![Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0](https://asset.asean.biz.id/secret---war-of-k-m-dgsp-m4221--locked-oso-0.webp)
“Hihihi ....” Me cekikikan di tempat sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. “Bagaimana, ya, supaya dia bisa menjadi salah satu pelanggan tetapku.”
Kau harus mengetahui tentang Ramalan Dunia, Me. Dengan mengetahui tentang semua hal yang ia sering sebut dengan [It's Notabene; x!].
“Aku tidak terlalu mempercayai Ramalan, dan―” Me berkata sendiri sambil menatap langit, “Kalau tidak salah, itu Planet x, bukan? Buku bodoh yang menceritakan masa depan? Unh, itu sangat tidak berguna. Aku cuma tertarik padanya, bukan mau menguasai Dunia.”
Ret terus berjalan tanpa mengetahui Me yang menertawakannya setelah dia mendengarnya berkata ‘rahasia’ dalam Bahasa Inggris, tetapi pelafalan yang dia katakan salah.
Pria itu nggak bisa bahasa inggris, pikir Me, masih berusaha keras untuk menahan tawa, tapi sok-soan ngucapin ‘secret', un ....
Wanita itu terus menatap Ret yang berjalan menjauhinya. Ret pun berbelok dan tertutup oleh pohon cukup besar, dan menghilang dari pandangannya.
“Pria yang menarik,” gumam Me, tersenyum cerah. Tapi kenapa dia mau-maunya terus melibatkan dirinya ke masalah yang sangat rumit, ya.
“Semoga kita bisa bertemu lagi ... Rat." Me berbalik sambil tertawa lagi. "Hihihi ....”
Me pergi menuju ke arah Markas Keamanan terdekat Unit Justice-man. Sedangkan Ret dan Sei menuju ke arah lain.
Ke mana kita harus pergi?! Tidak mungkin, kan, kalau harus ke salah satu Gerbang Perbatasan Area sebelumnya. Kita pasti dicurigai oleh penjaga, huh, demikian pikir Ret.
Setelah Ret berpikir demikian, Sei berkata, “Ke arah barat daya dari Gerbang Perbatasan Area yang merupakan wilayah penduduk kelas atas dengan menengah, kalau tidak salah.”
“Uh ....” Ret bertanya, “Emang ada apa di sana?”
“Beberapa gelandangan di Area.3 Distrik ini, mau dibayar dengan murah untuk penyelundupan.”
“Murah, huh ... Berapa tepatnya Kredit yang harus aku―”
“Tenang. Mungkin tidak akan sampai 10 Kredit. Tidak mungkin kau tidak mempunyai Kredit segitu, kan.”
“Iya, sih," tukas Ret, "Tapi ....”
Ret tidak punya pilihan lain, selain berjalan terus ke arah barat daya sambil sesekali melihat peta yang dia gambar di kertas sebelumnya.
.... Aku tidak mau mengakses portal Terminal Mobile World Maps, huh, pikir Ret, mendesah pasrah saat melihat peta acak yang digambarnya sendiri. “Uh. Ini tidak lengkap dan sangat merepotkan.”
“Kenapa kau tidak memakai World Maps saja?” tanya Sei, seolah dia mengerti dengan apa yang dipikirkan Ret. “Aku kira, ia cukup murah.”
“Huh,” dengus Ret. “30 Kredit itu tidaklah ‘murah’. Aku barus saja keluar dari Panti Asuhan, dan baru sembuh dari sakit tanpa Sistem, dan―”
“Ng~” Sei berkata, “Jadi kamu kaum muda, ya.”
“Ya! 30 Kredit bisa aku gunakan untuk mencari pekerjaan sampingan maupun lainnya.”
__ADS_1
“Berarti kamu masih belum tahu dengan jelas, akal sehat Dunia pada Era ini, ya?”
“Seperti itulah.”
“Mengapa kau tidak mengemis,” tanya Sei, dengan nada acuh, “Atau berkelompok menjadi preman saja? Dengan seperti itu, jalan hidupmu akan lebih mudah, kau tahu, Rat?"
“Walaupun aku tidak tahu keseluruhan akal sehat Dunia, aku masih tahu bahwa masuk Unit Justice-man maupun Unit lainnya tidak boleh ada catatan atau karir berbasis kriminal,” gerutu Ret, mengerucutkan bibirnya. “Apakah ada jalan lain selain aku harus mengumpulkan minimun 3000 Kredit? Itu terlalu ....”
Saat Ret menggumamkan hal yang tidak wajar seperti itu, Sei menegakkan tubuhnya, seperti bersiap akan turun dari punggung Ret, dan bersikap waspada.
“Maksudmu?!” tanya Sei, memicingkan alisnya, curiga, “Kenapa kau bertanya hal itu, ke ‘penjahat’ sepertiku?”
“Tidak. Bukan apa-apa,” bantah Ret. Tidak mungkin aku mengatakan bahwa aku tahu dia itu sebenarnya siapa!
Sei tenang kembali.
“Aku tidak akan membalas―maksudku membayarmu selain dengan Kredit dan mengampunan nyawamu,” tegas Sei, “Selain dari dua itu, aku akan menolak semua permintaanmu, paham?”
“Uh,” desah Ret, tetapi dia mengangguk cepat. “Ayolah. Bahkan kamu memanggilku seperti itu?! Aku bukan 'tikus besar'. Sial.”
Ret berjalan memutari pusat kota Area.3, dan terus berada di hutan rimbun yang mengitari pusat kota tersebut.
Ret bertanya pada Sei, “Kita berhenti dulu di sini, tak apa? Kupikir tidak ada yang mengejar kita.”
“Ya,” jawab Sei. “Kalau aku merasakan seseorang sedang mengejar kita, aku pasti akan langsung melenyapkannya, tenang saja.”
“Uh,” desah Ret, sambil menurunkan dan menyandarkan Sei di pohon. “Tolong jangan membunuh manusia tepat di depanku.”
“Kenapa?” tanya Sei, menatap Ret, dengan tatapan heran, “Bukankah kita akan sama-sama dalam keadaan bahaya kalau ada ‘mereka’?”
“’Kita’, huh,” gumam Ret. Aku bukan bagian darimu―dan apa juga yang kau sebut ‘mereka’?! Mereka yang kau bunuh itu aparat Negara yang Sistem Dunia lantik. Ret lanjut bergumam, “Kalau ketahuan, kamu pasti akan―”
“Akan apa?” sela Sei, tersenyum tipis padanya.
“Tidak.” Ret menggelengkan kepala sambil menutup mata, lalu memalingkan mukanya. “Bukan apa-apa.”
Bulan memancar terang saat mereka berdua beristriahat di hutan rimbun. Walaupun berbagai pohon sedikit menutupinya, warna abu-abu terang bulan masih terlihat oleh Ret, dan Sei yang bersandar di pohon cukup besar.
Mereka berdua melihat bulan terasa lebih besar dari biasanya. Cahaya bulan yang menerangi wajah oriental Ret yang terlihat sangat kelelahan. Untuk beberapa saat, keheningan antara Ret dengan Sei membuat suasana menjadi sedikit canggung.
Sial, pikir Ret, Aku harusnya sudah tidur jam segini. Kenapa juga―
“Kau dengan mudahnya mau menolongku, ng?” gumam Sei. Dan suasana hening pun terpecah saat wanita di hadapan Ret bertanya, “Kenapa kau mau menolongku, padahal kau tahu perbedaan kekuatan kita ... Ng?”
__ADS_1
Ret kembali memandang Sei, dengan wajah yang sangat serius dan tatapan matanya seperti menusuk mata hitam wanita di hadapannya.
Aku tidak mungkin berkata bahwa aku sebenarnya tahu siapa sebenarnya dia, huh, demikian pikir Ret. Dia mendesah pasrah dan mulai sedikit canggung saat memandangi Sei, tetapi Ret terus berusaha untuk tetap tenang.
“Aku ....” Ret berkata, “Maksudku, kecacatanku―”
“Sudah kubilang itu bukanlah kecacatan,” tukas Sei, menatap tajam Ret, “Itu adalah anugrah dari Tuhan untukmu.”
Setelah Sei berkata dengan tegas seperti itu, Ret menundukkan kepalanya dan mulai bercerita.
“Ini, mungkin cerita yang sangat Klise,” Ret mulai bercerita sambil menatap bulan di atas langit, “Dulu, waktu aku masih tinggal di Panti Asuhan, aku selalu dibully―meski disebut bullying hanya menurutku, sih. Tapi yang jelas―”
“Ng.” Anggukan kepala Sei, memotong perkataan Ret. “Aku tahu di Panti Asuhan mana pun selalu menekankan dan memberi peringatan untuk menghilangkan ‘Empati’ dan semua dasar dari ‘Nurani’ manusia.”
“Ya.” Ret setuju dengan gagasan Sei, tetapi dia menambahkan sesuatu, “Seperti itulah adanya. Mereka memang tidak membully-ku secara fisik, dan tidak ada satu pun anak yang senasib memperlakukanku seperti itu. Karena kami sibuk untuk melayani ‘Sistem Dunia’.”
“’Melayani’,” kata Sei, mengangguk ringan, “Ng. Aku setuju dengan kata-katamu itu, Rat.”
“Huh ... Peringatan berlebihan itu, memang bisa juga diartikan sebagai bullying. Kau tahu? Seperti inilah aku, dengan si sialan yang bernama nurani―dan kamu menambahkannya dengan empati ... Uh. Aku sudah menjadi sangat cacat, ternyata. Yah, lupakan itu. Dulu aku pernah diselamatkan oleh salah satu Anggotaa Justice-man aneh, yah, dia memang benar-benar aneh. Dan satu kalimat darinya yang kuingat: Tidak apa menjadi cacat―nikmatlah Dunia ini yang telah diciptakanNya.”
“Siapa nama Anggota Jusitce-man itu?”
“Kalau tidak salah. Uh.... dia bernama.... Ei-Siapa-itu? Bahasa Jerman-nya angka satu, kalau tidak salah ....”
Ret mencoba mengingat nama yang diberitahu padanya waktu saat dia masih kecil, tanpa tahu Sei menggumamkan sesuatu, “Orang bodoh itu, ternyata.”
“Huh?”
Sei menggelengkan kepala, lalu menatap Ret.
“Eins? Itu namanya?”
“Ya! Itu dia!” Ret menjawab dengan antusias, “Dia yang menyelamatkanku dulu!!”
“Aku cukup bangga padamu,” kata Sei, menatap Ret, dengan tatapan hangat, “Bisa keluar dari Panti Asuhan. Yang kutahu, bahwa membayar upeti ke Sistem itu tidaklah―”
“Kita pergi sekarang?” tanya Ret, seolah tidak ingin membahas hal yang dibicarakan Sei. “Aku sudah mulai mengantuk, huh.”
Sei hanya tersenyum tipis setelah Ret memotong perkataannya dengan sengaja. Dia menaiki punggung lebar Ret kembali.
“Ngomong-ngomong,” bisik Sei dengan nada yang menggoda tepat di samping telinga Ret, “Kau sedikit kuat, menurutku. Mau coba ‘main’ sebentar?”
***
__ADS_1