![Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0](https://asset.asean.biz.id/secret---war-of-k-m-dgsp-m4221--locked-oso-0.webp)
Ia menjelaskan selagi pemutaran video di panel biru terus berlangsung:
{Dari video tersebut, Tersangka melanggar peraturan kependudukkan: No. 5 ‘Tentang tindak merugikan sesama manusia’, yangmana berupa ‘Pencurian’; 5b. Merebut Hak milik sesuatu yang dimiliki manusia lain secara paksa; dan 5c. Peng-intimidasian secara ilegal ... Hanya itu yang saya bisa sampaikan, Yang Mulia.}
Kemudian, Robot Jaksa itu membungkukkan tubuh robotnya ke tengah-tengah meja panjang di hadapannya, di mana Robot Yang Mulia Hakim berada.
Kenapa seolah aku yang, demikian pikir Ret. Dia masih terdiam sambil menatap kosong lantai tengah pemisah kedua podium di mana Robot Jaksa kembali ke tempatnya.
Setelah Robot Jaksa itu berbicara, video tersebut terus diperhatikan dengan seksama oleh para Robot Hakim dan rekan-rekan di kedua sisinya.
Setelah memasukkan semua data yang ada, Yang Mulia Hakim Robot berbicara kembali dan menatap tepat ke arah podium Ret:
{Karena Tersangka tidak memiliki satu pun Kuasa Hukum, Tersangka saya persilahkan untuk berbicara.}
“A-aku ....” Suara Ret tersendat seperti sebuah bola tersangkut di tenggorokannya. “Saya ....”
Cukup lama Ret tidak mengeluarkan satu patah kata pun. Dan karena Ret sebagai tersangka terus terdiam, salah satu Robot Hakim berbicara:
{Penuntut, saya persilahkan untuk berbicara.}
“Aku―Saya hanya ingin Kantong Plastik yang saya dapatkan dari salah satu produk coklat, dikembalikan padaku lagi. Selebihnya, sesuai tuntutan dan hukuman pelanggaran peraturan Yang Esa Sistem saja~Yang Mulia.”
Bos preman itu mengangguk-ngangguk setelah mendengarkan tuntutan anak buahnya.
“Bagus, Nak!”
Kemudian di Podium Penuntut, si anak buah preman itu mencondongkan tubuhnya ke Robot Yang Mulia Hakim, seperti memberi hormat. Sedangkan Ret yang berada di Podium Tersangka, hanya bisa terdiam dan terus menatap kosong ke depan.
Bos preman dengan anak buahnya di podium tersebut saling bertatapan dan mengangguk ringan―mereka berdua seperti menyepakati sesuatu.
Setelah kedua preman itu seperti melakukan sesuatu, Robot Pengacara yang merupakan Kuasa Hukum mereka tiba-tiba berbicara:
{Saya meminta intrupsi, Yang Mulia ....}
Robot Yang Mulia Hakim langsung mempersilahkan-nya, {Silahkan.}
{Kami, selaku ‘korban’ dalam kasus ini meminta Kantong Plastik yang dimaksud oleh kelayan saya untuk dikembalikan. Dia sangat membutuhkan itu untuk keadaan mendesak.}
Setelah Robot Kuasa Hukum si anak buah Bos preman berbicara seperti itu, hening sejenak karena Yang Mulia Hakim Robot serta hakim-hakim lainnya terdiam.
Salah satu Robot Hakim yang duduk di paling sudut meja panjang, bertanya dengan santai:
{Apa yang kalian perebutkan?}
“Itu ....” Hanya si anak buah yang menjadi Penuntut mulai panik. “Itu, i-itu sampah plastik yang aku dapat dari produk coklat bermerk: Choco Marble, kau―maksudku, anda tahu? Bungkusannya itu sangat trendi dan berharga!”
Sedangkan Ret hanya diam, tidak menjawab sepatah kata pun. Namun, dia mengerti maksud tatapan tajam para preman di kursi saksi. Jika ‘Informan’ dan 'Prangko' sampai terkuak di Ruang Pengadilan, kedua belah pihak tidak hanya akan dipenjara satu-dua bulan saja.
Mungkin, pikir Ret, mendesah pasrah, kita semua akan dihukum mati, huh, kalau aku sampai membuka mulutku tentang Prangko Oranye.
__ADS_1
{Jadi ... Bisa anda berikan kembali Kantung Plastik yang dimiliki kelayan saya, Tuan Secret?}
Ret berkata, “Maaf. Kantung Plastik yang kalian maksud sudah kuberikan ke orang lain. Karena yang membutuhkannya bukan aku, itu untuk orang lain, bukan untuk diriku sendiri, maksudku.”
Semua preman yang berada di Ruang Pengadilan, mengerutkan kening mereka.
“Bos,” bisik salah satu anak buah si Bos preman, “Dia bilang diberikan ke orang lain! Bukankah sudah jelas dia itu bagian dari―”
“Diamlah!” bentak si Bos preman, “Jika sampai kita mengganggu Yang Mulia Hakim berbicara, tidak akan berakhir baik untuk kita!!”
Preman-preman lainnya mengangguk setuju dengan Bos mereka.
Robot Pengacara si Tersangka mulai berdiri dan berkata: {Kepada Tuan Jaksa Penuntut yang terhormat, apakah Tersangka tidak berbohong?}
Di bagian kursi jaksa, salah satu Robot Jaksa Penutut yang sedari tadi diam, tiba-tiba berdiri.
{Alat pendeteksi kebohongan akan diaktifkan. Tersangka bisa bicara sekali lagi, tentang kesaksian anda tentang “Kantung Plastik” yang diminta Penuntut. Dan kami selaku Jaksa Penuntut menegaskan, jika hal tersebut tidak dikembalikan maupun anda ketahuan berbohong, hukuman yang akan anda terima akan dilipatgandakan sesuai peraturan yang telah ditulis oleh Yang Esa Sistem.}
Cih ... Aku sudah bilang, Ret mengulangi kata-katanya lagi, “’Kantung Planstik’ yang kalian maksud itu, sudah
aku berikan ke orang lain. Karena yang membutuhkannya bukan aku, itu untuk orang lain, bukan untuk diriku sendiri.”
Ia mengeluarkan data-data tentang perkataan Ret, denyut nadi dan sebagainya. Dan ia tampilkan di panel putih di tengah-tengah Ruang Pengadilan yang bisa dilihat oleh semua orang. Jika seseorang memberi kesaksian palsu, ‘mereka’ pasti akan langsung mengetahuinya hanya dengan melihat data-data tersebut.
{Kepada Kuasa Hukum Penutut yang terhormat, sudah tertulis dengan jelas di panel bahwa Tersangka tidak berbohong. Apa ada intrupsi selanjutnya?}
Ret secara keseluruan tidak berbohong. Dia benar-benar menggunakan Prangko itu untuk mencari Herbalis untuk menyembuhkan Sei yang terluka.
Kedua Robot Kuasa Hukum itu kembali ke tempat duduk 'mereka' masing-masing.
Preman-preman itu memanipulasi kamera pemantau di Super Kombini, pikir Ret, dan CCTV Bangunan setempat―bagaimana caranya aku melawan mereka? Tidak ada yang bisa kupikirkan sekarang selain diam, uh.
Saat Ret berpikir seperti itu, Yang Mulia Hakim Robot berbicara:
{Tersangka, waktu untuk membela diri anda sendiri ... saya persilahkan.}
“Aku .... “ Ret kembali terdiam, dan walaupun dia berpikir keras, dia tidak bisa membantah bukti yang ada di hadapannya. “S-saya―”
“Intrupsi, Yang Mulia!” seru si anak buah Bos preman, mengangkat tangannya dengan semangat.
Robot Yang Mulia Hakim berserta Robot Hakim lainnya mengalihkan pandangannya ke asal suara tersebut.
{Karena Tersangka tidak mulai berbicara, saya persilahkan anda selaku penuntut untuk meng-intrupsi.}
“Terimakasih, Yang Mulia,” sahutnya, menyeringai lebar pada Ret, “Sidik jari di Kantung Plastik sudah jelas, pasti ada milik saya di sana. Karena saya sangat membutuhkan itu, saya ingin membuat kontrak pararell dengannya. Jadi, pengadilan bisa mengambil paksa barang milik saya meskipun telah menjadi miliki orang lain.”
Yang Mulia Hakim Robot mempersilahkannya begitu saja:
{Baiklah. Silahkan untuk Kuasa Hukum Penunutut, membuat kontrak pararell dan tandatangani oleh kedua belah pihak, lalu berikan kepada saya.}
__ADS_1
Robot Pengacara si Penutut, membagikan dua panel putih ke hadapan dua podium yang saling bersebrangan.
{Terimakasih, Yang Mulia.}
Apa ini ‘kontrak pararel’?! Ret bingung dan keheranan.
{Untuk Tersangka, saya ingin anda untuk menuliskan nama pemilik baru Kantung Plastik.}
“Sei,” kata Ret, menandatangani kontrak pararel. “Dia bernama: Sei.”
Ret membaca sepintas isi dari panel yang ditandatanganinya berupa: Jika Ret sudah dipenjara, Sei mengembalikan Prangko .... DanSaat ketiga kontrak pararel di panel biru terkirim ke hadapan Robot Yang Mulia Hakim, di bangku saksi mulai berdiskusi.
“Sei?!” tanya salah satu anak buah si Bos preman, “Emang ada ‘Mafia’ tertinggi bernama Sei?!”
“Itu terdengar seperti nama seorang perempuan. Bukankah ‘Mafia’ yang menguasai Wilayah Penduduk Kelas Bawah satu-satunya yang perempuan? Dan kalau tidak salah dia bernama ....”
“Tia.” Bos preman-preman itu memejamkan mata, dan menggumamkan nama itu. “Namanya Tia. Pemimpin Mafia klaster terbawah Distrik ini.”
“Oh! Tia!”
“Meski dia klaster terbawah dalam jajaran Mafia di Distrik.2 tempat kita berada, jangan sampai meremehkannya!”
“Siap, Bos!”
Lalu, setelah kontrak telah dibuat dan saksi-saki dipersilahkan untuk memberi kesaksiannya masing-masing.
Ret hanya bisa mendengar kesaksian palsu dan akting ketakutan yang sangat buruk mereka. Namun, karena dia sendiri dan melawan banyak orang di Ruang Pengadilan, dia tidak memiliki satu celah pun untuk membantah.
Aku tidak mempunyai apapun untuk melawan mereka, sial, demikian pikir Ret, menggelengkan kepalanya. Namun, apa yang diperhatikan Ret dari saksi-saksi yang berakting bodoh, tidak ada dari mereka yang menduga bahwa Ret berhasil keluar dari wlayah terlarang pun karena keberuntungan aneh.
Lalu, semua kompomen sidang pun telah dilakukan dan Yang Mulia Hakim serta para Hakim lainnya mulai mengkalkulasi hasil persidangan.
Dan tanpa menunggu lama, kedua poduim bersebrangan antara Ret dengan si anak buah Bos preman, berubah warna dan nama, menjadi: Terdakwa dan Korban.
Ret yang berdiri di podium bertuliskan: Terdakwa, hanya bisa berdiri lemas dengan tatapan kosong menatap langit langit di mana suara mekanisme pria terdengar kembali: Sebelum Hakim mengumumkan jumlah hukuman dan hadiah yang akan diberikan, Ret selaku terdakwa dipersilahkan memilih hukuman untuk masuk ke Penjara atau Pasar Budak ....
Sesuai dugaan Anggota Unit Justice-man senior tadi, huh, demikian pikir Ret.
Panel putih di hadapan Ret, berubah warna menjadi warna merah darah dan menampilkan dua gambar antara jeruji besi dengan kalung dengan tali besi.
“Aku ....” kata Ret, masih tertegun kebingungan. Lebih baik menuruti Anggota Justice-man senior tadi saja, lah, dan, aku tidak punya pilihan lain juga. Kalau aku memilih masuk ke Pasar Budak, berarti aku akan menjadi budak seseorang, huh.
Lalu, dia dengan santainya menyentuh gambar kalung besi di kolom panel merah di hadapannya.
Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Ret langsung memilih untuk menjadi budak dengan nada dan tatapan kosong.
“Apa?!” pekik anak buah si Bos preman di Podium Korban.
Semua anak buah bos preman pun tercengang dengan ekspresi di wajah mereka sangat ngeri setelah melihat Ret menentukan pilihan hukumannya begitu saja. “Bos!! Dia malah memilih menjadi budak!”
__ADS_1
***