![Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0](https://asset.asean.biz.id/secret---war-of-k-m-dgsp-m4221--locked-oso-0.webp)
Lambang Ü yang tertera di tengah-tengah pintu silver di hadapan Ret, tiba-tiba berputar searah jarum jam 180⁰ dan membentuk kunci gembok. Ia bersinar terang, lalu kunci tersebut terbuka dengan sendirinya dan menghilang begitu saja.
Pintu silver di hadapan Ret dan Sei, terbelah menjadi dua dan menampakkan anak tangga satu jalur ke atas. Cahaya kuning pada lampu darurat dari kedua sisi sudut anak tangga, menerangi anak-anak tangga lainnya menuju ke atas. Meski terdapat cahaya tersebut, anak tangga terakhir dan puncak tangga tidak terlihat oleh mereka berdua.
“Kita naik ke atas sana?” tanya Ret pada Sei. “Ini sungguh terasa aneh untuk disebut Gerbang, huh.”
“Ya.” Sei menjawabnya dengan lemah, “Kita ke pos pemeriksaan, terlebih dulu.”
Ret menaiki tangga sambil menggendong Sei. Dia memijakkan kakinya satu per satu menaiki anak-anak tangga, walau tubuhnya terasa sangat berat.
Sudah ribet begini, masih harus diperiksa, huh, demikian pikir Ret. Dia mendesah pasrah dan menggelengkan kepalanya.
Sesampainya di atas anak tangga, Ret dan Sei disambut oleh seorang gelandangan yang sedang duduk di tanah seolah telah menunggu kedatangan mereka berdua.
Gelandangan itu berdiri dan menyambut mereka berdua dengan senyum menyebalkan.
“Oh~” seru si gelandangan, merentangkan lengannya, “Kau punya mainan baru, Sel―”
Perkataan pria berpenampilan kumal dan mengenakan pakaian kucal di hadapan Ret, terpotong oleh tatapan tajam Sei yang seolah dia mengatakan: Diam! Yang tertulis jelas pada wajahnya.
“Aku akan langsung ke intinya saja,” kata Sei, masih menatap tajam si gelandangan. “Buka―Ng.... di Penginapan mana kau tinggal, Rat?”
“Uh....” desah Ret, mulai merinding saat merasakan tatapan tajam wanita di punggungnya.
Apa aku pulang ke rumah saja? Ah. Itu tidak mungkin, ‘mereka’ pasti sedang menyerang seluruh kediamanku. Aku akan biarkan orang-orang bodoh itu membereskan sisanya saja, lah, demikian pikir Sei. Dia memutuskan untuk bersembunyi di Penginapan Secret.
“Ng.” Sei mengangguk setuju dengan gagasannya sendiri. “Di mana?”
“Ah,” seru Ret, tersadar kembali. “Di Area.0, Penginapan di pinggiran barat Distrik―Area itu.”
Sei menatap si gelandangan. “Kau dengar itu, bodoh?”
Walaupun si wanita di punggung Ret, berkata dengan lemah, kedua pria di sekitarnya masih merasakan ketegasan dalam setiap perkataannya.
“Oh~Ok, ok.” Gelandangan itu sedikit terlihat ketakutan, tetapi langsung bisa menegaskan ekspresinya kembali. “Di sana daerah si Roy, kan?”
Merasa si gelandangan bertanya padanya, Ret hanya menggangguk diam walaupun dia tidak bergaul dengan gelandangan manapun.
Gelandangan itu memainkan smartphone dan menyodorkan layar smartphone-nya ke wajah Ret.
“Kredit lagi?!” Ret terkejut saat melihat layar smartphone si gelandangan. “Sial.”
Ret menghela napas frustasi saat menyatukan layar smartphone-nya ke layar smartphone si gelandangan.
“Berapa,” bisik Ret pada Sei, “Kredit itu?”
“Aku sudah bilang, kan, dari awal,” dengan santainya wanita di punggung Ret, menjawab, “Masuk Gerbang Penyelundupan membutuhkan 10 Kredit saja. Ini cuma menambah 5 Kredit saja, kenapa, sih, kau sangat―”
__ADS_1
“Tidak,” bantah Ret, menoleh ke belakang, “Total 25 Kredit yang sudah aku gunakan.”
“Ng?” Sei menatap tajam Ret. “Itu hanya 25 Kredit, bodoh. Lebih baik daripada kita semua dipenjara―Atau mungkin lebih buruk dari itu, huh?”
“Uh,” desah Ret, pasrah dan hanya bisa menggelengkan kepalanya. “Okelah. Kamu benar.”
Saat Ret berkeluh-kesah, lantai di bawah mereka semua bergetar. Lalu tanah tersebut robek dan memunculkan sebuah pintu dari bawah tanah.
“Oke,” kata si gelandangan, membuka pintu itu, “Kalian bisa masuk. Pintu ini akan langsung menuju ke halaman belakang rumah si Roy―”
“Huh?” seru Ret, terkejut antusias, “Apa itu Legenda Pintu Kemana Saja?!”
“Tidak ada yang namanya ‘Pintu Kemana Saja’,” kata Sei, “Itu hanya gate biasa. Pintu aneh itu hanya ada di manga, bodoh.”
“Uh.” Ret berkata, “Hanya gerbang satu arah?”
“Ya~” jawab si gelandangan, “Kalian bisa masuk sekarang.”
Ruang kosong bidang pintu persegi panjang di hadapan mereka semua, tiba-tiba memunculkan aurora berwarna silver-hitam seperti liquid aneh yang terus bergerak.
“Kita langsung masuk, Sei?”
“Ng.”
Saat Ret dan Sei masuk ke Gerbang Penyelundupan, si gelandangan di belakang mereka berdua tertawa kecil.
Mengiringi ejekan si gelandangan penjaga Gerbang Penyelundupan, Ret melangkah masuk ke liquid berwarna aneh di hadapannya.
“Ini pertama kalinya aku memasuki gate,” gumam Ret, takjub. “Sekarang kita berada di Area.0?!”
“Ng.” Sei menggangguk lemah.
Ret melangkah keluar gate, dan liquid silver di belakangnya langsung menghilang. Dan dia dan Sei langsung melihat seseorang sedang berbaring di hamparan kardus menghadap pintu.
“Dia yang bernama Roy?” tanya Sei.
Ret menggelengkan kepala. “Aku tidak tahu.”
Mereka berdua memperhatikan sekitarnya. Gubuk kecil di mana si gelandangan lain sedang berbaring di kardus dan memainkan sebuah smartphone.
Gelandangan itu berdiri dan menolehkan tubuhnya, lalu berkata, “Kalian sudah datang,” dan menghadap Ret dan Sei.
Gelandangan yang bernama Roy ini sedikit terlihat lebih baik dari gelandangan sebelumnya. Namun, dia berwajah apatis dengan tidak satu detik pun melepaskan pandangannya dari layar smartphone dipegangnya.
Lalu, si gelandangan tiba-tiba tersenyum dan menatap kosong kedua orang di hadapannya.
“Ikuti aku,” kata si gelandangan Roy, membuka pintu Gubuk.
__ADS_1
Mereka semua keluar dari Gubuk Kecil terbuar dari bambu, dan Ret melihat wilayah tak asing baginya: Distrik.2―Area.0 Tempat di mana dia tinggal.
Kita di Taman Kumuh pinggiran Area ini, huh, demikian pikir Ret.
“Aku mendapatkan Kredit lumayan banyak, oh~” gumam Roy, menatap layar smartphone-nya. “Dan aku hanya perlu dipukuli oleh beberapa gangster, ah~”
Ret dan Me mendengar gumaman si gelandangan. Seolah si gelandangan bernama Roy itu tidak sabar untuk dipukuli oleh para gangster.
Roy sangat terlihat bahagia dan bergairah namun dengan wajah apatisnya tidak berubah sama sekali.
Mereka semua berjalan dan keluar dari wilayah Taman Kumuh, lalu menuju ke Penginapan Area.0 di mana Ret menginap.
Taman Kumuh di belakang mereka semua sangat sepi dan sunyi tanpa ada seorang pun yang berlalu-lalang. Karena sudah hampir tengah malam, hanya ada beberapa gelandangan dan pengemis yang berbaring di tanah maupun di kursi taman.
Lalu Bangunan Penginapan bagian belakang terlihat oleh mereka semua. Gelandangan itu pun menuntun Ret dan Me ke pintu belakang Bangunan Penginapan.
Namun, Roy tidak menuju ke pintu belakang apalagi pintu depan, dia malah menuju ke toilet umum berbentuk persegi yang terbuat dari kayu.
“Kau itu Rat, kan?” tanya Roy, membuka pintu toilet. “Kalau aku tidak salah, itu namamu, 'tikus besar'? Hahahaha.”
“Uh. Seperti ini lagi. Ayolah,” desah Ret, menggelengkan kepalanya. “Namaku Sec―Panggil saja aku: Ret!”
Walaupun tawa apatis si gelandangan membuat Ret sedikit jengah, dia masih memasuki toilet yang ditunjukannya.
Saat Ret dan Sei yang digendongnya memasuki toilet, wc-duduk di dalamnya tenggelam dan dinding di hadapan mereka semua terbelah, menampakkan anak tangga menuju ke atas.
“Anak tangga lagi?!” desah Ret, merasa jengkel. “Uh ....”
Ret manaiki anak tangga untuk kedua kalinya, dan Roy menutup pintu sambil melihat portal berita di smartphone-nya.
“Ugh....” Gelandangan itu mengerutkan kening, “Kenapa para gangster Area.3 harus―”
Perkataan jengah Roy teputus saat pintu tertutup, tetapi Ret terus menaiki anak tangga. Namun, dia dan Me cukup penasaran.
Ret dan Sei serentak menolehkan kepala mereka ke belakang, saat mendengar Roy sedang menggerutu di balik pintu. Dan pintu tersebut tiba-tiba terhalang oleh dinding toilet yang menutup kembali seperti semula.
Ret menaiki anak tangga dengan langkah berat. Dan dia beberapa kali berbelok, lalu sampai di jalan buntu.
Tak jauh di hadapannya hanya ada dinding bata, yang saat Ret terus berjalan, seolah telah diprogram oleh si gelandangan, dinding tersebut tiba-tiba terbalah dua dengan sendirinya.
“Kamar mandi ruangan yang kupesan?!” Ret melihat kamar mandi yang tak asing baginya.
Hampir tengah malam, Ret baru saja kembali ke Ruang Penginapan yang dipesannya. Sei yang sedari tadi diam, tubuhnya pun terus melemah.
Ret kemudian memasuki ruangannya, keluar kamar mandi, dan menurunkan Sei di atas tempat tidurnya. Walaupun aku menyebutnya ini menyewa ‘ruangan’ ....
“.... Tapi Ini,” gumam Ret, meneguk ludahnya sendiri, “Bisa disebut ‘kamar’ juga, kan?!”
__ADS_1
***