Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0

Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0
[B1-23] Wilayah Terlarang Di Area.5?!!


__ADS_3

Ret menggelengkan kepalanya, lalu menghela napas panjang. Dia mencoba untuk tenang dan berpikir cara melarikan diri dari situasi membahayakannya.


Aku lagi-lagi terpojok seperti ini, huh, pikir Ret, menghembuskan napas beratnya. “Apa aku harus menyerah saja―”


“Hei, Nak!” teriak si Bos preman di belakang Ret.


Ret menoleh ke belakang sambil memasang posisi siaga, bersiap untuk melarikan diri.


Uh, masih terlalu dini untuk menyerah, demikian pikir Ret. Dia masih mencoba keberuntungannya untuk melarikan diri.


“Aku bicara denganmu, sialan.” Bos preman-preman itu mulai geram. “Lebih baik kau masuk ke wilayah dalam pembangunan tadi, yang jelas tidak ada kamera pemantaunya. Jadi, kami akan lebih mudah untuk melenyapkanmu.”


Ret tahu bahwa preman-preman yang dihadapinya sekarang jauh berbeda dengan preman-preman, maupun para gangster di Wilayah Penduduk Kelas Menengah saat dia menyelamatkan Me.


Melihat sekilas si Bos preman sedang merentangkan lengannya dan menyeringai lebar padanya, Ret berpaling kembali ke preman di hadapannya.


“Iya, iya~” tambah anak buah si Bos preman, dan menganggukkan kepalanya dengan cepat, “Bos kami akan menghajarmu lebih mudah kalau kau tidak kembali ke sini. Sial. Rencana cadangan ini menghamburkan 300 Right Point dan 12000 Left Point Bos kami. Jika kau tidak mau menyerah, aku pasti akan membunuhmu, sialan!”


“Left ...?” Ret bingung saat mendengar perkataan preman di hadapannya. “Right Point?!”


“Ohh ... sepertinya kau masih baru menginjak masa dewasamu, ya, Nak,” kata si Bos preman, “Padahal, aku mau menegur anak buah bodohku ini.”


“M-maaf Bos!” Anak buah itu dengan cepat membungkukkan tubuhnya. “Aku kira anak ini antek dari gangster atau preman lain.”


Tidak perlu meminta maaf. Aku sangat berterima kasih padamu atas infromasinya, demikian pikir Ret. Dia masih memasang posisi siaga, bersiap untuk kembali berlari.


“Tidak apa,” desak si Bos preman, “Cepat tangkap dia dan ambil Prangko Oranye miliknya.”


“Aku menyerah!” Ret mengangkat kantung plastik dipegangnya sambil memperhatikan keadaan di sekitarnya dengan seksama. “Kalian ambil ini―aku akan simpan kantung plastik ini di sini, dan biarkan aku pergi.”


Preman-preman itu malah serentak tertawa.


“Kau pikir kami bodoh, huh?”


“Diam di sana dan biarkan kami menghajarmu berapa kali! Benar, kan, Bos?””


Jarak antara mereka dengan Ret masih cukup jauh. Dia melirik ke belakang, melihat si Bos preman masih tidak membuat gerakan yang tergesa-gesa.


Walau begitu, dia masih mencoba dan mencari celah dengan berpura-pura menyerah.


Uhh, bagaimana cara aku melarikan diri dari sini, demikian pikir Ret.


Beberapa meter saat para preman menyeringai dan melangkahkan kaki mereka dengan lebar, Ret melihat sedikit celah dan langsung melempar semua kantung plastik berisi bola-bola coklat.


“Sial!”


Preman-preman itu menangkis, menghindari dan menerjang bola-bola coklat yang tersebar di depan wajahnya.


“Cepat tangkap dia!”


Melalui celah preman-preman bertubuh kecil, Ret menghindari setiap sergapan, pelukan, dekapan, maupun genggaman tangan setiap preman yang akan menangkapnya dengan gesit.


Dan setelah lolos, dia langsung berlari ke depan dengan sangat cepat.


Ret menunggu mereka mendekat, jika dia terlalu jauh dari mereka, mereka pasti dengan mudahnya mengejarnya saat Ret mulai kelalahan atau tempo larinya bisa tidak teratur.


Walaupun butuh kurang dari beberapa detik untuk mereka berbalik, Ret sudah bisa menutup jarak antara preman terdekat dengan dirinya.


“Aku hanya memiliki kecepatan, sial,” gerutu Ret, sambil terus berlari dan mempercepat langkahnya, “Ini sangat terasa tidak berguna jika aku sampai kelelahan. Jadi ....”


Bos preman itu bertubuh besar, jadi Ret tahu bahwa dia lebih cepat darinya. Namun, dia bisa langsung tertangkap jika melarikan diri kebelakang.


“.... Lebih baik kalau aku bisa menguasai beladiri, huh.”


Ret memasuki gang tanpa melihat maupun mendengar suara preman-preman yang mengejarnya.


Walaupun aku akan dipenjara, kalau menggunakan kemampuan beladiri di situasi seperti ini namun masih ketahuan olehNya, huh, demikian pikir Ret. Dia berlari dengan sangat cepat tanpa menoleh ke belakang.


Namun, dia masih sedikit mendengar suara teriakan-teriakan para preman di belakangnya.

__ADS_1


“Sial! Bos? Dia memasuki wilayah gangster Tiger!!”


“Kejar saja dia! Aku yang akan bicara ke Bos Tiger nanti.”


“Tapi ....”


Beberapa dari mereka terdengar olehnya seperti ketakutan, tetapi Bos mereka mendesak anak buahnya untuk tetap mengejar Ret.


“Aku bilang kejar dia! Siapa pun yang larinya cepat, putar arah dan cari jalan untuk mengepungnya!!”


“Oke.”


“Siap!”


Anak buah si bos itu berpencar dan mencoba untuk mengepung Ret.


Dengan pemikiran cepat, Ret berpikir jika terus kembali ke tempat semula, mereka pasti mematikan salah satu kamera pemantau maupun CCTV di beberapa Gedung dan menyiapkan penyergapan.


Aku sudah benar untuk tidak kembali ke Super Kombini, tapi, pikir Ret. “Sial. Aku tidak tahu mau kemana. “


Ret keluar gang, dan semua anak buah si Bos preman masih cukup jauh darinya.


Beberapa saat mereka semua kejar-kejaran―dan saat Ret berada di jalan raya, suara deru langkah kaki preman-preman di belakangnya tiba-tiba berhenti.


Kenapa mereka tiba-tiba berhenti seperti itu ...!? Atau, pikir Ret, kebingungan, namun sadar dengan jelas bahwa mereka berhenti mengejarnya, tetapi dia sama sekali tidak memperlambat langkah kakinya, “Mereka mencoba mengecohku?!”


Suara seruan para preman di belakangnya sudah tidak terdengar jelas lagi oleh Ret.


“Bos! Dia tidak kembali!! Wilayah itu milik para Mafia Kelas Atas―”


“Sial ...! Cepat tangkap dia!! Kalau dia sampai ke Wilayah itu, kita tidak akan―”


“Bos .... Jika kita membuat masalah di dalam Wilayah itu, kita akan benar-benar berakhir!” desak Preman yang terdepan mengejar Ret, tiba-tiba berhenti mengejarnya.


Namun, Ret malah terus mempercepat langkah kakinya.


Lalu tepat saat Ret menoleh ke belakang―dia tidak melihat orang-orang di depannya. Dia hanya terfokus kepada para preman dan Bos mereka yang terdiam dan terlihat kebingungan.


*Buk!!!*


“Ugh ....”


Ret menabrak seseorang, tetapi malah tubuhnya yang terpental ke belakang seolah menabrak tebing yang sangat kokoh.


“Hei―Kau bocah bodoh!” bentak salah satu orang yang mengenakan jas, topi dan kacamata hitam, “Beraninya kau menabrak Brother―”


“A―” Pengelihatan Ret mulai kabur, dan dengan gugup dia berkata dengan gelagapan, “a-ak-u ....”


Bahkan Ret hanya bisa menunduk diam, tidak bisa mengeluarkan suaranya sedikit pun.


Aura mengerikan yang dipancarkan orang-orang berjas hitam di hadapannya, melebihi aura pembunuh wanita terluka yang masih berada di Ruangan Penginapan-nya.


“Apa yang kau gumamkan, bodoh!? Kau sudah menabrak Bos kami―dan tidak minta maaf?! Dari gangster mana kau, sialan?”


Ret hanya duduk di tanah sambil menunduk ketakutan. Bukannya dia tidak mau meminta maaf, tetapi dia sangat ketakutan dengan aura mengerikan yang dipancarkan oleh orang-orang di sekitarnya.


“Tidak apa.” Namun anehnya, orang dipanggil Bos dan Brother yang ditabrak Ret, merentangkan kedua tangannya saat melihat Ret di bawahnya. “Ini hanya masalah kecil.”


“Tapi, Bos! Dia sangat lancang,” seru salah satu bawahan si Bos.


Orang yang dipanggil Bos itu menepuk-nepuk jas hitamnya dengan santai.


“Aku bilang tidak apa-apa,” tegas pria paruh baya yang dipanggil Bos, “Mengerti?”


“Mengerti, Bos!” sahut bawahan si Bos. “Bodoh! Cepat sujud pada Bos kami! Kau mau mati, ha?”


Bos berjas hitam itu menggelengkan kepalanya. “Tidak usah.”


Walaupun si Bos berjas hitam memintanya untuk tidak bersujud, Ret tetap mencoba untuk bersujud di hadapannya.

__ADS_1


Namun, orang yang dipanggil Bos itu menggenggam bahu Ret, dan menghentikannya untuk bersujud padanya.


“Aku bilang tidak usah. Ini, sekarang, aku, hanya membayar sedikit kebaikan yang telah kau lakukan,” kata si Bos berjas hitam, tersenyum lebar. “Pergilah dari sini secepatnya, jika kau tidak ingin mati percuma tanpa kau sadari. Wilayah ini bukan untuk orang sepertimu.”


“Sedikit kebaikan, huh?! A-a-aku-aku―Sa-saya yang menabrak anda.” Ret tertahan oleh genggaman si Bos berjas hitam, dengan posisi setengah berdiri dan akan bersujud.“S-saya benar-benar―”


“Tak usah, lah!” Bos berjas hitam itu menggenggam erat bahu kanan Ret, saat dia bersikukuh akan bersujud. “Ini hanya masalah kecil.”


Seberapa keras pun Ret mencoba untuk bersujud, dia sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuhnya.


“Tapi Brother―”


“Aku bilang tidak apa.”


Tubuh Ret terus dalam posisi setengah berjongkok, tetapi dia sama sekali tidak merasa pegal. Dia dengan kuat ditahan oleh satu tangan besar si Bos berjas hitam.


Aa-apa―a-apaan kekuatan-nya ini, demikian pikir Ret, melebarkan matanya terkejut. Dia mencoba untuk menggerakkan jarinya, tetapi tidak bisa.


Seluruh tubuh Ret pun mulai mati rasa.


“Apa perlu? Aku menegaskan untuk yang ketiga kalinya? Ayo pergi. Bocah sultan itu pasti sedang menunggu kita.”


“O-O―Oke.”


“Tidak perlu, Bos―”


Dengan nada tegas namun mencibir seperti itu, si Bos berjas hitam membuat rekannya terdiam. Dia berbalik kembali ke Ret, dan bertanya, “Oh. Ngmong-ngomong, kau mau kemana?”


“Uh?!” Ret terdiam sejenak, dan kebingungan dengan sikap si Bos berjas hitam yang ramah padanya.


“Hei, bocah! Kau bisa jawab tidak ...?”


“Benar!" tambah rekan si Bos berjas hitam lainnya, "Beraninya kau lancang seperti itu pada Brother―”


“Biarkan dia berbiacara,” Bos berjas hitam itu menatap tajam kedua bawahannya yang lansung terdiam. “Dia bukan orang-orang dengan perkerjaan seperti kita. Kau hanya penduduk biasa, benar?”


Ret mencoba tenang untuk beberapa saat, setelah suaranya menghilang.


Bagaiman dia bisa, pikir Ret. “Tahu―Itu, i-itu. A-aku, ya! Aku cuma penduduk klaster terbawah di Distrik.2 ini.”


Ret masih menunduk dan mengatur napas beratnya.


“Aku mencari Halte Bus atau,” lanjutnya berkata, “Transportasi Umum, sejenisnya.”


“Oh.” Bos berjas hitam itu mengangguk paham, “Kau berjalan saja ke arah selatan―ke sana. Ada Halte Bus di sana. Dan sayangnya kau membutuhkan ini ....”


Setelah si Bos berjas hitam menunjukkan jalan ke Halte Bus, dia memberikan sebuah kartu nama ke Ret.


“T-te,” kata Ret, masih gugup dan terbata-bata sambil menunduk dan mengambil kartu nama dengan sesopan mungkin, “te-terimakasih?!”


“Cepat pergi dari sini, oke?” desak Bos berjas hitam itu. “Sebelum Bocah pemilik Wilayah Terlarang ini mengomel tidak menyenangkan.”


Dengan nada mencibir sambil berjalan meninggalkan Ret, si Bos berjas hitam mengenakan kacamata hitamnya.


Lalu, tepat saat Ret mematung di tempat dan seluruh tubuhnya mulai merasa kebas dan kesemutan, si Bos menoleh padanya sambil mengangkat kacamata hitamnya, berkata, “Ah! Jika kita bertemu lagi, panggil saja aku: ‘paman’, oke? Fufufu.”


Ret terkejut sekaligus kebingungan. “O-oke ...!?”


Dan semua bawahan si paman pun tercengang serentak, dan melebarkan mata mereka.


“Huh, Bos?!”


“Brother ...!?”


Ret langsung membungkukkan tubuhnya seperti memberi salam selamat jalan kepada si paman.


Mereka pasti lebih berbahaya dari preman-preman yang mengejarku tadi, pikir Ret, masih menatap kosong ke bawah, tapi apa ....


Ret mematung di tempat sambil melihat punggung lebar orang-orang berjas hitam yang terus menjauhinya.

__ADS_1


“.... Aku benar-benar, selamat?!”


¤¤¤


__ADS_2