Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0

Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0
[B1-6] Untuk Kedamaian Dunia (2/4)


__ADS_3

Seringai tajam anggota gangster yang sedang bersandar di sisi tembok gang, membuat Ret gugup. Dia tahu bahwa gangster tersebut adalah pemimpin anggota gangster lainnya.


Mengabaikan tatapan tajam si pemimpin gangster, Ret lanjut berjalan kembali menuju ke luar gang dengan sikap dingin dan tenang. “Tidak. Terimakasih―”


“Mungkin, Bos,” salah satu anggota gangster sedang menjilati si wanita, menyelanya, “Dia ingin menjadi sok pahlawan.”


“Aku tidak terlalu menyukai *******,“ bantah Ret. Dia berhenti berjalan, menunjukkan punggung lebarnya pada mereka. “Sungguh. Permisi, kalau begitu. “


“Humm.....” Pemimpin anggota gangster itu meludahkan rokok di mulutnya ke tanah, dan berjalan mendekati si wanita yang disebutnya *******. “Padahal, aku akan memberimu harga yang sangat murah untuk bermain dengannya.”


Uh, meskipun kalian sebut dia *******, pikir Ret. Aku melihat ini jelas penganiayaan. Tapi ... apa urusanku, lah―


“Sekali,” kata si pemimpin gangster, “tentu saja.”


Ret berpaling dan lanjut berjalan sambil merepalkan tangannya.


Sebelum akan belok di sudut gang, dia melihat wanita terbaring di tanah yang menengok ke padanya dan menatapnya dengan tatapan penuh harap.


Jika saja mereka preman, aku pasti bisa menyelamatkanmu. Maaf, demikian pikir Ret, menatap balik si wanita dan menggelengkan kepala.


Ret lanjut berjalan dan menghilang dari pandangan si wanita yang mulai dikerumuni anggota-anggota gangster. Seperti dengan langkah yang sangat santai, dia melihat jalan di luar gang. Namun, saat dia melihat jelas cahaya lampu terang di luar gang, dia menggigit bibirnya sampai berdarah sambil merepalkan rahangnya, frustasi.


“Apaan ini,” gumamnya, mencengkam jantung sambil mengeratkan repalan rahangnya, “Di Era seperti ini, dengan perasaan seperti ini. Menghilanglah, sialan! Sudah jelas bahwa ....”


Perasaan yang disebut dengan ‘hati nurani’ pada Era hiburan adalah pengganggu di klaster kasta kependudukan mana pun. Rencana, taktik, kemunafikan, keegoisan, keserakahan dan ketamakan maupun hal=hal yang menguntungkan diri sendiri―asalkan bukan bagian dari ‘kejahatan’ dan tidak melanggar ‘aturan’ Sistem Dunia, merupakan dasar untuk bertahan hidup pada Era Hiburan.


“.... Semua itu, sudah diajarkan padaku di sana,” geramnya, “Tapi kenapa? Ini masih saja ....”


Mengganggu anggota gangster bukanlah hal yang logis untuknya sekarang. Jadi dia mencoba tetap tenang dengan menarik napas lalu menghembuskannya.


Untuk sekarang, aku harus mencari jalur lain, demikian pikirnya.


Berhenti di batas antara jalan dan gelapnya gang, Ret mengeluarkan smartphone-nya sambil mengetik sesuatu.

__ADS_1


“Apa aku harus memanggil Justice-man?” gumamnya, menatap tajam layar smartphone-nya. Dia merepalkan matanya, lanjut menggerutu, “Kehilangan 300 Kredit sekarang, itu sama saja bunuh diri.”


Ret menggelengkan kepala sambil menyimpan smartphone-nya kembali, lalu berjalan dengan langkah berat keluar gang. Bahkan, saat dia melangkahkan kakinya ke luar gang, dia masih bisa mendengar erangan disertai sedikit jeritan kesakitan seorang wanita yang bergema dari gang di belakangnya.


Dia menggenggam erat kertas penujuk jalan di dalam saku jaket hitamnya.


Lagipula percuma, mereka pasti akan datang setelah 5 menit panggilanku, demikian pikir Ret, terus berjalan ke depan.


Dia berjalan kembali menuju ke papan petunjuk jalan, untuk merubah jalur yang akan dilaluinya.


“Jika saja mereka preman, aku masih bisa melawan. Mereka itu gangster, huh, tidak mungkin aku―” gumam Ret, menggelengkan kepala. Dia terus berkata sesuatu yang tidak jelas untuk meyakinkan dirinya sendiri, “Dan yang lebih penting adalah Kredit-ku! Hanya tersisa 501 Kredit, jika aku memanggil Justice-man ...."


Dengan wajah yang menunjukan frustasi dan putus asa, dia terus berjalan dengan langkah yang sangat berat dan terus bertambah berat.


Lalu, dia menengok ke samping kanan, di mana kuda-kuda sedang tertidur lelap di kandangnya. Dan melihat tumpukan log-log kayu di samping kandang kuda. Tidak mungkin aku―itu terlalu berat, demikian pikirnya.


Saat Ret menggelengkan kepala, seolah telah diatur olehNya, dia melihat sebuah balok kayu seukuran tongkat baseball yang terhimpit di antara log kayu.


Ret langsung meloncati pagar pembatas sambil berdecak kesal, “Cih,” dan menarik balok kayu keluar dengan kuat.


Saat dia di hadapan gang kembali, erangan dan desahan disertai sedikit jeritan kesakitan si ******* masih terdengar olehnya. Aneh memang, mengapa tidak ada satu pun pejalan kaki di sekitarnya.


“Tidak aneh jika wilayah yang masih termasuk pinggiran Distrik―Area,” kata Ret, memperhatikan sekitarnya sambil menggenggam erat balok kayu, lalu memasuki gang kembali.


Di tempat yang sama, ketiga anggota gangster masih sedang menikmati si wanita tanpa menyadari Ret kembali dengan wajah orientalnya sangat gelap, karena entah mengapa dia merasa sangat marah.


Melihat pemimpin gangster membelakanginya, dia langsung menghantam kepala belakang si bos gangster dengan kuat.


*Buk!!*


Pemimpin gangster itu langsung tersungkur dan tengkurap di atas tubuh si *******.


“Bos!!” seru salah satu anggota gangster yang sedang bersandar menikmati rokoknya yang langsung dibuangnya, “Sialan―”

__ADS_1


Tidak membiarkan si gangster mengumpat\, Ret menggenggam balok kayu dengan kedua tangannya dan menghantam dagu bawah si gangster secara diagonal ke atas. Mengikuti suara *Buk!!!* hantaman balok kayu seukuran tongkat basball itu langsung melempar si anggota gangster\, dan punggungnya menabrak tembok gang.


Ret sedikit terengah-engah setelah menjatuhkan kedua anggota gangster. Namun, dia terus memperhatiakan sekitarnya, bergumam “Di mana dia? Satu lagi, uh―”


“Awas! Di belakangmu!” teriakkan wanita menyadarkan Ret.


Dan Ret langsung berbalik dan melihat pantulan cahaya lampu putih dari pisau tajam yang ditusukkan kepadanya dengan sangat cepat.


“Uh―” Tetapi Ret pun mengayunkan balok kayu digenggaman tangannya secara horizontal.


Sangat beruntung pisau tajam si gangster menancap kuat ke balok kayu. Kemudian Ret langsung mundur selangkah dan menghantam perut si gangster yang langsung membungkuk dan sedikit terpelanting ke belakang. Kemudian dia mengayunkan balok kayu yang digenggamnya sangat erat dari bawah ke atas dengan sangat kuat.


Gangster terakhir itu terlempar ke belakang, lalu jatuh di tempat sampah.


Mengabaikan napasnya yang berat dan terengah-engah, Ret membuang balok kayu ke samping, lalu mengangkut wanita yang terbaring telanjang di tanah, dan membawanya pergi.


“Oi ...!!” seru seorang gangster yang baru saja keluar dari salah satu pintu, “Bos, kau tak apa?”


Pertarungan itu sangat cepat, dan suara yang ditimbulkan akibat hantaman balok kayu pun tidak sekeras jika menggunakan tongkat baseball nyata.


“Tak apa kepalamu!” umpat si pemimpin gangster, menggenggam kepalanya yang berdarah, “Kejar dia! Cepat!!”


Para anggota gangster langsung mengejar Ret. Dan gangster yang terpukul olehnya pun berusaha mengejarnya dengan tertatih-tatih, seperti orang-orang linglung sedang berlari.


Ret terus berlari sambil mengangkut si wanita yang memeluknya dengan erat dari depan. Dia terus berlari, berbelok, melompat dan berbelok secara acak.


Ret tidak tahu akan pergi ke mana. Yang pasti, jika dia tertangkap akan sangat berbahaya karena kemungkinan besar dia akan mendapatkan luka berat.


“Uh ....” Ret terus berlari memasuki gang lebih dalam. “Jika aku luka berat, itu akan lebih berbahaya dari bulan kemarin.”


Karena dia terus melakukan rutinitas hariannya, dia berlari cukup cepat meski sambil mengangkut seorang wanita.


Namun, mendongakkan kepalanya dan melihat ke atas, dia mengerutkan kening saat melihat ke sudut gang yang terdapat lensa kamera teruju tepat ke arahnya.

__ADS_1


“CCTV? Apa―” pekik Ret, merepalkan rahangnya, “Sial.”


***


__ADS_2