Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0

Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0
[B1-37] Terkadang, Satu Kebaikan Tanpa Sadar Dibalas Oleh-Nya Dengan Rentetan Kebaikan (8/12)


__ADS_3

Mentari pagi hari cerah memasuki Gymnasium Penampungan Budak, di mana Ret sedang berlari dan berusaha


keras untuk mengejar kelompok budak di depannya. Walaupun dia terus mencoba untuk mempercepat langkah kakinya, para budak di depan Ret seperti terus menjauhi dirinya.


Berbeda dengan saat dia berlari dengan penuh rasa takut dan kepanikan tidak jelas saat menyelamatkan Me, sekarang Ret berlari hanya dengan tekad untuk tidak tertinggal dari Nok serta para budak di depannya.


Tidak terasa, “Sekarang sudah berapa lap?!! Sial,” mereka semua telah berlari belasan kali mengelilingi Tempat Kebugaran seukuran lapangan sepakbola, dari titik start di Pintu Besi Gymnasium.


Bagaimana caraku mengejar mereka, demikian pikir Ret. Dia terus melihat punggung-punggung para budak di depannya.


Kemudian, saat Ret berpikir demikian, Nok tiba-tiba menepuk bahu Ret dari belakangnya.


Ret berseru, “Uh?! Kau sangat cepat, Nok! Sial!!”


“Ahahaha.....” Nok tertawa keras sambil mempercepat langkah kakinya. “Kamu saja yang terlalu lambat, Ret.”


“Tidak usah terburu-buru, Ret,” saran Nok, sambil menolehkan kepalanya namun tetap berlari, “Santai saja―ini hanya pemanasan!”


“Huh, aku, masih, kuat!” seru Ret, dengan penuh semangat. Dan juga, apa itu pemanasan?!


Ret tidak mengerti dengan istilah yang dikatakan Nok sejak awal. Dia hanya terus mencoba untuk mengejar ketertinggalannya, tetapi Nok serta para budak terlalu cepat meninggalkan dia di barisan paling belakang serta beberapa kali di-overlap olehnya.


Terus berlari sendirian di belakang, napas Ret mulai tersenggal-senggal.


“Masih puluhan lap ini! Semangat, Ret!!”


Nok menyusul Ret kembali, dan dengan santainya dia menyerukan semangat padanya seperti itu.


Saat Ret mulai bernapas dengan berat, dia hanya melihat punggung lebar Nok yang terus menjauh dan kelompok para budak pun mulai menyusul setelahnya―mereka tetap berlari di belakang Nok, tidak ada satu pun yang berani untuk menyusul Nok.


Ini, kah, pikir Ret, yang bahkan tidak bisa mendekati Nok, kekuatan, dari, salah satu Anggota Mafia?!


Ret bernapas dengan berat tetapi tetap berlari dengan tempo langkah yang sama. Beberapa kali dia mencoba untuk mempercepat langkahnya. “Tapi aku pikir ide yang buruk―untuk mempercepat tempo langkahku, huh.”


Dan benar saja, Nok yang selalu menyusulnya terus mengingatkannya, “Pertahankan saja tempo langkahmu, Ret―dan Jangan terlalu memaksakan diri. Ini hanya pemanasan, kataku sebelumnya, kan.”


Ret sudah lupa entah berapa kali Nok menepuk pundaknya sambil menyusulnya dengan kecepatan lari yang tidak masuk akal.


Lalu, tidak terhitung berapa puluh putaran Ret berlari mengelilingi Ruang Gymnasium Penampungan Budak. Dia melihat Nok bersama kelompok budak lainnya sedang berdiri dan mengatur napas mereka.

__ADS_1


Aku masih harus berlari, pikir Ret, mulai lupa. “Beberapa putaran lagi, huh.”


Saat Ret akan terus berlari, Nok menghentikannya, “Sudah cukup―kemarilah! Nantinya kau hanya akan mengganggu munculnya alat-alat olahraga.”


“Uh?!” Ret menghentikan langkahnya sambil menoleh ke belakang. “Tapi―”


“Kemarilah,” desak Nok, menatap ke tengah-tengah Gymnasium, “Cepat ....”


“O-oke.” Ret mengangguk ringan dan kembali ke sisi Nok. “Memangnya―”


Sebelum Ret akan bertanya padanya, alat-alat fitnes serta alat olahraga pada umumnya muncul tiba-tiba dari bawah tanah.


“Aku pernah melihat ini semua di Televisi,” kata Ret, melebarkan matanya, terkejut, “Bukankah Penampungan Budak ini terlalu mewah?! Kalau di luar, kita harus menghabiskan beberapa ratus Kredit hanya untuk menyewa alat-alat ini.”


Berbanding terbalik dengan Ret yang semangat karena bisa menggunakan alat-alat tersebut dengan gratis, Nok serta para budak di sekitarnya mendesah frustasi sambil menggelengkan kepala.


“’Mewah’, huh,” cibir Nok, menatap Ret dengan tatapan menyedihkan, “Pemilihan kata-katamu menyedihkan seperti biasanya, Ret.”


Dan tiba-tiba setelah Nok mencibir seperti itu, satu kotak permukaan tanah muncul dari bawah tanah di tengah-tengah Gymnasium.


“Itu,” gumam Ret. “Kotak untuk apa?”


Ret menenggokkan kepalanya ke Nok, mencoba bertanya padanya.


Nok bercanda seperti itu, tetapi Ret malah kebingungan kembali dengan istilah yang tidak dimengertinya.


“Kenapa itu disebut ‘Ring’?!” tanya Ret.


“Karena saat kita akan memulai pertarungan dan mengakhirinya dengan bunyi ¤Ring-Ring¤, mungkin?” jawab Nok, dengan nada jengkel.


Budak-budak di sekitar mereka berdua tertawa kecil, dan mulai olahraga ringan pada umumnya. Beberapa dari mereka mulai mengangkat beban dan melakukan hal lainnya.


“Mungkin seperti itu? Ikuti saja gerakanku―ini hanya gerakan olahraga pada umumnya. Kau pasti―ah!” Nok seperti menyadari sesuatu. “Kau dari Panti Asuhan, ya, Ret?”


“I-iya,” jawab Ret, gugup, “Kau b-benar.”


“Tidak usah gugup seperti itu―itu menjijikan.” Nok memicingkan alisnya melihat Ret, dan menatapnya dengan tatapan jijik. “Ikuti saja gerakanku!”


Ret menjawab kembali, “O-oke!”

__ADS_1


Nok mencontohkan olahraga ringan pada umunya seperti: push-up, sit-up, pull-up dan up-up lainnya. Gerakan-gerakan yang tampak asing bagi Ret, tetapi dia mencobanya dengan beberapa intruksi dari Nok. “Ingat instruksiku tadi. Kau pasti bisa melakukannya di manapun kau mau.”


Setelah Nok mengintruksikan Ret dan memberitahunya dasar-dasar olahraga ringan, dia mulai menggunakan alat-alat disekitarnya.


Ret mengangguk ringan dan berkata, “O-oke,” lalu memulai olahraga sesuai instruksi dari Nok.


Tidak sampai setengah jam mereka semua menggunakan alat-alat fitnes maupun alat olahraga pada umumnya, bell  mulai berbunyi.


Mendengar suara ¤Ring-Ring¤ yang menggema di seluruh penjuru Gymnasium, Nok serta para budak lainnya menghentikan aktifitas mereka masing-masing.


Nok berjalan santai di barisan paling depan―seperti memimpin para budak lainnya, menuju ke tengah-tengah Gymnasium.


Selagi Nok serta para budak lainnya berjalan menuju ke tengah-tengah Gymnasium, alat-alat fitnes serta alat yang lainnya tiba-tiba tenggelam kembali ke bawah tanah.


Kita, sudah selesai?! Sial. Dari tadi, pikir Ret. “Aku sama sekali tidak menyelesaikan apa yang diinstruksikan Nok, huh.”


Nok naik ke atas permukaan tanah yang menonjol dan berbentuk persegi: Ring-Tarung, bersama dengan para budak-budak lainnya. Mereka semua seperti bersiap untuk melakukan sesuatu.


“Apa yang mau mereka lakukan?!” gumam Ret, melihat semua orang di atas Ring-Tarung di tengah-tengah Tempat Kebugaran.


Saat Nok dan para budak lainnya sudah berada di atas Ring-Tarung, Ret baru berjalan menuju ke tengah-tengah Gymnasium.


Setelah para budak di atas Ring-Tarung memasang posisi bertarung, Ret menyadari sesuatu.


Kita semua, harus bertarung?! Sial, apa-apaan, demikian pikir Ret. Dia sama sekali tidak bisa bertarung.


¤Ring!!!¤ Satu suara bell membuat budak-budak di atas Ring-Tarung bergerak dari posisi bertarung mereka. Suara teriakan semangat riuh serentak disertai langkah kaki, bergema ke seluruh penjuru Gymnasium.


“A-aku ....” Ret berkata dengan gugup seperti itu. Sama sekali tidak bisa bertarung―Apalagi harus ... bertarung dengan Nok?! Sial―


“Hoy!” seru seseorang di atas Ring-Tarung padanya.


Namun, satu orang di tengah-tengah Ring-Tarung menjatuhkan para budak yang berada di sekitarnya dengan sangat gesit.


“Kau sedang apa di bawah sana, Ret?!!” desak Nok, sambil melihat ke bawah Ring-Tarung dan tersenyum menyeramkan padanya, “Cepat kemari! Atau kau ingin lumpuh dengan sendirinya?”


“L-lu-lumpuh dengan sendirinya?!” pekik Ret, mulai panik. “Apa-apaan―”


Bintik-bintik biru di lingkaran besi kalung budak Ret, mulai berubah warna menjadi merah dengan sangat cepat dan disertai suara memekakkan telinga, ¤Tuuttt ...!!! ¤ yang terus mendengung di telinganya.

__ADS_1


“Sial ...!!!”


¤¤¤


__ADS_2