret sama sekali tidak tahu di mana toko di sampingnya yang merupakan Toko Herbalish.


Dia hanya terpaku pada papan Toko Market yang bertuliskan:


SUPER KOMBINI


Gugup sembari berdiri tegap di hadapan Toko Besar di hadapannya, Ret menelan ludah dan memasukinya. Suara wanita seperti mekanisme sistem, terdengar saat pintu otomatis terbuka: {Selamat datang di Super Kombini Distrik.2―Area.5. Produk hari ini adalah sebagai berikut ....}


Ret mendengar produk-produk yang tidak pernah didengarnya, ditambah diskon-diskon yang menggiurkan. Namun, Ret harus mengabaikan itu semua.


Suara wanita tersebut berakhir dengan: {Selamat berbelanja ...} Dan Ret mulai mencari produk coklat Choco Marble.


Dari mana aku harus mulai, ya, demikian pikir Ret.


Seorang preman masuk dan menyusulnya dengan langkah menyebalkan, tetapi Ret mengabaikannya―dia tidak ingin membuat masalah, dan berpaling dari si preman begitu saja.


“Aku pikir,” gumam Ret, “Aku akan mencarinya di berbagai mesin penjual otomatis itu terlebih dulu.”


Berbeda dengan si preman yang berkeliaran dari lantai ke lantai Super Kombini, Ret mencari produknya di berbagai jenis mesin penjual otomatis.


Melihat deretan mesin penjual otomatis tak jauh darinya, Ret mendekati mereka.


Ini? Ret melihat mesin penjual coklat otomatis. “Mungkin di sini?!”


Di Super Kombini tidak ada penjaga maupun pelayanan berbasis manusia, semuanya mesin dan robot. Namun, Ret tidak menggunakan sistemasi Super Kombini berbasis mesin dan robot disekitarnya karena harus membayar Kredit tambahan.


Cukup sulit untuk menemukan mesin penjual otomatis yang menjual coklat produk khusus.


Ret berseru, “Di sini ternyata!”


Ret mencari produk coklat yang Sei intruksikan padanya untuk dibeli, dengan teliti.

__ADS_1


“Ini murah!” Mata hitam Ret berbinar terang saat melihat harga Choco Marble. “Benarkah ini hanya 2 Kredit?!”


¤¤¤


__ADS_2