Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0

Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0
[B1-25] Merebut Hak Milik Sampah Plastik Sampai - Sampai Harus Ke Meja Hijau (1/5)


__ADS_3

Ret mencoba memastikan kembali, “M-maksudku, cara menukar Prangko Oranye ini dan Informannya―”


“Ng. Tentu,“ tegas Sei, mengangguk ringan, “Aku serius, benar-benar tidak tahu hal itu, Rat.”


Sei menngelengkan kepala dan dengan santainya meminum air, lalu menyimpan kembali gelasnya di atas nampan.


“Maksudku,” kata Ret, mulai gugup, “Aku berlangganan koran untuk mendapatkan Prangko Biru dan si pelayan yang akan―”


“Aku tahu itu. Dan aku hanya mengetahui di mana Prangko akan dijual,” tegas Sei, sekali lagi, ”Hanya itu.”


“Sei,” desah Ret, frustasi, “Masa kamu tidak tahu―Tidak mungkin, kan, aku harus mencari Informan Prangko ini di setiap portal Terminal Mobile World, atau sejenisnya?!”


“Mungkin?! Cih, Rat―Aku bilang: Aku benar-benar tidak tahu! Kalau tentang si Tua So͝oR, aku hanya tahu dia pasti ada di Taman Kumuh Area ini. Tapi, setiap Informan Prangko itu pasti berubah-ubah. Dan Masing-masing dari mereka pasti akan sangat labil dan aneh. Kau pernah mendengarnya juga, kan? Semua Infroman Bayaran itu menyebalkan dan egois seperti penipu.”


Ret terdiam setelah mendengarkan perkataan Sei.


“Uh. Yah. Aku pernah mendengar itu. Sial ... Sebab itulah hal-hal ilegal seperti membeli informasi sangat berbahaya. Jika berlangganan koran lebih mendingan, karena si pelayan yang mengantar biasanya memberi tahuku, tapi ini ....” Ret menunjukkan Prangko Oranye kepada Sei. “.... Jika ini, bagaimana?!”


Sei menutup mata sambil menggelengkan kepalanya,


“Aku, kan, sudah bilang," tegas Sei, Aku tidak tahu.”


Ret menyimpan Prangko Oranye yang terbungkus kantung plastrik di atas meja di sampingnya.


“Uh. Jadi kamu serius, huh.”


“Ng. Jadi ....”


“Huh?!”


“.... Apa kau menyerah menyembuhkanku, Rat?”


Wanita itu menyandarkan punggungnya ke diding sambil menolehkan kepalanya ke Ret.


“Aku ....” kata Ret, terdiam kebingungan. Tidak tahu harus melakukan apa lagi. Tidak mungkin aku menggunakan mesin penjual obat otomatis di Kombini, huh.


“Ng?!”


“Aku akan mencari tentang Informan Prangko ini nanti. Mungkin saat aku mendaftar ke Perguruan, ada seseorang yang bisa dipercaya.”


Sei mengerutkan kening setelah mendengar jawaban Ret.


“Perguruan?! Apa kamu mau menguasai suatu beladiri? Untuk apa?”


“Uhh..... Kudengar dari si S-apa-itu, jika mau masuk Unit atau Sekolah Justice-man, menguasai satu beladiri akan mendapatkan nilai tambah.”


“Ng..... Kalau yang seperti itu sih, mungkin saja. Tapi yang paling penting itu―”


Sei motong perkataannya sendiri. Dia menggelengkan kepalanya, lalu terdiam.


“Yang ‘paling penting itu’?” Ret mencoba memancingnya. “Apa itu?!”

__ADS_1


Tetapi Sei dengan tegas menggelengkan kepala. “Bukan apa-apa.”


“Ayolah..... Apa itu―” kata Ret. Namun, saat dia melihat tatapan si wanita semakin tajam, dia mengalihkan pembicaraannya dengan gugup, “Ah―A-aku ingin bertanya tentang sesuatu yang aneh belum pernah kudengar dari pendidikan dasar di Panti Asah maupun di buku tebal ini.”


Ret menepuk buku tebal di atas meja di sampingnya dengan canggung. Tetapi Sei masih terdiam.


Lalu, Wanita itu bertanya, “Apa itu?” dengan suara lemah sambil mengedipkan matanya.


Ret menjawab, “Left, Right Point ... apa itu, ya, kata mereka.”


Dengan ringkas, Ret menceritakan kejadian matinya kamera pemantau dan terjebaknya dirinya di tengah-tengah Area wilayah para sultan.


“Hahahaha.” Sei tertawa kosong seperti mengasihani Ret yang telah terjebak seperti tikus kecil. “Aku kira kau mau bertanya apa―Kau ingin mendapatkan informasi gratis dariku, ng?”


“Itu,” kata Ret, bermuka suram. “Jika aku harus membayar―”


“Preman-preman itu,” jawab Sei, langsung memotong perkataan Ret, “Hanya menggunakan Trinitas Point.”


“Tri-apa-tas?!” kata Ret, kebingungan dengan istilah baru, “Untuk apa kedua poin itu?”


Sei mulai menjelaskan, “Trinitas Point ... adalah 3 Poin utama yang diperoleh manusia selama hidup, dan terdiri atas: 1. Right Point atau bisa disebut point kebaikan. 2. Middle Poin, bisa disebut juga point kehidupan, di mana setiap Kredit yang kamu peroleh dari Sistem Dunia selama hidup akan bertambah ke Middle Point.”


Ret terdiam dan mengerutkan keningnya.


“Dan yang terkahir: 3. Left Poin, yakni alasan mengapa ‘kriminalitas’ dilegalkan oleh ‘mereka’ ...” Wanita itu berhenti sejenak, seperti sedang kelelahan. “dan dinamakan juga, poin kejahatan.”


“Tapi ....” Ret bertanya, “Berbeda dengan ‘kejahatan’ yang kau lakukan, kan, Sei?”


Setelah dengan jelas mengerti semua penjelasan Sei, Ret mengerutkan keningnya semakin dalam.


“Masih ada penjahat di atas para penguasa gelapnya malam?!”


“Ng. Mereka disebut: ‘Mafia’. Mereka menguasai seluruh waktu dan wilayah. Para preman dan ganster pun tidak ada yang berani menaikkan kepalanya saat bertemu mereka, dan kriminalitas manapun tidak ada yang berani untuk menginjakkan kaki di wilayah kekuasaannya.”


“Gangster sama sekali tidak berani menginjakkan kaki mereka di wilayah para ‘Mafia’?!”


“Ng.”


Saat Sei mengangguk diam, Ret menyadari sesuatu.


Jadi, si paman yang kutabrak itu, pikir Ret, melebarkan matanya. “Mungkin. Mereka yang disebut ‘Mafia’ itu ... selalu memakai jas dan kacamata―atau topi hitam?”


Dia spontan bertanya seperti itu sambil menyentuh dagunya, seperti sedang mengingat sesuatu.


“Iya. Beberapa dari mereka sering berpakaian seperti itu ... Bagaimana kau tahu itu? Orang sepertimu yang selalu mencari masalah tidak perlu, jika berada didekat mereka pasti akan lenyap sebelum kau menyadarinya, benar?”


“Uh. Aku tidak selalu mencari masalah. Aku hanya tidak sengaja menabrak―”


“Ng?”


“Tidak. Bukan apa-apa.”

__ADS_1


Ret melambaikan tangannya ke samping secara acuh sambil mengerucutkan bibirnya.


“Cobalah untuk menghindari mereka,” Sei mengingatkan Ret, dengan tegas, “Kalau kau tidak mau mati tanpa mengetahui sebabnya.”


“Oke,” jawab Ret, mengangguk kuat, “Aku mengerti itu―dan jangan berpikir bahwa aku selalu mencari masalah yang tidak perlu!”


“Hahaha.” Sei kembali tertawa kosong, tidak percaya dengan perkataan Ret. “Ng. Baguslah, kalau begitu.”


“Kenapa kamu terlihat sangat tidak percaya?!”


Sei mengangguk-ngangguk ringan.


“Aku percaya-percaya ... Aku percanya.”


Wanita itu menatap Ret sejenak, lalu membalikkan tubuhnya dan berbaring perlahan menghadap tembok.


“Aku mau istriahat sebentar, Rat.”


“Uh. Aku akan mengembalikan nampan ini, lalu memesan makan malam untuk―”


“Tidak perlu.”


“Huh?!”


“Aku bilang tidak perlu. Ini sudah termasuk makan malam juga, kan?”


“Uh. Oke, kalau begitu.”


Ret menyimpan nampan di atas meja, lalu membaca buku tebal di sampingnya sebentar.


Lalu setelah malam yang tak terasa olehnya telah tiba, Ret berdiri.


“Aku akan pergi ke Perguruan dulu sekarang―”


Perkataan Ret terputus oleh suara ketukan pintu depan Ruangan-nya. Dia mengerutkan keningnya dengan dalam saat mendengarnya. Sei yang terbaring pun perlahan duduk bersandar di dinding, menghadap suara ketukan pintu.


“Aku pikir,” kata Sei, mulai curiga, “Kau tidak mempunyai teman, kan, Rat?”


Sei menolehkan kepalanya pada Ret, lalu kembali menatap tajam pintu depan Ruangan mereka.


“Uh,” desah Ret, tetapi dia tetap menggelengkan kepalanya. “Tunggu di sini. Jika mereka orang yang mencarimu, aku akan menahannya sebentar dan kamu bisa lari ke kamar mandi.”


Sei berkata, “Kenapa kamu―”


Ret memotong perkataan Sei dengan isyarat tangannya untuk diam dan berjalan menuju pintu. Dia membuka sedikit pintu depan Ruangan-nya, melihat keluar.


“Huh?!” Ret keheranan.


Dua Anggota Unit Justice-man berpakaian kuning sedang berdiri di laur pintu Ruangan Ret, dan mereka meliriknya dengan tatapan dingin.


Jarang-jarang ada Anggota Unit Justice-man berpangkat paling rendah terlihat olehku di sini, demikian pikir Ret. Dia dengan sangat waspada keluar Ruangan tanpa membuka lebar pintunya.

__ADS_1


***


__ADS_2