![Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0](https://asset.asean.biz.id/secret---war-of-k-m-dgsp-m4221--locked-oso-0.webp)
Pramusaji di Ruang Makan Penginapan sedang mengangguk ringan saat melihat kedatangan Ret. Dia duduk di kursi meja makan yang biasa Ret duduki, sembari menopangkan pipinya ke kedua telapak tangannya seperti
sedang menunggu dirinya.
“Kau sudah tidak bau lagi, Rat.” Pramusaji itu mengangguk-ngangguk seraya tersenyum bahagia, “Bagus-bagus ....”
Hanya ada beberapa pengiap sedang makan yang berada di Ruang Makan. Dan Ret duduk di kursi meja makan sebrang meja tempat duduk si pramusaji.
Pramusaji itu terus tersenyum-senyum dengan tatapan aneh pada Ret. “Kau ingin memesan sesuatu, Rat? Koki kami sebentar lagi mau istirahat, katanya.”
“Uh. Aku pesan dua telur rebus dan satu roti saja.” Ret mengangguk ringan sambil memainkan smartphone-nya di bawah meja makan.
Berdiri dan menuju ke dapur, si pengemis berkata padanya, “Oke~Tunggu sebentar, Rat.”
Masuk ke Ruangan-nya membawa makanan, Ret melihat Sei sedang duduk bersandar ke dinding Ruangan sambil menggenggam sesuatu yang bercahaya.
A-apa, pikir Ret, melebarkan matanya, terkejut, “Itu ...?!”
Walaupun Ret tercengang, dia tetap mempertahankan ketenangannya.
“Ini,” kata Ret, menyodorkan nampan berisi makan malam kepada Sei, “Kita bagi dua seperti―”
“Tidak usah,” tolak Sei, menggelengkan kepalanya, “Untukmu saja ....”
“O-oke," sahut Ret yang hanya bisa mengangguk ringan dengan canggung, "kalau begitu.”
Pria itu ingin bertanya mengapa Sei menggenggam suatu cahaya yang aneh. Namun, di balik masker Sei, terdapat wajah yang serius dan agak menakutinya. Dia hanya terdiam sambil meminum air di dalam gelas kayu.
Wanita ini sangat menyeramkan, sial, aku sama sekali tidak bisa menebak apa yang dipikirkannya, demikian pikir Ret. Dia hanya bisa menghembuskan napas beratnya, lalu melahap dengan utuh satu telur kuning.
Ret menghentikan tangannya saat akan merobek sebuah roti kering.
“Apa itu, Sei?” tanyanya sambil menolehkan kepalanya melihat cahaya biru dipegang Sei.
Sei tidak langsung menjawabnya. Dia menutup mata, lalu membukanya kembali seraya berkata, “Seperti yang sudah kujelaskan sebelumnya. Pertama, yang perlu kau lakukan adalah pengintaian dulu―Banyak hal yang harus kamu pelajari setelah pengintaian ini, ngomong-ngomong, apa kau serius mau bisa menculik seseorang, Rat?”
Uh. Tidak mungkin aku tidak serius. Pastiaku akan sangat, pikir Ret, kemudian berkata, “Serius, lah. Aku sangat ingin menyelamatkan saudari Me.”
“Ng...” gumam Sei, mengangguk ringan, “Kalau begitu, ambil ini.”
Ret mengerutkan kening.
__ADS_1
“Cahaya biru itu ternyata dari batu?! Untuk apa batu ini, Sei?”
“Sebelum kau mengeksekusi―menculik―maksudku, benda itu sangat langka dan berharga."
Ret memperhatikan batu bercahaya biru dinganggamannya dengan seksama. Batu yang lebih seperti kaca transparan dengan bulatan cahaya biru melayang di dalamnya.
Jadi ini, pikir Ret, terus melihat batu bercahaya dipegangnya. “Untuk apa, Sei, ini?”
“Pengintaian itu sangat sulit, Rat," katanya.
Ret mengangguk. “Iya, aku tahu, Sei, tapi ini batu untuk apa?”
Pria muda itu dengan acuh melambai-melambai dan menggoyang-goyangkan Batu-Biru dipegangnya.
“Karena kemungkinan besar kau akan tertangkap,” jelas Sei, menyeringai lebar saat melihat Ret menggerakan
Batu-Biru dipegangnya dengan sembrono, “Batu-Biru itu untuk meledakan dirimu sendiri―”
“A-apa?!” jerit Ret, langsung mengerti apa yang dijelaskan wanita itu. "Hei!! Kau serius, Sei?! Sial, beritahu aku dari awal, sialan.”
Ret titba-tiba langsung merubah sikapnya dengan memegang Batu-Biru menggunakan kedua telapak tangannya dengan sangat hati-hati.
Lalu, wanita itu memberi penjelasan keguaan Batu yang terus dipegang Ret dengan sangat hati-hati.
“Sei, ini,” kata Ret, meyodorkan Batu-Biru ke Sei, dengan sangat hati-hati, “Aku sangat ceroboh. Bagaiman kalau ini
meledak di sini?”
“Hahaha...” Sei kembali tertawa kosong, lalu berkata, “Tidak apa. Paling, kita berdua menjadi cincangan daging bersama Penginapan ini―pegang saja itu, atau masukkan ke tas, karena Batu-Biru itu harus kau bawa kemanapun kau pergi, Rat.”
“Uhh...” desah Ret, frustasi, “Aku akan memasukkannya ke Tas-ku, kalau begitu.”
Setelah Ret diberi Batu-Biru, Sei menjelaskan kegunaan dan cara mengganakan Batu tersebut. Dan dilanjutkan dengan tahap per tahap cara untuk menculik seseorang secara kasar.
Hal pertama yang Sei terus tekankan kepada Ret, adalah pengintaian. Tanpa hal pertama tersebut, penculikan akan pasti berakhir dengan kegagalan.
“Batu-Biru itu sangat berguna tergantung cara menggunakannya―Namun memang pada dasarnya, Batu itu memang alat untuk meledakkan diri.”
Uhh. Aku tidak mau meledakkan diri ... Dia berkata dengan santainya tentang bom bunuh diri, huh, seperti diharapkan dari *******, demikian pikir Ret. Dia menghembuskan napas beratnya sebelum memasukkan Batu-Biru ke dalam Tas Punggung-nya.
Sei memperingatkan Ret, dengan tegas, “Instruksi, dan cara menculik orang yang kuajarkan padamu, jangan sampai kau gunakan untuk menculik anak-anak!”
__ADS_1
”Aku bukan lolicon, sial,” gerutu Ret. Tidak mungkin orang cacat sepertiku melakukan kriminalitas ilegal seperti ini,
kalau tidak ada tujuan lain di dalamnya, huh, lanjutnya bergumam, “Aku hanya tidak mau memiliki hutang budi.”
“Ng.” Sei mengangguk mengerti. “Itu terserahmu. Namun yang jelas, jika kau menggunakan ini untuk menculik anak-anak, aku yang akan meledakkanmu, Rat.”
“Aku tegaskan sekali lagi,” tegas Ret, mencondongkan tubuhnya ke Sei, “Aku itu bukan―”
“Ng.” Sei mengangguk ringak kembali. “Oke. Aku mengerti kau bukan lolicon―tapi jika mau ke Wilayah lain, jangan melewati Gerbang Perbatasan, dan lewat gorong-gorong saja.”
“Huh?!” Ret menggelengkan kepalanya dengan kuat, menolak ide Sei. “Tidak mungkin! Ada Tikus Besar di sana!”
Di balik masker hitam Sei, senyum dan tatapan cibiran tepat mengarah ke arah Ret.
“Yah ... Rat ... Untuk apa aku memberimu Batu-Biru itu, kalau bukan untuk menjaga dirimu sendiri―pikirkanlah sendiri bagaimana cara menggunakannya. Ia bisa menjadi senjata mematikan kalau kau berpikir sedikit,” jelas Sei.
Ret mendesah pasrah, “Uhh ... Kau benar.”
Wanita itu kembali memunggungi Ret, dan berbaring menghadap dinding Ruangan.
Setelah melihat Sei terdiam, Ret membaca buku tebal di atas mejanya. Lalu, tapat saat waktu sudah menunjukkan pukul 10.00.52 malam hari, Ret berdiri dari kursinya.
“Aku akan daftar ke Perguruan Pencak Silat terlebih dulu, kalau begitu,” kata Ret pada Sei yang masih memunggunginya.
Pria itu berjalan menuju ke pintu depan Ruangan-nya begitu saja.
“Rat, kalau kau hanya ingin bisa menguasai beladiri ....”
“Huh?!” Ret menolehkan tubuhnya kepada Sei yang perlahan duduk bersandar ke dinding dan menghadap padanya. “Apa, Sei?”
“.... Tidak. Lupakan.” Sei menutup mata sambil menggelengkan kepalanya. “Aku hanya ingin menegaskan: Menculik itu tindakan kejahatan yang lebih keji dariada pembunuhan. Ingat itu, Rat―”
“Aku tahu itu.” Ret berkata dengan nada yang sangat tegas, “Aku tahu, Sei, aku jelas tahu tentang itu.”
Setelah Sei berkata hal yang sama seperti si Informan Prangko Biru sebelumnya, Ret menggertakan giginya dan keluar Ruangan-nya.
Sei menggelengkan kepalanya sedikit dan kembali berbaring menghadap dinding.
Aku hanya ingin memperingati orang cacat sepertimu, pikir Sei, lalu bergumam, “Bodoh ....”
***
__ADS_1