Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0

Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0
[B1-10] Cara Benar Untuk Membalas Budi


__ADS_3

“Tidak.” Ret menggelengkan kepala, dan untuk sesaat dia kembali tenang. “Bukan apa-apa.”


Seolah-olah terus menatap wajah si wanita di hadapannya, Ret sesekali memperhatikan bekas luka kecil di pipi Sei.


Mungkin benar, pikir Ret, menaikkan alisnya, itu dia?!


Ret langsung mengalihkan pandangannya ke mayat orang-orang bertubuh besar tak asing baginya yang berserakan di sekitar Sei.


“Tapi ....” gumamnya.


“Ada apa?” tanya Sei, curiga.


Dinding gorong-gorong dipenuhi bercak darah yang masih segar, dan Ret dengan jelas memperhatikan Sei sedang duduk di antara tumpukan mayat, tanpa sedikit pun rasa takut maupun janggal di wajahnya seolah dia sudah terbiasa.


“Uh,” desah Ret, berkata, “Tidak apa. Aku hanya tidak terbiasa dengan bau darah, dan ... mayat manusia sebanyak ini.”


“Jadi,” desak Sei, menatap tajam Ret, “Kau mau terbiasa?”


“Tentu tidak,” tukas Ret langsung, ”Kenapa kamu bisa berada di tempat seperti ini?”


Saat Ret kembali bertanya seperti itu, Sei terdiam sesaat sebelum menjawabnya.


“Jika aku bilang orang-orang ini jahat,” tanya balik Sei, “Apa kau percaya?”


“Aku,” gumam Ret gugup sekaligus ragu, “Entah ....”


Dia mengalihkan pandangannya ke samping, di mana pintu besi yang tertutup rapat dan belumuran darah berada tak jauh di samping Sei.


Mungkin itu pintu keluar, demikian pikir Ret.


“Itu bukan pintu keluar dari sini.” Sei berkata seolah dia tahu bahwa Ret berpikir demikian, “Jika kamu ingin mengetahui pintu keluar ....”


Harus menyelamatkannya atau semacamnya, huh, pikir Ret, pasti akan seperti itu.


Dan benar saja, si wanita tersenyum dan menunjukkan gigi putih dan lengsung pipinya pada Ret, dan berkata, “Kukira kau sudah tahu, ya?”


“Aku―Uh.”


Ret terkejut saat Me kembali, dan menggenggam ujung jaket hitamnya dengan gugup.


Ret berkata, “Kamu masih di sini, tenyata.” Dan Me sedikit mengangguk diam.

__ADS_1


Setelah menyapa Me, Ret berpaling kembali pada Sei, sambil mendesah frustasi dia berkata, “Sayangnya aku tidak mempunyai Kredit maupun Dokter untukmu, jadi―”


“Tidak apa,” kata Sei, “Aku tidak membutuhkan Kredit-mu maupun Dokter yang memiliki lisensi Sistem Dunia. Aku tahu untuk menyewa Robot Medis membutuhkan....”


500 Kredit, 1000 Kredit, 1500 Kredit untuk menyewa Robot Medis normal. Namun, Robot tersebut hanya untuk penyakit ringan biasa seperti: demam, diare, dan sejenisnya. Harga Robot berpaku pada kecepatan jika Robot Medis normal.


“.... Kredit yang cukup banyak.”


Iya, pikir Ret yang hanya mengangguk diam, aku juga tahu, membutuhkan ....


3000 Kredit ke atas untuk menyewa Medical Robot. Robot ini mampu untuk menyembuhkan virus dan penyakit lainnya. Aids, HIV, Kolera maupun Kangker atau apa yang disebut dengan kelainan manusia bisa disembuhkan langsung oleh Madical Robot, asalkan memiliki Kredit.


“.... Banyak Kredit,” lanjut Ret bergumam, memperhatikan luka-luka di tubuh Sei, “Untuk menyembuhkan luka di tubuhnya.”


Cukup mudah untuk mendaftar di .Wix di mana Robot Medis normal dan Medical Robot tertera harga serta penyakit yang akan disembuhkan, tetapi jika salah mendiagnosis penyakit, Kredit akan hangus dan lenyap begitu saja, disitulah peran para Dokter ada.


Hening cukup lama, saat Sei diam semakin melemah. Lalu Sei sedikit mendongak, menatap Ret dengan tatapan lemah.


 


“Ya. Aku tahu itu.” kata Ret mengangguk setuju pada akhirnya. “Sedangkan para Dokter ....”


Hanya bertugas mendiagnosis penyakit, supaya tidak membuang-buang Kredit adalah pekerjaan Dokter di Era Hiburan. Karena Kredit yang telah di transferkan ke Sistem Dunia tidak bisa ditarik kembali. Berbanding terbalik dengan Dokter, yang masih manusia, tentu saja, pasti masih bisa dikecam dan dipaksa untuk mengembalikan


“.... Menurutku mereka cukup penting.”


“Aku hanya ingin tempat untuk memulihkan diri. Kalau bisa, di Area.0 Distrik manapun. Atau Area manapun yang masih termasuk Wilayah Penduduk Kelas Bawah.”


Ret berpikir sejenak saat melihat Sei yang terus melemah di hadapannya.


“Aku tidak tahu apa yang telah kau lakukan,” kata Ret, mengangguk. “Tapi ini hanya untuk membalas budi padamu saja, karena telah menyelamatkanku dan Me.”


“Huh,” Sei mendengus, lalu berdecak kesal, “Di Era seperti ini kamu masih memikirkan tentang ‘Balas Budi’. Kau hanya akan menjadi orang yang mati pertama kalau ini adalah sebuah cerita, kau tahu?”


“Aku tidak peduli, sih,” tegas Ret, menggelengkan kepalanya.


“Ng..... Aku benar, kan?” tanya Sei pada Me, “Pelacur di sana?”


Me hanya terdiam, menatap tajam Sei yang menyeringai tajam namun lemah.


“Bagaimana kau bisa tahu,” tanya Ret pada Sei. Dia terkejut dengan perkataan Sei, “Bahwa Me *******?”

__ADS_1


“Hahaha. Aku baru melihat pria sepertimu. Meski kamu sebut dirimu itu cacat―mungkin kecacatanmu lebih dari apa yang telah kau perkirakan. Kenapa juga ada orang bodoh dengan terang-terangan menculik ******* yang sudah dipesan para gangster,” tanya Sei sambil menunjuk dada Me, “Kau bisa memesannya kembali setelah dia digunakan, kau tahu?”


Ret melihat sekilas arah telunjuk Sei, teradapat tato lambang dua telinga kelinci di dada Me sangat jelas terlihat, dan dia langsung kembali berpaling pada Sei.


“Uh. Jangan berkata seolah-olah aku menyukai *******,” kata Ret. Dia melihat wajah Me menggelap, dan mengkoreksi perkataannya, “Itu memang bukan karir yang buruk, tapi A―”


Saat Ret berpaling kembali pada Sei, dia melihat luka di bahu Sei dengan jelas karena gerakan smartphone-nya.


“―KU?” Ret jadi gelagapan saat melihat luka akibat tembakan senjata api di tubuh Sei, “Itu ... luka akibat tembakan senjata api, kan?”


“Ng.” Sei hanya mengangguk diam sambil menatap tajam Me yang berada di samping Ret.


Uh. Ini akan menjadi sangat berbahaya jika kita ketahuan Unit Justice-man. Apalagi jika sampai ketahuan Prajurit Army-man. Walaupun, demikian pikir Ret.


“Aku harus memikirkan ini lebih jauh terlebih dulu. Kita akan beristirahat di sini sebentar,” kata Ret pada Me dan Sei. “Apa itu tak apa?”


“Ng.” (Sei dan Me dengan serempak menggangguk diam) “Un.”


Uh. Untung aku dari awal sudah memesan penginapan di Area.0, di mana para gelandangan di sana masokis sejati, demikian pikir Ret.


Saat Ret akan duduk, Sei bertanya, “Apa kamu akan melaporkanku?” dengan nada ragu dan sedikit cemas.


Ret tidak menjawab Sei dan hanya diam menatapnya. Lalu dia melihat mayat-mayat di sekitarnya sambil mendesah pasrah. Dia kembali menatap Sei, sambil menggelengkan kepalanya.


Ret merinding sejenak setelah berpikir jika dia ketahuan menyembunyikan seorang pemberontak, tetapi dia tetap memilih untuk membalas budi pada Sei walau itu hanya sekali.


Setelah membuat keputusan, dia bergumam sambil mengangguk kembali, “ Aku hanya perlu masuk pintu belakang penginapan tanpa diketahui Justice-man setempat, huh.”


Ret berdiri sambil melihat ke bawah, di mana Me masih duduk.


“Ini pasti merepotkan, tapi aku akan tetap menyelamatkannya,” kata Ret pada Me, “Apa itu tak apa, Me?”


Me hanya sedikit mengangguk diam sambil mempererat genggaman ujung pakaian Ret.


“Tentu saja,” desak Ret, melepaskan jaket hitamnya sambil memandangi tubuh menggoda  Me yang telanjang, “Setelah kau membalas hutang budimu padaku, kan?”


“Un?!”


“Ng ....!?”


“Kau pikir aku menolongmu dengan susah payah seperti itu, gratis huh?” Ret menyeringai tajam pada Me. “Kau harus tetap membayar hutangmu, bukan dengan Kredit-mu. Tentu saja ....”

__ADS_1


***


__ADS_2