Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0

Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0
[B1-5] Untuk Kedamaian Dunia (1/4)


__ADS_3

“.... Aku mau ke Area.3 sekarang,” kata Rat kepada seorang koki di depan pintu Dapur Penginapan. “Bisa memasak makanan untukku lebih awal?”


Koki itu sedang berjongkok sembari menikmati rokok di mulutnya, lalu meniupkan asap rokok padanya.


“Kau mau pesan apa? Seperti yang biasa kau pesan saja, huh?”


“Ya. Sup mengerikanmu yang biasa.”


“Huh. Oke. Tunggu 5 menit.”


Melihat si koki mematikan rokoknya dan berjalan memasuki dapur, Ret pun menuju ke Ruang Makan.


Ret tidak bisa pergi tanpa makan karena jika dia melewatkan jam makan, dia tidak akan diberi jatah makanan pokok yang telah dibayarnya beserta Ruangan. Jika Ret ingin makan di luar jam makan, dia harus memesan makanan kembali dengan biaya normal.


Setelah melewati sakit yang cukup panjang, membuat Ret sangat menghargai Kredit dan makanan.


Aku tidak mau jika sampai minus 100 Kredit lagi, bulan ini, demikian pikir Ret. Seperti biasa, dia memainkan smartphone-nya saat menunggu makanan datang.


Tak lama, si koki membawa hidangan tanpa salad mayo yang biasanya dia pesan. Hanya ada satu roti dan sop kuning dengan wortel mengambang yang dihidangkannya di meja makan Ret.


Saat waktu menunjukkan pukul 19.23.04 malam hari, Ret sudah keluar dari Ruang Makan dan pergi menuju ke Wilayah Penududuk Kelas Menengah.


Dia melewati berbagai macam penduduk sedang menikmati istirahat malam di luar Bangunan maupun Rumah Penduduk. Para preman sudah tidak terlihat pada malam hari, karena hanya ada beberapa gangster yang menatap tajam Ret.


Namun, selama dia tidak mengganggu mereka, tidak akan ada yang menyerang sesama klaster penduduk.


Meskipun tidak ada yang menyerang, Ret tetap gugup dan bergumam, “Sudah lama aku tidak keluar malam hari. Ternyata mereka masih menguasi gelapnya malam, huh, dan ....”


Para gelandangan berada di antara pengemis yang tertidur di emperan toko, bangku, serta di luar gang-gang kecil.


Seperti biasa, pikir Ret, Jangan menatap mereka. Dan jika ada suara, aku harus lari ....


Namun, selama perjalanan ke Wilayah Perbatasan Klaster Penduduk, tidak ada yang menyerangnya. Dari jauh dia melihat berbagai klaster penduduk sedang mengantre untuk keluar-masuk Area.

__ADS_1


Sesampainya dia di perbatasan antara Wilayah Penduduk Kelas Menengah dengan Wilayah Penduduk Kelas Bawah, Ret mengantre sebentar di gerbang. Karena dia datang malam hari, tidak banyak penududuk yang belalu-lalang di sekitar perbatasan. Bahkan pengemis pun sudah menghilang di sekitar gerbang.


Hanya ada satu penjaga gerbang perbatasan wilayah Area yang sedang menguap.


Ret dengan enggan mengeluarkan smartphone dan memasukkannya ke kotak hitam. Kotak hitam itu memancarkan sinar cahaya biru yang menandakan biaya masuk telah tertransfer.


Lalu, Gerbang Perbatasan di hadadapannya terbuka, dan Ret memasuki wilayah Area.3 dengan enggan.


Ret masih ingat letak Panti Asuhan tempat dia dibesarkan. Namun, dia tidak pernah tahu satu pun tempat Perguruan, Dojo, Gym, atau sejenisnya.


“Apakah tempat itu masih ada?” gumamnya sambil melihat sekitar. “Walaupun Area ini sedikit berubah, aku ....”


Besar di pinggiran Distrik―Area mengakibatkan dia kekurangan dalam banyak hal. Tetapi meski kekurangan dalam banyak hal, Ret masih memisahkan diri dari anak-anak Panti Asuhan lainnya, setelah dia membayar beberapa Kredit atau bisa juga disebut upeti ke Sistem Dunia.


.... Pasti masih ingat, tidak mungkin aku lupa tempat itu, demikian pikirnya.


Berbeda dengan Bangunan kayu dan beton putih di Area.0 yang merupakan wilayah penduduk kelas bawah, di Area.3 terdapat banyak Bangunan bertingkat dan Toko yang cukup tertata dan berderet rapih.


“Kalau tidak salah, di sekitar sini,” gumam Ret, memperhatikan sekitarnya.


“Area ini benar-benar tidak berubah, huh,” gumam Ret.


Dia sampai di hadapan papan petunjuk di pinggir jalan yang berisikan peta besar menggambarkan situasi terkini Area.3, tetapi peta tersebut buram.


“Aku tidak pernah berlangganan portal World Maps, huh,” gerutu Ret, memasukkan smartphone-nya ke suatu lubang persegi panjang di bawah papan petunjuk itu. Lalu lubang itu bersinar biru dan Ret menarik smartphone-nya kembali, “Portal itu cukup mahal. Itu hanya untuk para petualang.”


Ret melihat papan yang tadinya buram menjadi cerah dengan jalur-jalur berwarna merah yang menghubungkan ke berbagai tempat dan sampai ke perbatasan-perbatasan Area lainnya.


Panti Asuhan Area.3 tempat Ret pernah tinggal, berada di pinggiran Distrik. Sedangkan Perguruan Pencak Silat berada di utara.


Perguruan itu cukup jauh, demikian pikirnya. Dia mendongak sambil menautkan alisnya, memperhatikan dengan seksama jalur yang harus dia lalui.


“Kenapa juga harus ada Bangunan di kaki gunung?” gerutu Ret, mengeluarkan bolpoin dan kertas.

__ADS_1


Minus 2 Kredit saldo rekining bank-nya membuat Ret bergegas mencatat jalur yang harus dilauinya. Dengan tidak bisa mengakses Gps Area karena berbeda kependudukan, dia harus melihat papan petunjuk jalan selama 2 menit.


Kemudian dia menulis arah yang harus dilaluinya, dan bergumam, “Aku harus masuk pegunungan, huh.”


Area Perguruan itu berada di kaki gunung yang mengitari Distrik.2. Karena Distrik.2 merupakan salah satu wilayah dengan gunung-gunung besar yang mengitarinya.


Aku tidak pernah memasuki pegunungan. Apa tidak apa, uh, demikian pikirnya, sedikit gugup.


Ret melihat jalur yang melalui gang-gang kecil, dan mencatatnya. Dia memilh jalur tercepat untuk menuju ke Perguruan Pencak Silat.


“Jalur ini lebih cepat?” kata Ret, selesai mencatat. “Aku akan melawati jalur ini saja, kalau begitu.”


Dia berbalik, dan pergi menuju Perguruan Silat dengan mengikuti jalur yang telah dicatatnya.


Barjalan melewati jalan besar, dia melihat toko-toko cukup mewah berderet di pinggir jalan.


Lalu Ret melihat area yang cukup luas di sampingnya setelah deretan toko tersebut berakhir. Area kuda pacu dengan kandang kudanya di samping, serta log-log kayu bertumpuk di tempat penyimpanan kayu sederhana di samping kandang kuda.


Aku akan berlari sampai sini. Kurasa, jarak sejauh ini cukup, demikian pikir Ret, melihat jalur yang telah dicatatnya di kertas.


Menandai area kuda pacu itu untuk jadi tempat berhenti berlari di kertas, dia lanjut berjalan.


”Lari 2 kali sehari bolak-balik Area, ditambah rutinitas harianku,” gumam Ret, sambil melirik tumpukan log-log kayu besar di sampingnya, “Kurasa itu hebat.”


Saat dia masuk gang dan di belokkan gang pertama, dia melihat seorang wanita sedang dikerumuni oleh 3 anggota gangster. Wanita itu terpojok di tembok gang dengan ekspresi panik, ketakutan, serta bajunya terdapat banyak robekan sayatan, dan menampilkan tubuh menggodanya yang terdapat luka kecil.


“Uh. Sial,” geram Ret. “Kenapa aku harus melihat yang seperti ini?”


Namun, Ret tidak ingin terlibat, jadi dia mencoba untuk berbalik sambil berdecak kesal.


“Apa yang kau lihat, Bocah?” tanya salah satu anggota gangster yang bersandar di tembok gang. “Ini ******* yang kami pesan, pergilah. Atau kau mau bergabung, Ha?”


Ret menghentikan langkahnya, saat mendengar si gangster berbicara padanya.

__ADS_1


Uh, kenapa juga aku harus berurusan dengan mereka, demikian pikirnya, sedikit menoleh ke belakang.


***


__ADS_2