![Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0](https://asset.asean.biz.id/secret---war-of-k-m-dgsp-m4221--locked-oso-0.webp)
“10.000 Kredit ...!!” suara seorang wanita dengan penuh semangat, menggema saat menawar pria tampan di dalam sangkar jeruji besi untuk menjadikannya sabagai budaknya.
Uh?! Apa―siapa―dimana―mengapa―kapan, bagaimana aku, sial ...!!! Apa-apaan, pikir Ret, tercengang saat mendengar suara tersebut, Siapa yang menyerukkan Kredit sebanyak itu dengan mudahnya?! Apa dia gila? Dan dia menawar apa dengan Kredit sebanyak itu.
Ret perlahan dan mulai berdiri dan melihat di sekitarnya hanya ada jeruji besi berwarna hitam yang tampak kuat. serta orang-orang duduk di kursi tersusun rapih cukup jauh di hadapannya.
Ini, Panggung Teater? Huh, pikir Ret, merasa seluruh tubuhnya sangat dingin, dan dia tahu ada sesuatu yang tidak beres. Dia melihat ke bawah, langsung terkejut, “Huh!? Kenapa aku telanjang?!”
Pertarungan sebelumnya seperti mimpi sekejap mata baginya. Dan melihat keluar jeruji besi, Ret melihat wanita dan pria sedang memegang mikrofon masing-masing, tiba-tiba menoleh padanya.
Pria di luar sangkar jeruji besi itu tiba-tiba berseru setelah melihat Ret tersadar, “10.000 Kredit! Harga langsung naik tajam hadirin sekalian! Lihatlah betapa sehatnya budak tampan ini, Tuan-tuan!”
“Ya ...!! Lihatlah besarnya miliknya,” seru si wanita, menatap pinggang Ret dengan tatapan penuh semangat, “Untuk kakak-kakak cantik―para pelcaur kelas atas di sana! Pria tampan ini sangat langka dan dijamin masih perjaka!!”
“Oh~!!!” seruan para wanita―serta beberapa suara pria ngondek, menggema dan meriuhkan Ruang Pelelangan Budak.
“Uh.” Ret mencoba menutupi anggota tubuh pentingnya. Apa-apaan ini ... Mengapa aku sama sekali tidak―
“Jangan sampai menyesal, Tuan-tuan,” lanjut si wanita berbicara dengan nada santai, “Walaupun pria tampan ini bukan budak utama yang dijual malam ini, dia masih langka dan masih sangat baru nan bersih! Apa tidak akan yang akan menawar lebih?”
“12.000 Kredit.”
Suara tenang seorang wanita di Ruang VIP berlawanan, menyerukan tawarannnya seperti itu dan menaikkan harga Ret.
“Oh~Ini dia!” seru si wanita dan pria, serempak. “12.000 Kredit untuk budak eklusif nan tampan ini ... Apa ada yang mau menawar lebih?”
“15.000 Kredit,” suara di Ruang VIP sebelumnya langsung menjawab, tanpa jeda satu napas pun.
“Aku sepertinya mengenal suara wanita itu,” gumam Ret, melihat ke Ruang VIP di mana suara si wanita berasal. Tapi ... di mana?!
Ret maju ke depan dan menggenggam jeruji besi sambil menatap Ruang VIP di sebelah kanannya.
“Oh~!! Tuan putri dari Partai.2―Distrik.2 tidak akan melewatkan pria tampan ini, tentu saja,” kata si wanita pembawa acara, “Meskipun adiknya sedang―”
Decakan lidah sangat jengkel menggema di Ruang VIP sebelah kiri Ret, dan suara seorang wanita yang tadinya santai menjadi jengah saat menyerukan tawarannya, “Aku menginginkannya! 17.000 Kredit!”
Sebelum dua pembawa acara di atas panggung Pelelangan Budak berbicara, Ruang VIP bersuara kembali namun tetap dengan nada tenang, “20.000 Kredit.”
Sial. Siapa itu? Kenapa aku sangat familiar dengan suaranya―tapi, aku pernah mendengarnya di mana, ya, demikian pikir Ret. Dia terus mencoba untuk mengingat suara yang tak asing baginya.
“Kamu yakin tentang ini,” sindir seorang wanita yang menawar sebelumnya.
__ADS_1
Sebelum kedua wanita itu menawar dan kedua pembawa acara berbicara, suara ngondek seorang pria di tengah-tengah kursi, menyerukan tawarannya untuk mendaparkan Ret, “21.000 Kredit!”
“Oh~Penawar baru muncul ...!! Adalah yang terhormat Tuan dari Rumah Bordil Distrik.5―kami selaku perwakilan dari Tuan Rumah dari Pelelangan Budak hari ini meminta maaf karena tidak tersediannya Ruang VIP dan VVIP untuk anda.”
Di atas panggung, kedua pembawa acara itu membungguk hormat ke tengah-tengah kursi.
“Humph!” suara pria ngondek sedang mendeham, terdengar seperti sedang memalingkan wajahnya.
“Oke. Yang terhormat Tuan dari Rumah Bordil menawar 21.000. Apa ada yang mau menawar lebih?”
“30.000,” suara tenang di Ruang VIP sebelah kanan Ret, langsung terdengar kembali bergema ke seluruh penjuru Ruang Pelelalangan.
“30.000 Kredit! Tuan Putri Partai.2―Dirtrik.2!!”
“31.000 Kredit.”
“33.000 Kredit!”
“40.000 Kredit.”
“40.000 Kredit! Tuan Putri Partai.2―Dirtrik.2 terus menaikkan harga dengan fantastis ...!!!”
Pria ngondek dengan tatapan panas dari kursi tengah, terasa oleh Ret seperti sedang menatapnya dengan tatapan penuh gairah.
“Uh. Apa pria seperti itu yang dimaksud No―huh―Siapa yang kumaksud?!” gumam Ret, terkejut dan keheranan sendiri. Apa ingatanku sebelumnya adalah mimpi atau bukan, sih?!
Selgai Ret berpikir seperti itu, tawaran Kredit untuk dirinya sudah mencapai 100.000 Kredit.
“100.000 Kredit ...!! Tuan-tuan yang terhomat sekalian! Ini pertamakalinya satu budak pembuka seharga 100.000 Kredit! Jangan sampai melewatkan untuk mendapatkannya! Pria tampan ini adalah budak yang sangat langka! Terbukti dari tawaran yang sudah mencapai―"
“110.000 Kredit!”
Suara si wanita di Ruang VIP sebelah kiri Ret, mulai terdengar sangat jengah.
“Kau benar-benar nggak mau nyerah, ya, Tuan Putri cantik? Hah ...?” kata wanita tersebut. Walaupun dia mengatakan kata-kata pujian, nada sarkasme sekaligus menghina lawannya sama sekali tidak dia sembunyikan.
“500.000 Kredit,” kata si wanita, menaikkan tawaran untuk Ret, dengan harga yang tidak masuk akal.
Wanita di atas balkon VIP sebelah kiri Ret, tiba-tiba berdiri sambil berwajah suram. “Kau ....”
Dan setelah lawannya berdiri, si wanita di Ruang VIP lainnya berjalan ke balkon sambil menatap Ret.
__ADS_1
“500.000 Kredit!!!” seru kedua pembawa acara di atas panggung, “Apa ada yang mau menaikkan harga lagi ...?”
“Aku,” gumam Ret, melebarkan matanya saat melihat ke balkon di sebelah kanannya, “sepertinya kenal wanita itu?!”
“Maafkan aku. Aku cuma punya sisa Kredit segitu,” kata pria di belakang si wanita, yang berperawakan seperti seorang paman, “Jika kamu mau lebih ....”
Uh?! Paman itu, pikir Ret, kemudian berseru, “Tidak mungkin aku lupa beliau!”
“Jika tidak ada yang mau menaikkan harga,” kata pembawa acara pria, berjalan ke sebuah mimbar, “dalam ketukan ketiga, itu berarti Tuan Putri Partai.2―Dirtrik.2 akan memenangkan pria tampan ini sebagai budaknya.”
“Tidak usah!” tukas si wanita, “Ini sudah sangat cukup, Paman.”
*Tok!!!* Menyertai suara ketukan palu ke mimbar\, suara serempak kedua pembawa acara berseru\, “Satu!”
“500.000 Kredit untuk pria tampan ini,” seru pembawa acara pria di atas mimbar, “Apa tidak ada yang mau menaikkan harga? Tidak ada?! Kalau begitu ....”
Paman itu bermuka masam, “Tapi ....”
“Masih 500.000 Kredit tawaran dari Tuan Putri Partai.2―Distrik 2! Tuan-tuan? Apakah tidak ada yang mau menaikkan harga? Kalau begitu ....”
*Tok!!!* Ketukukan palu ke-2\, masih tidak ada yang menaikkan harga. “Dua ketukan untuk Tuan Putri Partai.2―Distrik 2!!”
“Aku bilang, tidak apa,” tegas si wanita, menggelengkan kepala sambil berbalik setelah melihat sekilas Ret di dalam sangkar, “Aku lebih baik mengamankan masa depanku daripada menyelamatkannya. Toh itu salah dia sendiri malah melakukan hal bodoh seperti―”
“Apa tidak akan ada yang mau menaikkan harga untuk melawan Tuan Putri?” tanya si pembawa acara kepada para hadirin lainnya. “Saya ingatkan kembali Tuan-tuan yang terhormat, budak ini sangat langka! Dengan 10 Tahun dia akan menjadi budak anda!! Bagaimana kakak-kakak cantik di Ruang VIP―VVIP di sana? Apa anda semua akan melewarkan kesempatan emas ini ...?”
Tuan Putri Partai.2―Distrik 2 itu sudah menghilang dari Ruang VIP.
“Baiklah, kalau begitu ....” kata pembawa acara pria di atas mimbar, “500.000 Kredit tawaran dari Tuan Putri Partai.2―Distrik 2? Apa masih tidak ada yang mau menaikkan harga ...?”
Tidak ada satu pun jawaban. Semua peserta pelelangan di Pasar Budak menggelengkan kepala dan menutup mata mereka, dan tampak berwajah ragu.
“Tok!!!* Ketukukkan palu ke-3, masih tidak ada yang menaikkan harga. “Tiga!!! Selamat untuk Tuan Putri Partai.2―Distrik 2 di Ruang VIP sebelah kanan! Anda mendapatkan budak tampan ini hanya dengan harga 500.000 Kredit!”
A-aku dibeli olehnya, ya, y-ya, pikir Ret, mencoba untuk tetap tenang. “Pelelangan budak ini sampai mengundang Mafia kelas atas, huh ... Aku seperti ... benar-benar mengenal siapa wanita itu. Tapi ... siapa?!”
Wanita pembawa acara di atas panggung berkata, “Kepada pemenang Lelang Budak dipersilahkan untuk ....”
“Ah! Tidak mungkin,” gumam Ret, menyadari sesuatu dan mengabaikan suara wanita pembawa acara yang sedang memberi intruksi―dan tiba-tiba, dia melebarkan mata dan mulutnya, terkejut, seperti mengingat seseorang. “I-itu, dia?!”
***
__ADS_1