![Secret! [War Of K-M-DGsp-M4221] Locked OSO.0](https://asset.asean.biz.id/secret---war-of-k-m-dgsp-m4221--locked-oso-0.webp)
“Ah! Aku lupa memberitahumi tentang ini, Rat, ” kata Sei, menolehkan tubuhnya, “Jangan bawa smartphone-mu! Simpan di sini saja ... Kau tidak mempunyai slot Lock Bank di Bank Dunia, kan?”
Uh?! Ini, pikir Ret, ragu. “Kan, smartphone itu, ibarat nyawa bagi semua penduduk―Meskipun itu kamu―Tidak
mungkin aku―”
“Aku tahu kamu pasti curiga padaku, Rat,” tuntut Sei, mengangguk ringan, “Tapi untuk saat ini percayalah padaku―Toh Kredit-mu Nol juga, kan, saldonya.”
“Uhh....” desah Ret, frustasi. Jangan ingatkanku tentang hal itu terus. Sial.
Ret menyimpan smartphone-nya di atas meja dan langsung berbalik menuju pintu depan Ruangan-nya kembali.
“Aku pergi.”
“Ng.”
Ret menutup pintu sambil menghembuskan napas beratnya.
Apa itu tidak apa-apa?! meninggalkan smartphone-ku padanya, ya, demikian pikir Ret. Dia masih sangat ragu, tetapi dia tidak memiliki Lock Bank di mana dia bisa menyimpan barang pribadi, sertifikan maupun barang lainnya dengan sangat aman.
“Aku seharusnya membeli setidaknya satu slot Lock Bank, huh,” gumam Ret, mendesah frustasi.
Ret menggelengkan kepalanya dan melihat peta yang tergambar di kertas kuning.
“Yap.” Ret mengangguk-ngangguk seperti setuju dengan gagasannya sendiri. "Peta ini sangat tidak bisa dibaca.”
Tiba di hadapan lubang Terowongan Besar menuju ke dalam lorong gorong-gorong, waktu telah menunjukkan pukul 15.43.21 sore hari. Perjalanan yang cukup jauh membuat Ret meneteskan banyak keringat.
“Apa aku akan terlibat dengan masalah lagi?!” gerutu Ret, menyandarkan punggungnya ke pohon cukup besar untuk beristirahat sejenak.
Dia menghadap Terowongan Besar dan memperhatikan sekitarnya dengan seksama.
Dari apa yang dikatakan Sei, gorong-gorong ini adalah tempat yang sangat rahasia. Kemungkinan besar―kalau si Sei membantai seluruh Prajurti Unit Army-man, informasi tentang gorong-gorong ini belum sampai ke mereka, demikian pikir Ret. Dia merasa sudah cukup beristirahat.
“Jadi,” gumam Ret, melangkah masuk Terowongan Besar, “aku bisa sedikit tenang, huh.”
Ret berjalan menyusuri jalur yang pernah dilaluinya tanpa melihat peta. Di sampingya terdapat aliran selokan dengan air limbah berbagai warna.
__ADS_1
Setiap belokan di dalam gorong-gorong, air di selokan di samping Ret, selalu berubah warna. Meskipun ia terlihat sangat indah dengan disertai lampu darurat di atas gorong-gorong, Ret sangat waspada terhadapnya.
Air di selokan itu sangat beracun, huh, demikian piki Ret. Dia mengingat hal tersebut dan menjadi waspada, berjalan tepat di samping dinding.
Ret kebingungan dengan gelapnya gorong-gorong saat dia semakin memasukinya.
“Umm....”
Ret akhirnya melihat peta yang digambar Sei, dengan cara mendekat ke salah satu cahaya di lampu darurat.
Aku benar-benar, pikir Ret. “Sama sekali tidak bisa membaca peta ini ...!!”
Ret terus menggerutu seperti itu di dalam hatinya seraya terus berjalan menyusuri gorong-gorong dan berbelok di tikungan mengikuti instruksi yang tergambar di peta gambaran Sei. Setiap ada lampu darurat, dia melihat peta dan mencoba mengingat untuk belokan di tikungan selanjutnya.
Sesampainya di tempat yang tak asing baginya, dia melihat tangga besi dengan batang besinya rapuh dan hancur.
Meskipun gelap, Ret sedikit bisa melihat di sudut gorong-gorong―di mana dia menemukan Sei serta mayat-mayat Anggota Unit Army-man yang telah menghilang.
Sial. Apa, pikir Ret, menjadi waspada. “Apa bala bantuan dari mereka sudah menemukan tempat ini?!”
Dan walaupun Ret tidak jelas melihatnya, dia masih bisa merasakannya. Bau mayat dan darah telah sepenuhnya menghilang.
Setelah Ret melihat ke atas tangga besi, dia masih melihat bahwa pintu gorong-gorong masih gelap dan tertutup. Tapi tidak mungkin, sih―dia tidak bodoh. Kalau Sei tahu ada orang yang akan ke sini, tidak mungkin dia menyuruhku ke sini.
“Masih tertutup, huh, dan,” kata Ret, masih mendongakkan kepalanya, “Tempat smartphone Sei jatuh, bukan di sini, ternyata.”
Ret kembali melihat kertas bergambar peta. Dan dia menyusuri selokan dengan air yang mengalirnya memiliki berbagai berwarna, sambil mengikuti peta dipegangnya.
Aku ke kiri, atau ke, pikir Ret, melihat peta di kertas lagi. “Ke kiri, huh.”
Ret melihat cahaya putih terang di ujung lorong gorong-gorong. Dan aliran air selokan telah berakhir di belakangnya dengan pipa besi menyembur keluar di sampingnya.
Memasuki cayah putih terang, Ret melihat Taman Bawah Tanah yang sangat mewah dengan air mancur menjadi pusatnya.
Ret terpaku sejenak melihat sekitarnya. Pepohonan lebih hijau dari hutan rimbun di luar gorong-gorong, tersebar di Ruang Taman Mewah. Langit-langit bergambarkan rune berornamen dan ukiran aneh yang sama sekali tidak dimengertinya.
”Apa,” pekik Ret, tercengang dan melebarkan matanya, “.... Ini?!!”
__ADS_1
Dia mendongakkan kepalanya, mencoba untuk membaca tulisan-tulisan, rune, dan ornamen di langit-langit Ruang Taman Mewah yang sangat luas.
Apa itu?! Aku sama sekali tidak bisa membacanya, demikian pikir Ret. Dia mengerutkan keningnya karena sama sekali tidak bisa membaca apa-apa.
Ret pun melangkah masuk Ruang Taman Bawah Tanah.
“Apa yang sebenarnya si Selui lakukan di sini?!” gumam Ret, masih tercengang.
Terdapat 4 penjuru Terowongan yang sangat gelap, di Ruang Taman Bawah Tanah―termasuk di belakang Ret.
Ret menoleh ke belakang dengan wasada. “Terowongan jalan aku pulang tidak akan menutup sendiri, kan?!”
Berdiri mematung sejenak, Ret mengerutkan kening dan terus menatap Terowongan jalan dia pulang. Dia takut Terowongan tersebut akan menutup dengan sendirinya.
Uh. Tidak mungkin ini jadi kejadian klise lagi, kan? Kalau ini menjadi klise lagi, pikir Ret. “Situasiku saat ini akan sangat berbahaya, huh, sial.”
Ret melihat gambar peta dipegangnya yang menunjukkan Terowongan kiri dari Terowongan di belakangnya.
Di dalam Terowongan, Ret memasuki gorong-gorong dan lorong yang sama seperti sebelumnya. Jika tidak dilihat dengan teliti, “Ini terlihat sama huh,” dan tidak adanya peta, Ret pasti akan tersesat.
Cukup lama dia mencari dan menyusuri lorong tetapi Ret sama sekali tidak menemukan smartphone Sei. Dia menyusuri lorong dengan teliti seraya menundukkan kepalanya melihat permukaan beton.
“Uh. Tidak ada?!” gumam Ret, menghembuskan napasnya. Di mana kah kau, smartphone ....
Saat Ret berpikir seperti itu, peta yang digambar Sei, akan berakhir di ujung gorong-gorong gelap yang tak jauh lagi di hadapannya.
Namun tiba-tiba\, Ret mendengar suara\, *Citt ...!! Citt ...!!!* seperti suara decitan hewan pengerat yang sangat keras sedang mendekatinya dengan sangat cepat.
Suara apa itu?! Tikus, huh, demikian pikir Ret. Dia mengertukan kening dan dia merasakan dengan jelas seekor binatang cukup jauh di hadapannya. Kemudian secara perlahan, dia melihat dua titik merah darah terang mendekatinya dengan sangat cepat.
Namun, Ret melihat dua titik merah itu sejajar dengan pandangannya.
Apa, pikir Ret, langsung tercengang dan melebarkan matanya. “Itu ...?! Sial. Itu adalah mata? Bagaimana bisa Tikus bisa sebesar itu?!”
Menyadari ada yang tidak beres dan tanpa berpikir, Ret berbalik kemudian langsung berlari dengan langkah yang sangat cepat.
“Sial ...!!!” Ret belari sambil menoleh ke belakang. “Apa itu?!”
__ADS_1
¤¤¤