Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0

Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0
[B1-40] Terkadang, Satu Kebaikan Tanpa Sadar Dibalas Oleh-Nya Dengan Rentetan Kebaikan (11/12)


__ADS_3

Setelah Ret terjual di pelelangan Pasar Budak sebelumnya dengan harga 500.000 Kredit, pijakan kayunya yang berada di dalam sangkar tiba-tiba tenggelam.


Uh?! Ada apa ini, demikian pikir Ret. Dia terkejut saat tubuhnya bergetar mengikuti pijakan kayunya yang tenggelam ke bawah panggung.


Budak-budak lainnya di atas panggung sedang berjalan ke arahnya, berbaris rapih dengan kalung serta tali besi pada leher mereka yang tak asing bagi Ret. Para budak itu bertelanjang bulat seperti Ret juga, tetapi mata mereka menatap kosong dan berjalan terus ke depan.


“Uh.” Ret menghembuskan napas beratnya. “Aku tidak tahu harus melihat kemana―”


Seperti lift terbuka, pijakan Ret terus tenggelam ke bawah tanah dan dia melihat Ruang Bawah Panggung yang sangat luas, tetapi hanya ada sangkar kotak jeruji besi yang menempel di sisi-sisi dinding dan beberapa budak di dalamnya yang terlihat oleh Ret.


Ret melihat wanita dan pria yang berdiri di luar sangkar jeruji besi, mengenakan pakaian serba hitam elegean seperti sedang menunggunya.


Wanita itu mengenakan gaun hitam dan kacamata hitam elegan. Sedangkan si pria memakai jas hitam yang juga tak asing bagi Ret.


Sudah kuduga ... Itu kamu, pikir Ret, dengan tatapan matanya hanya tertuju ke si wanita. “Me ....”


“Ya?” Me langsung menjawab, sambil tersenyum ceria, “Apa kamu terkejut, Rat?”


Permukaan kayu pijakan Ret, tiba-tiba berhenti tenggelam saat mencapai sepertiga tinggi dinding, dan membentuk anak tangga di depannya menuju ke kedua orang di hadapan Ret.


*Tok! Tak!! Tok ....* Suara cepat terbentuknya anak tangga satu per satu ke bawah\, menyertari suara Ret yang langsung memijaknya.


“Apa kamu mau pelukan?” tanya Me, dengan nada yang menggoda.


Ret ingin menjawab, “I-itu ....”


Namun, dia terlalu gugup sekaligus malu karena tidak mengenakan apa-apa. Ret mencoba menutupi bagian tubuhnya yang menakjubkan, tetapi bingung ingin menutupnya dengan apa.


“Pakailah ini dulu,” Paman di samping Me, melemparkan sebuah selimut ke Ret. “Lihatlah wanita ini! Dia memperhatikan jony-mu terus, kau tahu. Fufufu ....”


“Huh?!” dengan Refleks, Ret menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimut pemberian si paman. “A-aku ....”


Wajah Me merona dan langsung memalingkan wajahnya.


A-Aku, pikir Ret, gugup. “Aku sama sekali tidak bisa melihatnya. Orang mata dia jelas tertutup kacamata hitam, huh.”


“Hihihi ....” Me cekikikkan sambil mentutup mulutnya dengan tangan, setelah mendengar perkataan Ret.


Paman itu pun tertawa elegan, “Fufufu ....” dan berkata, “Kau kurang pengalaman Ri―siapa namamu tadi? Rat?!”


“Ret, Bos―Paman, maksudku,” jawabnya dengan gugup, “Panggil saja saya: Ret.”

__ADS_1


Paman itu mengangguk ringan, “Ret, aku pikir kau tikus-tikus besar itu.”


Ret bingung. “’Tikus-tikus besar itu’?!”


Dan tiba-tiba, si paman tersenyum misterius sambil mendekatkan wajahnya ke Ret, dan berbisik, “Informan, kau tahu?”


“O-oh!” Ret langsung mengangguk mengerti. Aku tidak tahu itu adalah nama lain dari mereka―Sial. Berarti semua orang mengejekku sebagai penjahat ...!?


“Jadi,” tukas Me, tiba-tiba dia menundukkan kepalanya. “Kita pergi sekarang, Paman?”


“Oke,” jawab si paman di samping Me. “Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan di Pasar Budak ini―karena ini adalah keinginanmu, aku hanya bisa mendukungmu seperti itu saja, Fufufufu. Walaupun Kredit itu tadinya untuk mengalahkan temanmu, huh ...."


Teman? Maksudnya, pikir Ret. “Kredit apa? Apa Kredit untuk menyelamatkanku?! Me, a-aku akan membayar―”


“Tidak usah.” Me menggelengkan kepala sambil dengan acuh melambaikan tangannya. “Anggap saja kita impas. Kau juga sudah menyelamatkanku sebelumnya, kan?"


“Fufufu ....” Walaupun Paman itu tertawa, dia tidak bisa menyembunyikan tatapan tajamnya yang menusuk Ret. “Kau terdengar sangat menjanjikan saat Me mencertiakan penyelamatan heroik-mu, Ret."


“Uh?!” Seolah dia sangat terkejut karena ada seorang yang memanggilnya dengan benar. “Tidak, i-itu bukan apa-apa―aku hanya cacat dan―”


Perkataan Ret terpotong saat Me mendekatinya dengan mendadak seperti ingin memeluknya, sambil berkata, “Aku akan membebaskanmu, Rat.”


S-si-sial. Tubuhnya sangat harum, demikian pikir Ret. Dia gugup dan mundur selangkah.


*Klik!!* Suara nyaring dengan menyertainya perubahan warna di kalung budak Ret\, menjadi warna hijau.


Me telah membeli 3.584 Hari Ret untuk menjadi budaknya, dan dia melepaskannya begitu saja.


Me berkata, “Ini, ambilah," sambil memberikan smartphone Ret. "Smartphone-mu, kan?”


Ah! Saking bingungnya dengan situasiku tadi, pikir Ret. “Aku sampai lupa di mana smpartphone-ku, huh.”


Smartphone setiap budak dipegang oleh Tuan yang menjadi majikan budak tersebut. Ret akan mengambil smarphone-nya, tetapi dia langsung menghentikan tangannya.


”A-apa, ini,” kata Ret, terkejut kembali saat menyadari dirinya benar-benar bebas. Walaupun dia tidak diberi penjelasan, tetapi dia langsung mengerti saat lehernya terasa ringan. “Tapi―”


“Apa? Apa segitu pengennya kamu menjadi ‘partner latihan’-ku?!” Me mundur beberapa langkah sambil memeluk dirinya sendiri, dengan ekspresi bercanda. “Apa kamu segitunya menginginkan tubuhku ini ...? “


”I-itu, pastinya aku ....” Ret langsung gugup dan gelagapan. “Tidak―Maksudku―tentu saja, itu-iya―bukan―itu ....”


“Hahaha ...” Me mendesaknya, “Ambil saja!”

__ADS_1


Menyodorkan smartphone dipegangnya ke Ret, lalu dia mundur beberapa langkah dengan postur yang menggoda.


“Anggap saja hutang kita lunas,” kata Me, menoleh pada Ret, “Tapi bunganya belum. Hihihi ....”


“O-oke,” jawab Ret, dengan bingung. “Berapa bunga yang harus aku―”


“Fufufufu .....” Paman itu tertawa elegan lagi, lalu berkata pada Ret, “Ayo pergi. Kami akan mengantarmu ke pintu keluar.”


Me menangguk. “Iya. Karena kamu sudah bebas, kamu harus cepat-cepat pergi dari sini, Rat.”


Ret hanya melihat punggung Me. Dan meskipun Ret hanya melihat punggungnya, dia bisa merasakan sedikit kesedihan darinya.


“Oke,” jawab Ret, menggengam erat smartphone-nya.


Dan kemudian, mereka bertiga pun berjalan menuju ke pintu keluar Gedung Pasar Budak. Di samping kanan-kiri mereka, hanya ada jeruji besi berbentuk: sangkar kotak, sangkar burung, dan sangkar-sangkar lainnya.


Ret melihat sangkar jeruji besi berwarna emas yang berbeda dari sangkar lainnya.


Sangkar itu berbeda sendiri?! Itu emas ...!? Sial. Bukankah emas sangat teramat mahal di Era Hiburan ini, demikian pikir Ret. Dia menggelengkan kepalanya saat memperhitungkan betapa kayanya Pasar Budak.


“Ho~” Paman itu menghembuskan napasnya, dan berkata pada Ret. “Kau tertarik dengan sangkar itu? Kebetulan. Mari kita melihatnya, Fufufufu ....”


“A-aku,” kata Ret, tidak enak saat melihat Me yang terkesan ingin menjauh, “lebih baik―”


Namun tiba-tiba, si paman menghentikan langkahnya dan menoleh pada Me yang terdiam.


“Tidak apa, kan, Me?”


“Un.”


Me hanya mengangguk dan mengikuti pamannya. Dan Ret pun hanya bisa mengikuti mereka berdua.


Sesampainya di hadapan sangkar emas, Ret melihat seorang gadis manis yang terlihat sangat menyedihkan sedang di pasung dan kedua pergelengan tangannya diborgol besi tebal berwarna silver.


“Yah ....” Me berkata sambil menggenggam tumit tangan kanannya dan memalingkan wajahnya, “Aku hanya ingin mengingatkan, semua kejadian ini adalah salahmu―”


“Kau, Mek, sialan!!” teriak si adik di dalam sangkar, “Bebaskan aku dari sini!! Beginikah caramu memperlakukan adikmu!!!”


Me menjawab dengan dingin, “Aku sudah tidak mempunyai Kredit lagi ....”


“Kau hanya mementingkan nafsumu saja―membeli pria perjaka itu! Aku ini adikmu, sialan, Mek!! Walaupun memang pria itu ....” Dia terus mengoceh, tetapi Me dan pamannya hanya menatap ke dalam sangkar emas dengan tatapan dingin.

__ADS_1


Uh. Iya, sih, aku masih perjaka. Tapi, demikian pikir Ret, yang entah mengapa perkataan adik perempuan Me, membuatnya sangat tidak nyaman.


***


__ADS_2