![Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0](https://asset.asean.biz.id/secret---war-of-k-m-dgsp-m4221--locked-oso-0.webp)
Wajah persegi Nok yang berkulit kuning langsat, tersinari mentari pagi dengan rambut panjang sebahunya serta mata biru yang menatap tajam Ret seolah dia bertanya serius padanya.
Uhh ... Apa aku memang terlihat seperti itu, ya, demikian pikir Ret. Dia gugup dan meminum air dalam gelas senk sambil memalingkan wajahnya.
Perawakan Nok yang seperti penjahat murni, membuat Ret gugup setiap dia bertanya padanya.
Nok tersenyum lebar. “Aku hanya bercanda, Ret.”
Kemudian tanpa menunggu Ret, dia berdiri dari kursi meja dan berbalik. Nok berjalan sambil meregangkan tangannya ke atas, dan menoleh kebelakang.
“Apa yang kau lakukan di situ?” tanya Nok, menghentikan langkahnya. “Ayo kita ke Tempat Kebugaran! Kalau kita cepat menyelesaikan ini, cepat pula kita akan beristirahat.”
“O,” sahut Ret, berdiri dari kursinya dan berlari kecil menuju ke Nok, "o-oke!"
Para budak yang telah selesai sarapan, tidak ada satu pun instruksi dari siapa pun. “Anehnya, dari tadi aku tidak bertemu dengan manusia―selain budak, maksudku.”
Ret menggumam seperti itu, setelah berjalan di samping Nok.
“Tidak akan ada manusia selain kita, para budak di Penampungan Budak ini,” gerutu Nok, mengusap perutnya seperti merasa masih lapar, “Aku bahkan tidak pernah melihat manusia, selain kita, para budak dan si Tuan Pasar budak setahun di sini.”
Ret merasa heran dengan situasi tersebut. “Kenapa? Bukankah orang-orang yang memasak hidangan tadi manusia?!”
Nok tidak menjawab langsung pertanyaan Ret. Dia mengerucutkan bibirnya setelah melihat sesuatu yang cukup jauh di depannya.
Uh. Di sini kita juga harus mengantre, kurasa, demikian pikir Ret. Dia terus menggerutu dalam hati, sambil menunggu jawab Nok.
Di hadapan mereka berdua, antrean panjang kembali terlihat. Namun, berbeda dengan antrean sebelumnya yang menuju ke luar Ruangan dan sangat panjang, antrean di hadapan mereka berdua sekarang tidak lebih dari sepuluh orang budak yang menuju pintu besi berwarna silver.
Mereka semua sedang menunggu giliran per kelompok untuk memasuki sebuah Ruangan.
“Tempat ini―Penampungan Budak―maupun Pasar Budak itu sendiri sudah termasuk ke klaster wilayah di atas Wilayah Penduduk Kelas Atas, kau tahu,” jelas Nok, menginjakkan kakinya di antrean paling belakang, “Jadi ....”
“Ya. Aku pernah mendengar itu!” sahut Ret, mengangguk mengerti, “Aku pernah mendengar kalau Wilayah Penduduk Kelas Atas serta Wilayah klaster kependudukkan di atasnya tidak ada pelayan manusia―di Toko maupun Pelayanan Umum lainnya, maksudku.”
Nok mengangguk. “Yap. Semuanya sudah disistemasi oleh YES.”
__ADS_1
Saat dia mencibir seperti itu, semua budak di sekitarnya melirik dan menatap tajam dirinya. Nok hanya menjawab semua tatapan para budak tepat padanya dengan mengangkat dagu―melihat dengan pandangan rendah para budak tersebut.
Nok menyipitkan matanya. “Hah ...? Apa kalian ada masalah denganku?”
Semua budak di sekitarnya langsung memalingkan pandangan mereka dari Nok.
Melihat sikap semua orang di sekitarnya berubah hanya dengan satu gerakan pria di depannya, Ret berbisik padanya, “Apa kamu pemimpin di Penampungan Budak ini, Nok?”
Walaupun dia berbisik dengan tenang, perkataan Ret yang masih sedikit gemetar dan gugup tidak bisa disembunyikan olehnya.
“Tidak ada yang namanya pemimpin di sini,” kata Nok, menyilangkan lengannya. “Semua orang berdiri dengan kekuatannya masing-masing.”
Dia menatap tajam kelompok berikutnya yang masuk ke Pintu Besi cukup jauh di hadapannya.
Uh, aku tahu mereka para ‘Mafia’ pasti, pikir Ret. “Sangat kuat, huh.”
“Ng?! Ada Apa, Ret?”
“Tidak―maksudku, mereka pasti tahu seberapa kuatnya dirimu, huh.”
“Aku bukan orang gila yang menyerang tanpa alasan, Ret.” Dia menepuk bahu Ret, lalu berbalik kembali mengantre. “Tenang saja―aku tahu mana kawan; mana lawanku.”
Menyilangkan lengannya kembali, Nok menunggu kelompok budak yang masuk Pintu Besi dan kemombok yang keluar dengan tenang.
Tahu kawan; tahu lawan, huh ... Kalimat pendek yang sangat bagus, demikian pikir Ret. Dia mengangguk setuju dengan perkataan Nok.
Di sekitar Ret, tidak ada satu pun yang berani menyerang, maupun membuat keributan di Penambungan Budak―keadaannya tentang nan damai, tetapi seperti tidak ada jiwa di masing-masing budak yang diperhatikan Ret―keadaan tersebut membuat Ret bingung dan heran.
Merasa tidak wajar, Ret bertanya pada Nok di depannya, “Aku merasa tidak nyaman―apa para budak seperti kita, sudah benar-benar kehilangan masa depannya?”
“Ng?” Nok menoleh ke belakang. “Para budak di sini semuanya mengerti dan cerdas, Ret―dan tidak akan ada yang mau membuat ulah atau keributan di Penampungan Budak manapun. Yah ... Sederhananya kita terpantau olehNya setiap detik, sih.”
Nok melirik kamera-kamera pemantau yang melayang dan bertebrangan di udara, serta CCTV yang menempel di setiap sudut Ruang Makan.
Kamera pemantau, huh, tapi, pikir Ret, mengangguk mengerti. “Apa ada hukuman atau semacamnya? Kenapa kita sangat antusias namun terlihat tanpa jiwa seperti itu―ini sangat menakutkan.”
__ADS_1
Nok menjawab, “Pada dasarnya, sih, jika absen dari salah satu ‘kegiatan rutinitas harian’, kita, para budak, akan langsung dilumpuhkan otomatis dengan waktu yang tidak ditentukan.”
“Dilumpuhkan?!” sahut Ret, tercengang. Dia tidak ingin mengingat situasi saat dia lumpuh kemarin. “Apa hanya itu?”
“Tentu tidak.” Nok menggelengkan kepalanya. “Minus di saldo Kredit-mu akan bertambah satu.”
Ret berwajah masam setelah mendengar penjelasan Nok.
Uh. Untuk sekarang, lebih baik menghindari penambahan minus pada Kredit-ku, lah, demikian pikir Ret. Dia menggelengkan kepalanya, lalu memperhatikan sekitarnya dengan waspada.
“Tenang saja, Ret,” Melihat Ret tiba-tiba mewanti-wanti sekitarnya, Nok mengingatkannya, “Selagi kau tidak membuat ulah, aku pasti akan melindungimu.”
Seringai lebar pada Nok, membuat Ret melebarkan kedua mata hitamnya dan tenang kembali
“Terimakasih banyak, Nok!” sahut Ret, dengan penuh semangat. “Apa aku harus memanggilmu ‘Brother’ sekarang?!”
“Lupakan itu! Ayo,” kata Nok, mulai berjalan mengikuti kelompok budak di depannya, “Ini sudah giliran kia masuk ke Gymnasium.”
Di Pintu Besi sebuah Ruangan, kelompok sebelumnya sedang keluar dari Tempat Kebugaran. Lalu Ret, Nok, serta beberapa budak memasuki Pintu tersebut yang terbuka.
Suara tertutupnya pintu ke samping\, *Sraaak!!!* yang memekakkan telinga sampai menggema ke seluruh penjuru Gymnasium\, setelah kemompok budak Ret memasukinya.
Ret bingung, budak-budak di sekitarnya termasuk Nok, sedang melakukan gerakan aneh, “Apa yang harus―”
“Untuk sekarang kita lari 100 putaran saja dulu, Ret,” kata Nok, memotong perkataan Ret, dan langsung berlari. “Ayo kita pemanasan!”
Memimpin di depan, Nok berlari sangat cepat walaupun dia sebelumnya berkata tentang pemanasan.
Tidak ada yang berani berbicara pada Ret maupun mengejeknya. Semua budak berlari dengan tenang―yang bahkan langkah kaki mereka pun disenyapkan.
Hanya langkah kaki orang yang paling terakhir sangat berisik dan bergema ke seluruh penjuru Gymnasium.
Ret terus mencoba mengejar para budak di depannya, tetapi dia malah membuat hentakkan kaki yang berat dan berisik.
Seberapa cepat para budak ini bisa berlari, sial, demikian pikir Ret. Dia menggertakan giginya, seraya terus berlari dan mencoba untuk mengejar para budak di depannya.
__ADS_1
¤¤¤