Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0

Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0
[B1-13] Cara Menyembuhkan Tanpa Sistem (2/4)


__ADS_3

“Apa?!” pekik Ret, terkejut. “Aku―a-aku ...  hanya mau melakukan itu hanya dengan orang yang kucintai saja―”


“Apa yang kau pikirkan?!” tukas Sei, curiga, “Aku berbicara tentang sparing?! Bertarung, ng? Kau tidak mungkin masih hidup setelah terjun dan jatuh ke gorong-gorong dengan menakjubkan seperti itu, kalau tidak memiliki 'sesuatu'.”


Sei menatap Ret dari samping dengan tatapan tajam, lalu dia tiba-tiba mengerutkan keningnya.


“Tidak. Itu ....” Ret langsung gugup, dan mencoba mengatakan sesuatu, “Aku ....”


Dia lanjut berjalan sambil menggendong Sei di punggungnya. Mereka berdua memutari Area.3 di dalam hutan rimbun yang mengitari Area tersebut. Di sekitar hutan rimbun tak ada satu Bangunan pun terlihat oleh mereka berdua.


“Dan,” dengan nada mengencam, Sei bertanya, “bagaimana kau tahu aku ini wanita?! Aku pikir, aku tidak pernah memberitahumu.”


Tatapan wanita dibelakang Ret, membuatnya gugup dan berkeringat dingin. Dia menghentikan langkahnya untuk mencari jawaban yang tepat.


Uh, tidak mungkin aku memberi tahu dia, bahwa aku tahu siapa dia sebenarnya, pikir Ret. “Pengemis itu benar, huh, aku benar-benar bertemu orang yang menarik. Sial. Ini sama sekali bukan situasi yang menarik dan ....”


Saat Ret terus menggerutu, Sei mendesaknya, “Ng....?”


“Yah ... Kau tahu,” jawab Ret, walau dia terlihat sangat enggan, "Mungkin aku sedikit tidak sopan, tapi aku merasakan sesuatu yang lembut menempel di punggungku.”


Sei langsung menegakkan punggungnya dan menatap Ret, dengan tatapan yang lebih tajam dari sebelumnya.


Ret berkata, “Uh. Oke. Aku minta maaf,” setelah merasakan tatapan dan aura pembunuh tajam dari belakangnya.


Tidak ada yang bisa dilakukan pria muda itu. Ret hanya bisa lanjut melangkahkan kakinya dengan langkah berat, karena aura pembunuh yang Sei pancarkan terus menusuk-nusuk tubuhnya.


Kemudian, mereka berdua pun sampai di batas antara hutan rimbun luar dengan hutan rimbun dalam.


“Kita sudah jalan sejauh ini, aku tidak melihat satu pun Gerbang―” Ret menggerutu, dan menoleh ke belakang, melihat Sei yang masih marah, “Ayolah. Jangan menatapku seperti itu. Dan, matikan aura pembunuhmu itu.”


“Ng?”


“Tidak. Bukan apa-apa," tukas Ret, menggelengkan kepalanya, "Aku akan lanjut berjalan.”


Mereka berdua pun sampai di tengah hutan. Hanya ada pepohonan dan deretan setengah pohon palm yang menempel di sisi tebing. Dan terdapat celah tebing yang mencolok di tengah-tengah deretan pohon palm tersebut.


Sei berkata, "Kita sampai.”


Ret menghentikan langkahnya dengan sedikit kebingungan saat melihat deretan pohon palm di celah tebing tinggi di hadapannya.

__ADS_1


“Sampai?! Kita di tengah-tengah hutan kaki gunung, aku ingat, di peta pun tidak ada gunung seingatku.” Ret mengerutkan kening. "Apa ingatanku buruk?! Dan itu semua sangat aneh, di tengah hutan seperti ini ada ....”


Pohon palm berderet rapih dan menempel di sisi tebing. Ret memperhatikan celah tebing sambil tersenyum percaya diri.


.... Ada pohon-pohon yang menunjukkan jalan, huh. Kita akan masuk ke celah tebing itu, ya, demikian pikir Ret.


“Celah tebing itu jebakan." Sei langsung membantah pemikiran Ret, "Jangan mendekatinya!"


“Huh?!” Ret terkejut dan menghentikan langkahnya. Senyum di wajahnya menghilang seketika. “Apa maksudmu?! Bukankah biasanya seperti itu? Masuk ke celah tebih dan melihat air terjun, lalu ada gerbang dari dalam air tejun menuju Gerbang Penyelundupan, yang kau sebut.”


“Gerbang seperti itu hanya ada di fantasi, bodoh,” umpat Sei. “Berikan saja smartphone-mu pada-ku.”


“Untuk apa?! Oh, kita akan berlangganan portal Gerbang Penyelundupan?” kata Ret, menyadari sesuatu. “Berikan saja nomber akses portalnya padaku, lalu aku akan membeli slotnya―”


“Berikan saja padaku!” desak Sei.


“Hei―Kau tahu, kan ....” Ret berkata dengan sedikit tidak senang, “Smartphone, itu ....”


Tidak bisa begitu saja memberikan smartphone ke sembarang orang. Ia ibarat nyawa bagi siapa pun. Meskipun memang smartphone tidak bisa digunakan oleh orang lain selain pemiliknya, tidak bisa rusak, dan juga tidak bisa diambil alih kepemilikan-nya, tetapi Ret maupun pemilik smartphone di Era Hiburan pasti waspada terhadap hacking atau tracking smartphone―yang merupakan kejahatan terbesar melebihi para ‘pembunuh’, ‘terorisme’, maupun ‘pemberontakan’ pada Sistem Dunia.


.... O-ok―Aku memang masih mempunyai lebih dari 300 Kredit. Aku masih bisa membeli-nya lagi, pikir Ret, menyerah saat melihat Sei diam sambil menatap tajam dirinya. “Tapi ....”


Jika smartphone kelas penduduk mana pun rusak, mereka masih bisa membelinya lagi dengan kisaran harga 300 sampai 1000 Kredit.


Namun pada akhirnya, Ret menyerahkan smarthpone-nya kepada Sei begitu saja.


“Aktifkan fitur scanner-nya.”


“Untuk―Okelah.”


Ret mengaktifkan fitur scanner pada smartphone-nya dan Sei langsung mengambil-nya. Layar smartphone Ret, berubah warna menjadi warna merah saat Sei menyentuh smartphone-nya.


Wanita itu kemudian men-scann barcode di pergelangan tangan kirinya, dan layar smartphone Ret tiba-tiba berubah warna menjadi putih kembali, yang menandakan bahwa smartphone tersebut bisa digunakan oleh si wanita.


“Apa kau tidak merasa aneh bisa akrab dengan ‘penjahat’ sepertiku, Rat?”


Sial. Ini hacking? Uh. Apa dia itu, demikian pikir Ret. Dia mengabaikan pertanyaan si wanita, karena cemas sekaligus gugup.


“Ng?”

__ADS_1


“Tidak. Aku,” kata Ret, gelagapan. “Bu-bukankah hacking itu adalah kejahatan terbesar?! Aku kira kamu hanya pembunuh biasa. Jika kita sampai ketahuan, Kredit saja tidak akan cukup untuk―”


“Ng....?”


“Tidak.” Ret langsung diam dan berkata dengan lirih, “Bukan apa-apa.”


Cukup lama Sei men-scann barcode di lengan kirinya menggunakan smartphone Ret. Pria itu lebih takut melihat Sei sekarang, daripada saat dia melihatnya berada di tumpukan mayat.


“Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?” desak Sei, “Apa kau tidak merasa aneh bisa akrab dengan ‘penjahat’ sepertiku ini? Ng?”


Saat Sei selesai bertanya, scann barcode ke lengan kirinya selesai. Dan dia memainkan smartphone Ret, seperti dia sungguh-sungguh pemilik asli smartphone itu.


“Itu―”


“Aku menggunakan 10 Kredit untuk membuka Gerbang Penyelundupan.” Sei memotong perkataan Ret, lalu mengembalikan smartphone padanya, “Ini.”


“Uh.” Ret hanya mengangguk ringan sambil mengambil smartphone darinya. "Oke."


“Jadi? Kita masuk ke celah tebing setelah semua jebakannya telah dinonaktifkan dengan 10 Kredit tadi, huh?”


“Apa hal bodoh yang kau katakan itu? Kita hanya akan mengetahui Gerbang Penyelundupan setelah salah satu pohon palm menghilang. Tunggu saja.”


Lalu, salah satu pohon palm menyusut dan ia masuk ke dalam tanah. Pohon tersebut seperti pintu otomatis yang tenggelam ke dalam tanah, dan membentuk celah kecil berbentuk persegi.


“Jadi,” tanya Ret pada Sei, “Kita masuk ke sana?”


“Ng.” Sei menjawabnya dengan hanya mengangguk diam.


Mereka berdua pun masuk ke celah tebing yang gelap.


Uh. Scann lagi, pastinya, huh, demikian pikir Ret. Dia frustasi melihat pintu bercahaya putih di hadapannya.


Pintu berwarna silver dengan lampu darurat berwarna putih di kedua sisinya, menerangi celah tebing yang gelap.


“Uh.” Ret mengeluh, frustasi. “Ini pasti akan lebih dari 10 Kredit, kan?”


“Tenang,” cibir Sei, lalu dia berdecak kesal, “Cih. Nanti akan aku bayar. Itu hanya 15 Kredit.”


Ret men-scann smartphone-nya ke pintu silver ber-barcode hitam yang ditengahnya terdapat lambang:

__ADS_1


Ü


***


__ADS_2