![Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0](https://asset.asean.biz.id/secret---war-of-k-m-dgsp-m4221--locked-oso-0.webp)
“Tidak. Aku bilang bukan seperti itu,” bantah Ret, menggelengkan kepalanya, “Ini bukan tentang―Ugh. Aku sudah bilang bahwa aku tidak terlalu menyukai *******, kan.”
Menyimpan nampan berisi hidangan makan pagi di tempat tidurnya, Ret duduk di kursi dan menghadap Sei.
“Bukan seperti itu, Sei, aku beberapa saat yang lalu menjadi budak, sial.”
“Ng?”
Tanpa bertanya ataupun curiga dengan hidangan makan pagi yang dibawa Ret, Sei melahapnya dengan perlahan.
“Jadi ... Apa?”
Sei tidak mendengar dengan jelas apa yang telah dikatakan Ret. Dia hanya lanjut mengunyah makanan, lalu menelannya.
“Aku, aku juga tidak―Huh? Aku?!” sahut Ret, menyadari Sei tidak menyimaknya dengan benar, “Aku bilang aku menjadi budak, beberapa saat yang lalu ....”
“Oh...” Sei mengangguk kecil seolah mengerti. Namun, dia tiba-tiba tercengang, “Apa ...!?”
“Iya, sungguh,” tegas Ret, menghembuskan napas beratnya saat mengingat kejadian di Penampungan dan Pasar Budak, “Kemarin itu pengalaman yang menakutkan―aku sampai-sampai dilelang, maksudku, sial.”
“Bahkan kau rela menjadi budak?!!” Sei tersadar saat akan memasukan sendok kayu ke dalam mulutnya. Dia mulai mengerti, dan menyimpan sendok kayu dipegangnya ke dalam mangkok kayu berisi sop kuning. “Bagaiamana kau bisa pulang ke sini, Rat, jujur padaku ....”
“Huh?!” Ret terkejut. “Jujur apa―”
“Apa kamu membunuh Tuan yang menjadi Majikanmu―tapi ....” Sei langsung membantah perkataannya sendiri, “Itu tidak mungkin, sih.”
Ret terkejut dan mengedutkan bibirnya.
Uh. Apa aku sangat terlihat sangat lemah di matanya, ya. Tapi, pikir Ret, mendesah frustasi. “Memang aku sama sekali tidak bisa apa-apa saat melawan si N-apa-itu, sih.”
Saat Ret menjadi budak, kalung kalung budak yang dikenakannya sagat merepotkan dirinya maupun budak lainnya.
“Ng.” Sei mengangguk mengerti dan kembali memegang sendok kayu. “Aku tahu, tentang kalung budak di Pasar Budak maupun di Penjual Budak, aku tahu. Memang dengan hanya menguasai ‘beladiri kompetisi’ atau dasar beladiri saja, tidak akan bisa bertarung kalau kau mengenakan kalung budak.”
Sei memasukkan sendok makan kayu berisi cairan kuning ke dalam mulutnya.
“Bahkan,” lanjut Sei bergumam sambil menggelengkan kepalanya, "Aku pun akan ...."
Wanita itu menatap nampan berisi hidangan makan paginya.
__ADS_1
Sangat kesulitan jika menjadi budak, demikian pikir Sei, pun lanjut memakan hidangan makanan paginya.
“Bahkan ...?”
“Ng? Ya. Bahkan seorang Fighter Tier.1 pun akan kesulitan kalau bertarung sambil mengenakan kalung budak―apalagi jika tali panjang besi kalung melambai-lambai di belakangnya. Hahahaha. Itu pasti akan sangat mudah dan konyol ...!Aku sama sekali tidak mengerti ....”
Sei terus mengoceh sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya..
“Apa itu,” tanya Ret, kebingungan dengan kata baru yang didengarnya, “‘Tier-Fighter’?!”
“Uhuk, uhuk ....” Sei terbatuk dan langsung berkata, “Uhuk―Kau bahkan tidak tahu tentang hal sesederhana itu ...?! Cih. Betapa bodohnya kau, Rat. Aku pikir setiap hari kau membaca buku bodoh itu ada hasilnya.”
“Uh,” desah Ret, mengerucutkan bibirnya, “Ya ....”
“Tier-Fighter itu tingkatan kekuatan dalam beladiri para Era Hiburan ini. Pada dasarnya ‘level’ atau―hal-hal seperti itu, kau tahu, sekarang ini tidak ada yang namanya ‘beladiri’ yang terkuat adalah ini-itu atau sejenisnya, lah. Semuanya sudah Sistem Dunia atur menjadi setara.”
“Bukankah itu bagus?!” kata Ret, terkagum-kagum sendiri padaNya, “Jadi tidak akan ada perang, perkelahian, maupun pertempuran tanpa arti, kita bisa damai-damai saja.”
Setelah Ret berkata seperti itu, Sei tidak menjawab dan hanya mentap Ret, dengan tatapan dingin.
“Rat ... kau pikir itu bagus, huh?”
Sei terdiam sejenak, dan berhenti memakan hidangannya.
“Ng. Situasi saat ini memang seperti yang kau katakan, Rat, tapi, dengan hal-hal yang kau sebutkan itu, Rat, manusia bisa berkembang―Nah, sekarang?! Apa kau tidak merasa kita―sebagai manusia seperti ternak yang ‘mereka’ atur segalanya?” jelas Sei, masih menatap tajam Ret yang duduk di kursi. “Para manusia sekarang hanya―”
“Ternak?!” Ret mengerutkan kening. Dia tidak setuju dengan apa yang telah dijelaskan Sei. “Bukankah kata itu hanya untuk para binatang?”
Sei tidak melanjutkan perkataannya. Dia menutup matanya sambil mengangguk dan tersenyum mengerti.
“Ng. Mungkin. Tapi, Rat, aku ingin bertanya padamu: Apa kau tahu apa itu ‘Pemakaman’?!”
“Pemak,” kata Ret, terputus kebingungan, “aman?!”
Dia menyentuh dagunya seperti sedang berpikir, tetapi Ret sebenarnya sangat kebingungan.
“Hahaha.” Sei tertawa kering saat melihat Ret kebingungan. “Ya. ‘Pemakaman’. Entah bagaimana di Era Hiburan ini, semuanya telah lenyap beserta budaya―dan hal yang disebut ‘Seni’ pun sekarang hampir lenyap, bukan?”
“Aku kira itu tidak,” gumam Ret, mengerutkan kening. Benar, sih, beladiri pun sekarang hanya ‘beladiri’. Bukankah dulunya itu adalah dari kata ‘Matrial Art’, huh?! Apa yang dikatakannya itu―
__ADS_1
“Dulu,” kata Sei memotong pemikiran Ret, “Kalau manusia sudah meninggal pasti ada yang bernama ‘Upacara Pemakaman’, dimana mayat manusia akan dikubur atau dibakar maupun Upacara lainnya.”
Sei menatap kosong ke depan.
“Nah sekarang,” gumamnya, masih menatap pintu depan Ruangan, “Kemana ia samua yang mati?! Kemana mayat-mayat manusia pergi―selama ini ‘mereka’ telah berhasil menghapuskan hal-hal semacam tradisi dan budaya di Bumi kita ini, Rat, sebab itulah kami ....”
Pemakaman, huh, tapi, pikir Ret. “Kenapa kita harus dikubur?! Dan, sial, kita akan dibakar ...!!? Apa itu tidak terlalu kejam―Upacara Pemakaman itu?!!”
“Hahaha.” Sei tertawa kecil dan berkata, “Yang pasti, aku―maksudku, kami, telah berjuang ratusan tahun untuk memulihkan perkembangan manusia itu sendiri.”
Ret seperti tidak mau mendengarkan perkataan Sei, dan mulai membuka lembaran koran. Dia mulai membaca: Tahun 2313, 5 September, yang tertulis di sudut kiri-atas halaman utama koran. Kemudian, saat dia secara acak membalikkan koran ber-tanggal: 3 September, 4 September, satu Prangko jatuh dari sela halaman salah satu koran.
Pranko biru lagi, huh, pikir Ret, lalu bergumam, “Sial. Saldo Kredit-ku sekarang―”
“Apa kau pernah membayangkan, bagaimana rasanya dianggap sebagai ‘penjahat’ ilegal selama ratusan tahun,” gumam Sei, memotong gumaman Ret, dengan suaranya hampir tidak terdengar olehnya, “Apa, kamu paham, Rat.”
“Uh?” Ret menolehkan kepalanya ke Sei. “Aku―”
“Tidak.” Sei berbalik dan menghadap dinding sambil menunjukkan punggunya ke Ret. “Bukan apa-apa.”
“Uh ....” Ret mendesah pasrah karena dia mengerti mungkin Sei ingin beristirahat. “Okelah.”
Ret melihat Prangko Biru dengan seksama.
Ini pasti Informan si S-apa-itu-R lagi, huh, tapi, pikir Ret, kemudian berkata, “Sei.”
“Ng ....”
Sei hanya mengeluarkan sedikit suara seperti itu, dan sama sekali tidak menoleh padanya.
“Ajari aku bagaimana caranya menculik, Sei,” pinta Ret, dengan santainya dia membuka lembaran koran selanjutnya.
Sei melebarkan matanya, terkejut dan langsung menolehkan kepalanya.
“Ng ...!!?”
Wanita itu menatap pria yang sedang duduk di kursinya sembari memilah-milah koran, dengan tatapan bodoh.
¤¤¤
__ADS_1