![Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0](https://asset.asean.biz.id/secret---war-of-k-m-dgsp-m4221--locked-oso-0.webp)
“.... Aku bercanda,” kata Ret sambil melempar jaket hitam olahraganya untuk menutupi tubuh Me, “Pakai itu. Setelah keluar dari sini, kita akan berpisah.”
Kedua wanita yang tercengang di sekitar Ret, langsung tersentak dan tersadar kembali. Mereka berdua diam mematung di tempat sambil terus melihat Ret yang berdiri tegap dengan senyum bodoh di wajahnya.
“Aku mau kamu sedikit mengalihkan Anggota Unit Justice-man yang berjaga,” pinta Ret pada Me.
Me hanya menggangguk diam sambil memakai jaket.
Kupikir dia serius akan, pikir Sei, melakukan hal aneh ke ******* itu.
“Tapi ....” gumam Me, dengan wajah merona sambil menggenggam erat jaket Ret. “Jika kamu mau―”
“Uh, jangan berpikir bodoh,” tukas Ret, menggelengkan kepalanya, “Di situasi seperti ini, ketegangan bukanlah hal yang―Ayo pergi. Aku pikir kamu sudah bisa berjalan, kan, Me?”
“Un.” Me mengangguk. “Aku bisa.”
Ret berjalan ke hadapan Sei dan memperhatikan luka di tubuhnya.
Itu cukup parah, uh. Bagaimana cara menyembuhkan luka, tanpa Robot dari Sistem Dunia, demikian pikir Ret, kebingungan.
Lalu Ret berjongkok sambil memperhatikan luka-luka di sekujur tubuh si wanita di hadapannya dengan seksama.
“Kamu akan terus terkena minus Kredit beberapa bulan ke depan, jika tidak memakai Robot Medis Sistem. Kamu serius tidak akan menggunakan Sistem Dunia?” tanya Ret, ragu. “Mungkin kamu sama sekali tidak akan mendapatkan Kredit bulan depan. Karena ....”
Untuk sakit ringan akan minus 100, untuk sakit sedang akan minus 150, dan untuk sakit berat akan minus 300, dari 300 Kredit yang diberikan Sistem Dunia kepada penduduk klaster menengah kebawah.
“.... Jika tanpa Robot Sistem, itu,” gumam Ret, “Terlalu lama untuk―”
“Tak apa,” jawab Sei, “Sudah kubilang, kan, aku hanya ingin tempat untuk beristirahat.”
Sei menatap Ret dengan lemah namun mata hitamnya memancarkan keyakinan penuh.
“Luka seperti ini, istirahat seminggu saja sudah cukup untukku.”
“Seminggu, huh? Tapi, tentang ....”
“Ng. Aku tahu, aku akan membayarmu setelah sembuh, percayalah, aku akan membayarmu dua minggu dari sekarang, mau aku sembuh atau tidak.”
“Bukan itu maksudku―”
“Aku tidak peduli tentang Kredit pemberian dari Sistem Dunia, tenang saja. Karena dari kecil pun, aku selalu ditekankan untuk tak bergantung pada-nya.”
Dari kecil tak tergantung pada Kredit?! Dia tidak berasal dari Panti Asuhan sama sepertiku, huh, demikian pikir Ret.
__ADS_1
“Unn ...” sela Me, berbisik pada Ret, “Kenapa kamu mau menolongnya? Jika sedikit Kredit aku punya―”
“Aku tidak peduli tentang itu,” jawab Ret, mendesah pasrah, “Itu karena aku cacat. Mungkin? Jika aku tidak seperti ini juga, mengapa aku harus repot-repot menyelamatkanmu?”
Ret menyeringai lebar pada Me, dan menatapnya dengan tatapan percaya diri.
“Meskipun,” gumam Ret, “aku memang tidak mempunyai banyak Kredit, huh.”
“Oh,” tanya Sei pada Ret, “Kredit untuk apa?”
“Tentu aku sudah teriakkan tadi, kan?” jawab Ret, tersenyum malu, “Dari kecil aku ingin masuk Unit Justice-man.”
“Kenapa tidak Prajurit Army-man?” tanya Sei sambil menatap mayat-mayat disekitarnya satu per satu dengan senyum lemah di wajahnya.
Bagaimana dia bisa berkata seperti itu, pikir Ret, tepat di saat keadaan sekitar kita seperti ini?!
“Kenapa?” desak Sei, “Apa kamu berubah pikiran?”
Sei tiba-tiba menajamkan pandangan matanya pada Ret. Dan Me yang berada di samping Ret, gugup dan mundur beberapa langkah.
Uh, percuma, pikir Ret, menoleh pada Me yang ketakutan. “Jika kita ingin melarikan diri. Dia pasti akan melenyapkan kita di sini juga, kan?”
Ret mengalihkan pandangannya kembali pada Sei di hadapannya, dan menatap tajam tepat ke arah mata hitamnya.
“Tentu.” Sei mengangguk lemah, berkata, “Aku masih mempunyai sedikit tenaga untuk melenyapkan kalian berdua―dan kulihat, tak satu pun dari kalian yang menguasai beladiri, ng?”
“Aku,” desak Sei, “benar, ng ...?!”
Ret mencoba untuk tenang kembali, saat Me mendekatinya dan memeluk lengan kanannya, serta dia terlihat sangat ketakutan.
Dia memang memiliki aura pembunuh yang luar biasa menakutkan, sial, demikian pikir Ret, mengatur napasnya, mencoba untuk tetap tenang.
“Aku sudah tahu itu dari awal,” kata Ret, tenang kembali, “Sebab itulah aku mengusulkan untuk membantumu, sekarang.”
“Ho? Seperti itu, kah ....”
Aku tidak mempunyai kekuatan untuk melawanmu, pikir Ret. “Setidaknya untuk sekarang ... aku tidak punya.”
“Ng ...?” Sei mendengar Ret bergumam, menaikkan dagunya. “Apa itu?”
“Tidak.” Ret berjongkok menghadap Me sambil menawarkan punggungnya pada Sei, dan berkata, “Mari kita pergi dari sini. Aku sedikit mual melihat mayat-mayat itu."
Kukira pria ini akan dengan berani melawanku dan kabur, demikian pikir Sei, memeluk punggung Ret. “Sambil berkata pada si ******* tentang 'Aku akan melindungimu! Tenang saja dan LARI LAH!!' Padahal, aku pikir kau pria seperti itu. Ng?"
__ADS_1
“Huh,” dengus Ret, berjalan sambil menggendong Sei di punggungnya, “Aku mungkin cacat memliki hati nurani, sialan ini. Tapi aku bukan orang bodoh yang selalu ingin disebut sebagai ‘pahlawan’.”
“Hahaha,” Sei dan Me tertawa kosong serentak, “Hihihi,” dan keduanya menatap Ret dari samping.
“Ya,” kata Ret, “Hanya orang-orang bodoh yang mau menjadi ‘pahlawan’ di Era Hiburan ini.”
Sei yang digendong oleh Ret, menunjukkan jalan keluar dari gorong-gorong yang sangat gelap.
Mereka bertiga melewati berbagai belokan, dan selokan di samping mereka. Berbagai warna air yang mengalir di selokan membuat Ret merinding. “Jika aku masuk ke sana, aku tidak akan selamat, huh.”
“Pastinya.” Sei berbisik di telinga Ret, “Kau pikir berapa banyak Prajurit Army-man yang aku tenggelamkan ke sana, ng?”
“Uh?” (Ret dan Me serentak tercengang) “Un?!”
Sial. Aku pikir hanya mayat-mayat itu saja yang telah dia bunuh, demikian pikir Ret. Dia mulai gugup dan punggungnya pun mulai meneteskan keringat dingin saat mendengar napas si wanita yang memeluknya dari belakang.
Saat Ret masih takut padanya, Sei berkata, “Oh .... Sedikit info untukmu. Masuk Sekolah Keamanan,” dia berkata dengan lirih, tepat di samping telinga Ret, “Untuk menjadi Anggota Unit Justice-man, tentu saja ....”
“Huh?”
Si wanita digendong Ret, lanjut berkata, “.... Selama setengah tahun belajar di sana untuk menjadi anggota tingkat bawah, kau harus mempunyai setidaknya 3000 Kredit dan―”
“Apa?!” Ret terkejut, menghentikan langkah kakinya. “Bagaimana kau bisa tahu?”
“....”
Sei tiba-tiba diam, seperti tidak tak sadarkan diri.
“Sial," gerutu Ret, "Biaya Sekolah Keamanan itu seharga perawatan Medical Robot?”
Lalu Ret lanjut berjalan dan melihat cahaya di ujung gorong-gorong. Saat dia di luar gorong-gorong, Ret dan Me melihat hutan rimbun dan jalan raya yang masih terlihat dari atas. Anak tangga untuk turun dari gorong-gorong yang mereka berdua pijaki sedikit rapuh.
“Kita di hutan, huh,” gumam Ret saat menginjakkan kakinya di hutan rimbun. Dia menoleh ke samping kiri, melihat atap Bangunan Besar seperti Bangunan Padepokan pada umumnya yang menjulang tinggi. “Jadi itu yang disebut Perguruan?! Aku sungguh beruntung bisa menemukan jalan pintas ini.”
Sesampainya di jalan raya, Ret berkata pada Me, “Kita berpisah dari sini, ok? Jangan lupa mengalihkan para Anggota Justice-man yang berpatroli.”
“Un.” Me mengangguk. “Aku mengerti.”
Ret berpaling begitu saja, dan berjalan menjauhi Me.
Dengan mengetahui jalan rahasia ini, aku jadi bisa menghindari anggota gangster tadi, huh.
“Ah!” Me berbalik dan menatap punggung Sei yang digendong Ret, lalu berkata, "Apa aku boleh tahu, namamu?”
__ADS_1
“Panggil saja aku: SecRet ....”
***