Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0

Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0
[B1-53] Perguruan Pencak Silat Itu Terlalu Kuno?


__ADS_3

Ret kembali ke Area.3 dengan saldo Kredit di rekening World Bank-nya sangat banyak. Dia selalu mengakses portal Terminal Mobile World Bank untuk mengecek saldo di akunnya setiap lima menit sekali.


“Tapi 100 Ribu Kredit ini hanya hutangku ke si Sei, huh, sial.”


Pria muda itu melirik layar smartphone untuk terakhir kalinya dengan total saldo rekeningnya masih sebesar: 100.040 Kredit.


Bagaimana caranya aku membayar hutang sebanyak ini, huh, tapi yang terpenting sekarang aku harus mencari jalur lain menuju ke Perguruan Pencak Silat, huh, demikian pikir Ret. Dia kembali sampai di hadapan papan penunjuk jalan Wilayah Penduduk Kelas Menengah.


Aku pikir, aku harus mencari pekerjaan, huh, tapi, pikir Ret, kemudian bergumam, “Pajak penghasilanku akan berlipat ganda setelah aku memasuki Unit Justice-man nanti.”


Peta Area.3 yang masih buram terlihat olehnya di papan tersebut. Ret menggenggam smartphone-nya dengan gugup.


“Aku tidak mau ....“ Berpapasan dengan gangster maupun preman di Area.3 adalah ide buruk untuk Ret sekarang. Karena ada kemungkinan besar gangster yang berurusan dengan Ret sebelumnya telah keluar dari penjara. “.... Kalau sampai―”


Sebelum Ret akan memasukkan smartphone-nya ke dalam kotak pembayaran papan petunjuk Area.3, seseorang bergegas dan menabrak bahunya dari belakang.


“Excaus me, Excaus me!” seru seseorang tersebut, langsung memasukan smartphone-nya sendiri ke lubang pembayaran papan petunjuk Area.3, “Let me first, okey? Bisa biarkan aku duluan?”


Pria muda ber-rambut pirang yang menyela Ret, memiliki aksen dan gelagat aneh. Ret sedikit tidak nyaman saat dia berada di dekatnya.


“What?” tanya si pria muda ber-rambut pirang, “Kau nggak apa-apa?!”


“Uh ...” gumam Ret, tidak mengerti dengan perkataan dan aksen si pria. “Apa?”


Pria muda ber-rambut pirang sebahu itu langsung mengambil smartphone-nya di kotak pembayaran, sembari menggerutu dengan aksen yang tidak jelas―dia mengerucutkan bibirnya seperti sedang mencibir Ret.


Ah! Pria ini, pikir Ret, kemudian bergumam, “Mau ke Padepokan juga, huh.”


Ret memasukkan smartphone-nya kembali ke saku celananya. Dan dia berjalan mengikut si pria pirang.


Jalan yang dulalui Ret sekarang berbeda dengan jalan yang telah dilalui Ret sebelumnya. Dia sama sekali tidak mengetahui si pria ber-rambut pirang di depannya akan ke mana.


Sesekali pria ber-rambut pirang di depan Ret menoleh padanya dengan tatapan curiga. Dan Ret terlalu gugup untuk bertanya padanya yang merupakan orang asing―apalagi dia tidak bisa mengerti dengan bahasa kompleks yang dikatakan si pria ber-rambut pirang.


“Hei―” seru Ret, mengejar si pria ber-rambut pirang. Kenapa kau malah lari?!


Karena hari beranjak tengah malam dan hampir dini hari, Ret dan si pria ber-rambut pirang terus kejar-kejaran sampai memasuki gang yang tidak ada satu pun penduduk sekitar.


Pria ber-rambut pirang itu berhenti bergerak dan menolehkan kepalanya ke belakang. Dia menyatukan alisnya dengan ekspresi yang sangat curiga saat menatap Ret.

__ADS_1


Uhh... Walaupun aku lebih cepat, tapi, pikir Ret, kemudian menyapa pria di depannya, “Hei. Aku hanya ingin bertanya apakah kamu mau ke―”


Sebelum perkataan Ret selesai, si pria ber-rambut pirang berbelok ke kanan di sudut gang. Dan Ret yang baru belok pun sudah tidak melihat lagi pria pirang yang dikejarnya.


Banyak Toko serta Ruko tutup di sisi-sisi gang yang merupakan Distrik.3 bagian Pertokoan. Namun, masih ada satu Resoran di sisi gang tak jauh dari Ret yang masih buka. Lampu menyala di kedua sisi pintu serta pintu-jendelanya, menandakan Restoran tersebut masih buka.


Pria itu masuk ke Restoran ini, huh, pikir Ret, menghembuskan napas kecilnya. Karena ujung dan belokan gang selanjutnya di depanku masih cukup jauh, dia pasti masuk ke Restoran ini!!!


Ret melihat ujung gang dan belokan selanjutnya cukup jauh dari posisinya. Dia cukup cepat saat mengejar si pria pirang.


“Apa aku masuk saja?!” Ret ragu untuk memasuki sebuah Restoran. Uhh... Untuk memasukinya saja aku harus membayar 5 Kredit kalau di Wilayah ini, sial.


Ret menimbang-nimbang terlebih terlebih dulu untuk memasuki Restoran. Karena waktu telah menunjukkan pukul 10.43.32 malam hari, Ret tidak takut akan ada seseorang di sekitarnya. Jika adapun dia akan menyamping dan bersikap serendah mungkin.


Aku tunggu di sini saja, pikir Ret, menggelengkan kepala, kemudian menghembuskan napas beratnya, “Lah ....”


Pria muda ber-rambut hitam itu bersandar di tembok gang di samping pintu Restoran. Dia memainkan smartphone-nya supaya tidak terlalu terlihat mencurigakan.


Keluar dari Restoran dengan perut penuh, si pria ber-rambut pirang sedang mengelus perutnya yang kekenyangan. Namun, dia terkejut saat melihat Ret yang sedang bersandar di tembok gang di samping pintu Restoran.


“Hey! Kau penguntit, fucker!! Kau nggak nyerah mengejarku?! Mau kulaporkan ke Justiceman, hah?”


“Peng-apa-tit?!! Bukan! Aku tidak bermaksud jahat, aku hanya―”


“Aku hanya ....”


Ret dengan tegas memotong perkataan si pria ber-rambut pirang, sambil mengangkat tangannya.


“Aku hanya ingin bertanya sesuatu padamu,” tegas Ret.


Pria ber-rembut pirang itu mengedutkan bibirnya. “Hah?!”


“Aku cuma mau bertanya, apa kamu mau ke Padepokan? Bisa aku ikut denganmu―maksudku, menunjukkan jalan yang sudah kamu catat,” pinta Ret, dengan sedikit gugup.


“Guh ... jika seperti itu kenapa nggak bilang aja saat di papan petunjuk, Kid?” gerutu si pria pirang dengan tidak


jelas.


Aku mau bilang dari awal, tapi, pikir Ret, lalu bergumam, “Kau, kan, yang lari ketakutan dari awal.”

__ADS_1


Pria ber-rambut pirang itu mengangguk-ngangguk konyol.


“If like that, aku oke-oke aja, sih, tapi,” katanya sambil menatap tajam Ret, “But, you know, lha, Pencak Silat itu


bukankah terlalu kuno untuk Era Hiburan ini?! “


“Kuno?” tanya balik Ret padanya, “Kenapa?! Aku pikir mereka menang pada turnamen beladiri terkahir. Dan mereka tidak sombong menaikkan harga untuk pelatihan umum?”


“Tidak ada sedikitpun cool-nya di sana!” Pria pirang itu menggelengkan kepalanya dengan nada mencibir, “I Think, Pencak Silat itu olahraga―martial art yang terlalu tua, you know, which one Negara asalnya saja tidak bisa bertahan dari krisis buatan YES?!”


“Yah ...” gumam Ret, kebingungan. Aku sama sekali tidak mengetahui tentang hal itu.


Pria ber-rambut pirang itu menatap Ret, dengan tatapan menyedihkan.


“By the way, kenapa kau mau masuk ke Perguruan Pencak Silat Distrik.3 ini?” tanya si pria pirang sambil menyilangkan lengannya, “I think, The Dojo Distrik.1 pun, sangat bagus.”


“Karena,” saat si pria pirang menangguk-nangguk sambil menutup mata, Ret menjawab, “Murah?”


“Guh ... Poor People, huh, ternyata kau, Kid.” Pria pirang itu menatap Ret, dengan tatapan simpati yang serius. “Yeah. Tidak ada istilah miskin pada Era ini, but ... Well. Oke, lha, Kid, you can folow me!”


Pria ber-rambut pirang itu menunjukkan jalan menuju Padepokan Pencak Silat Distrik.3 pada Ret. Dan keduanya berjalan berdampingan sembari berbincang ringan dengan nada tidak jelas.


“Bukankah kemarin mereka menang,” tanya Ret padanya, “Di turnamen beladiri per-Distrik terkahir?!”


“Mereka hanya lucky,” cibir si pirang, mengerucutkan bibirnya, “You know, lha, jika si Torna di Gym Distrik.5


tidak cedera karena turnamen sebelumnya ....”


Pria pirang itu terus mencibir dan menggerutu tentang hasil turnamen terkahir.


“Ah! Namaku: Secret, ngomong-ngomong.” Ret memperkenalkan dirinya ke si pirang saat berada tepat di hadapan Bangunan Padepokan yang tidak asing baginya. “Terimakasih sudah menunjukkan jalan padaku, Uhh ...?”


“Rat? Itu nama yang sangat buruk, Kid―My name is Rom.” Pria pirang itu pun memerkenalkan dirinya juga dengan nada aneh nan membingungkan. “Panggil saja aku: Cool-Rom!”


Ret menoleh ke belakang saat mengantre untuk mendaftar.


“Jadi,” tanya Ret, “untuk apa kau mengantre di sini, Rom?”


Rom terkejut dan langsung memalingkan wajahnya.

__ADS_1


“Guh ... Aku,” desah Rom, menatap Ret kembali dengan tatapan sedih, “diperintahkan Father-ku untuk memasuki Unit Justiceman, But, aku nggak mau membuang terlalu banyak Kredit, you know, lha.”


***


__ADS_2